
Semalaman Dijah sibuk memandangi ponsel yang diberikan Bara padanya. Tak ada telepon masuk dan tak ada pesan dari pria itu.
Karena seharian kemarin ia sibuk menemani Mbok Jum membereskan rumah kardusnya agar lebih bersih dan nyaman, Dijah lagi-lagi batal mengunjungi anaknya itu.
Pagi itu pun sebelum berangkat, Dijah kembali mendatangi Tini untuk kedua kalinya untuk bertanya soal pengoperasian ponsel canggih yang baru kali itu dimilikinya.
Dijah ingin memastikan bahwa ia tak salah menggunakan ponsel itu.
Pada hakikatnya, Dijah sama seperti wanita pada umumnya. Lebih spesifik lagi, Dijah sama seperti gadis muda seumurnya yang tengah asyik menunggu telepon atau pesan singkat dari sang pacar.
Setelah apa yang dikatakannya pada Bara kemarin malam, Dijah sebenarnya tidak berharap banyak kalau Bara akan menghubunginya. Ia tak pernah putus cinta, tapi merasakan ganjalan dan gelisah di hatinya sepanjang hari. Mungkin begitulah perasaan yang dirasakan banyak orang pikirnya.
Meski begitu, Dijah tak bisa memungkiri kalau di sudut hatinya yang paling dalam, terselip keinginan bahwa Bara akan bertanya soal kabar atau mengirimkan sebaris dua baris pesan yang kemungkinan besar akan diabaikannya. Begitulah rumitnya perempuan.
Dijah rindu pada pria itu. Padahal baru sehari semalam Bara tak merusuhinya.
Dengan menumpang sebuah angkot, tak berapa lama kemudian Dijah telah tiba di depan mini market seberang gang rumahnya. Sejak tadi matanya tertuju pada halaman Polsek yang terletak di sebelah gang.
Tak mungkin ada Bara di sana pikirnya. Tapi entah kenapa melihat tempat di mana Bara sering berada saja sudah membuatnya terhibur.
"Dul..." panggil Dijah pelan. Ia mendorong pintu tapi ternyata pintu itu terkunci.
"Iya Bu," sahut Dul. Pintu terbuka dan seraut wajah bocah laki-laki yang manis muncul di baliknya.
"Lagi ngapain? Kita pergi yuk..." Dijah melepaskan sepatu karetnya dan masuk ke dalam rumah.
"Ke mana?" tanya Dul yang mengggenggam tangan ibunya sejak masuk tadi.
"Beli baju. Kamu bilang kepingin baju setelan rumah kayak temen kamu. Ibu lagi ada rejeki. Mbah mana?" tanya Dijah sambil membuka container plastik warna-warni di sebelah meja televisi.
"Mbah lanang di warung. Mbah wedok baru keluar ke tetangga belakang. Tapi aku kepingin makan ayam goreng juga Bu. Masih bisa?" tanya Dul.
"Makan ayam goreng juga bisa, uangnya cukup. Ayo ganti baju dulu." Dijah menarik selembar kaos dan sebuah celana panjang untuk dikenakan puteranya.
"Kalau beli baju dan ayam goreng uang ibu masih ada sisanya?" tanya Dul.
"Masih, kenapa? Mau beli apa lagi? Jajanan di minimarket?" tanya Dijah penasaran.
"Bukan jajanan. Jajananku masih banyak," jawab Dul yang sedang melepaskan celana pendeknya. Dijah duduk menghadapi anaknya seraya memegang sebuah celana panjang.
"Jajanan kamu masih banyak? Dari mana?" tanya Dijah.
"Om Bara yang kasi. Kemarin dulu Om Bara dateng bawa berondong jagung trus bawa jajanan banyak banget."
"Kamu bilang apa?"
"Bilang terimakasih"
"Bagus"
"Oiya, aku ada ini--" Dul berlari ke arah container plastik dan menarik laci paling bawah. Bocah laki-laki itu mengeluarkan sebuah plastik berisi benda tipis yang terlipat rapi.
"Apa itu?" Dijah mengambil plastik dari tangan Dul dan mengeluarkan isinya. Itu adalah tiga lembar foto Dul yang sedang marching band di acara pentas seni.
"Waktu pentas seni, semua ibu-ibu temenku mau duduk deket om Bara. Pulangnya sampe dibawain makanan. Om Bara keren, apalagi waktu megang kameranya moto aku dari jauh. Kalau udah besar nanti, aku mau jadi kayak om Bara. Dia baik. Dia bilang kalau dia ayahku. Aku bangga dan pede jadinya." Dul cengengesan menatap ibunya.
"Hus... Kamu nggak boleh bilang gitu!" sergah Dijah yang mencerna tiap perkataan anaknya.
"Kok ibu marah? Om Bara aja nggak marah waktu aku panggil ayah," ucap Dul polos.
"Tapi kamu nggak boleh gitu, om Bara itu orang lain." Mendengar yang dikatakan ibunya Dul langsung terdiam. Bocah laki-laki itu sekarang sedang duduk menatap fotonya.
__ADS_1
"Trus om Bara ngomong apa lagi?" tanya Dijah berusaha menyembunyikan nada antusias dalam pertanyaannya.
"Om Bara nanya, aku mau nggak jadi anaknya. Aku sekalian mau nanya ke ibu, aku boleh nggak jadi anaknya om Bara? Katanya mesti tanya ibu dulu. Karena sebelum aku jadi anak angkatnya, om Bara harus ngangkat ibu jadi istri lebih dulu. Boleh nggak Bu?" tanya Dul lagi.
Ilmu soal angkat-mengangkat dari mana pula yang diajarkan Bara pada anaknya. Meski sebal, Dijah tersenyum mendengarkan cerita Dul soal pria itu.
Tak sengaja, sepotong cerita tentang Bara dari Dul menjadi sedikit penghibur baginya.
"Anak ibu ganteng," ucap Dijah seraya mengusap foto hasil jepretan tangan profesional itu perlahan.
"Kata om Bara dia masih nyimpen sisanya untuk ibu. Ibu belum dapet?"
Dijah menggeleng, "mungkin om Bara belum sempet ngasi ke ibu."
Setelah mengatakan hal itu, Dijah jadi teringat akan ponselnya. Ia merogoh saku celana jeans-nya dan mengetuk layar ponselnya dua kali sampai menyala.
Matanya tetap memandang hal yang sama. Tak ada telepon masuk ataupun sepotong pesan dari Bara.
Siang ke sore itu Dijah mengajak Dul ke sebuah pasar untuk membeli beberapa setel pakaian rumah bergambar tokoh kartun superhero tak masuk akal.
Dijah menggunakan uang pemberian Bara sebijaksana mungkin. Saat Bara memberinya sejumput uang pecahan 50 ribu, Dijah kemudian mengetahui setelahnya bahwa uang itu berjumlah 1.2 juta rupiah.
Walaupun Dijah senang bagai menang lotere, ia hanya menggunakan sedikit sekali uang itu. Sesuai dengan izin yang dilontarkannya pada Bara bahwa ia akan membelikan Dul pakaian. Selebihnya uang itu masih tersimpan rapi di lemarinya
"Pensil warna aja cukup? Apa ada yang lain?" tanya Dijah saat ia dan Dul keluar dari minimarket.
"Cukup. Punyaku banyak yang hilang, kalau masih ada aku nggak minta beli."
"Punya benda-benda jangan lupa untuk dirawat. Kita gak setiap hari bisa beli," ujar Dijah menggandeng lengan anaknya.
"Ibu kapan datang lagi?"
"Kenapa?"
"Nanti kalau ibu dapet kerja lebih bagus, dan kamu udah lebih besar dan ngerawat diri sendiri, kita tinggal sama-sama. Apa perlu ibu pulang ke rumah mbah lagi untuk nemenin kamu?" tanya Dijah saat ia dan Dul menyusuri gang.
"Jangan, ibu jangan tinggal di rumah mbah. Nanti ibu dipukuli bapak," sahut Dul santai. "Aku sabar nunggu ibu bawa aku," tambah Dul mendongak memandang ibunya.
"Hari ini seneng?" tanya Dijah.
"Seneng. Aku dapet baju baru, dapet sendal. Nanti sendalku yang dikasi peniti boleh aku buang Bu?"
"Boleh, buang aja. Udah nggak bisa dipakai lagi."
"Ayam gorengnya juga enak," tambah Dul. Meski bukan ayam goreng bermerek, sepertinya Dul senang-senang saja.
"Ya sudah, ibu pulang ya..." ujar Dijah saat mereka tiba di depan pintu rumah. Sudah sore dan Dijah khawatir jika Fredy tiba-tiba datang ke sana.
"Kalau om Bara mau ngangkat ibu jadi istri, ibu bilang mau aja ya... Aku mau jadi anak om Bara. Keren Bu... Temen-temenku kagum. Sekarang mereka mau main sama aku..."
Dijah hanya meringis mendengar perkataan anaknya. Sebelum menyetop sebuah angkot, Dijah kembali mengambil ponselnya. Dua kali mengetuk layar dan melihat tak ada apa-apa di sana, Dijah hanya menghela nafas dan kembali menyimpan ponselnya.
Tak bisakah Bara tetap berada di dekatnya dan tetap begitu saja? Jangan katakan apa-apa. Jangan janjikan apa-apa. Dijah khawatir berharap terlalu jauh.
Siapa pula yang tak suka disentuh oleh orang yang disukai? Dijah juga manusia biasa. Masih muda dan tak bersuami pula. Dalam kepalanya pun pasti pernah terlintas bayangan erotisnya bersama Bara.
Dijah hanya mencoba membatasi semampunya. Andai Bara sedikit memaksanya, Dijah mungkin takkan sanggup menolaknya. Untungnya, Bara juga masih mngerti batasannya.
Pukul lima sore Dijah telah kembali berjalan menyusuri gang menuju tempat kosnya. Dari pintu gerbang ia telah melihat Mak Robin sedang duduk di lantai depan pintu rumahnya dan Tini yang berada di belakang wanita itu sedang memegang sebuah pinset.
Asti duduk di kursi plastik lainnya sedang memegang ponsel.
__ADS_1
"Aku punya motivasi untuk kelen yang masih muda ini," ujar Mak Robin saat Dijah menarik sebuah kursi dan duduk di dekat teman-temannya.
"Halah, kalo masih miskin nggak usah sok-sokan ngasi motivasi. Sebagus apapun, kedengerannya seperti kentut. Nanti kalau kamu udah kaya Mak, kamu kentut aja orang bakal ngira kamu lagi ngasi kata-kata motivasi." Tini tertawa terbahak-bahak.
"Kalo bukan karna kawanku, udah lama kubenamkan kepala kau ke paret (parit) Tin!" sergah Mak Robin kesal.
Dijah dan Asti tertawa melihat ekspresi kesal Mak Robin yang mencoba mencubit betis Tini yang berada di belakang tubuhnya.
Dijah yang sedang tertawatiba-tiba terdiam.
"Kenapa Mbak Dijah?" tanya Asti.
"Hapeku bergetar," jawab Dijah.
"Eh liat Mbak, ada telfon masuk itu." Asti membantu Dijah merogoh kantongnya.
"Siapa?" tanya Dijah saat ponsel telah berada di tangan Asti.
"Panggilan video, nggak nyangka Mbak Dijah juga bisa manis gitu nge-save nama mas-nya" jawab Asti menyodorkan ponsel itu ke tangan Dijah.
"Mas Bara..." gumam Dijah. Sejak kapan pula ia menyimpan nama laki-laki itu dengan tulisan 'MAS BARA ❤️'.
"Jawab Jah!" seru Tini.
"Aku malu liat mukanya. Pasti liat-liatan 'kan?" ujar Dijah meringis memegang ponselnya.
"Panggilan video ya liat-liatan. Kalau mau pegang-pegangan nggak bisa. Sini! Nanti keburu mati!" Tini bangkit menyambar ponsel itu dari tangan Dijah.
"Hape mahal ni Jah... Bukan bekas! Kamu polos atau bego aku kadang nggak ngerti," ujar Tini kemudian mengusap layar ponsel.
"Ada apa Mas....??" sahut Tini.
"Kok kamu sih?? Dijah mana?" tanya Bara terkejut saat melihat wajah Tini memenuhi layar ponselnya.
"Dijah katanya malu liat muka Mas Bara, coba lain kali Mas Bara kasi liat yang lain aja, biar Dijah gak malu. Mungkin Dijah lagi kangen yang lain," Tini terkikik geli.
Dijah sudah menendang kaki temannya yang tak peduli.
"Kasi ke Dijah dong Tin..." ujar Bara di seberang telepon.
"Kukira nyampe di luar negeri udah jalan ama cewe-cewe bule. Taunya masih nguber yang lokal. Daging lokal aja lebih empuk dan mahal ya Mas ketimbang daging impor."
"Tiniiii..." nada suara Bara terdengar tak sabar.
"Oke... Oke...." Tini tertawa kemudian menyodorkan ponsel itu pada Dijah. "Ni Jah! Sana masuk kamar, mas-mu kangen itu. Telanjang sebentar Jah, nyalain lampu. Biar mas-mu menggelinjang di sana."
"Astaga... Tini..." Suara Bara terdengar frustasi. Seandainya Dijah mengikuti semua saran Tini, dia pasti takkan sesulit ini pikirnya.
Meski Dijah misuh-misuh mengomeli Tini, tapi ia beranjak dari kursi dan masuk ke kamarnya. Layar ponsel memperlihatkan Bara yang sedang menumpukan tangannya di meja dan tak lepas menatap Dijah.
Dijah tadi sempat menoleh sekilas wajah pria itu. Semakin jauh di negeri orang, Bara terlihat semakin ganteng.
Simpulan di dada Dijah seolah terurai. Membuatnya terasa lebih lega bernafas sekarang.
To Be Continued....
Udah nyoba baca novelku yang lain belum?
Buat yang belum baca STRANGER FROM NOWHERE yang bergenre THRILLER ROMAN, harus baca itu ya...
Novel itu pernah ranking sebulan lebih selama berada di platform Watt*pad sebelum dipindah ke sini.
__ADS_1
Ranking 11 dari 15600 cerita bergenre petualangan di platform raksasa itu artinya karakter dr. Firza di novel itu layak diperhitungkan.
Lain novel, lain warna, lain karakter, tapi sama jatuh cintanya.