PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
109. Kumpulan Kisah


__ADS_3

Tuhan memberi keseimbangan pada hidup setiap makhluknya. Memasangkan semua dengan begitu tepatnya. Memberi dengan maksud agar semua makhluk-Nya tak hanya sekedar menerima, tapi juga memaknai.


Seperti manusia yang tak akan tahu apa itu terang jika tak pernah gelap. Tak akan tahu arti bahagia, kalau tak pernah dirundung kesusahan. Tawa takkan pernah berharga jika tak ada tangis.


Tuhan menciptakan semesta begitu sempurna dengan segala maksud yang terkandung di dalamnya.


Asti tak bisa tidur nyenyak hanya karena Bayu mengajaknya jalan berdua besok malam. Meski harus berkelok dan sedikit rumit, ia akhirnya bisa melihat tatapan Bayu tadi sudah tertuju padanya.


Tini tidur nyenyak di antara Asti dan Boy. Tangannya terentang dan mulutnya sedikit menganga. Ia begitu lelah seharian diguncang mabuk perjalanan bawaan orok. Alih-alih mewariskan harta berlimpah padanya, orangtua Tini malah mewariskan kebiasaan mabuk perjalanan itu.


Tini tertidur tanpa mimpi. Hari itu ia sudah terlalu banyak lari. Lari dari masalah. Dan lari dari pesona Heru yang semakin dinikmatinya. Sampai di situ saja. Sekali lagi, Tini hanya bisa menikmati. Ia pesimis bisa mengulang kisah Cinderella Dijah-Bara bersama Heru. Ibarat jauh panggang dari api. Semakin sering Heru tertawa karenanya, hatinya semakin rikuh. Ia hanya sebuah penghiburan dalam kepenatan. Namun, ia menikmatinya. Itu saja.


Boy tidur memunggungi Tini. Sebelah tangannya terangkat menutup telinga. Ia sedikit kesulitan untuk nyenyak karena dengkuran Tini. Hatinya sudah ikut lega. Asti yang paling ‘bungsu’ di antara mereka untuk pertama kali mendapat titik pencerahan dari laki-laki yang disukainya. Boy lega karena tak harus berada di antara kebingungan Asti dan dominasi sikap Tini. Beberapa hari terakhir, ia sibuk berada di antara mereka. Mendengar curhatan Asti dan mendengar ucapan Tini yang terkadang mematahkan semangat. Tapi semua sudah selesai sekarang. Liburan mereka telah menyelesaikan masalah itu.


“Robin!! Tidur kau!” pekik Mak Robin yang terbangun dini hari dan melihat anaknya masih terjaga dengan mata segar menonton film kartun.


“Sebentar lagi Mak! Banyak kali film kartunnya gak abis-abis. Gak ada kayak gini di rumah. Mamak pun kalo di kamar nontonnya berita aja. Gak pernah aku dikasi nonton kartun.” Robin cemberut mendekap remote tv.


“Jadi kau nunggu abis film kartun itu baru mau tidur?” tanya Mak Robin pada anaknya yang menonton channel tv yang kesemuanya memang menayangkan film kartun sepanjang hari.


“Iyalah! Tunggu abis ini dulu.”


“Sampe hari raya pun kau tonton itu gak akan abis-abis. Sini remote tv itu,” pinta Mak Robin yang duduk mengulurkan tangan meminta remote dari anaknya.


Robin diam tak berkutik. Tangannya masih mendekap remote.


“Sini kubilang ... Jangan sampe aku mengganti remote tv di hotel ini karena kupatahkan yang itu.” Mak Robin mengomel memandang anaknya.


“Isss ... Mamak ini la... Benci kali aku,” tukas Robin menyerahkan remote tv.


“Besok aja lagi kau benci aku. Tidor kau sekarang.” Mak Robin menepuk bantal meminta anaknya berbaring. Robin menurut dan tidur di sebelah ibunya. Tangan Mak Robin menepuk-nepuk pelan paha anaknya.


“Kejam kali mamak!” sungut Robin dalam pelukan ibunya.


“Udah diam ajalah! Tidor. Besok berenang kita.” Mak Robin tak peduli omelan anaknya. Dan Robin yang baru mengatakan membenci ibunya tidur bergelung dalam dekapan sang ibu.


Malam itu, Bayu kembali ke kamar dengan sebuah kesadaran baru. Ia membutuhkan teman dekat. Tempatnya berbagi dan setiap bicaranya dianggap spesial. Harusnya dia curiga sejak awal. Semua sikap Tini terasa kontradiktif sekali dengan hal yang dikatakannya melalui aplikasi pesan. Bayu merasa ia juga salah. Tidak peka. Terlalu membabi-buta. Mengingat soal buku yang diberikannya, Bayu tertawa kecil.


Acara seminar itu hanya seharian penuh. Tepat di hari Jumat. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu akan mereka pergunakan untuk dimanfaatkan sepenuhnya sebagai liburan.


Bayu baru tiba di kamar dan membuka-buka buku menu yang terletak di sebelah telepon ruangan. Ia duduk di tepi ranjang twin. Heru yang berbaring membelakanginya, kemudian berbalik. Ternyata atasannya itu belum tidur.

__ADS_1


“Dari mana aja? Dini hari baru masuk kamar,” ujar Heru seperti menegur anaknya.


“Jalan-jalan, cari angin.” Bayu nyengir.


“Dari ekspresi kamu, kayaknya masalah udah selesai ya?” gumam Heru memeluk sebuah bantal seraya menatap Bayu.


Bayu tergelak. “Maaf ya Mas ... Jadi heboh,” ucap Bayu.


“Gak kok. Aku biasa aja. Yang penting besok gak terlambat masuk ruangan. Ikutin seminar dengan tertib, jaga nama baik perusahaan. Selebihnya itu urusan pribadi kamu. Yang penting itu penerimaan diri—penerimaan diri ....” Mata Heru sudah kembali memejam. Nasehatnya tadi mirip orang yang mengigau.


Bayu melirik Heru yang telah kembali tidur. Ia kemudian meraih gagang telepon dan memencet nomor ekstensi room service. Perutnya keroncongan. Ia melewatkan makan malam mewah yang disajikan untuk peserta seminar.


Sebenarnya, malam itu Dijah tidur dengan sedikit gelisah. Pikirannya terbang ke mana-mana. Kesal dengan perempuan yang memperlakukan suaminya seperti seorang pria yang belum beristri. Kesal dengan suaminya yang terlalu santai menanggapi protesnya.


Dijah terbangun pukul 4 pagi dan melihat ponsel Bara tergeletak begitu saja di atas meja. Ia mengingat perkataan suaminya bahwa ia boleh membuka-buka ponsel itu. Bara sedang memeluknya dari belakang. Nafas laki-laki itu teratur pertanda tidurnya masih sangat lelap.


Dijah sedikit bangkit menjulurkan tangannya untuk mengambil ponsel itu. Dan sejurus kemudian, dengan sekali usapan pada layar, ponsel Bara terbuka. Wallpaper ponsel itu adalah foto pernikahan mereka. Dijah meringis karena ia bahkan tak ingat untuk mengganti wallpaper polosnya dengan sebuah foto. Bukan Dijah tak mau berlaku romantis seperti Bara. Ia hanya belum sempat meminta suaminya membuat hal yang serupa untuk ponselnya. Setelah memperoleh S2-nya, Bara menerima posisi baru di kantor. Suaminya itu lebih sibuk dan tak pernah kembali nongkrong di Polsek untuk mengejar berita kriminal.


Dijah tak tahu alasannya apa. Yang jelas, ia mendengar Heru mengatakan telah memberi sesuatu yang memang merupakan hak Bara.


Notifikasi di layar depan ponsel Bara penuh. Dijah langsung membuka aplikasi pesan tujuannya. Nama ‘Joana Dosen’ menempati urutan teratas. Artinya, perempuan itu masih mengirimi Bara pesan baru-baru ini. Jumlahnya sudah puluhan dan belum dibuka oleh suaminya.


Ini suamiku. Mau apa perempuan ini masih sibuk terus-terusan kirim pesan. Sudah tahu tak dibaca dan tak dibalas. Niatnya apa? Mau menjajah? Apa dosen itu lupa kalau negara sudah lama merdeka? Dijah mengutuki Joana dalam hati.


Dengan kekesalan yang dikumpulkannya, tangan Dijah mengetuk pesan Joana hingga terbuka. Tangannya sudah menggulir untuk membaca seluruh pesan itu satu persatu.


Ada dua pesan yang membuat jantung Dijah merasa sedikit diremas. Pesan dua hari sebelumnya.


‘Hei ... Pengantin baru, kejar target ya? Bulan depan pasti istri kamu langsung hamil. Ngurung diri terus soalnya'


‘Lagi ikut seminar ya Ra? Sombong amat sih di-chat gak dibaca. Gak bawa istri 'kan? Jangan-jangan udah jadi suami takut istri ya sekarang?’


Itu adalah pesan terbaru dari Joana. Dijah menarik nafas panjang. Sepertinya ia akan mengabaikan nasehat yang sering dilontarkannya pada Tini untuk menjauhi ponsel tiap emosi. Dijah mulai mengetik balasan untuk Joana.


‘Iya Mbak, suami saya sedang ikut seminar. Kebetulan Mas Bara bawa keluarga jadi memang sibuk. Belum sempat balas pesan Mbak Joana. Mas Bara masih tidur karena kecapekan. Nanti bakal saya sampein.’


Dijah menekan tombol ‘send’ dan tersenyum puas. Masalah balasan pesan itu keesokan harinya, itu urusan Bara. Pria itu harus tahu kalau ia memang tak suka. Dan sebalnya lagi, meski Dijah kesal pada suaminya, ia tak pernah sanggup mengomeli pria itu. Bagaimana cara mengomeli Bara yang selalu bertutur lembut padanya?


“Si Joana begitu karena kamu nggak bicara gamblang Mas,” bisik Dijah pada suaminya. Ia telah mencampakkan ponsel itu dan mulai meraba tubuh suaminya dengan gemas karena rasa kesal.


“Hmmm—” Bara bergumam. Padahal Dijah hanya berbisik tapi suaminya menggeliat karena ucapannya barusan.

__ADS_1


“Kamu itu suamiku,” bisik Dijah lagi.


“He’eh,” jawab Bara belum membuka matanya.


“Mas,” panggil Dijah sedikit lebih keras. Bara mengerjapkan mata dan tangannya terentang untuk memeluk Dijah.


Cahaya lampu kamar masih redup. Dijah menyusuri perut suaminya kemudian turun dan masuk ke balik celana pendek yang dikenakan pria itu.


“Jah ...” panggil Bara yang langsung tersadar saat tangan istrinya bergerilya mengusiknya di bawah sana. “Tumben ini megang-megang duluan,” gumam Bara masih dengan suara kantuknya.


“Nggak boleh?” tanya Dijah sedikit tajam. Ia merasakan sesuatu di bawah sana semakin mengetat.


“Kok gitu nanyanya? Boleh bangetlah, aku juga pengen.” Bara berbaring telentang dan menarik Dijah ke dalam pelukannya.


Dijah yang telah bangun sejak tadi bangkit dari duduknya dan menarik turun celana suaminya. Pesan-pesan Joana mengusik harga dirinya sebagai seorang istri. Meski suaminya itu tak menanggapi, tapi Dijah merasa perlu mengukuhkan kepemilikannya terhadap pria itu. Wanita itu jangan pernah mimpi bisa menggoda Bara, apalagi mengambilnya.


“Hei ...” bisik Bara sedikit bangkit untuk menambah tumpukan bantal di bawah kepalanya. Dalam temaram ia meraup rambut istrinya untuk menikmati pemandangan pagi yang sangat indah. Dijah yang sedang memujanya. Tatapan mata wanita itu berbeda. Sinis dan juga liar. Bara menyukainya. Ia suka Dijah yang liar di ranjang saat bersamanya.


Bara sudah mendesah. Dijah bangkit dan melolosi pakaiannya sendiri. Wanita itu kemudian merayap di atas tubuh suaminya yang menegang karena menanti aksi selanjutnya. Bara mengangkat bantal dan menyandarkannya ke kepala ranjang. Ia duduk tegak kemudian meraih tubuh mungil istrinya.


“Sini, peluk aku.” Bara mengangkat pinggang istrinya dan perlahan menyatukan tubuh mereka.


Matahari sudah terbit ketika Dijah memeluk erat tubuh Bara dan pinggulnya dibawa mengikuti ritme yang diatur suaminya.


Bara menggigiti leher dan pundak istrinya berpindah-pindah. Tubuh Dijah menggeliat di atasnya. Pagi itu Dijah tak seperti biasanya. Tubuhnya sangat responsif. Menggelenyar, melengkung, melentur diiringi dengan rintihan, erangan dan kesiap.


Bara semakin bergairah. Merasa semakin kuat, bebas dan memiliki perempuan yang sedang menikmati percintaan itu. Sampai kemudian ia merasakan tubuh Dijah menegang dan gerakan pinggulnya tak beraturan. Dijah memekik. Nyaris berteriak. Bara menoleh ke sisi pintu connecting yang syukurnya masih tertutup rapat.


“Wow ....” bisik Bara sesaat sebelum menyesap puncak dada istrinya yang sedang melengkungkan tubuh. Dia suka Dijah begini. Dijah berbeda. Istrinya itu semakin... hot!


Matahari semakin tinggi. Dan pagi itu Bara pontang-panting memakai pakaian dengan Dijah yang masih mengenakan handuk untuk membantu mengancingi kemejanya.


Pagi itu hasrat Dijah yang begitu panas sungguh sayang dilewatkan tanpa paket lengkap seperti biasa.


Ponsel Bara sudah bergetar sejak tadi. Lima panggilan tak terjawab dari Heru. Bara hanya pasrah memandang ponsel seraya tergesa-gesa mengancing lengan kemeja. Dijah menunduk di bawah Bara untuk merentangkan kaos kaki di atas sepatu yang akan dikenakan suaminya.


“Seksi banget ...” gumam Bara saat memandang belahan dada yang dihimpit handuk putih menunduk di depannya.


“Udah, cepet!” Dijah menepuk pelan bahu suaminya yang sudah terlambat 15 menit.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2