
Kamu tercipta oleh-Nya
Untuk selalu aku cintai
Genggam erat tangan ini
Jangan sampai kau lepaskan
Sampai aku tutup usia
'Kan kujaga hatimu
Sampai aku tua
Walau keriput di pipimu terlihat
Takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat
Sampai aku tutup usia
Sampai aku tutup usia
'Kan kujaga hatimu
Sampai aku tua
Walau keriput di pipimu terlihat
Takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat
'Kan kujaga hatimu
Sampai aku tua
Walau keriput di pipimu terlihat
Takkan goyahkan cintaku yang begitu kuat
(Sampai Tutup Usia – Adlani Rambe cover)
Alunan lagu lembut mengiringi tengah hari resepsi pernikahan itu. Meja prasmanan mulai diantre para tamu. Gubuk-gubuk bambu penyaji cemilan juga sudah laris manis.
Rombongan tamu yang terdiri dari ibu-ibu berseragam biru satu persatu mendekati Bara dan Dijah untuk memberi selamat.
Bu Yanti mengatakan itu adalah para dosen pengajar di dua universitas tempatnya mengajar. Ternyata ibunya memang sengaja menetapkan warna biru sebagai seragam tamu-tamu karena mengetahui warna kesukaan Bara.
Lagi-lagi ibu yang disangkanya begitu santai dan kurang antusias terhadap resepsi pernikahannya malah membuat kejutan. Bagi Bara, hal yang dilakukan ibunya sudah lebih dari cukup.
Omongan itu sampai ke telinga Dijah yang duduk di sebelahnya. Bara melihat Dijah beberapa kali menatap Bu Yanti yang tengah sibuk menjamu para tamunya.
“Nanti kamu pasti bisa deket dengan ibu,” bisik Bara di telinga istrinya. Seolah isi kepala Dijah bisa keluar dalam bentuk tulisan dan bisa terbaca oleh Bara.
Dijah tersenyum. “Ibunya Mas baik banget. Aku sampai nggak pede.” Wanita mana yang percaya dirinya tak runtuh jika berhadapan dengan seorang ibu mertua yang anggun, cantik dan tiap tutur katanya begitu teratur.
Bahkan Dijah tak pernah melihat Bu Yanti menguap atau melakukan mimik wajah aneh. Berbeda dengan ia dan teman-temannya. Mereka akan berhenti menguap jika rahang mereka telah berderak.
Meski pesta di rumah, tapi kemewahan itu berkali lipat dari yang pernah didapatkan Dijah ketika masa depannya dibeli oleh Fredy beberapa tahun lalu.
__ADS_1
“Mas, makan ...." Dijah menyodorkan piring yang telah diisi lauk pauk dan diantar oleh seorang kru wedding organizer.
“Aku masih kenyang. Kamu makan duluan, atau sini aku siapin aja.” Bara mengambil piring dari tangan Dijah.
“Nggak usah—aku malu.” Dijah mencari-cari mata tamu yang sedang menatap mereka. Dan benar, semua mata tamu sepertinya sedang mengamati gerak-gerik mereka karena mereka sedang berada di luar dan duduk di sebuah meja bundar menikmati makan siang.
“Enggak apa-apa. Kan, udah jadi suami-istri. Dul mana? Udah makan apa belum?” tanya Bara menoleh mencari-cari Dul di keramaian.
“Itu sama Mbok Jum. Dul!” panggil Dijah pada anaknya. Dul datang mendekat dalam gandengan tangan Mbok Jum. “Udah makan?” tanya Dijah pada anaknya.
“Udah. Baru aja.” Dul menunduk memutar-mutar mainan yang berada dalam genggamannya. Mainan itu ia bawa dari atas meja belajarnya di kamar.
Dul tak begitu peduli dengan arti resepsi itu sesungguhnya. Pagi tadi bocah itu hanya mengatakan kalau ibunya cantik seperti seorang putri raja.
“Sekarang manggilnya apa?” Bara kembali mengetes panggilan Dul padanya. Bara sudah melakukan hal itu sejak usai resmi menjadi suami ibu bocah itu.
“Ayah!” seru Dul. “Ayah Bara!” seru Dul lagi.
“Jangan—jangan Ayah Bara. Ayah aja. Ayo ulangi lagi,” pinta Bara tersenyum.
“Oke. Ayah, Ayah! Udah, kan? Aku mau main dengan anak itu.” Dul menunjuk seorang bocah seumurannya yang sedang duduk memegang robot mainan.
Bara dan Dijah serentak tertawa. “Oke—oke, sana main lagi.” Bara mengacak rambut Dul yang langsung melesat lari menghampiri teman barunya.
Tamu perlahan menyusut dan menyisakan rekan dan sanak saudara terdekat. Sebelum keluarga Dijah pamit pulang, Dijah duduk bersimpuh di dekat ibunya. Ia meminta agar sang ibu tinggal bersamanya sesaat di rumah itu. Ia sedikit terisak ketika menyampaikan maksudnya. Namun, keinginan itu lagi-lagi ditolak halus dengan sang ibu.
Alasannya masih sama. Ia tak ingin kembali membebani Dijah di masa akhir hidupnya. Wanita tua itu hanya mengatakan untuk sering-sering mengunjunginya di rumah Kang Supri. Ibunya ingin Dijah menjalani kehidupan barunya tanpa beban. Anak dan cucunya sudah bahagia. Itu hal yang terpenting bagi ibu Dijah.
“Jah, kita semua pamit ya ...," ucap Tini saat melihat Dijah sedang duduk berdua saja bersama Bara. “Mas Bara ... sekali lagi selamat, ya. Sekarang semua ilmunya bisa dipraktekkan tanpa ragu sampai fajar menyingsing.” Tini terkikik-kikik menyebalkan.
“Aku masih nggak semangat, Mas. Dalam balutan batik pun Bayu belum membuat darahku berdesir. Jadi sementara ini aku balesnya pake admin aja. Asti—” Tini menggamit lengan Asti yang langsung tertawa.
“Astaga ... Aku harus senang atau sedih untuk Bayu? Dia udah senyum-senyum tapi yang bales chat-nya ternyata admin.” Bara meringis menoleh pada Dijah yang nyengir menatap Tini.
“Enggak apa-apa, Mas .... Adminnya netral, kok. Asti juga kayaknya menikmati. Chat terakhirnya apa, As?” tanya Boy mencolek lengan Asti.
Asti mengangkat ponsel Tini yang masih berada di tangannya dan membuka aplikasi pesan. “Kamu suka baca buku nggak? Itu pertanyaan Mas Bayu.”
Tini tertawa terbahak-bahak. “Kamu jawab apa?” tanya Tini pada Asti.
“Suka Mas. Aku suka baca buku biografi tokoh. Itu jawabanku.” Asti meringis.
“Modhaaar .... Buku biografi tokoh. Kalau aku sampe baca itu artinya mungkin aku lagi buang-buang mau meninggal. Sak karepmulah, As. Yang penting aman.” Tini kembali tertawa.
“Ya, ampun Jah ... Kasian Bayu,” ratap Bara menyandarkan kepalanya di bahu Dijah.
“Halah! Alesan! Minta diseret ke kamar ini Jah ...," cibir Tini melihat kelakuan Bara.
“Kepingin kau Tini! Bilang aja kau kepingin nengok Dijah kawin!” Mak Robin mendorong pelan tubuh Tini. Meski pelan, Tini terdorong beberapa langkah ke depan.
“Tenaga Mamak si Robin ini kayak truk Fuso,” sungut Tini.
“Kita pamit, ya, Mbak Dijah .... Udah sore. Lain waktu kita boleh main ke sini, kan?" Asti memeluk Dijah.
Penghuni kos pamit beriringan meninggalkan rumah Dijah. Mereka pulang dengan menumpangi sebuah taksi yang sebelumnya telah dihubungi oleh Asti.
“Mas, Ibu pulang ya ...," ucap Bu Yanti mendekati anaknya. Bara memandang ibunya dengan wajah sedikit lesu.
__ADS_1
“Mas kenapa?” tanya Bu Yanti. Dijah yang mendengar pertanyaan ibu mertuanya langsung menoleh pada Bara yang sedikit pucat.
“Kenapa?” tanya Dijah salah tingkah. Hari pertamanya menjadi seorang istri tapi tak peka dengan suami yang sepertinya sedang sakit. Dijah merasa bersalah. Sejak tadi Bara terlihat baik-baik saja.
“Enggak apa-apa. Cuma mual dikit,” sahut Bara memijat tengkuknya sendiri.
“Pasti masuk angin. Udah beberapa hari jarang makan. Diingetin untuk makan, iya—iya terus. Mas nggak biasa telat-telat makan,” omel Bu Yanti.
“Mual? Pusing juga?” tanya Dijah pelan menyamarkan nada cemas dan tak enak hati.
“Cuma mual aja Ibu," jawab Bara. Ia menangkap nada khawatir yang tak biasa dalam pertanyaan Dijah. Bara merasa pasti Dijah segan mendengar omelan ibunya.
“Sekarang udah makan?” tanya Bu Yanti.
“Belum, entar lagi. Enggak apa-apa, kok, Bu. Nanti Mas minta kerokin ama Dijah,” sahut Bara.
“Sejak kapan suka dikerok?” tanya Bu Yanti.
“Udah lama ... Ya, udah. Mau pulang ya? Ayah mana?” Bara menoleh mencari ayahnya. Perutnya benar-benar terasa kembung sore itu. Tak mungkin ia mengatakan pada sang ibu kalau dirinya ketagihan kerokan Dijah.
Akumulasi sering melewatkan jam malam karena antusiasme terhadap acara pernikahannya berbuntut pada hari H. Keringat dingin menitik di dahi Bara. Kepalanya pusing dan ia sedikit kesal. Kenapa malam pengantinnya harus diwarnai dengan cerita masuk angin.
Pihak wedding organizer telah membereskan semua sisa perlengkapan mereka dan meninggalkan lokasi acara pukul delapan malam. Yang tersisa kini hanya Bara dan keluarga kecilnya.
Seluruh ruangan masih beraroma bunga segar. Dul telah mandi dan berganti pakaian. Setengah jam bermain sendirian di kamarnya, bocah itu jatuh tertidur. Dan Mbok Jum terlihat membereskan lauk pauk yang diberikan pihak catering untuk tuan rumah si empunya acara.
“Aku ganti baju dulu. Nanti aku kerokin. Kok bisa masuk angin ...," ucap Dijah ketika ia dan Bara berada di dalam kamar.
Wajah suaminya itu pucat dan cemberut. Bara terlihat mulai melepaskan kancing beskapnya satu persatu untuk mengurangi rasa penuh di perutnya. Dan meski sedang melepaskan kancingnya sendiri, matanya tak lepas menatap Dijah yang sedang mengurai jalinan rambutnya dengan terburu-buru.
Harusnya itu bisa menjadi hal romantis pikir Bara. Ia bisa melepaskan jalinan rambut Dijah dan melucuti kebaya ketat itu dengan tangannya sendiri.
Imajinasi erotis yang dipupuk dan sirami Bara setiap hari malah mati karena rasa begah yang muncul di hari eksekusi.
Rambut Dijah telah terurai. Dan jemari Dijah sekarang menelusuri satu persatu kancing kebaya sampai mata Bara melihat seutas tali bra tipis di bahunya.
“Jah, sini ...," panggil Bara. Pemandangan itu sangat sulit diabaikan. Perutnya bergemuruh tapi ia tak sabar menunggu Dijah mencari minyak angin dan mengerok punggungnya. Apalagi tak ada tetangga seperti Mak Robin yang menyimpan minyak angin aneh berkhasiat manjur.
“Sebentar,” sahut Dijah berusaha meraih pengait rok kain batiknya. Ia memang terbiasa mandiri. Ia tak pernah ditawari bantuan oleh siapapun selama ini.
“Sini aku bantu bukain,” ucap Bara dari tepi ranjang. Kepalanya pusing, tapi ia tak ingin melewatkan momen itu. Dijah adalah istrinya. Meski hal-hal kecil, ia ingin Dijah kini bergantung padanya.
Dijah bangkit dari depan meja rias dan berjalan menuju suaminya. Kini ia hanya mengenakan bra dengan bawahan rok batiknya.
“Mas ... bantu bukain. Ngomong gitu, Jah .... Aku seneng kalo kamu minta tolong.” Bara melepaskan pengait rok isterinya.
“Mas sakit, udah pucat banget. Aku mau ke belakang ngambil segelas air anget. Mas minum dulu.” Dijah merasa Bara sedang menurunkan resleting roknya. Jemari Bara menarik rok itu melewati pinggulnya. Dijah memutar tubuhnya untuk memandang Bara yang duduk dengan kaos dalaman putih.
“Aku mau nyoba cara nyembuhin masuk angin yang udah terbukti ampuh. Kebetulan aku suka banget caranya.” Bara menarik tubuh Dijah dan memeluknya. Ia melingkarkan tangannya menyusuri perut dan pinggang istrinya. Tubuh Dijah langsung merespon sentuhannya itu.
Dijah yang sedang berdiri di antara kedua kaki suaminya menegang penuh antisipasi. Ranjang mereka cukup tinggi. Bara hanya perlu mendongak sedikit ketika mulai memagut bibir istrinya.
To Be Continued.....
Udah--udah... Sabar dulu ya,
Jangan lupa dilike ya sayang-sayang njuusss
__ADS_1