
Pagi di akhir minggu, hari terakhir anak-anak bersekolah. Dijah berpakaian lebih rapi dan pergi ke sekolah Dul. Ia tak ada keperluan spesifik mengunjungi anaknya itu. Dijah hanya ingin membawa anaknya pergi makan bersama. Ia sudah memberi kabar pada bapaknya bahwa hari itu dia yang akan menjemput Dul.
Dijah duduk di luar kelas Dul untuk menikmati pemandangan yang tak setiap hari dinikmatinya. Dul yang duduk di barisan ketiga sedang asyik menunduk mewarnai. Bocah laki-laki itu tak tahu kalau ibunya sudah menunggu di luar.
"Mau ke mana Bu?" tanya Dul saat tangannya sudah berada di genggaman Dijah. Ibu dan anak itu beriringan menuju tepi jalan raya.
"Ke mall, mau nggak?" Dijah menunduk memandang wajah Dul di balik topi sekolahnya.
"Mau--mau! Makan enak, 'kan?"
"Memangnya selama ini nggak enak?"
"Enak juga. Tapi aku suka ayam goreng. Mbah gak pernah masak ayam. Aku bosen makan telur tiap hari."
"Nanti kita makan ayam goreng," ujar Dijah menyetop angkot tujuan mereka.
"Om Bara mana Bu? Biasa om Bara ikut kita," tukas Dul saat mereka berada di dalam angkot.
"Om Bara sibuk," jawab Dijah singkat.
Siang itu Dijah mengajak Dul makan siang di sebuah restoran ayam goreng bermerek. Dijah hanya duduk melihat Dul yang makan dengan lahapnya.
"Ibu gak makan?" tanya Dul saat menyadari ibunya hanya melipat tangan di atas meja dan menunduk menatapnya.
"Ibu masih kenyang," jawab Dijah. "Makannya pelan-pelan aja. Ibu nggak buru-buru."
Dul kembali menunduk dan melanjutkan makannya.
"Dul, kalau kita nggak ketemu om Bara lagi, kamu nggak apa-apa kan?" Dijah memandang wajah Dul yang sedikit terkejut.
"Kenapa Bu? Aku suka sama om Bara. Orangnya baik, gak pelit. Mobilnya bagus, motornya apalagi. Om Bara keren. Kenapa gak boleh ketemu lagi? Om Bara gak mau ketemu kita lagi ya?" Dul kini menyiratkan kekecewaan di wajahnya. Bocah laki-laki itu berhenti menghabiskan sisa makanannya.
"Bukan, bukan om Bara gak mau ketemu kita. Ibu cuma nanya aja ke kamu. Ya udah dilanjut makannya." Dijah kembali mendekatkan piring ke arah Dul.
"Aku udah kenyang," sahut Dul.
Menjelang sore, Dijah membekali Dul dengan sebuah mainan dan seplastik jajanan saat mengantarkan anaknya pulang. Setelah membereskan perlengkapan Dul dan memandikan anaknya itu, Dijah pergi dari rumah orangtuanya. Di tangannya terjinjing sebuah bungkusan berisi ayam goreng yang akan dibawakannya untuk Mbok Jum.
Dijah pergi menuju ke rumah Mbok Jum dengan menumpangi sebuah angkot. Tanpa sepengetahuannya, Dul keluar dari rumah dan berjalan kaki menuju Polsek tempat di mana ia bisa menemukan Bara.
Dul telah tiba di halaman Polsek dengan rambut basah yang tersisir rapi. Wajah segarnya bertabur bedak putih yang disapukan oleh Dijah tadi.
"Cari siapa Dik?" tanya seorang pemuda yang baru turun dari motor bebeknya.
"Aku mau ketemu om Bara," jawab Dul masih celingukan ke arah sekumpulan pria yang duduk di bangku dan tembok teras Polsek.
"Om Bara wartawan?" tanya pemuda itu lagi.
"Gak tau Om. Pokoknya om Bara sering di sini bawa kamera gede banget. Bagus kameranya. Om Bara biasa naik motor merah. Keren om Bara itu," jelas Dul.
__ADS_1
"Oohh... Sebentar Om tanya dulu ya.." Pemuda itu berjalan meninggalkan Dul beberapa langkah kemudian berteriak, "Ada yang namanya Bara gak?"
Mendengar teriakan pemuda itu, seorang pria muda berdiri dan berjalan menghampiri.
"Kamu Bara? Ada yang nyariin," ujar pemuda itu menunjuk Dul.
"Bara dari Term.com bukan? Gak masuk, udah lama. Aku di sini gantiin dia," jelas pria itu. "Nyariin Bara kenapa Dik? Om Bara sibuk liputan di tempat lain. Gak di sini lagi," jawab pria itu.
Dul hanya melongo mendengar perkataan para laki-laki itu. Dia tak mengerti penjelasan panjang dan istilah aneh yang disebut padanya barusan. Dul hanya mengerti bahwa Bara tak ada di sana.
"Jadi gak ada ya Om? Ya udah, aku pulang."
"Ada apa? Ada yang mau disampein? Biar aku telfon om Bara." Pria itu mengeluarkan ponselnya.
"Nggak apa-apa, aku cuma kepingin ketemu. Namaku Dul Om. Kalau om Bara nanya, bilang namaku Dul." Dul kemudian berjalan pergi meninggalkan halaman Polsek itu. Wajahnya lesu dan bahunya tak setegap saat masuk ke halaman Polsek tadi.
Dul merasa patah hati dengan perkataan ibunya tadi. Kenapa dia tak bisa bertemu dengan Bara lagi? Apa alasannya? Dul merasa harus bertanya langsung pada pria itu.
*****
Dijah merasa bagian dirinya sekarang, ada yang kurang. Rasa rindu ingin bertemu dengan Bara terasa sangat sulit ditepis. Dengan pikiran mengambang Dijah tak sadar telah tiba di daerah pembuangan sampah.
Lima menit lamanya Dijah berdiri mencoba mencerna pandangannya. Matanya mengerjab tak percaya. Deretan pemukiman tempat Mbok Jum biasa tinggal kini telah rata dengan tanah.
"Mbok Jum..." ucap Dijah kemudian berlari menuju lokasi di mana biasa gubuk wanita tua itu berdiri.
"Mas! Ke mana semua ini? Rumah yang di sini mana?" tanya Dijah pada seorang pria yang sedang mengais sampah.
"Dibawa ke mana? Dinas mana?" tanya Dijah lagi.
"Gak tau! Gak ngerti!" seru pria itu dari atas gunungan sampah.
"Ya ampun! Mbok Jum..." Dijah kemudian berlari menyusuri reruntuhan deretan gubuk di sekitar sana.
Setibanya di deret paling ujung, Dijah melihat beberapa orang mengais peralatan dari balik runtuhan pondok tepas.
"Pak! Kenal Mbok Jum? Perempuan tua yang tinggal sendirian di ujung sana?" tanya Dijah.
"Tau," jawab seorang pria tua itu dengan singkat tanpa menoleh pada Dijah.
"Mbok Jum dibawa ke mana Pak?" tanya Dijah tak sabar.
"Gak tau Mbak! Belum ada kabar. Yang tua-tua dan gak ada keluarga dibawa sama orang Dinas," sahut pria tua itu lagi.
"Mbok Jum dibawa ke mana ini?" gumam Dijah seraya menyapu keringat di wajahnya. "Dinas mana? Dinas mana--" Dijah seperti orang linglung bicara sendiri.
Teringat akan ponsel yang berada di dalam tasnya, Dijah segera merogoh tasnya mencari ponsel. Ia langsung mencari nomor telepon Bara dan menekan tombol panggil.
Tak perlu waktu lama, Bara langsung menjawab panggilannya.
__ADS_1
"Ada apa Jah?" tanya Bara di seberang telepon dengan nada khawatir.
"Mbok Jum. Mbok Jum digusur pondoknya. Sekarang gak tau di mana. Katanya dibawa sama orang Dinas. Aku gak tau dinas apa, dibawanya ke mana. Aku mau tanya, di mana Dinas itu? Kasian Mbok Jum, kemarin lagi nggak sehat. Aku cuma mau tau di mana... Kamu bisa bantu aku cari informasinya? Kamu pasti tau, aku gak tau mau tanya siapa lagi..." Suara Dijah terdengar sangat putus asa. Ia merasa hampir menangis. Entah karena ia memang rindu mendengar suara Bara yang begitu hangat.
"Dijah... Dijah... Tenang dulu. Pelan-pelan ngomongnya. Sekarang kamu di mana? Aku jemput ke sana ya?" tawar Bara padanya.
"Kamu lagi di mana?" Dijah sudah memutuskan tak akan merepotkan Bara lagi.
"Aku di Polsek deket rumah orang tua kamu. Aku bisa jemput sekarang kalo kamu mau. Kamu masih di tempat Mbok Jum ya?" tanya Bara lagi.
"Gak usah, aku aja yang ke sana. Aku langsung ke sana sekarang. Gak jauh. Aku tutup telfonnya," potong Dijah cepat.
"Kita bisa ngobrol yang santai. Ini udah sore, aku jemput kamu ya?" tanya Bara.
"Aku tutup telfonnya sekarang, tunggu di sana." Dijah memasukkan ponselnya ke dalam tas dan berlari keluar gang menuju jalan raya.
Setibanya di tepi jalan, Dijah menggigit bibirnya dengan gemas. Beberapa angkot tujuannya terlihat penuh. Ia harus sabar menunggu beberapa saat sampai menemukan sebuah angkot yang menyisakan sebuah bangku di mulut pintu.
Dijah berhenti di depan mini market seberang gang rumahnya hampir 25 menit kemudian. Tergesa-gesa ia menyeberangi jalan untuk melongok sebentar ke gang rumahnya dan lanjut menuju pagar Polsek.
Dadanya sudah berdebar sejak tadi. Dijah tak bisa memilah perasaannya. Bertemu Bara karena ingin dibantu mencari Mbok Jum, atau karena rindu ingin melihat pria itu.
"Dijah!" panggil seorang pria dari atas motor yang berhenti di tepi jalan raya.
Dijah menoleh memandang pria itu. Itu adalah pria yang biasa mengintili Fredy ke mana-mana.
"Apa??" tanya Dijah.
"Bapakmu kalah judi lagi di warung. Baru aku kasi uang titipannya Fredy," ujar pria itu.
"Gak urus!" jawab Dijah kembali berjalan. Ia sedikit memperlambat langkahnya agar tak segera tiba di depan Polsek.
"Fredy masih cinta Jah!" seru pria itu tertawa. Dijah menunduk mencari-cari batu yang paling dekat dengan kakinya.
"Sableng!" seru pria itu kemudian buru-buru melajukan kendaraannya.
Dengan mood yang sudah semakin memburuk, Dijah berharap dengan melihat Bara, hatinya kembali tenang. Tatapan mata dan ucapan Bara selalu bisa menenangkan hati pikirnya.
Dari kejauhan Dijah sudah mengenali Bara. Pria itu berbicara dengan seorang wanita yang tertutup di balik tubuhnya. Dijah hanya bisa melihat sekilas rambut panjang sebahu wanita itu.
Bara berdiri membelakangi pagar dan berbicara menghadap mobilnya.
"Kamu nggak profesional Ra! Perempuan itu objek penelitian kamu. Aku gak nyangka ternyata dia perempuan yang kamu pacari. Sampe aku denger kamu masuk rumah sakit kemarin karena digebuki orang suruhan mantan suaminya. Logis dong Bara! Kamu tuh cuma kasian! Jangan-jangan kamu manfaatin dia ya?"
"Jo! Suara kamu tolong dipelanin dikit. Sekarang gak ada hubungannya lagi antara tesis dan perempuan yang kupacari. Please deh! Ini urusan pribadiku. Kita emang udah kenal lama sebelum aku kenal Dijah, tapi gak berarti kamu bisa ikut campur urusanku."
"Sebagai teman Ra, sebagai teman aja. Aku mau kamu realistis! Coba tanya diri kamu lagi. Dia itu janda. Memangnya kamu tau dia ngapain aja kalo gak sama kamu? Aku cuma buka mata kamu aja. Jangan buta! Awalnya dia kamu bayar, 'kan? Dia pasti terima uang kamu juga. Usaha kamu udah banyak Bara. Gak perlu ikut campur urusan pribadinya. Sampe babak belur gitu. Bayar lagi jasa narasumber itu. Jadi kamu gak ngerasa ada hutang budi!"
"Joana!!" Bara berteriak tertahan. Kepalanya serasa mau pecah mendengarkan ocehan wanita bergelar S3 yang tak terima bersaing dengan seorang janda yang pekerjaan sampingannya memulung sampah.
__ADS_1
"Memangnya Mbak mau bayar jasa saya berapa?" tanya Dijah dari belakang Bara. Bara langsung menoleh melebarkan matanya menatap Dijah.
To Be Continued.....