
"Ke mana kamu?" tanya Tini saat Dijah buru-buru memakai sandalnya dan mengunci pintu kamar.
"Mau ke warung, nyari sayur. Semoga masih ada ya," tukas Dijah.
"Tumben masak sore-sore. Pasti mas-mu mau dateng minta makan. Aku curiga dia liat mukamu mirip sama magic com atau wajan Jah. Tiap dateng minta makan," ujar Tini.
"Gak suka makan di luar katanya. Tapi kan aku yang masak Tin, kok kamu yang berisik. Kamu sana pergi ke pasar bantuin mas-mu jual beha." Dijah mengantonginya kuncinya dan pergi dari hadapan Tini.
"Jangan beli terong!" seru Tini.
Setengah jam pergi, Dijah sudah kembali lagi dengan sebungkus belanjaan.
"Masak apa Jah?" tanya Tini masih dengan posisi duduk yang sama.
"Sayur bening aja, oseng tempe." Dijah kembali membuka pintu kamarnya.
"Segitu senengnya ya Jah ada yang minta dikasi makan tiap dateng."
"Iya, aku seneng. Masakanku dilahap sampe habis. Makanya aku makin semangat masak. Aku masuk dulu,."
"Mas! Aku bikinin nasi goreng satu!" teriak Tini pada seorang pedagang nasi goreng yang biasa masuk ke halaman kos-kosan mereka setiap sore.
"Telurnya diapain?" tanya pedagang nasi goreng dengan maksud memberi pilihan antara didadar atau diceplok saja.
"Telurnya dipegang-pegang aja boleh?" tanya Tini.
"Mbak Tini ini..." sahut pedagang dengan wajah merona.
"Terserah Mas aja enaknya diapain. Aku manut aja," ujar Tini.
"Baik Mbak..." jawab pedagang nasi goreng masih cengengesan.
Sore itu Dijah sibuk berkutat di kamar sekaligus merangkap dapurnya. Biasa ia hanya memasak di pagi hari. Belakangan karena Bara sering datang untuk makan malam, Dijah dituntut harus punya lauk untuk memenuhi permintaan pria itu.
"Udah selesai Tin, aku mandi dulu. Ini untuk makan tengah malam kamu!" Dijah menyerahkan sepiring kering tempe dan semangkuk sayur bening ke tangan Tini.
"Telur dadarnya mana Jah?" tanya Tini ngalunjak.
"Telurnya dadar sendiri. Kamu 'kan bisa," jawab Dijah.
"Aku gak tau cara dadar telur sebenarnya. Tauku cuma ngeremes-ngeremesnya aja."
__ADS_1
"Sak karepmu Tin!" tukas Dijah berjalan ke kamar mandi dengan handuk di bahunya.
Langit sudah gelap. Boy yang sedang tak ada kegiatan telah mengeluarkan speaker-nya ke halaman dan menarik kursi plastik ke bawah jendelanya. Dengan sebuah mic yang tergenggam di tangannya, Boy menyilangkan kaki duduk berseberangan dengan Tini terpisah dengan halaman.
"Oke, buat yang sedang sendiri dan mengharapkan seorang kekasih kaya dan tampan datang melamar, jangan khawatir... Itu hanya mimpi!" seru Boy dengan mic-nya sambil menunjuk ke arah Tini.
"Kampret!!" maki Tini dari kursinya.
"Mari kita bergoyang... Asti, keluar dari kamarmu! Terima kenyataan kalau kamu cuma selingkuhan!" ujar Boy masih dengan mic-nya. Suara lagu dangdut mulai mengalun. Boy mulai bernyanyi.
Janganlah kau tanyakan besarnya cintaku
Ku persembahkan untukmu, hanya kepadamu
Oh dan janganlah kau ragukan luasnya cintaku
Yang putih tulus untukmu, hanya kepadamu
"Ih... Mas Boy jahat!" seru Asti yang baru keluar kamar kemudian menuju ke arah Tini dan duduk di sebelahnya. Boy cuek saja dan melanjutkan nyanyiannya yang semakin heboh.
Luasnya laut tak seluas cinta yang ku punya
Tak sedalam cinta yang ku rasa, cintaku satu untukmu
Tak setinggi kasih yang ku rasa, cintaku satu untukmu
"Buat Mak Robin yang jarang disentuh sampe lupa rupa, lupa rasa. Semoga terhibur!" seru Boy.
"Kupijakkan kepala ko nanti ya Boy!" sergah Mak Robin dari depan pintunya.
"Ayo semuanya! Satu dua tiga!" seru Boy menunjuk tiga wanita yang berada di seberangnya.
Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu
Cintaku tanpamu ya sayang bagai malam tiada berlalu
Seperti mati lampu ya sayang, seperti mati lampu
Cintaku tanpamu ya sayang bagai malam tiada berlalu
Tak sengaja, tanpa mereka sadari. Mereka mengikuti instruksi Boy dan ikut mengiringi pria itu bernyanyi. Dijah yang telah segar malam itu keluar kamarnya serta ikut menarik sebuah kursi menyaksikan hiburan gratis yang sering disajikan Boy di halaman kos-kosan itu.
__ADS_1
Setelah Boy menyanyikan beberapa lagu dan Tini ikut menyumbangkan lagu duet pamungkasnya bersama Boy yang berjudul KANDAS, Bara tak juga muncul di sana.
Dijah sedang menyaksikan hiburan yang cukup menghibur dari depan kamarnya. Biasanya hal itu sudah sangat menyenangkan hatinya meski seharian berlelah-lelah demi rupiah.
Tapi sejak mengenal Bara, kesenangan hatinya perlahan berpindah. Bara secara tak langsung telah berada dalam urutan atas sebagai sosok pengisi kebahagiaannya. Seseorang yang selalu ditunggu kabarnya.
Dijah sudah memegang ponselnya sejak tadi untuk mengecek pesan masuk. Mau menghubungi lebih dulu, tapi ia merasa tak enak hati karena tak mau dinilai tak sabaran dan merongrong. Dijah kembali meletakkan ponselnya di pangkuan.
Malam semakin larut, Boy sudah kembali masuk ke dalam sangkarnya. Tini sudah makan untuk kedua kalinya. Sedangkan Dijah kehilangan selera makannya karena kemunculan Bara yang ditunggu tak juga ada.
"Mas-mu mana? Gak jadi dateng?" tanya Tini yang baru menyadari keresahan di wajah Dijah yang terus menatap pintu pagar.
"Belum ada kabar. Mungkin ada kerjaan dadakan. Aku tunggu aja," sahut Dijah.
"Coba ditelfon aja," ujar Tini.
"Aku gak enak Tin," sahut Dijah.
"Apanya yang gak enak? Dia udah enak, kamu udah enak, giliran nelfon aja gak enak?" sergah Tini.
Hampir tengah malam akhirnya Dijah memberanikan diri menelepon Bara. Selama ini Dijah memang jarang sekali menelepon pria itu lebih dulu. Bahkan hampir bisa dikatakan tidak pernah. Ia hanya menunggu Bara yang menghubunginya.
Setelah mengklik nama 'Mas Bara' pada daftar panggilan masuk, Dijah meletakkan ponsel di telinganya. Beberapa detik kemudian, ia menggeleng ke arah Tini. "Gak aktif Tin," ucap Dijah dengan wajah muram.
"Udah janji kok malah gak dateng. Mas-mu gak disuruh dateng aja nongol terus." Tini menoleh pada Dijah.
"Kita liat ke depan yuk Tin, ke depan gang temenin aku." Dijah bangkit dari duduknya.
"Untuk memuaskan hati kamu, ayo aku temenin." Tini bangkit mengunci pintu kamarnya dan memakai sandal.
Beberapa saat di depan gang, mereka bertemu dengan dua orang ojek pangkal yang biasanya memang bermulut usil.
"Nyari apa Tin? Gak ada tamu malam ini? Lagi palang merah ya?" tanya tukang ojek itu.
"Gak usah urusin tempeku. Tempe binimu aja sana urusin. Laki-laki kok mulutnya kayak karet. Melar ke mana-mana." Tini menggandeng Dijah untuk keluar dari gang itu.
Kedua wanita itu berjalan dalam diam menyusuri jalan yang hampir sunyi sepenuhnya.
"Menurutmu Bara ke mana Tin? Perasaanku kok gak enak ya..." ucap Dijah.
"Ke mana ya Jah... Aku juga gak ada bayangan. Soalnya mas-mu itu kan termasuk yang rajin dateng. Bukan tipe yang suka banyak ngeles kayak si Gatot setan. Kalau dia gak bisa dateng pasti ngasi kabar. Ya tunggu aja, mungkin sebentar lagi dia bakal nelfon kamu."
__ADS_1
Dijah hanya diam sambil kembali melihat layar ponselnya.
To Be Continued.....