
"Om Baranya belum ke sini, masih sibuk. Tapi om Bara ada titip sesuatu untuk kamu. Ikut Om ke mini market seberang yuk," ajak Dona pada Dul yang selesai magrib itu kembali masuk ke halaman Polsek untuk mencari Bara.
"Om Bara nggak mau ketemu aku lagi ya?" tanya Dul yang lengannya sedang digandeng oleh Dona menyeberangi jalan menuju minimarket.
"Mau kok. Om Bara pesan ke kamu, katanya sabar. Nanti om Bara pasti dateng nemuin kamu. Sekarang om Bara masih sibuk," tukas Dona seraya mendorong pintu kaca minimarket.
Meski wajahnya kecewa saat mendengar kabar bahwa Bara belum bisa menemuinya, Dul terlihat riang ketika Dona menyodorkannya sebuah keranjang merah dan menunjuk lorong tempat dipajangnya berbagai snack.
Dalam hati, Dul sebenarnya bukan meminta hal itu pada Bara. Ia tak mempersoalkan tentang berbagai jajanan yang selalu diberikan pria itu kepadanya. Dul hanya ingin tahu, kenapa Bara dan ibunya tak pernah lagi terlihat bersama.
Dul mengagumi sosok Bara. Ia yang sejak kecil jauh dari kasih sayang seorang ayah, telah menemukan kehangatan sosok yang dicarinya pada diri Bara. Ia tak rela jika harus berpisah dari Bara padahal baru mengenal dan dekat sebentar dengan pria tampan baik hati itu.
“Sudah cukup untuk bekal jajanan seminggu, 'kan? Ayo om antar kamu pulang ke rumah ya,” ajak Dona kembali menggandeng lengan Dul menyeberangi jalan.
“Sama siapa kamu ini? Uang dari mana?” hardik seorang pria saat Dona telah berada di depan gang bersama Dul.
Fredy baru turun dari sebuah minibus dan langsung menghampiri anaknya.
“Saya temannya Dul. Cuma beliin jajanan aja kok Mas,” sahut Dona sedikit ngeri dengan penampilan Fredy yang urakan.
Pria itu mengenakan jeans dan kemeja putih strip hitam dengan dua kancing yang terbuka. Di kakinya terbalut sepasang sepatu kulit. Usia Fredy 32 tahun. Tapi wajahnya tampak lebih tua karena narkoba yang rutin dikonsumsinya bak makanan pokok sehari-hari.
Sejak dulu ia memang mengincar Dijah yang masih remaja. Fredy yang kala itu berusia 27 tahun setiap harinya mengamati Dijah saat pergi dan pulang sekolah melintasi warung tempat di mana bapak Dijah biasa menghabiskan usianya.
Mencekoki bapak Dijah dengan uang hutang berjudul ‘pakai saja dulu, nanti bisa diganti’ adalah modus Fredy menjerat keluarga itu.
“Kamu ngemis ya? Kamu minta-minta ke orang? Memangnya ibu kamu yang belagak bisa ngasi kamu makan itu, gak ngasi kamu jajan?” teriak Fredy di depan Dona.
“Enggak kok Mas, Dul nggak minta. Saya yang mau beliin. Titipan dari teman saya juga,” tutur Dona semakin ketakutan melihat muka Fredy yang telah memerah karena amarah.
“Buang itu buang!!” teriak Fredy.
“Enggak mau! Ini dari om Bara. Om Bara yang kasi,” ujar Dul memeluk bungkusannya.
__ADS_1
“Bara??? Buang itu sekarang!!” teriak Fredy merampas semua bungkusan dari Dul dan mencampakkannya ke jalan raya.
“Mas gak boleh gitu!” sergah Dona.
“Pergi kamu sekarang! Aku cekik lehermu di sini nanti. Kamu siapanya Bara?” Fredy telah maju selangkah mendekati Dona.
Dona mundur dan mengangkat kedua tangannya di depan dada seolah berusaha menenangkan Fredy. “Oke—oke, maaf.” Dona tak ingin menjerumuskan dirinya ke dalam masalah yang ia tak mengerti.
“Ayo pulang! Mana ibumu? Udah diajarin minta-minta kamu sama dia? Hah??”
PLAKK!!
Fredy memukul kepala Dul.
“Sakit Pak..!” raung Dul memegangi kepalanya. “Gak ada. Ibu nggak pernah nyuruh gitu. Itu jajanan dari om Bara...” raung Dul lagi.
“Bara terus—Bara terus!! Ibumu melacur sama laki-laki itu kamu nggak ngerti?? Udah dikasi apa aja kamu sama laki-laki itu? Apa?” Fredy menarik telinga Dul sepanjang perjalanan mereka masuk menuju rumah orang tua Dijah.
“Om Bara baik ke ibu... Baik ke aku juga. Ini sakit Pak... Lepasin...” rengek Dul memegangi telinganya. Suara tangisnya menggelegar di sepanjang gang.
“Mbah... Mbah...” panggil Dul dari depan pintu.
“Kenapa kok dia nangis?” tanya bapak Dijah pada Fredy.
“Kasi tau Dijah, jangan ngajarin anaknya ngemis ke laki-laki itu. Nanti aku bunuh sekalian si Bara itu. Biar Dijah tau siapa aku.”
“Kamu ya gak boleh kayak gini. Dia masih kecil tau apa?” sergah bapak Dijah menarik tangan Dul masuk ke rumah.
“Om Bara baik, dia cuma ngasi aku jajan," tangis Dul dari depan pintu.
PLAKK!!
“Aduh Pak!! Sakit! Sakit... Ibu... Ibuuuuuu... Sakiiiiit... Ibuuuuuu....” Dul berlari ke dalam rumah dan menjatuhkan dirinya ke atas kasur tipis di depan televisi. Bocah laki-laki itu menutup wajahnya dengan bantal. Mulut yang baru saja ditampar oleh bapaknya terasa berdenyut. Lidahnya mengecap rasa asin dari bibirnya itu.
__ADS_1
“Apa ini?!” teriak ibu Dijah keluar dari kamar dan berjalan pelan-pelan.
“Bara lagi! Sebut lagi dia pake mulutmu itu!” Fredy berteriak dari luar pintu.
“Kalo dateng cuma untuk nyiksa anakmu aja mending gak usah dateng!” ujar bapak Dijah. “Gak bisa nyenengin keluarga dengan uangmu, setidaknya jangan buat menderita.” Bapak Dijah masuk ke rumah dan menutup pintu. Ia juga marah melihat Dul pulang dengan ingus dan air mata yang telah menyatu membasahi wajah.
“Mau jadi orang tua yang bijak ya?” teriak Fredy dari luar. “Terlambat!!” jerit Fredy sebelum pergi meninggalkan rumah Dijah.
“Aku mau ibu... Telpon ibu...” raung Dul pada mbah lanangnya.
Bapak Dijah mengambil ponsel seukuran genggaman tangan yang terletak di dekat televisi kemudian menekan nomor telepon Dijah.
Beberapa saat menunggu, Dijah menjawab panggilan itu.
“Kamu ke sini, si Dul dipukul bapaknya. Mulutnya berdarah. Dia nangis-nangis minta kamu dateng,” kata bapak Dijah di telepon.
Dijah tak mengatakan banyak hal. Suara wanita itu hanya terdengar mengatakan, “Anjing!!” sebelum menutup teleponnya.
Setelah menerima telepon dari bapaknya, Dijah yang baru saja pulang mencari Mbok Jum, kembali memakai tasnya.
Dijah menabrak krat minuman yang dijadikan meja hingga membuat pemasak nasi di atasnya jatuh dan isinya berserak di lantai.
“Berapa memangnya utang bapakku sampe aku gak bisa hidup tenang?” Dijah meneteskan air mata dan mengaduk-aduk lemarinya mencari dompet kain tempat ia menyimpan uang.
“Aku bayar semua. Aku bisa bayar semua. Dasar laki-laki kurang ajar...” desis Dijah mengusap air mata yang turun dengan gencarnya.
Dijah menarik dompet kain dari sela tumpukan baju dan membuka resletingnya. Sesaat ia tertegun menatap isi dompet itu. Tabungannya tak sebanyak itu. Itu terlalu banyak. Ia selalu hapal jumlah dari tiap sen yang berhasil dikumpulkannya. Uang di dompet itu terlalu banyak.
Air mata Dijah semakin tak terbendung. Dengan tubuh berguncang ia mulai menghitung jumlah uang yang akan digunakannya untuk membayar sisa hutang bapaknya pada Fredy.
Di sela-sela tangisnya, Dijah mengingat-ingat bagaimana cara Bara memasukkan uang itu selama ini.
“Dasar laki-laki ini... Aku harus bagaimana ke kamu...” isak Dijah berjongkok memegang segenggaman uang yang dirasanya sangat banyak.
__ADS_1
To Be Continued.....