
"Kamu kenapa sih?" tanya Heru sedikit kesal karena wajah Bara terlihat begitu merana bak prajurit yang meninggalkan istrinya ke Medan perang.
"Nggak apa-apa, emang kenapa? Aku biasa aja." Bara yang baru menginjakkan kaki di Schipol segera menyalakan dan mengecek ponselnya.
Pesan dari Bu Yanti dan Pak Wirya yang memintanya berkabar, pesan dari Bayu yang minta oleh-oleh, pesan dari berbagai grup chat serta dari Joana yang ingin mengajaknya bertemu minggu depan.
Dari begitu banyak rentetan pesan, namun tak ada pesan dari Dijah. Sikap wanita itu memang selalu out of the box. Tini mulutnya memang perlu disumbat sesekali, tapi wanita itu mengerti cara mengejar Gatot meski pada akhirnya sia-sia.
Setelah sehari semalam, Dijah bahkan tak mencarinya. Bara menekuk wajah memandang ponsel. Apa karena ia langsung pulang dan tak ada mengatakan hal lain maka Dijah menganggap hubungan mereka telah berakhir? Tega sekali wanita itu pikirnya. Benar-benar tak punya hati.
"Kalo mau telfon ya telfon aja Ra, kelamaan mikir kamu!" seru Heru berdiri menenteng tasnya di antrian taksi.
"Apa sih Mas," sergah Bara.
"Ketimbang entar ngikut konferensi seminar gak konsen, mending kamu telfon aja. Gak usah ngeles kamu, aku juga tau rasanya." Heru tertawa dengan uap keluar dari mulutnya.
"Besok aja, besok siang aku telfon. Jadwal besok cuma pameran foto aja kan? Sebelum ke pameran foto aku telfon dia," tanya Bara.
"Iya, pameran foto kamu harus ikut. Yang nambah ilmu gini dan gratisan didanai kantor kamu harus ambil. Buat masa depan juga," tukas Heru berjalan membuka pintu bagian penumpang di sebelah supir taksi.
Hari Senin sore Bara dan Heru tiba di Schipol, Bandar udara internasional di Amsterdam dan mereka langsung menuju hotel. Sedang musim dingin, Bara mengkeret dalam jaketnya. Dan bayangan bisa mencumbui seorang Dijah di cuaca dingin itu membuat Bara semakin tersiksa.
"Heran ya, Belanda ini kalau dipikir-pikir permukaannya paling rendah di antara negara-negara Eropa lainnya. Tapi mereka bisa gak banjir!" Heru tertawa dari jok depan.
"Teknologi kincir angin mereka meski dari tahun 1850, nyatanya tetap efektif Mas. Anginnya benar-benar bisa menolak gelombang pasang air laut. Mereka gak pernah terendam air pasang. Malah kincirnya udah jadi icon. Negara Kincir Angin," gumam Bara.
"Iya, kalo mereka kebanjiran lebih bahaya. Ga ada gunung atau dataran tinggi. Dataran rata semua negaranya. Bersyukur kita tinggal di Indonesia, masa muda kita diwarnai acara naik gunung bareng temen. Meski kadang lebih semangat kalo ada cewenya." Heru terbahak di sebelah supir taksi.
"Berasa jadi 'hero' (pahlawan) ya..." gumam Bara.
"Naluri laki-laki Ra... Ingin memberi perlindungan dan dihargai."
Benar, seperti itulah perasaan Bara sekarang. Ingin memberi perlindungan dan dihargai. Ingin membuat Dijah bergantung padanya. Walau ia terkadang lupa, Dijah sekarang sudah menjelma menjadi wonder woman di usia mudanya. Harusnya gadis 23 tahun itu sedang senang-senangnya bergelayut manja. Bara mendengus kesal saat kembali menatap ponselnya.
Hari kedua di Amsterdam, Bara telah bersiap sejak pagi. Meski Mas Heru mengatakan akan berangkat seusai makan siang tapi Bara telah berdandan untuk pergi ke acara pameran fotografi itu.
Bara berkali-kali membuka-tutup ponselnya. Mau menelepon Dijah tapi masih ragu. Mengirim sebuah pesan pada wanita itu sudah sejak awal dicoretnya dari daftar. Ia tahu Dijah pasti tak akan membalasnya.
Setelah memperhitungkan kemungkinan waktu di tempat Dijah berada yang mendahului Amsterdam 5 jam di depan. Akhirnya Bara memutuskan untuk membuat panggilan video tepat jam 12 siang. Dijah pasti sudah kembali bersantai berada di kos-kosannya.
Sebelum kembali mengklik tombol bergambar video, Bara kembali mengecek penampilannya di kaca. Ia kemudian meletakkan ponselnya di atas meja kerja kamar hotel dan memandang wajahnya sesaat lewat mode kamera depan.
Setelah semuanya dirasa oke, Bara mencari nama Dijah yang telah disimpannya dengan sebutan 'Ibu Dul'.
Beberapa detik setelah Bara mengklik teleponnya tak kunjung dijawab, walau kesal, Bara tetap memandang ponselnya.
__ADS_1
Dan kemudian, wajah Tini memenuhi layar. Jelas saja Bara syok. Hidung bulat Tini dengan bulu mata palsunya tampak sangat dekat.
Setelah mendengarkan beberapa perkataan menyesatkan dari Tini, akhirnya Dijah terlihat berjalan masuk ke kamarnya. Bara hanya dapat melihat dagu wanita itu saat Dijah menggenggam ponselnya.
Pandangan Bara meredup, ia rindu sekali pada Dijah. Meski wanita itu menolaknya dengan kata-kata tajam dan egonya berontak, namun Bara tak bisa mengabaikan Dijah lebih lama. Ia tak sanggup.
"Udah di kamar?" tanya Bara.
"Udah," jawab Dijah. Tapi ia belum memandang ponselnya dengan sebenar-benarnya. Dijah masih malu melihat Bara yang terlihat sedang tampan-tampannya.
"Nggak kangen aku apa Jah? Ngeliat juga nggak mau. Coba hapenya di taruh dulu. Di senderin ke kepala tempat tidur. Ayo cepet, aku pengen liat kamu secara utuh." Bara dengan sabar menunggu Dijah yang sepertinya masih bingung mau meletakkan ponselnya.
"Di sini?" tanya Dijah yang terlihat menunduk ke arah layar.
"Iya... Iya. Gitu. Kamu ke mana aja?" tanya Bara memandang Dijah yang duduk di ranjang seraya memangku bantalnya.
"Kayak biasa, nggak ada ke mana-mana." Dijah belum memandang Bara, dia hanya sesekali melirik pria itu.
Dijah bisa merasakan kalau Bara menatapnya tajam dari seberang sana.
"Jah... liat aku. Jah," panggil Bara.
"Hmmm" Dijah mendongak menatap Bara. Sesaat mereka bertatapan melalui layar ponsel.
"Aku masih boleh ke tempat kamu?" tanya Bara.
"Ha?" ujar Dijah berpura-pura tak mendengar ucapan Bara.
"Aku masih boleh nggak ke tempat kamu?" tanya Bara sekali lagi. Dia yakin kalau Dijah juga menyukainya, tapi kenapa susah sekali membuat wanita itu bersikap manis padanya.
Dijah tak perlu telanjang di panggilan video untuk membuatnya menggelinjang seperti saran Tini. Dijah hanya sesekali menatapnya dan tak menjawab pertanyaannya saja sudah mampu membuat Bara menggelinjang.
"Liat aku sini..." pinta Bara lagi. "Sayang aku nggak Jah?" tanya Bara. Dijah hanya menatap layar ponselnya dan tersenyum tipis.
Mustahil sepertinya memaksa Dijah mengungkapkan perasaan lewat panggilan video.
"Bisa bales pesan aku kan? Kayak yang aku ajarin kemarin?" tanya Bara.
"Bisa..." sahut Dijah.
"Aku kirim pesan sekarang kamu baca dan bales ya..." pinta Bara.
"Iya..." Dijah mengangguk.
"Ya udah, aku tutup dulu telfonnya. Kamu langsung liat aplikasi pesannya. Jangan ditinggal atau dikasi Tini ya... Tini nggak boleh buka-buka hape kamu pokoknya. Ngerti kan?" tanya Bara.
__ADS_1
"Iya, ngerti..."
"Ya udah, aku tutup sekarang. Kamu liat sini dulu, aku kangen." Bara menyentuh layar ponselnya tempat di mana wajah Dijah berada. Andai wanita itu tahu kalau suasana hati Bara sangat buruk sejak ia meninggalkan kamar kos-kosan itu kemarin malam.
Bara menyambar ponselnya dari atas meja kemudian menghempaskan dirinya di atas ranjang. Dengan posisi tengkurap, Bara yang sudah rapi mengambil sebuah bantal dan memeluknya.
Setelah beberapa kali mengetik dan menghapus tulisan, akhirnya Bara mengirimkan pesan.
'Dijah...'
'Aku kangen banget. Sumpah... Aku keinget terus ama kamu, kamu kangen aku juga nggak?'
Beberapa saat lamanya menunggu dalam debaran jantung yang tak jelas, akhirnya ponsel Bara bergetar. Dijah membalas pesannya.
'Aku juga kangen...'
Bara menggigit bantal saking senangnya. Masih dengan senyum lebar, Bara kembali membalas pesan Dijah.
'Sayang aku nggak Jah?'
Kali ini Bara menunggu balasan Dijah dengan jantung yang lebih berdebar. Tak berapa lama, ponselnya kembali bergetar.
'Aku juga sayang...'
Bara berguling di ranjang dan membenamkan wajahnya di bantal. Satu hal penting lagi yang harus ditanyakannya pada Dijah, mumpung sepertinya suasana hati wanita itu sedang baik.
'Kangen ciumanku juga?'
Setelah mengetikkan hal itu pada balasan pesan, Bara memasukkan ponselnya ke bawah bantal. Seolah ia khawatir balasan Dijah akan mengecewakannya.
Tak berapa lama, ponsel di bawah bantal kembali bergetar dan Bara secepat kilat membuka pesan.
'Aku kangen semuanya.'
Membaca balasan Dijah, Bara langsung mengetik, 'tunggu aku pulang ya..'
Kemudian ia mencampakkan ponselnya dan berguling di atas tempat tidur. Bara tengkurap membenamkan kepalanya di bantal dan menghentakkan kakinya berkali-kali menghantam ranjang.
Hatinya bahagia luar biasa.
Di seberang sana, Dijah tersenyum dan meletakkan ponselnya di dada saat membaca balasan Bara terakhir kali.
Dijah benar-benar rindu dicium pria itu saat berada di pangkuannya.
To Be Continued.....
__ADS_1