PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
83. Kembali Kasih


__ADS_3

“Mas Bara Wirya...” ucap Dijah memandang mata Bara.


Jika tak ingat cerita ayahnya tentang pendekatan lembut untuk kembali masuk dalam hidup Dijah, sudah bisa dipastikan Bara pasti akan menubrukkan dirinya pada wanita itu.


Pandangan mereka masih bertemu. Bara ingin mencium Dijah, tapi sepertinya terlalu terburu-buru. Wanita itu baru masuk ke mobilnya. Ia harus menghargai usaha ayahnya dan tidak mengacaukan suasana.


Puncak kepalanya sampai gatal karena memikirkan Dijah yang duduk manis di sebelahnya mengenakan setelan yang begitu elegan. Betis Dijah yang jarang terlihat itu membuat Bara gelisah.


Bara menimbang-nimbang hal apa yang akan dikatakan atau ditanyakannya pada Dijah agar jawaban wanita itu bukan 'ya atau 'tidak', atau juga ‘terserah’.


“Aku kangen Jah ...” ucap Bara. Itu adalah kata-kata yang harus diucapkannya. Ia memang merindukan wanita itu. Setelah malam ia menghajar Fredy dan mengantarkan Dijah ke Rumah Aman, ia tak pernah bisa tidur nyenyak.


Dijah menoleh Bara sekilas kemudian menatap jalanan di depan mereka dengan senyum tipis.


Bara membawa mobilnya menuju ke sebuah restoran yang berada di bukit. Membutuhkan waktu yang cukup lama sampai mereka tiba di sana. Bara memang sengaja. Ia ingin Dijah kembali menyadari kehadirannya. Ia rindu pada sikap dan bicara Dijah yang lugas.


Mereka telah tiba di sebuah parkiran restoran yang mengarah ke sebuah lembah yang diberi pagar besi. Di kejauhan kabut tampak menggantung menutup puncak bukit di seberang. Sudah lewat tengah hari, dan matahari di daerah ketinggian tak pernah terlalu galak.


Bara menarik handbrake dan melepaskan seatbelt-nya. “Kita udah nyampe,” tukas Bara kemudian mencondongkan diri untuk meraba seatbelt Dijah dan melepaskannya.


“Aku sering lewat restoran ini, tapi nggak pernah sempat mampir. Kalo ngeliat dari luar, kayaknya adem. Rasa masakannya sih nggak tau. Semoga enak ya,” kata Bara menoleh pada Dijah.


“Apa aja nggak apa-apa. Pasti enak,” sahut Dijah tersenyum.


“Jah ... Makasi udah mau ikut ayah ke acara wisudaku. Aku nggak tau ayah bilang apa aja ke kamu, tapi aku akan selalu berterima kasih sama beliau karena aku bisa ketemu kamu lagi.” Bara meraih tangan kanan Dijah dan menggenggamnya.


“Aku kangen Jah ... Dadaku rasanya terlalu sesak kalo kamu nolak ketemu aku. Aku nggak mau kamu lupain soal kita. Jangan pernah kayak gitu ... Aku nggak pernah ngerasain sesakit itu karena diabaikan. Aku sayang kamu ... Aku bener-bener sayang kamu Dijah ....”


Bara berbicara sambil menggenggam tangan Dijah dan terus menatap tangan yang berada di genggamannya itu. Ia tak berani menarik Dijah ke dalam pelukannya. Ia harus bersabar seperti kata ayahnya.


Tapi ternyata, luput dari penglihatan Bara, air mata Dijah sudah turun sejak tadi. Perlahan Dijah menarik tangan Bara sampai laki-laki itu mendongak.

__ADS_1


Dijah melingkarkan kedua tangannya di sekeliling leher Bara yang kini menunduk. Dijah memeluk erat tubuh laki-laki yang sudah terlalu banyak berusaha untuknya itu.


“Aku juga kangen ... Aku rindu ... Berhari-hari aku udah coba ngelupain kamu, tapi rupanya nggak gampang. Aku udah inget kenangan masa laluku yang sangat buruk itu. Aku malu ... Aku terlalu malu untuk ketemu kamu lagi. Padahal sebenarnya aku juga rindu. Aku pengen meluk kamu, tapi aku terlalu malu ....” Dijah meraung membuka sumbatan dalam hatinya selama ini. Tangisannya bukan hanya sekedar isak pelan. Dijah memeluk erat laki-laki yang perlahan dijadikannya tempat bersandar.


Tak ada orang yang tahu dan mengerti bahwa Bara adalah cinta pertamanya. Dijah tak pernah menjalin hubungan asmara dan disentuh oleh seorang laki-laki sampai bertemu dengan Fredy. Seorang teman laki-laki yang pernah mendekatinya di masa SMA, malah berakhir dengan babak belur dan pindah sekolah.


Pria-pria lain yang pernah berusaha mendekati Dijah sesudah perceraiannya, tak ada yang berlangsung lama. Semuanya pergi seiring pengetahuan mereka akan keberadaan Dul.


Dijah tak memohon seorang pria kaya pada Tuhan. Dijah hanya ingin seorang laki-laki yang bertanggung jawab dan menerimanya beserta Dul dengan kasih sayang.


Ketika Tuhan mengantarkan Bara yang nyaris sempurna dan menerima segalanya, ternyata malah membuat hatinya semakin kecil. Dijah memang tak ingin egois. Tapi ternyata ia juga tak sanggup kehilangan Bara. Dijah menangis menumpahkan kerinduannya.


“Iya, nggak apa-apa. Peluk aku, nangis sepuasnya. Ada aku Jah ... ada aku.” Bara semakin mengeratkan pelukannya. Mengusap punggung wanita itu dengan lembut. Menciumi kepala yang memang sudah sepatutnya disayang itu. Dijah adalah wanita hebat baginya.


“Aku sayang kamu, aku cinta kamu Dijah ... Aku sayang Dul, Percaya aku ya? Percaya aku ....” ucap Bara di telinga Dijah yang semakin keras tangisnya saat mendengar kata-kata itu.


“Aku juga sayang Mas Bara ... Aku juga sayang.”


Kata orang-orang kalau memang cinta dia pasti kembali, tapi Bara lebih mempercayai kata-kata jika memang cinta, maka ia takkan pernah pergi.


“Dijah ....” Bara melepaskan pelukan mereka. Ia telah menemukan Dijah-nya lagi. Terlepas wanita itu adalah ibu dari seorang anak, Dijah tetaplah wanita muda yang minim soal hubungan perasaan.


Bara menyadari mereka memang sama naifnya. Seperti ia yang kadang gegabah karena mendahulukan emosi dan hasratnya. Tapi bukankah sepasang manusia yang ditakdirkan bersama itu akan saling mengisi dan menguatkan?


Bara tak pernah berpikir berani menghadapi preman-preman yang mengeroyoknya jika dia tak berpikir soal Dijah. Rasa sakit yang diterimanya bisa ia tolerir dengan mudah karena mengingat soal Dijah. Berhari-hari tak enak makan dan tidur hanya karena seorang wanita. Hal sepele bagi telinga siapa saja yang mendengarnya.


Tapi, mereka memang saling membutuhkan. Bara ingin dibutuhkan sebagai seorang pria yang bisa melindungi dan merawat luka hati wanita yang dicintainya.


Dengan menangkupkan kedua tangannya pada pipi Dijah yang penuh air mata, Bara mencium bibir wanita itu.


Ciuman pelepasan rasa rindu yang telah ditahannya. Bara tak sempat melihat apa Dijah memejamkan matanya atau tidak, karena ia sendiri langsung terlena meraup seluruh bibir Dijah yang membuka untuknya.

__ADS_1


Tangan Dijah yang tadi hanya tergeletak begitu saja, kini terangkat ikut memegangi kedua sisi lengan Bara.


Bara kemudian menyandarkan Dijah ke jok mobil, tangan kanannya meraba-raba tombol pengatur sandaran kursi. Dan saat tangannya berhasil meraih tombol itu, masih dengan bibir mereka yang saling menaut, sandaran kursi Dijah perlahan turun dan Bara semakin menindih tubuh kekasihnya.


Ciuman panjang itu hanya berhenti sesaat untuk merubah posisi dan menyela tarikan nafas. Bara sudah lupa tujuannya ke sana. Tangannya sudah berpindah meremas lembut perut Dijah dan terus naik menyusuri rusuk wanita itu dari balik blus berbahan sutra tipis.


Nafas Bara semakin memburu, dan erangan lembut lolos keluar dari mulutnya. Dan saat tangannya sampai di atas dada Dijah dan memijatnya lembut, suara ayahnya tiba-tiba menerobos kepalanya.


“Ra ... Sabar, jangan tergesa-gesa ...”


Bara membuka mata, dan tangan kanannya yang sedang bernostalgia seketika menjadi kaku.


Dengan nafas terengah-engah dan pandangan mata sayu yang masih bersitatap, Bara membenarkan letak rambut dan pakaian Dijah.


“Jah,” panggil Bara.


“Hmmm ...” sahut Dijah menatap Bara yang masih menindih tubuhnya yang setengah berbaring di jok mobil.


“Nikah sama aku ya,” ucap Bara.


Bukan lamaran romantis yang luar biasa ternyata. Ucapan Bara hanya seperti himbauan. Nadanya sama seperti pria itu meminta Dijah memakai seatbelt atau meminta sepiring nasi.


“Ha? Nggak jadi makan siang?” tanya Dijah.


“Eh? Jadi—jadi kalo itu. Makan siang dulu, meski udah telat banget. Trus ikut aku ke rumah ya?” Bara mengusap pipi Dijah dengan punggung tangannya. Ia mau adegan seperti ini setiap malam pikir Bara. Tidur sambil memeluk Dijah setelah lelah ber ... Bara menyeret paksa pikiran kotor barusan keluar dari kepalanya. Sekarang ia tak boleh memikirkan hal itu. Bara memejamkan matanya dan menarik nafas.


“Iya Mas ...” sahut Dijah.


“Ya ampun Jah ...” gumam Bara sebelum kembali mengangkat tubuh Dijah dan memeluknya. Pikiran kotor yang diseretnya keluar tadi ternyata sudah berada di dalam kepalanya lagi.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2