PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
164. History Heru (Bagian 1)


__ADS_3

PS :


Jangan lupa cek nomor bab karena diupload bersamaan.


*****


“Habis dari sini, kamu mau ke mana lagi?” tanya Fifi pada sahabatnya.


“Mau langsung pulang. Kamu?” tanya Sonya pada Fifi.


“Aku mau ke salon. Mau gunting rambut dikit trus creambath. Kayaknya udah lama banget kepalaku gak dipijet-pijet.” Fifi menarik poninya ke depan dan menghembusnya.


“Gak minta pijetin Heru aja?” tanya Sonya tertawa sambil menenteng hanger pakaian yang baru saja dicobanya.


“Kalo Heru yang mijet, tahannya cuma 10 menit pertama. Selanjutnya terserah dia,” tukas Fifi tergelak.


“Sama aja semuanya,” sahut Sonya. “Aku udah beres Fi, mau ke kasir. Kamu?” Sonya memandang kantong belanjaan di tangan sahabatnya.


“Aku juga udah kelar kok. Ambil ini aja buat tambahan.” Fifi mengibaskan sebuah kemeja wanita di tangannya.


Beriringan mereka menuju kasir dan membayar semua belanjaan. Berbelanja sambil mengobrol menceritakan banyak hal bersama sahabatnya memang sangat dinikmati Fifi sebagai berpiknik. Kenikmatannya hampir sama dan ia tak perlu jauh-jauh. Hanya ke pusat perbelanjaan.


Setelah menghabiskan waktu hampir 3 jam bersama Sonya, Fifi memutuskan pergi ke salon. Mumpung hari itu ia mendapat jam kerja pendek. Jika perkiraannya tak meleset, ia bisa kembali ke rumah tepat jam makan malam. Kapan lagi bersantai sendirian sesekali, pikirnya.


Fifi dan Sonya baru saja berpisah di depan departemen store. Sonya langsung berbelok ke sudut mall untuk mencari lift yang akan membawanya ke basement tempat mobilnya diparkir. Sedangkan Fifi memutari setengah mall itu demi menuju eskalator.


Ketika mencapai eskalator dan tangannya hampir menyentuh ban pegangan, matanya menangkap sosok tubuh yang ia kenali. Punggung yang lebar dan kemeja yang tadi pagi disampirkannya di atas ranjang.


Heru, suaminya. Fifi menoleh jam di pergelangan tangannya. Memang sudah sore, pantas laki-laki itu berkeliaran di mall. Sedikit ingin tahu akan teman suaminya di cafe itu, Fifi berbalik. Langkahnya hanya terhenti sedikit menjenguk ke dalam. Heru duduk membelakangi pintu dengan dua orang wanita di sebelah kanannya. Bara berada di sebelah kiri Heru dan Agus yang dikenalinya berada di sisi lain.


Wanita yang sedang berbicara dengan Heru terlihat sangat ramah. Dengan senyum mengembang, wanita itu mengerling dan melemparkan pandangan beberapa saat ke sisi kanan, kemudian kembali menatap suaminya yang sedang menunduk.

__ADS_1


“Hmmm...” gumam Fifi menelengkan kepalanya ke kanan untuk melihat gerakan yang dilakukan wanita di sebelah Heru.


Sesaat setelah melemparkan tatapannya ke kanan, wanita itu menoleh Heru dan menyeret rambutnya ke satu sisi. Sedikit menjauhkan kepalanya, wanita itu memegang ujung rambutnya dengan tangan kiri.


(Playlist : Dengan Yang Aku Punya – Khifnu)


Melihat hal itu, Fifi memahami yang sedang terjadi dan pergi dari depan pintu cafe. Ia kembali melirik jam di tangannya. Ia harus buru-buru ke salon kalau tak ingin pulang terlambat.


Heru sudah jelas membuat wanita di sebelahnya terpesona. Gerakan memutar mata, melemparkan tatapan beberapa saat dan gesture membenarkan rambut itu timbul untuk merespon seseorang. Wanita sering tak menyadarinya. Tapi Fifi sudah kenyang akan hal itu. Sebelum menjadi presenter, dulunya dia mengelola kolom lifestyle/gaya hidup yang sering membahas hubungan pria dan wanita.


Setelah menuruni ekskalator, Fifi langsung berbelok menuju ke sebuah salon yang sudah dilihatnya sejak tiba di mall. Itu bukan salon langganannya. Fifi tak punya salon langganan. Baginya semua sama saja di mana mendapat perawatan. Yang paling penting adalah waktunya. Karena jam kerja yang padat, Fifi merasa beruntung jika masih bisa duduk di salon memijat kepalanya.


Setelah memesan treatment pada kasir dan memperoleh selembar kertas yang akan membawanya pada seorang hair stylist, Fifi duduk di kursinya mengeluarkan ponsel.


Dengan mengatupkan mulutnya menahan geli karena membayangkan reaksi suaminya, Fifi mengetikkan pesan. Jarak cafe dan salon tak jauh. Hanya tinggal turun satu lantai. Tadi ia tak mau langsung mengirimkan pesan pada Heru. Bisa-bisa laki-laki itu merusak ‘me time’ sorenya.


‘Duduknya deket banget. Entar pipinya bisa nempel lho.’


Kemungkinan besar, sampai sekarang Heru tak tahu kalau Fifi mengetahui rahasianya. Ia tahu kalau dulunya Heru memiliki dua orang pacar sekaligus saat gencar mendekatinya. Heru lupa selain Bara ia perlu menutup mulut banyak teman-temannya.


“Model potongannya bagaimana Mbak?” tanya seorang stylist yang baru menyampirkan handuk ke pundak Fifi.


Masih dengan senyum tersisa di wajah, Fifi memberi gambaran soal keinginannya pada hair stylist.


Rasain, pikirnya. Fifi bisa membayangkan Heru akan sepanik apa karena ia memang jarang sekali ngambek atau bertengkar dengan laki-laki itu.


*****


“Gimana?” tanya Bara saat Heru kembali masuk ke dalam outlet kopi.


Heru menggeleng. “Raib, tapi aku jadi penasaran. Fifi atau temennya yang liat aku.” Heru kembali mengedarkan pandangannya.

__ADS_1


“Udah kelar nih, aku yang denger. Mau denger langsung lagi dari Mas Agus, atau nanti cukup dari aku aja?” tanya Bara memastika. Ia sudah tahu akan kepanikan Heru barusan.


Bara mengenal Fifi sebagai sosok perempuan yang jarang sekali marah atau mengomel. Tapi sekalinya merajuk, Fifi pernah ke luar kota berlibur sendirian. Kala itu Heru kalang kabut menelepon ponsel Fifi yang tak aktif karena sedang berada di pesawat. Mereka belum memiliki anak dan Heru ditinggalkan begitu saja. Hanya sekali saja, tapi kejadian itu sangat membekas di ingatan Heru. Karena keesokan harinya, Fifi menerima telepon dari tepi pantai memakai bikini.


Bara merasa lebih baik diomeli Dijah semalam suntuk ketimbang ditinggalkan. Membayangkan Dijah duduk berjemur di tepi pantai mengenakan bikini, membuat Bara bergidik. Apalagi sekarang sudah ada Mima. Meski tak sedang bertengkar, ditinggalkan berlibur oleh anak-istrinya sudah jelas akan membuatnya uring-uringan.


Setelah berpamitan dengan Agus dan kedua orang pegawainya, Heru buru-buru mengajak Bara untuk pulang. Dan seperti biasa, semendesak apapun keadaannya, Heru masih bisa memberikan senyum manisnya pada dua tenaga sales wanita itu.


“Ini ke kantor dulu ‘kan? Motorku di kantor Mas...” ucap Bara.


“Aduh, biarin aja deh. Besok kamu berangkat kerja bareng aku aja. Motor biarin di kantor,” potong Heru cepat.


“Panik juga ya...” sindir Bara tergelak.


“Puas banget kamu,” jawab Heru.


“Puas—puas. Aku puas. Hahaha....” Bara kembali tergelak.


Heru melirik sebal pada adik sepupunya. Bara semakin tertawa lebar. Dan karena ikut merasa geli mendengar tawa Bara, Heru ikut tertawa terbahak-bahak.


Dua orang pria itu saling mentertawakan kebodohan yang sering mereka lakukan. Merasa superior dan menikmati tatapan kagum dari wanita di luar namun segera kelimpungan sebegitu istri menebar permusuhan.


Ternyata Heru tiba lebih dulu di rumah. Mobil Fifi belum terlihat di garasi dan sejak tadi istrinya tak menjawab ponselnya. Setelah mencium pipi anaknya, Heru berlari ke kamar. Ia harus segera mandi dan berlaku seolah sudah tiba di rumah sejak tadi. Dandanan malam ini harus lebih mempesona pikirnya.


Saat sedang membereskan berkasnya di atas meja kerja, Heru melirik pintu kamar yang terbuka. Fifi baru tiba dengan potongan rambut baru. Ia segera menyadari kalau tadi memang istrinya yang sedang menonton siaran langsung di cafe itu. Heru sedikit menyesal meski ia merasa tadi tak berbuat macam-macam. Fifi sangat cantik dengan rambut yang dipotongnya sedikit melewati telinga. Begitu segar dan... wangi.


“Kok gak ngabarin sih kalo bisa pulang cepet hari ini?” tanya Heru menghampiri Fifi dan mengambil tas tangan yang ditenteng istrinya.


“Kalo ngasi kabar, aku nggak ngeliat yang tadi dong...” sahut Fifi santai menuju meja rias. Ia menarik bangku dan duduk menghadap cermin. Jemarinya menyisir rambut perlahan. Kemudian matanya memandang Heru yang menunduk dan meletakkan dagu di bahunya. Mereka saling bertukar pandang melalui cermin.


To Be Continued

__ADS_1


Langsung di part berikutnya.


__ADS_2