PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
54. Andai Ayah - Anak


__ADS_3

Seorang pegawai hotel yang membantu membawakan barang-barang mereka telah tiba di depan pintu. Ia langsung menempelkan sebuah kartu pada sensor kunci.


"Silakan Pak," ujar pria muda itu kemudian.


"Barangnya ditaruh di kamar yang ini aja," ujar Bara saat melihat pegawai itu ragu meletakkan bawaan mereka.


Dijah yang memang sama sekali belum pernah menginap di hotel tak sadar memegang pinggang Bara yang berjalan di depannya. Mengikuti langkah kaki pria itu menuju ranjang yang terletak di tengah ruangan.


Bara membungkuk untuk meletakkan Dul. Dan seperti anak-anak pada umumnya. Dul juga membuka mata sebegitu menyentuh ranjang.


"Pak, ini kunci kamar sebelahnya. Connecting door-nya bisa dibuka dari kedua sisi ruangan secara manual." Setelah meletakkan barang bawaan dan mengecek perlengkapan kamar, pegawai itu kemudian menyerahkan satu kunci lainnya.


"Baik, makasih ya..." ujar Bara.


"Kamar sebelahnya? Dua kamar?" tanya Dijah.


"Iya, kenapa?"


"Sayang uangnya," gumam Dijah.


"Gak mahal. Ada diskon lumayan karena pake fasilitas harga corporate. Harga untuk pegawai kantorku," jelas Bara untuk menghibur Dijah.


"Ini hotel Bu?" tanya Dul mengusap matanya. Ia menggeliat dan merentangkan tubuhnya.


"Udah digendong jauh-jauh di sini baru bangun," sungut Dijah sambil membuka sepatu Dul. Hari itu Dul mengenakan sepatu sekolahnya yang masih baru untuk bepergian.


"Ibunya ngomel aja. Padahal bukan ibunya yang gendong," sindir Bara meletakkan ranselnya di atas meja kemudian menghempaskan dirinya di sebelah Dul.


"Om Bara tidurnya di mana?" tanya Dul.


"Di sebelah," jawab Bara.


"Kok gak sama-sama ibu?" tanya Dul lagi.


"Om mau banget... Tapi Ibu Dul galak," jawab Bara.


"Jangan galak Bu, kasian Om Bara." Dul mengusap tangan ibunya seolah membujuk.


"Denger itu Jah..." gumam Bara ikut mengusap tangan Dijah yang berada di sebelahnya.


Mendengar perkataan Bara, Dijah hanya mencibir.


"Kapan berenangnya Om?" tanya Dul.


"Di sekolah ada kegiatan berenangnya?" tanya Bara pada bocah laki-laki itu.


"Ada. Pernah ikut sekali. Tapi selebihnya gak pernah ikut karena gak ada yang nemenin," jawab Dul.


"Jah, aku laper. Makan Jah..." ujar Bara pada Dijah yang sedang membuka isi tas bekal.


"Ini aku siapin dulu," sahut Dijah menyusun kotak-kotak bekal ke atas meja kerja di kamar itu.


"Jadi? Gak pernah berenang lagi?" Bara melanjutkan pertanyaannya pada Dul. Bocah itu menggeleng.


"Om minta makan sama ibu kamu dulu ya. Kamu mau makan sekarang juga boleh, mau makan di restoran kolam renang juga boleh." Bara bangkit menuju meja kerja dan menarik kursi yang berada di belakangnya.

__ADS_1


Dijah meletakkan satu kotak nasi dan menyodorkan dua macam lauk pada Bara. Setelah meletakkan sendok, Dijah membuka botol air mineral dan mengisi gelas kosong yang berada di meja itu.


"Om gak makan di kolam renang aja? Sekarang aku masih kenyang. Bangun tidur tadi aku makan getuk," ucap Dul.


"Om lagi pengen makan masakan ibu kamu." Bara menyendokkan potongan tumis kacang panjang, bunga pepaya dan tempe ke atas nasinya. Kemudian disusul dengan sepotong paha ayam balado.


"Ya udah makan dulu," ucap Dijah menambahkan sayur ke atas nasi Bara.


"Aku makan duluan ya Jah, mau ngumpulin tenaga." Setelah mengatakan itu, Bara melirik Dijah yang sedang melipat tas kain wadah bekal di depannya.


"Dul memang nggak ada pakaian renang," ucap Dijah menunduk mengamati Bara yang sedang memotong ayamnya dengan sendok.


"Ada, udah aku beliin. Jangan kuatir gitu mukanya. Coba buka tas warna item di atas sana," ujar Bara menunjuk sebuah tas di dekat lemari. "Keluarin aja plastiknya semua," tambah Bara lagi. Dijah berjalan menuju tas yang dimaksud Bara.


"Ini?" tanya Dijah setelah membuka resleting tas hitam yang berukuran lebih besar dari tas gym.


Bara mengangguk. "Buka aja," ujar Bara.


"Kok banyak banget ini?" tanya Dijah nengeluarkan beberapa potong celana renang anak laki-laki.


"Kuatir kebesaran atau kekecilan. Jadi aku beli 3 ukuran. Itu plastik satunya buka juga. Baju untuk ibunya," kata Bara.


"Belinya nggak ngomong," ujar Dijah.


"Entar kalo ngomong, kamu pasti beli sendiri." Bara telah menghabiskan setengah nasinya. "Masakan kamu enak Jah, aku suka masakan rumah. Makanya jarang makan di luar," sambung Bara.


Dijah kemudian mengeluarkan isi bungkusan satunya dan mengeluarkan dua buah dress.


"Bukan baju renang?" tanya Dijah dengan wajah polosnya.


"Baju renang? Gak usah dulu deh kamu berenang, entar-entar aja. Aku belom ada bayangan kamu berenang cocoknya pake baju apa."


"Ah, lain kali aja." Bara menutup kotak bekalnya dan meneguk segelas air putih sampai habis. "Om udah selesai makan, Dul udah bisa ganti celana renang."


Mendengar perkataan Bara, Dul melompat dari ranjang untuk mendekati ibunya.


Sesaat kemudian, mereka bertiga telah beriringan berjalan ke arah lift.


"Kunci kamarnya taruh di tas aja Jah." Bara menyodorkan kartu kunci pada Dijah.


"Kamu berenang juga, 'kan?" tanya Dijah.


"Iya dong, kenapa?" Bara balik bertanya.


"Dia 'kan gak pernah berenang, khawatir aja kalau dia sendirian."


"Gak mungkin aku biarin dia sendirian Dijah. Ibunya Dul masih ragu aja," ucap Bara.


"Bukan ragu. Cuma mau memastikan bahwa apa yang aku khawatirkan itu nggak beralasan."


Mendengar apa yang dikatakan Dijah, Bara membelai kepala kemudian memijat pelan tengkuk wanita itu.


"Jangan ragu. Buat laki-laki, biasanya kalo ragu malah gak mau ngerjainnya sama sekali. Ngerti?" tanya Bara saat mereka di dalam lift. Ketika Dijah mengangguk, Bara menunduk dan mencium pipinya.


"Woooww... Kolamnya bagus banget Bu!" pekik Dul saat mereka baru tiba di kolam renang yang terletak selantai dengan lobby.

__ADS_1


Kolam renang itu terdiri dari tiga bagian. Kolam yang terluas diperuntukkan bagi orang dewasa karena memiliki kedalaman melebih 1.5 meter. Dua kolam lainnya berukuran lebih kecil diperuntukkan bagi anak-anak dan balita.


Bara meletakkan ransel yang sejak tadi ditentengnya di sebuah meja dengan dua buah kursi kolam di kedua sisinya. Mereka berada tepat di depan sebuah kolam yang diperuntukkan bagi anak-anak.


"Jah, ransel ini isinya kameraku. Jangan sampe jatuh. Aku tuker baju dulu ya di sana," tukas Bara menunjuk dua buah ruang ganti yang letaknya berdampingan namun cukup jauh dari tempat mereka duduk.


"Iya Om, ganti sana. Aku gak sabar!" Dul melompat-lompat dengan celana renang dan sepatu sekolah tanpa kaus kakinya.


Bara tertawa kemudian berjalan ke ruang ganti dengan selembar celana renang berada di tangannya.


"Buka sepatunya," pinta Dijah pada anaknya. "Kamu jangan nyuruh-nyuruh om Bara terus ya... Gak sopan."


"Aku nggak nyuruh kok. Om Bara yang mau," jawab Dul kemudian cemberut. Bocah laki-laki itu kemudian duduk melepaskan sepatunya dengan wajah tertekuk.


Beberapa saat lamanya ibu dan anak itu duduk berdampingan dalam diam. Akhirnya Dijah bicara karena melihat Dul seperti merajuk padanya.


"Iya, ibu cuma bilang aja. Ibu gak marah, soalnya om Bara udah baik ajak kita jalan-jalan. Ibu cuma gak mau kita terlalu ngerepotin dia."


"Ibunya ngomel terus. Yang bilang ngerepotin siapa?" Dijah langsung menoleh pada pria itu.


Bara datang mendekati tempat duduk mereka dengan sepotong celana renang ketat sejengkal dari atas lututnya. Mata Dijah langsung tertuju pada benda yang tadi bolak-balik disenggolnya melalui saku jeans Bara.


Rambut halus yang tersusun rapi mulai dari bawah pusar Bara menuju ke balik celana renangnya berhasil membuat Dijah merinding detik itu juga.


Dijah merasa wajahnya merona karena ia sadar pandangannya tinggal cukup lama. Mungkin ini adalah perasaan seorang laki-laki ketika melihat dada perempuan pikir Dijah.


Bara menghempaskan tubuhnya di sebelah Dijah yang sedang menghadapi Dul yang tiba-tiba menjadi lebih kalem.


"Gak apa-apa, Om gak ngerasa direpotin. Jangan gitu mukanya. Itu kolam untuk anak-anak. Dul bisa berenang duluan. Om Bara mau ngajarin ibu kamu pakai kamera biar bisa fotoin kita berdua. Ayo ke situ aja, gak apa-apa." Bara bangkit menggandeng lengan Dul dan menurunkannya di kolam yang berada di dekat mereka.


Seketika wajah Dul langsung ceria kembali.


"Cerewet banget. Aku gak apa-apa kok Jah. Jangan bolak-balik ditegur. Dia masih lima tahun lebih. Dul udah pinter banget, gak kolokan. Usia segitu dulu aku masih nangis karena harus dipaksa makan." Bara meraih ranselnya dan mengeluarkan kamera profesional kesayangannya.


"Jah, liat sini..." pinta Bara membuka tutup lensa dan mulai menyalakan kameranya. Bara memegang kamera dengan kedua tangannya dan memencet beberapa tombol untuk mengubahnya ke pengaturan otomatis.


"Simak sebentar ya Dijah sayang, ini gampang kok. Aku cuma pengen punya foto bagus bareng Dul. Nanti tolong fotoin kita berdua ya? Oke, ini untuk diputer, zoom in zoom out. Digedein, terus ini untuk ngembaliin ke tampilan normal. Tombol yang lain jangan disentuh, cukup itu aja." Penjelasan Bara sebenarnya mudah, tapi sayangnya mata Dijah tidak tertuju pada kamera Bara.


Posisinya yang berada di sebelah kiri Bara dan harus mencondongkan tubuh melihat layar pengaturan kamera menjadi buyar.


Pandangan Dijah mampir dan menetap pada benda yang berada di antara kedua paha Bara yang terbuka lebar. Celana renang Bara membuat Dijah bodoh seketika. Ia hanya mengangguk-angguk saja saat Bara menjelaskan. Tapi matanya tak mau pergi seolah tak cukup hanya mengamati.


"Kamu ngerti?" Bara tiba-tiba mendongak memandang wajah Dijah.


"Ha?" Dijah gelagapan tertangkap basah.


"Kamu ngeliatin apa Jah?" bisik Bara.


"Nggak ada, eh kamera. Ngeliatin kamera."


"Coba sekarang ulangi yang aku bilang tadi," pinta Bara.


"Aku lupa," jawab Dijah.


"Udah mulai penasaran ya? Pengen nyoba lagi 'kan?" Bara kembali berbisik di telinga Dijah. Dijah langsung melihat rambut di tangannya menegak. Bisikan Bara membuatnya merinding.

__ADS_1


Bara meninggalkan kameranya di pangkuan Dijah dan berjalan menuju ke arah Dul. Pandangan mata Dijah tak lepas dari bokong pria itu.


To Be Continued.....


__ADS_2