
Tini, Boy, Asti dan Mak Robin menunduk memandangi ponsel Tini yang sengaja diletakkan di atas meja kecil plastik yang mereka jarah dari bekas kamar Dijah.
Ponsel itu sedang menampilkan aplikasi pesan yang sedang terbuka. Nama di atasnya tertera ‘Pak Agus Malam’. Tini berhasil mendapatkan nomor ponsel atasannya itu. Berbekal alasan Agus yang berhutang Budi karena menyelamatkan laptop seharga puluhan juta dari kehancuran.
Tini sudah pulang dari kantor sejak siang tadi. Alasan bisulan ternyata membuat luluh Agus yang berwajah datar itu. Pukul 9 malam, semua penghuni kos telah berada di depan kamar Tini untuk menyaksikan wanita itu mencoba nomor Agus yang baru. Sesaat yang lalu, Tini sudah mengetikkan satu pesan pendek.
‘Malem Pak Agus’
Pesan itu terkirim, tapi belum terbaca. Sudah beberapa saat lamanya beberapa penghuni kos masih menunduk menatapi pesan itu. Berbagai asumsi terlontar dari mulut mereka.
“Aku rasa pak Agus-nya udah tidur Mbak,” terka Asti.
“Mungkin lagi di jalan, kan biasa kalo bos pulangnya lebih lama.” Boy mengangkat pandangannya dari ponsel Tini.
“Halah, kurasa udah dibacanya dari atas pesan si Tini. Pura-pura aja dia gak tau. Malaslah pikirnya. Perempuan bisulan 'kan tandanya jorok.” Mak Robin ikut mengangkat pandangan dan melirik Tini yang mengeraskan rahang menatapnya.
“Kamu kasi penghiburan, kasi semangat. Kasi doa,” ucap Tini pada Mak Robin.
“Tiap hari aku bedoa biar kau cepat kawen. Tapi aku juga gak mau kau berharap tinggi-tinggi. Nanti kalo jatuh sakit. Luka-luka,” jawab Mak Robin.
“Ya dirawat. Kan ada asuransi dari perusahaan pak Agus. Hihihi...” kikik Tini dengan bebalnya.
Layar ponsel yang didiamkan padam. Mereka berempat kemudian bersandar lemas.
“Dasar kurang ajar! Pantes kalau belum nikah usia segitu. Jam 9 udah tidur. Laki-laki ap—”
TING
TING
Notifikasi pesan muncul membuat layar ponsel kembali menyala. Semuanya terdiam.
“Eh, kayaknya dari ‘Pak Agus Malam’ ayo cepat buka!” pekik Boy.
Kepala mereka kembali menunduk di atas meja menghadapi ponsel. Tini mengusap layar kemudian melihat dua baris balasan Agus.
‘Malam Tini...’
‘Ada yang bisa dibantu?’
“Ih ya ampun Boy!” Tini menutup mulutnya seolah terharu. “Aku bahagia,” ujar Tini kemudian mengguncang-guncang Boy dan mengacak-acak rambut laki-laki itu.
“Udah ah! Geli aku kena susumu!” Boy mencampakkan tangan Tini yang sejak tadi memeluknya. “Cepet bales!”
“Kukira udah menuju kesembuhan,” gumam Tini memandang Boy. “Oke aku bales lagi. Tapi kok nanyanya apa yang bisa dibantu. Emangnya apa? Apa bantu ngangkat galon air? Jawaban kok kaku banget kayak gini,” omel Tini.
“Jadi diri sendiri aja Mbak.... Kita belajar dari mas Bayu yang lalu. Biar pak Agus kenal Mbak Tini sebenarnya gimana.” Asti menoleh pada Tini di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Iya, kau balas aja suka-sukamu. Cepat!” Mak Robin memberi semangat.
“Suka-sukaku aja kan? Oke...” Tini kemudian mulai mengetikkan jawaban. Ketiga temannya kembali bersandar ke kursi. Sedangkan Tini menunduk di atas ponselnya yang tergeletak di meja. Beberapa kali ia terlihat mengetikkan sesuatu kemudian menghapusnya kembali.
Akhirnya setelah yakin dengan apa yang dikatakannya, ia mengklik tombol kirim dan menegakkan tubuhnya.
“Beres, tinggal nunggu jawabannya.” Tini mengedarkan pandangan ke arah ketiga temannya.
“Kamu bikin apa?” tanya Boy.
“Liat aja,” jawab Tini dengan wajah sombong. Boy, Asti dan Mak Robin menunduk melihat balasan Tini.
‘Bantu menenangkan hati saya boleh nggak Pak?’
“Hahaha—” Mak Robin tertawa terbahak-bahak. “Memang khas kau kali jawabannya.” Mak Robin melanjutkan tawanya.
“Ya ampun, aku deg-degan—aku deg-an.” Asti mendekap mulutnya setelah melihat jawaban Tini.
“Tin! Kok langsung gini?” tanya Boy dengan wajah serius.
“Dasar temen kampret! Tadi waktu ditanya katanya jadi diriku sendiri aja. Suka-sukaku aja. Sekarang semua komplain. Bikin aku ikut deg-degan.”
“Bisa dipecat kamu nanti! Ini kayak main-main sama hal serius,” omel Boy.
“Jadi gimana?” Tini ikut memucat. “Aku hapus—aku hapus.” Tini buru-buru menunduk kembali ke ponselnya.
“Modar Boy!” umpat Tini. “Besok kayaknya aku jadi pengangguran lagi.” Masih menunduk, Tini menoleh pada Boy.
“Bisa dipastikan,” sahut Boy memandang pesan yang sudah terbaca. Ia memijat-mijat pundak Tini.
“Pasrah Mbak,” ujar Asti bersandar dengan wajah pasrah dan melontarkan tatapan iba pada Tini.
“Nyari ubanku aja la kau! Selembar seribu,” tukas Mak Robin kembali menghempaskan punggungnya di kursi.
TING
Terdengar bunyi pesan kembali masuk. Keempatnya terbelalak dan serentak kembali menunduk di atas ponsel. Tini lekas-lekas mengusap layar ponselnya.
Mata keempat orang itu semakin terbelalak. Asti kembali menutup mulutnya. Dan Boy gantian mengguncang-guncang tubuh Tini yang mematung. Mak Robin tertawa terbahak-bahak.
Agus mengirimkan jawaban, ‘Memangnya hati kamu gak tenang kenapa?’
“Eh! Eh! Aku nggak mimpi kan? Aku kayaknya nggak bakalan dipecat besok!” Tini seperti baru tersadar kemudian gantian mencampakkan tangan Boy yang memeluknya. “Sana! Geli aku!” Ia kemudian mengambil ponselnya dan mendekatkan ke wajahnya.
“Akhirnya—akhirnya... Suketi akan memasuki masa kejayaannya. Cuma laki-laki nggak normal yang bisa menolak Suketi. Legenda desa Cokro yang melarikan diri. Hahaha—” Tini kemudian tertawa terbahak-bahak sambil mendekap ponselnya. Mendengar apa yang dikatakan Tini, Boy melengos.
Tini mengitari halaman masih dengan memandangi ponselnya dari berbagai sudut.
__ADS_1
“Eh Tini!” panggil Mak Robin. “Teringatku, itu celana seragam bola siapa kau pake? Kemarin laki-laki di lantai dua cakap-cakap di belakang bilang celananya pernah ilang di jemuran.”
Tini berjalan mendekat. “Ah masak sih, ada yang nyari ya?” tanya Tini dengan nada rendah kemudian kembali duduk di kursi.
Mak Robin mengangguk. “Iya, katanya ilang di jemuran. Kau yang ngambil?” tanya Mak Robin. “Gak ada seingatku cowok kau yang suka main bola betulan.”
“Ini memang aku ambil di jemuran. Tapi aku nggak nyolong. Celana ini empat hari kena ujan panas di jemuran, aku kasian. Jadi aku ambil dan aku pake sampe sekarang.”
“Ih, betol lah berarti! Kurasa lupa dia ngangkat jemuran. Kau pake pula bekas bola-bola orang!” Mak Robin tertawa terbahak-bahak.
“Udah aku cuci lagi. Ya udahlah, biarin aja. Ngapain dikembaliin. Yang ada nanti dia cium-cium bagian anunya tiap malem.” Tini terkikik geli.
Asti dan Boy hanya memandang Tini dengan pandangan jijik.
*****
“Jadi udah pasti ya Dok?” tanya Bara pada dokter kandungan yang sedang menulis resep vitamin.
“Sudah—sudah, 90% bisa dipastikan perempuan. Sudah bulan ketujuh. Dua bulan lagi bakal ketemu putrinya.” Dokter wanita tadi merobek secarik kertas dan menyodorkannya pada Bara. “Semuanya sehat Pak. Kondisi ibunya juga sudah fit sekarang.
Bara merangkul pundak Dijah keluar dari ruang periksa spesialis kandungan. Kali ini, Bara memandang foto USG calon putrinya dengan wajah sendu. Rautnya teduh dan bibirnya menarik guratan senyum tipis. Perasaan melankolis sedang menerpanya.
“Putri ayah,” gumamnya. Dijah mendongak menatap Bara yang masih memandangi foto calon bayi dalam rupa hitam putih. Dijah menyunggingkan senyum. Dadanya sedikit ringan karena dokter kembali memastikan jenis kelamin bayi mereka. Tapi sebelum bayinya lahir ke dunia dengan selamat dan sehat, rasa berhutangnya pada Bara seperti belum lunas.
Bara tiba-tiba melepaskan rangkulannya pada bahu Dijah. Ia merogoh saku celananya karena merasa ponsel itu bergetar.
“Ibu,” ucap Bara melihat nama dan foto ibunya memenuhi layar. “Padahal baru aja dari sana nganter Dul, udah nelfon lagi.”
“Ya Bu?” jawab Bara saat menyahuti panggilan ibunya.
“Gimana—gimana? Perempuan ‘kan? Gak berubah ‘kan?” tanya Bu Yanti di seberang telepon terdengar tak sabar.
“Iya, perempuan. Bayinya perempuan. Kirain mau bilang apa,” sahut Bara.
“Mau mastiin aja. Ya udah, langsung pulang ya. Jangan belanja pakaian bayinya hari ini. Besok aja, hari Minggu. Pulang sekarang, kita makan siang sama-sama. Dul sudah laper katanya. Mau nunggu ibunya. Cepet—cepet.” Bu Yanti segera mengakhir pembicaraan. Bara menoleh menatap wajah Dijah yang penasaran.
“Belanja pakaian bayinya besok aja, hari Minggu. Sama-sama ibu. Malem ini kita nginep di sana aja ya... Biar Dul ada temen mainnya. Mas mau manja-manja sama ibunya....” Bara terkekeh sambil kembali mengalungkan tangannya ke sekeliling pundak Dijah.
To Be Continued.....
Maafkan update terlambat karena njuss sibuk memikirkan kapan pandemi ini berakhir.
Sehat-sehat semuanya. Stay Safe :*
Kalau sayang, tombol likenya jangan lupa diklik.
Dengan mengklik tombol like itu artinya pembaca turut memberi semangat pada jemari para penulis.
__ADS_1
Salam sayang selalu :*