PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
110. Sahabat Sesumbar


__ADS_3

Bara berlari-lari di lorong menuju lift untuk langsung menuju restoran yang terletak di lobby.


 


Acara sarapan peserta seminar cuma sampai jam 8 pagi. Selebihnya mereka harus masuk ke ruangan. Sesampainya di depan pintu restoran, Bara menyebutkan nama perusahaan dan karyawan hotel mengangguk membolehkannya masuk.


 


“Udah telat 20 menitan. Sarapan udah selesai.” Heru menoleh jam di pergelangan tangan kirinya.


 


“Ya udah, ayo masuk. Maaf,” ucap Bara yang masih berdiri.


 


“Gak mau ngeteh dulu kamu? Kita tunggu, buruan.” Heru melirik Bayu yang mengangguk-angguk.


 


“Kalo ngeteh udah. Tadi sempet dibikinin teh ama istriku. Ya udah, ke ruangan langsung. Udah telat, 'kan?” Bara meringis sungkan menatap Heru


 


“Yakin?” tanya Heru. “Itu makan roti juga masih bisa,” ujar Heru mengendurkan sedikit omelannya.


 


“Udah gak apa-apa, ayo.” Bara berjalan keluar restoran.


 


“Pagi-pagi sih ...” ujar Heru setengah berbisik pada Bara. Saat ia berhasil menyamai langkah Bara di depannya.


 


“Kemarin malem dia ketiduran,” jawab Bara juga dalam bisikan.


 


“Dilanjut ajalah ...” sambung Heru.


 


“Kasian. Eh kok jadi dibahas?” Bara menoleh Heru yang tergelak. Bayu memandangi mereka bergantian.


 


“Ngomongin apa sih?” tanya Bayu di depan pintu hall.


 


“Jangan ikutan. Belom area kamu,” tukas Heru tertawa memijat-mijat pundak Bayu yang mencibir.


 


Bara duduk di antara Heru dan Bayu. Di depannya terletak sebuah agenda beserta alat tulis, air mineral, kotak snack juga papan bertuliskan nama dan asal perusahaan. MC telah membuka acara saat mereka tiba. Bara yang masih teringat akan penyebab keterlambatannya, mengambil ponsel ingin mengucapkan kata-kata romantis buat sang istri.


 


Masih dengan senyum terkulum, ia menggulir layar ponsel menuju aplikasi pesan. Sesaat matanya tertumbuk pada nama ‘Joana Dosen’ yang tak lagi menampilkan jumlah pesan yang belum dibaca. Dan ketika jarinya mengetuk pesan itu, lututnya terasa lemas. Dijah telah membalas semua pesan Joana pukul 4 lewat pagi tadi. Balasannya cuma dengan satu pesan. Tapi Bara sudah bisa membayangkan bagaimana wajah istrinya saat mengetikkan pesan itu.


 


Bara mengangkat pandangannya dari layar ponsel. Ia menoleh pada MC yang masih membacakan tata tertib dan urutan acara seminar. Heru sedang tekun menumpukan kedua sikunya di atas meja. Sedangkan Bayu terlihat mencatatkan sesuatu di agendanya.


 


Bara kembali menatap ponselnya. Ia membaca semua pesan Joana yang sudah pasti telah dibaca istrinya sekarang. Ia mengernyit. Tak terasa tangan kirinya terangkat untuk memijat dahinya. Masih pagi, dan ia harus menerka-nerka apa yang dirasakan Dijah saat membaca semua pesan itu. Ia kembali mengingat sikap Dijah pagi tadi. Wanita itu biasa saja. Yang berubah hanya ... Bara membulatkan matanya. Pagi yang panas dan liar itu karena istrinya cemburu? Dijah cemburu tapi malah memanjakannya? Bara menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum.


 


“Ehem!” Heru berdeham melirik adik sepupunya yang sejak tadi kembali mirip seorang ABG jatuh cinta. Hanya dengan sekali lirikan saja, Heru sudah bisa memastikan pagi tadi pasti sangat luar biasa buat Bara.


 


“Maaf, sebentar—” Bara kembali mengalihkan perhatiannya ke ponsel dan mengetikkan pesan untuk istrinya.


 


‘Kamu gemesin banget tadi, aku suka. Makin cinta sama Ibunya Dul.’ Bara kemudian menekan tombol send.


 


Selesai mengirimkan pesan itu, Bara menoleh pada Heru dan kembali meringis. Meski mengatakan hal menggemaskan pada Dijah, hatinya sedikit gelisah. Pesan yang disampaikan Dijah pada Joana telah dibaca. Dosen wanita itu sepertinya memilih bungkam. Dan Bara berharap bahwa Joana tak akan menghubunginya jika tak menyangkut hal yang benar-benar penting. Rumah tangganya belum sebulan. Masih sangat muda. Ia mengkhawatirkan keadaan emosi Dijah yang terlihat santai namun kadang menyimpan sesuatu yang belum dipahaminya.


 


*****


 


“Jangan ke sebelah sana kelen! Dalam itu kutengok!” teriak Mak Robin dari tepi kolam. Ia sedang mengawasi Robin dan Dul yang sedang berenang.


 


“Ada kita lho Mak, santai aja.” Boy berenang di sisi kolam dalam yang berbatasan dinding dengan kolam anak.


 


“Mana bisa aku santai. Gak percaya aku sama kelen.”


 


“Mbak Dijah jago berenang ya ... Gak nyangka,” ujar Asti yang berpegangan pada dinding kolam dengan Tini yang sedang berada di sebelahnya.


 


“Dijah lahirnya di sungai,” ujar Tini yang nasibnya sama seperti Asti. Sama-sama tak bisa berenang. Tapi meski begitu, penampilannya di kolam bak seorang profesional. Dengan kacamata hitam yang sejak tadi tak lepas dari wajahnya.

__ADS_1


 


“Sor orang ini bedua berenang. Biasa si Robin gak ada kawannya,” ujar Mak Robin.


 


“Bikin adik untuk Robin,” sahut Boy yang menumpukan tangannya di dinding pembatas kolam.


 


“Apa gak aneh? Nanti diliat orang nenek-nenek kok bunting?” ujar Tini malas-malasan.


 


“Tolong kau benamkan kepalanya ke air Boy!” pinta Mak Robin yang kesal pada ucapan Tini.


 


“Siapa yang bunting?” tanya Dijah yang baru selesai berenang gaya bebas satu putaran.


 


“Belum ada. Mbak Dijah pasti nyusul ngasi adik buat Dul.” Asti berbicara sambil menepuk-nepuk air di hadapannya.


 


Dijah hanya diam. Tak ada satupun yang tahu soal kehidupan rumit yang dijalaninya di masa lalu.


 


“Mak Robin kok gak hamil lagi?” tanya Dijah pada Mak Robin yang pagi itu memakai celana pendek dan kaos oblong.


 


“Aku KB!” jawab Mak Robin.


 


“KB apa?” tanya Dijah.


 


“KB tunjang! (tendang)” sahut Mak Robin. “Kalo udah nyengir-nyengir bapak si Robin kutengok, kutunjangkan (kutendangkan) lah dia.” Mak Robin memasang wajah kalem.


 


“Kalo seminggu tiga kali, berarti tiga kali kena tendang? Sebulan begituan terus, bisa meninggal suamimu.” Tini masih bermalas-malasan berendam di kolam renang.


 


“Ke pantai yuk! Main pasir,” ajak Boy. “Ayo Tin! Ketimbang berendam terus di sini. Bisa makin melar kamu.” Boy menuju tangga kolam dan bergegas naik.


 


Tak lama kemudian, mereka semua telah berlarian di tepi pantai berpasir putih. Langit yang cerah, ombak yang kecil dan angin yang bertiup menjadikan pagi mereka terasa benar-benar berbeda. Jauh dari hiruk pikuk musik dangdut dan teriakan tetangga.


 


 


“Sebentar lagi kamu juga punya mas yang bawa-bawa kamera. Sabar ...” Tini yang memakai pakaian renang berbaring menelungkup di pasir. Di dekatnya, Dijah dan Mak Robin sedang duduk ikut bermain pasir bersama kedua bocah laki-laki.


 


Asti dan Boy yang tadi sibuk berfoto, kemudian datang dan menghempaskan tubuh di dekat mereka. Boy berbaring di sebelah Tini. Telentang menghadap langit dengan ujung-ujung kakinya yang sesekali disentuh ombak kecil.


 


“Aku jadi kangen ibuku. Kangen rumah,” ucap Boy menengadah.


 


“Pulang,” jawab Tini.


 


“Masih kesel sama bapakku. Keinget terakhir kali aku diomeli cuma karena minta bantuan modal usaha. Padahal aku ngomongnya pinjem. Nanti dikembalikan. Bapak kayak pilih kasih. Kalo mas-ku yang perlu apa-apa langsung dikasi. Alesannya udah punya anak-istri jadi lebih membutuhkan.”


 


“Pinjem berapa emangnya?” tanya Tini.


 


“Dikit kok, aku mau dagang di depan mini market. Minta 4 juta waktu itu.”


 


“Nanggung. Minta sertifikat rumah aja sekalian,” sahut Tini. Ia kemudian kembali berguling di pasir.


 


“Susumu kena pasir dah kayak onde-onde Tin!” tukas Boy. Tini meraup segenggam pasir kemudian menaburkan pasir itu di atas dadanya.


 


“Aku pengen kangen, tapi gak tau sama siapa. Sama orangtuaku juga gak kangen. Laki-laki pertama yang dulu aku perjuangkan sampe berdarah-darah, cuma bisa menyisakan darah aja.” Tini berbaring di sebelah Boy ikut menengadah langit.


 


“Sisa darah di seprai maksudnya?” tanya Boy. Tini mengangguk.


 


“Cepat kali pulak kau tekangkang,” tambah Mak Robin.


 


“Karena aku kira laki-laki itu bisa kujadikan rumah. Dia bikin aku nyaman,” sahut Tini.

__ADS_1


 


“Tapi rupanya dia keong, kan? Dibawa-bawanya terus rumahnya. Cemana kau mau tinggal ... Ckckck” Mak Robin berdecak menggelengkan kepalanya.


 


“Gimana kamu bisa merasa pulang ke sebuah rumah? Kalau yang kamu sebut rumah itu bisa berpindah?” tanya Dijah pada Tini.


 


“Jangan pernah menjadikan seseorang sebagai rumah, sebab rumah itu harus bersifat statis sedangkan manusia itu dinamis.” Asti angkat bicara menggunakan pengetahuannya.


 


“Mungkin gak selalu dalam bentuk bangunan rumah, tapi kita semua perlu tempat pulang. Bisa jadi kayak suatu tempat atau seseorang atau seekor kucing, mungkin juga anjing dan apa pun itu yang bikin kita bisa membagi hal-hal sulit dan indah tanpa merasa terbebani lagi. Buatku itu arti sebuah rumah.” Mak Robin yang anti cicilan KPR ikut menambahkan pendapatnya.


 


“Pada akhirnya, rumah bisa berwujud apa aja. Selama di situ raga kita pulang, dan hati terasa lapang, selapang-lapangnya. Itu artinya rumah buat kita.” Boy menarik kesimpulan dari pembicaraan mereka yang lumayan berfaedah pagi menuju siang itu.


 


“Laki-laki itu cinta pertamaku. Mungkin dia lupa. Sebelum dia sejauh matahari, kami pernah satu kamar mandi.” Tini sangat melankolis pagi menjelang siang itu.


 


“Cuci tangan bareng maksudnya?” tanya Dijah.


 


“Jangan merusak suasana Jah,” tegur Tini. Dijah terkikik-kikik.


 


“Nanti juga pasti ketemu laki-laki yang tepat,” ujar Dijah kemudian.


 


“Sekarang aku suka sama satu laki-laki. Tapi ...” Perkataan Tini menggantung.


 


“Selama janur kuning belum melengkung, artinya masih ada harapan.” Boy sepertinya belum paham soal siapa laki-laki yang dimaksud Tini.


 


“Apanya yang janur belum melengkung? Popok bayi juga udah menggantung. Hapus isi pikiranmu itu!” sergah Dijah pada Tini. Ia yang masih panas soal pesan-pesan Joana jadi ikut menumpahkan kekesalannya.


 


Tini terkekeh mendengar ucapan Dijah. Ia kemudian menelungkup menghadap temannya itu.


 


“Nikah enak ya Jah?” tanya Tini.


 


“Enak Tin! Ciuman aja enak. Bangun tidur ada yang bisa dipegang-pegang,” jawab Dijah cepat.


 


“Bukan soal itunya kampret! Soal ada temen pendamping, temen ngobrol. Soal enak-enak aku juga tau!” Tini mencampakkan segenggam pasir ke arah Dijah yang tertawa-tawa. Ia kemudian kembali berbaring menengadah langit dengan pakaian renangnya seraya merentangkan kaki.


 


“Aku ngomong jujur lho. Mas-ku enak banget. Kamu juga pasti udah bayang-bayangin mas yang satu lagi. Makanya langsung ilang feeling sama si Yudi.” Dijah kembali tertawa terbahak-bahak.


 


“Cangkemmu Jah!” umpat Tini.


 


“Ilang selera sama yang kumis tebal bak mas Adam Suseno. Sekarang seleranya yang cambang panjang kayak Bung Rhoma,” ledek Dijah lagi.


 


Tiba-tiba ....


 


“Cambangku mirip Bung Rhoma gak Ra?” Suara Heru tiba-tiba muncul di belakang mereka.


 


“Mampus kelen!” pekik Mak Robin yang telah menoleh ke belakang. “Benamkan muka kelen ke pasir-pasir itu!” pinta Mak Robin pada Dijah dan Tini yang belum berani menoleh ke belakang.


 


Jam makan siang telah tiba. Peserta seminar mendapat waktu istirahat selama satu jam. Heru yang merasa tak ada kegiatan, berhasil mengintili Bara yang sedang mencari anak istrinya.


To Be Continued.....


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2