
Siapa orang yang pertama kali dicarinya sekarang? Kalau dulu ibu, sekarang tentu saja istri. Kemudian anak. Baru setelah Bu Yanti mengomel karena ia tak ada kabar seminggu lebih, barulah Bara memboyong keluarga untuk menginap di rumah orangtuanya. Bu Yanti tak akan ingat lagi untuk mengomel jika sudah bertemu dengan Mima.
Bara baru tiba di depan pagar. Saat memasukkan tangannya untuk membuka cantolan pagar, ia mendengar anak kunci pintu rumah diputar. Benar dugaannya tadi, Dijah pasti menunggunya. Setiap ditanya kenapa belum tidur, pasti alasannya terbangun karena lapar atau ke kamar mandi. Bara menebak, istrinya mungkin memang sudah tidur. Tapi kembali terbangun karena ia belum pulang.
Rambut Dijah tak dijepit. Pasti tadi istrinya buru-buru berdiri menghampiri pintu sampai melupakan jepit rambut yang selalu standby di meja nakas. Dijah cantik kalau rambutnya digerai. Tiap Bara mengatakan hal itu, Dijah bilang mengurus bayi dan pekerjaan rumah terlalu gerah kalau rambutnya digerai terus.
Wajah Dijah memang terlihat baru bangun tidur. Meski sembab, Dijah malah terlihat semakin manis. Pergi kerja di pagi buta dan baru pulang selarut itu, membuat Bara merindukan keadaan rumah.
Hal-hal sederhana saja, tapi selalu dirindukan kalau sudah berada di luar rumah terlalu lama.
Melihat Dijah yang duduk bersila di depan meja lipat kecil mengajari Dul PR sekolah sambil menyusui Mima. Atau mendengar omelan Dijah pada Dul yang susah disuruh mandi dan susah disuruh keluar kamar mandi ketika sudah di dalam.
Bara merentangkan tangannya. Memeluk Dijah yang berbalut daster tipis. Ia bisa merasakan dada lembut Dijah menempeli perutnya. Ukuran dada Dijah yang semakin disukainya.
Mereka sering melewatkan tengah malam dengan makan bersama dan bertukar cerita kegiatan mereka hari itu. Menjadi pendengar Dijah yang mengeluhkan hal-hal tak penting. Bara benar-benar menikmatinya. Dijah yang dingin dan pendiam itu, telah berubah menjadi sosok yang hangat saat menjadi istrinya.
Setelah mandi sebentar di bawah siraman air hangat, Bara melihat Dijah sedang menyusui Mima. Tatapan istrinya tak lepas sejak tadi memandanginya. Ia sudah mengerti. Pasti, malam itu Dijah ingin bercinta. Dijah tak pernah mengatakan dengan lugas soal itu. Biasanya Dijah hanya terlihat lebih sering melemparkan senyum genit padanya.
Setelah memindahkan Mima yang telah kembali tertidur di box-nya, Bara memeluk Dijah. Istrinya sedang berbicara panjang lebar sambil memeluknya.
Dijah bertanya apakah ia menyesali pertemuan mereka. Pertanyaan yang sebenarnya tak perlu ditanyakan. Bagaimana ia bisa menyesal, Dijah telah memberinya sebuah keluarga. Terlepas dari masa lalunya, Dijah adalah istri dan ibu yang baik. Dijah selalu menyajikan makannya, mengurusi pakaiannya, bahkan Dijah selalu mengerti kebiasaan-kebiasaannya dari yang terkecil.
Bara menyukai Dijah sejak pertama kali mengantarkan wanita itu pulang. Sikapnya yang kasar dan dingin, tak bisa menyembunyikan sorot mata sedihnya. Dijah yang rikuh dan minder tiap kali ditatapnya.
Bara tak akan melupakan bagaimana Dijah begitu tangguh dan yakin mengumpulkan lembaran rupiah demi menafkahi anaknya dengan uang halal. Menunduk di atas gunungan sampah di bawah terpaan terik matahari.
Bara mengetatkan pelukannya. Sampai sekarang, Dijah selalu membuatnya begitu berarti menjadi sosok laki-laki.
Dijah yang dikiranya akan senang diberi kebebasan menggunakan uang, nyatanya tak begitu. Dibebaskan membeli keperluannya sendiri, ternyata malah membuat istrinya lebih hati-hati. Kalau ia Meminta Dijah untuk mengajak Asti atau Tini berbelanja membeli pakaian dan kosmetik sendiri, istrinya selalu mengatakan ‘sama Mas aja belinya’.
Begitulah Dijah. Wanita itu benar-benar mewujudkan cita-cita menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya.
__ADS_1
Mereka saling mengeratkan pelukan dalam temaram lampu kamar. Pelukan-pelukan mereka perlahan berubah menjadi geliat disertai sentuhan. Bara bisa merasakan Dijah yang mengendusi dadanya. Mengecupi dan membelai dadanya dengan hidung. Jantungnya sudah berdetak lebih cepat. Istrinya pasti bisa mendengar suara gaduh itu.
Bara meremas bokong istrinya dengan lembut, Bara tak tahan untuk tak membuka daster tipis penghalang pandangannya. Gerakan Dijah menaikkan bra-nya seusai menyusui tadi menimbulkan rasa menggelitik tersendiri. Wajah mereka kini telah sejajar. Nafas Dijah telah kasar menerpa wajahnya. Sorot mata istrinya juga sudah sayu seakan menuntut penyelesaian.
Daster tipis dengan cepat telah teronggok di dekat mereka. Dan tangan Bara telah membuka dua penghalang terakhir di tubuh istrinya.
Mungkin Dijah tak pernah menyadari kalau dirinya manis dan menggemaskan. Sejak hari pertama menjadi SPG, Bara tak rela kalau tubuh Dijah yang berlekuk sempurna dibalut ketat dan menjadi tontonan lelaki saat itu. Ia memang lebih suka Dijah di rumah saja seperti sekarang.
Ibu jari tangan Bara mengusap lembut bibir istrinya. Dijah sudah memejamkan mata seakan menanti ciumannya. Tak perlu waktu lama, bibir mereka telah beradu dan saling menyambut.
Dijah semakin mahir berciuman, pikir Bara. Dulu bibir wanita itu nyaris tak bergerak kalau mereka bercumbu.
Kenyataan yang paling disenangi Bara adalah, Dijah masih muda. Kalau sesi bercinta mereka digagas pertama kali oleh istrinya, sudah pasti Bara akan tertimpa durian runtuh.
Seperti malam itu. Mungkin Dijah sudah membayangkan hal-hal erotis saat menatapnya berpakaian tadi. Sejurus kemudian Bara telah memejamkan matanya. Erangan halus tak bisa ia hindari kala Dijah tengah memanjakan dirinya.
Setelah lelah seharian di luar sana mencari nafkah, malam itu Dijah memanjakannya untuk tak perlu banyak bergerak. Bagaimana Bara bisa menyesal?
*****
Minggu pagi di kandang ayam, Tini dibangunkan oleh suara musik keras yang terdengar dari bekas kamar Dijah. Dengan wajah kesal dan raut yang benar-benar kacau, ia bangkit dari ranjang. Rambutnya masih berantakan, dan di pipinya liur kering terlihat memanjang sampai ke dekat telinga.
“Siapa sih? Berisik banget! Masih pagi udah muter lagu rock!” Tini bertanya pada Mak Robin yang sedang duduk santai mengeringkan rambutnya.
“Kamu ngasi kunci kamar itu ke siapa?” tanya Mak Robin. “Jangan kasi ke orang aneh-aneh Mak!” pinta Tini kesal.
Mak Robin tetap santai duduk menyisir rambutnya yang basah. Tak berapa lama kemudian suara musik rock dipadamkan, dan seorang wanita berambut pendek keluar dari bekas kamar Dijah.
Tini masih berkacak pinggang menatap wanita yang seolah tak peduli akan kehadirannya.
“Mau ke mana kau Dara?” tanya Mak Robin pada gadis tomboi itu.
__ADS_1
“Ke mini market Mak! Yuk,” ucap Dara kemudian melangkah pergi dari sana.
Setelah Dara pergi dari tempat itu, Tini menarik napas.
“Nggak ada sopan-sopannya! Harusnya hormat sama senior di sini. Negur aku juga nggak. Pagi-pagi nyalain musik sekenceng itu!” sergah Tini masih berkacak pinggang. Ia menatap sengit pada Mak Robin yang membalas tatapannya dengan wajah malas.
“Udahlah! Gak usah bising kali mulut kau! Kau ingat aja kelakuan kau dulu pertama tinggal di sini cemana. Tiap hari kau siksa aku dengan musik remix. Dari lurus, sampe keriting rambutku.” Mak Robin kembali menyisir rambutnya dengan santai.
Sejak kepergian Dijah dari kandang ayam, Tinilah yang merasa paling kehilangan. Dijah selalu mengerti akan dirinya tanpa banyak bicara. Dijah yang selalu berada di pihaknya dengan cara yang unik.
Banyak malam-malam mereka habiskan hanya berdua berjalan kaki ke simpang jalan hanya untuk sebungkus sate atau dua bungkus cilok yang tak menghabiskan uang banyak.
Bukan Tini tak ingat waktu Dijah pertama kali tiba di sana. Dijah lebih banyak mengurung diri di kamar dan tak banyak bicara. Pergi pagi pulang malam setiap hari, sampai-sampai membuat Tini penasaran.
Mengetahui bekas kamar Dijah telah kembali diisi oleh orang lain, seakan membuat Tini tak rela. Ia lebih rela jika harus bersebelahan kamar dengan bapak Asti seperti waktu itu.
Tini menatap sebal ke arah pagar tempat Dara menghilang ke arah gang. Melihat bagaimana Dara seolah tak peduli dengannya, Tini merasa mustahil bisa menemukan sosok pengganti Dijah sebagai sahabat di kandang ayam.
“Baek-baeklah kau sama tetanggamu itu. Siapa tau kau bisa dekat sama dia kayak sama si Dijah. Siapa tau dia juga kesepian, perlu kawan. Bukalah pintu hati kau itu untuk nerima kawan baru,” ucap Mak Robin lagi.
“Gak bisa dibuka. Kuncinya udah kutelen. Harusnya dia yang memperkenalkan dirinya lebih dulu kalau mau panjang tinggal di sini. Apalagi aku keliatan lebih tua dari dia," kesal Tini.
“Patung Pancoran lebih tua dari kita semua gak ada sok-soknya kutengok. Pigi sana kau cuci mukamu,” pinta Mak Robin mengernyit jijik melihat tampilan Tini.
Selesai.
Ini adalah part terakhir dari PENGAKUAN DIJAH
Besok juskelapa akan update EPILOG sebagai penutup.
Cerita tentang perjalanan singkat Tini dan kos-kosan kandang ayam, mudah-mudahan kita lanjut di novel Tini tersendiri untuk tidak mengurangi esensi cerita PENGAKUAN DIJAH.
__ADS_1