PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
64. Ujian dan Upaya


__ADS_3

Dijah tak mengalihkan sedikit pun tatapan matanya yang sedang menguliti Bara.


"Pasti bohong..." gumam Dijah seraya melepaskan sentuhannya dari kaki Bara dan beringsut menjauh kembali menyandarkan punggungnya di jok.


"Aku kecelakaan motor Jah..." jawab Bara tak sanggup mempertahankan kebohongannya. Dijah melepaskan pelukannya dan menjauhinya seketika. Bara tak sanggup.


Mereka baru bertemu dan Bara tak sanggup harus memulai pertemuan itu dengan keributan.


"Kecelakaan di mana? Malem janji mau dateng itu, 'kan? Apanya yang luka?" Dijah meraih tangan Bara, menangkup wajah pria itu dan memiringkannya ke kanan dan kiri.


Dijah menarik leher Bara dan meraba seluruh kepala pria itu serta mengacak-acak rambutnya. Meraba dada dan perut Bara seperti seorang petugas bandara yang mengecek dengan metal detector.


Bara hanya pasrah mengikuti semua protokol yang sedang dijalankan Dijah, sampai akhirnya tangan wanita itu turun dari perut dan memegang pahanya.


Dengan cepat Bara menangkap tangan Dijah dan meletakkannya di atas kelelakiannya. "Yang ini gak dicek? Waktu kecelakaan yang ini baik-baik aja, sekarang malah nggak."


PLAKK


"Awww!!" pekik Bara memegang bahu kirinya.


Dijah memukul pelan bahu Bara. "Itu kenapa? Itu luka juga? Jatuhnya gimana? Ditabrak? Kamu ditabrak?" tanya Dijah.


"Enggak, ada angkot kenceng banget di depan, tiba-tiba ngerem. Aku ngelamun. Aku juga salah. Ini kecelakaan tunggal," ucap Bara.


Bara masih menggenggam kedua tangan Dijah di atas pangkuannya.


"Aku gak bohong," kata Bara.


"Hmmm...."


"Jangan cemberut lagi. Aku cuma gak mau bikin kamu khawatir. Aku sayang kamu," ucap Bara lagi. "Kita pulang sekarang ya?"


Dijah mengangguk.


"Cium sekali lagi," pinta Bara kembali menarik leher Dijah dan meraup bibir kekasihnya dengan cepat.


"Beberapa hari ini ke mana aja?" tanya Dijah saat mereka dalam perjalanan kembali ke kos-kosan.


"Di rumah aja, ngerjain tesis sampe selesai. Itu salah satu hikmahnya. Mungkin kalo aku nggak kecelakaan itu tesis bakal gak kelar-kelar." Bara melirik ke arah Dijah yang sejak tadi memangku tangan kirinya dan menutup bagian luka itu dengan telapak tangannya sendiri.


"Punggung kamu lukanya gimana?" tanya Dijah. "Banyak?"


"Enggak, cuma dikit aja di bagian kiri karena aku jatuh ke sisi kiri." Jangan sampai Dijah melihat seluruh tubuhnya yang hampir seluruhnya masih biru lebam.


"Sakit tapi nggak bilang," ucap Dijah.


"Aku cuma gak mau kamu khawatir. Malem itu ada mas Heru yang dateng nolongin aku. Aku gak lama di rumah sakit, hasil pemeriksaan oke semua. Besoknya langsung pulang." Bara menengadahkan tangan kirinya dan menaut tangan Dijah ke dalam genggaman.


"Tapi aku juga bisa jenguk kamu, gak cuma dosen kamu itu aja." Dijah melirik Bara untuk mengecek ekspresi pria itu.


"Dia cuma jenguk aja. Karena kebetulan tau beritanya dari ibuku. Tapi bukan ibuku yang ngomong. Cuma kebetulan aja," sela Bara cepat karena tak ingin Dijah berpikiran bahwa ibunya turut menjodohkannya dengan Joana.


Mobil yang dikemudikan Bara telah tiba di depan gang menuju kos-kosan Dijah dan parkir di tepi jalan. Karena Dijah sudah mengetahui lukanya, Bara turun dari mobil dengan hati-hati dan perlahan.

__ADS_1


Bara setengah menyeret kaki kirinya saat melangkah. Dari kejauhan terdengar suara nyanyian musik dangdut yang mengalun.


"Ya ampun udah tengah malem gini masih nyanyi," ucap Bara yang menggandeng Dijah dengan tangan kanannya.


"Malem Minggu, biasa." Dijah menjawab santai. Meski terseok-seok, Bara akhirnya sampai di depan pintu kamar Dijah.


Tini sedang berduet bersama Boy duduk di depan kamar masing-masing dengan jarak terpisah halaman kos-kosan. Speaker yang memekakkan telinga itu mereka letakkan di tengah halaman.


Di penghujung Sabtu malam itu, Tini dan Boy sedang berduet lagu 'Malam Terakhir' Rhoma Irama. Tini yang terlihat heran dengan gaya jalan Bara yang tertatih-tatih, tak sengaja bertanya melalui micnya.


"Gimana nyedotnya kamu sampe jalannya bisa kayak gitu?" tanya Tini pada Dijah.


"Huss..." tukas Bara sedikit terkejut.


"Eh iya." Tini menjauhkan letak micnya dari mulut.


"Pacar baru kamu mana?" tanya Bara pada Tini.


"Gak jelas Mas. Tiap ditelfon lemes banget suaranya. Mungkin udah kebiri dia, makanya ga ada nafsu gitu. Atau bisa juga karena udah kelamaan jual beha, jadi eneg liat isinya." Tini kemudian melanjutkan nyanyiannya.


Bara meringis mendengar jawaban Tini kemudian membuka sepatunya dan masuk ke dalam kamar Dijah yang telah terbuka.


"Udah makan?" tanya Dijah saat Bara duduk di ranjang dan meluruskan kaki kirinya.


"Sebelum berangkat jemput kamu tadi udah. Emang kamu masak apa? Udah tengah malem, laper juga."


Dijah yang hari itu memang memasak menu lengkap menyiapkan sepiring nasi dan segelas air untuk Bara.


"Kamu gak makan?" tanya Bara saat menerima piring dari Dijah.


Dijah keluar kamar dan kembali merapatkan pintu itu. Setelah memastikan Dijah telah benar-benar pergi, Bara meletakkan piringnya di lantai kemudian melangkah terpincang-pincang menuju lemari Dijah. Lututnya semakin berdenyut, ia tak bisa membayangkan bagaimana bentuk lukanya yang sudah tergesek celana beberapa jam terakhir.


Bara membuka lemari Dijah dan mencari dompet kain tempat kekasihnya itu menabung. Buru-buru ia mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan 50 ribu dan 100 ribu serta menyusunnya dengan rapi ke dalam dompet kain itu.


Dijah kembali masuk ke kamar setelah Bara selesai makan. Pria itu masih memegang piring dan gelasnya.


"Tolong piringku Jah," ucap Bara mengulurkan piring kotor pada Dijah.


Rambut Dijah yang baru dikeramas malam itu masih terbalut handuk. Dan ia masuk ke kamar tadi sudah mengenakan daster berbahan kaos.


Dijah masih berdiri di depan cermin kecil menotolkan pelembab ke wajahnya. Sesekali ia melirik ke arah Bara yang berkali-kali mengangkat celana di bagian lututnya sambil meringis.


Bara bukanlah anak kemarin sore yang baru mengendarai motornya sehari dua hari. Dijah sudah sering berada di boncengan motor pria itu. Dengan pikiran warasnya, ia tak percaya kalau Bara hanya sekedar melamun dan jatuh karena berhenti mendadak.


Setelah membuka handuk di kepalanya, Dijah menyisir rambutnya dengan jemari. Ia memutar tubuhnya untuk berbalik menghadap Bara. Pandangan mereka bertemu. Kemungkinan besar isi pikiran mereka sama.


"Buka," ucap Dijah.


"Ha?" Bara menatap Dijah dengan pandangan bingung.


"Buka celananya," ulang Dijah.


"Mau ap--" Perkataan Bara terhenti. Dijah berjalan mendekatinya. Berdiri di antara dua kakinya. Tangan kanannya masih mengangkat bagian celana di lututnya.

__ADS_1


"Aku mau liat..." gumam Dijah berlutut di dekat kaki Bara. Pandangan mereka masih bertaut dan tangan Dijah meraih pengait celana chinos coklat muda yang dikenakan Bara.


"Jah, jangan sekarang..." Bara hanya bisa mengatakan hal itu. Jika ia tak terluka, ia pasti sangat bahagia karena Dijah baru saja mengatakan hal barusan. Namun sekarang, seluruh perkataan Dijah terasa ambigu di telinganya.


Dijah ingin melihat lukanya, atau ingin melihat sesuatu yang mungkin dirindukannya?


Pandangan Bara turun melihat tangan Dijah yang sedang menurunkan resletingnya.


"Berdiri, aku mau liat." Dijah memegang kedua sisi lengan Bara.


Liat apa Dijah? tanya Bara dalam hati. Bara mengutuki dirinya sendiri. Seandainya dia sehat, dalam hitungan menit mungkin dia sudah merebahkan Dijah yang beraroma segar dan berambut basah itu ke atas ranjang.


Musik dangdut masih mengalun di luar. Pekikan dan erangan Dijah yang menikmati permainannya pasti tak akan terdengar. Tapi sayangnya itu hanya angan Bara belaka. Kondisinya sangat tidak mendukung untuk melepaskan rindunya saat itu.


Meski ogah-ogahan, Bara berdiri mengikuti kemauan Dijah. Ia menunduk melihat Dijah yang sekarang sedang mencengkeram tepian pinggang celananya.


Selanjutnya, dengan satu gerakan ke bawah, Dijah menarik turun celana Bara sampai melewati bagian lututnya.


"Aduh Jah...Aduuuuhh... Sakit Jah. Sakit banget!" teriak Bara. Setelah berteriak demikian kerasnya, Bara menyadari kalau alunan musik telah berhenti. Jeritannya barusan pasti terdengar sampai ke telinga tetangga Dijah.


Luka di lututnya berdarah. Dijah membalik bagian dalam celana itu dan melihat darah sudah ikut merembes di lapisan dalam celana.


"Lukanya segini banyak," ucap Dijah melihat kaki kiri Bara yang sudah terekspose sepenuhnya.


"Sakit Jah..." ucap Bara cemberut. Dijah melirik raut wajah Bara yang ditekuk. Kalau hanya sekedar jatuh dari motornya, tak mungkin luka-luka Bara sebanyak itu. Dijah harus memastikan sesuatu.


Dijah mendudukkan Bara di tepi ranjang. Ia kemudian pergi mengambil kotak obatnya dan menyeka darah yang kembali meleleh karena kulit luar luka itu mengelupas.


Dengan sebuah cotton bud, Dijah menotolkan salep luka dengan perlahan di lutut Bara. Di dalam pikirannya, Dijah mulai menebak apa yang sebenarnya terjadi.


"Selama ini aku nggak pernah bilang ke kamu lebih dulu 'kan?" tanya Dijah. Ia menggeser kotak obatnya ke bawah ranjang dan kembali berlutut memandang wajah Bara.


"Apa itu?" tanya Bara.


"Aku mau bilang, aku juga sayang kamu. Aku sayang kamu..." Dijah merapikan bagian depan rambut Bara. Ia menelusuri alis dan hidung pria itu sesaat dengan jari telunjuknya.


Dijah mengalungkan kedua tangannya di sekeliling leher Bara dan menarik pria itu ke dalam pelukannya. Bara membalas dengan memeluk pinggang Dijah. Mengetatkan tautan tubuh mereka hingga tak berjarak.


Sesaat lamanya Dijah memeluk Bara seerat-eratnya. Seolah ia ingin memuaskan diri merasakan kehangatan tubuh pria itu. Dijah menghirup aroma parfum yang menguar segar dari leher Bara.


Aku sangat menyayangi pria ini. Bara, aku sudah jatuh cinta padamu. Isi hati dan pikiran Dijah berlomba-lomba menyatakan perasaannya. Seiring dengan itu Dijah mengangkat wajahnya dan mencium bibir Bara yang hangat. Dijah memejamkan matanya.


Jemari Dijah satu persatu membuka kancing kemeja Bara yang sedang membungkus tubuh dan menutup semua bekas luka lelaki itu.


Dijah harus memastikan itu malam ini. Ia sudah berpengalaman mengenali bekas pukulan.


"Jah... Kamu mau?" tanya Bara saat ciuman mereka terlepas. Dijah tersenyum membalas tatapan Bara.


Kemudian bertubi-tubi Dijah menciumi leher kekasihnya. Bara terhanyut dan lupa akan luka lebam yang harusnya tak dilihat oleh Dijah.


To Be Continued.....


Jangan lupa likenya ya sayang2nya Mas Bara.

__ADS_1


Modal malam jumatnya segini aja.


Besok dilanjut lagi.


__ADS_2