PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
167. Sabar Suketi (Bagian 2)


__ADS_3

“Semangat pagi Young & Dynamic Team,” sapa Tini mengawali briefing-nya. Tangannya sedikit bergetar, ia mengetatkan pegangannya pada mic.


Ini adalah pekerjaan profesionalnya yang pertama semasa hidup. Berhubungan dengan orang-orang yang berpakaian rapi dan beraroma parfum di pagi hari. Acara makan siang atau sekedar ngopi sore yang dulu dianggapnya mahal dan buang-buang uang, kini sering Tini jalani.


“Semoga hari ini kita semua dalam keadaan yang luar biasa, dahsyat dan pastinya sehat semua.” Tini mengedarkan pandangannya berkeliling. Ia meniru cara Agus membawa meeting. Biasanya pria itu selalu memandang mereka satu persatu seolah sedang menyerap percaya diri dari mata yang menatapnya.


“Teman teman, kita sudah memasuki kuartal ke – 3 di tahun ini, di minggu kedua bulan Juli. Sebelum kita memulai review pencapaian angka dan rekrutmen tim agent selama semester pertama di briefing hari ini, seperti biasa saya mengajak seluruh Young & Dynamic team untuk lebih semangat dan membangkitkan seluruh potensi yang dimiliki, sehingga di akhir tahun ini goal setting yang sudah kita buat berhasil membawa kita seluruhnya ke pencapaian target yang terbaik, melampaui teman teman agency lainnya, sehingga kita akan menjadi agency pemenang di perusahaan ini.” Tini berhenti untuk menarik napas dan menelan ludah. Tangannya sudah tak bergetar dan kini ia merasa sedikit lebih santai.


“Karena seperti kita ketahui, tidak terasa waktu terus berjalan, karena itu saya berharap teman teman tetap fokus dan konsisten pada omset yang sudah ada di kepala kita masing masing....” Tini memberanikan diri mengedarkan pandangannya sampai ke sisi kiri meja untuk menatap Agus. Pria itu sekarang tak lagi menyilangkan lengan di depan dada, tapi menautkan kedua tangannya di atas meja.


“Saat ini, seperti yang saya lihat di laporan semester pertama, masih ada sebagian besar dari teman-teman yang targetnya jauh dari angka yang ditetapkan, dan rekrutmen tim sama sekali tidak ada penambahan.” Tini melirik Agus yang langsung mengambil kertas laporannya tadi dan membaca isi kertas itu.


“Hari ini, sebelum teman-teman keluar untuk melakukan aktifitas rutin dan menjalankan bisnisnya, kita akan review pencapaian angka, rekrut tim, dan breakdown target bulanan untuk kuartal ke 3 ini, sehingga impian kita semua untuk mendapatkan kebebasan finansial dan kebebasan waktu dapat segera terwujud.”


Tini menarik napas penuh percaya dan memandang ke seluruh penjuru ruangan dan puluhan pasang mata yang sedang menatapnya.


“Fokus, tetap semangat teman teman sekalian. Salam MDRT!!!” tegas Tini dengan penuh percaya diri.


Agus mengangguk-angguk, kemudian memulai tepuk tangan. Seluruh peserta briefing menyambut tepuk tangan Agus dengan riuhnya.


Catatan :


MDRT adalah Million Dollar Round Table, pencapaian seorang agen asuransi yang mencapai minimal angka yang ditetapkan, dan MDRT ini adalah penghargaan internasional untuk agen asuransi.


Di atas pencapaian MDRT adalah COT (Court of Table) dan TOT (Top of Table).


Tini membereskan kertas-kertas hasil pencapaian timnya minggu itu. Tim paling muda dan seumur jagung. Tim yang juga diserahi calon nasabah ‘raksasa’ oleh Agus.


Biasanya Tini ikut tergabung dalam tim senior. Tapi sejak Agus menerima beberapa karyawan lain, Tini ditarik menjadi leader untuk tim baru. Tini merasa Agus menjadikannya ketua tim agar menjadi perisai bagi karyawan baru yang tak perlu menerima omelan. Setiap perlu memurkai sesuatu, Agus hanya tinggal mencarinya.


“Bagus. Briefing yang kamu bawakan tadi bagus. Kayaknya kamu memang harus dipaksa baru bisa keluar kemampuannya,” ucap Agus masih berdiri di dekat pintu ruang meeting.


Tini mengangguk samar dan tersenyum tipis pada Agus sekilas. Ia melambatkan gerakannya agar Agus tak berlama-lama menungguinya di ruangan meeting yang sudah kosong.


“Kelebihan kamu itu banyak. Kamu cuma belum menyadarinya. Coba pikirkan, apa kelebihan kamu...” kata Agus masih berdiri dan menyandarkan punggungnya di rangka pintu.


Tini sedikit mengernyit dan mengetukkan setumpuk kertas ke atas meja agar rapi.


“Kelebihan? Kelebihanku? Nyuci sendok satu-satu? Atau....” Tini sibuk dengan pikirannya sendiri.


Agus menghela napas. Setelah bertemu dengan Heru dan Bara beberapa waktu yang lalu, ia merasa bersalah pada Tini. Ia memang hanya ingin memotivasi Tini agar terpacu mengejar ketertinggalannya. Alih-alih memberikan nasabah kecil, ia mempercayakan perusahaan raksasa ke tangan Tini. Agus percaya Tini mampu.


“Siang nanti kamu ke mana?” tanya Agus. Ia berencana akan mengajak Tini untuk makan siang di luar. Hitung-hitung minta maaf dan memberi motivasi pada Tini.


“Saya mau ketemu calon nasabah Pak,” sahut Tini berbohong. Tak ada. Dia bukan mau menemui calon nasabah. Siang itu dia berencana mengajak seluruh anggota tim-nya makan di warung simpang kantor yang baru buka. Kemarin Tini dapat 5 kupon gratis menu pecel ayam.


“Oh gitu,” sahut Agus masih memandangi Tini. “Jadi kira-kira kap—”


“Sebentar Pak, saya terima telfon dulu.” Tini buru-buru menyambar ponselnya yang bergetar di atas meja. Nama sekretaris Mr. Omaar tertera di layar.


“Ya selamat pagi?—baik Bu, oke. Jadi siang ini ya?” tanya Tini di telepon. “Baik—baik... pasti Bu. Terima kasih banyak ya Bu,” ucap Tini kemudian mengakhiri pembicaraannya.


“Dari siapa?” tanya Agus mau tahu.


“Siang ini saya mau ketemu dengan Mr. Omaar. Beliau sedang ada waktu senggang sebelum makan siang. Saya harus buru-buru,” kata Tini mempercepat gerakannya memasukkan berkas.


“Oooh... bagus. Jangan sampai terlambat. Harus yang bener kamu follow up-nya.” Agus berdiri tegak memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong.

__ADS_1


“Baik Pak,” jawab Tini mengangguk dengan map dan tas di tangannya.


“Kalo gitu, besok siang—”


“Pak, saya buru-buru mau siap-siapin berkas di meja saya. Nanti mau ketemu Mr. Omaar saya bawa satu orang dari tim saya. Kayaknya saya perlu partner. Jadi saya izin sebelumnya.” Tini menatap Agus menunggu jawaban.


“Ya—ya... boleh. Silakan,” sahut Agus.


“Baik Pak, terima kasih. Saya permisi dulu,” ucap Tini kemudian berlalu dari hadapan Agus.


Agus belum sepenuhnya menyingkir dari depan pintu. Tini sampai harus memiringkan tubuhnya untuk keluar ruangan meeting karena Agus tak menyadari bahwa tubuhnya menghalangi jalan.


Agus terdiam mengernyitkan dahi. Ia merasa Tini memusuhinya. Menghindar untuk membalas tatapan matanya langsung. Bahkan ditanya soal jadwalnya pun, Tini seperti enggan memberitahu. Apa karena masalah yang kemarin? Tini masih sakit hati karena caranya mengkritik?


Sebelum jam makan siang, Tini sudah keluar dari kantor. Agus terlihat uring-uringan. Dia merasa tak enak sendiri. Terlebih, pada Heru dan Bara. Entah kenapa dia berpikir, bisa saja Tini mengadu pada kedua orang pria itu.


Agus duduk di meja kerjanya dengan satu tangan terlipat dan tangan lainnya tak henti membelai kumisnya. Sesekali tangannya berhenti di puncak tahi lalatnya untuk meraba titik hitam kecil itu. Begitu terus selama beberapa menit sampai akhirnya ia mengambil ponsel dan menelepon Tini.


“Kamu di mana?—oh iya...di jalan ya? Ya sudah.... Eh Tin! Mmm...ya udah, nanti aja. Lanjutkan kerjaan kamu.”


Agus mengakhiri pembicaraan itu dengan wajah kaku. Mau apa dia menelepon Tini yang baru saja keluar dari kantor. Agus menggeleng-gelengkan kepala merasa tak percaya dengan hal yang baru saja dilakukannya.


*****


“Dudidudidam—dam...dudidudidam... Dudidudidam—dam...dudidudidam...” Tini bersenandung riang menenteng tas dan mendekap beberapa amplop besar di depan dadanya.


Hati Tini riang sekali. Seluruh proposalnya disetujui dan hotel JM.Warriot akan segera melakukan penandatanganan kontrak kerja sama. Polis asuransi pensiun terjual dalam jumlah besar.


“Udah riang banget, kemarin kata Asti kamu nangis-nangis.” Boy menyapa dari depan kamar Tini. “Makanya...gak tahan juga ‘kan dikritik orang? Kamu juga kalo ngomong harus jaga-jaga mulai sekarang.”


Boy menatap Tini yang duduk menghempaskan tubuhnya di kursi plastik.


“Jadi gimana briefing-nya?” tanya Boy.


“Sukses. Eh—eh, Boy! Aku ketemu dengan General Manager hotel namanya Mr. Omaar. Wuuuiihh...cakep! Bule Eropa. Blasteran Amerika-Arab. Bayangin Boy...” ujar Tini berapi-api.


“Bayangin apanya?” tanya Boy.


“Bayangin wajahnya Boy.... Memangnya kamu bisa bayangin apa lagi?” Tini tersenyum-senyum memandang ponselnya.


Tak lama, ponsel yang dipegang oleh Tini berbunyi. Baru saja dia kembali menukar mode getar ke mode ringtone karena sudah di luar jam kantor. Ponselnya langsung bernyanyi lagu Raja – Jujur dalam versi remix.


“Malesin...” gumam Tini memandang ponselnya.


“Siapa emangnya?” tanya Boy.


“Si Agus angsa,” jawab Tini asal masih menatap ponselnya.


“Angsa?” tanya Boy heran.


“Iya. Kalau ngomel itu kayak soang. Semua disosorin.”


“Kayak kamu berarti,” ucap Boy. “Dulu kamu ngejer dia, sekarang ditelfon males-malesan.” Boy kembali mengingatkan tingkah temannya.


“Aku terlalu mirip dengan dia. Makanya gak cocok. Kalau Asti dan Bayu mirip sama-sama kalem, cocok. Tapi kalau aku sama Agus itu, bakal runyam.” Tini kemudian menggeser layar ponselnya untuk menjawab telepon Agus.


Setelah berbicara beberapa saat di telepon, Tini mengiyakan sesuatu dan mengakhiri percakapan di telepon.

__ADS_1


Kalau saja Agus mengajaknya makan siang beberapa bulan yang lalu, mungkin perasaan Tini akan luar biasa senang. Tapi sekarang ia biasa saja.


Akhir Minggu berikutnya, Agus benar-benar memaksanya untuk datang ke sebuah cafe. Katanya hanya untuk makan siang. Tini menyanggupinya dan pergi dengan pakaian seadanya. Agus tak spesial lagi buatnya. Hanya seorang atasan cerewet yang harus ia hindari.


“Kamu pesan aja. Bebas. Hari ini saya traktir kamu,” ucap Agus membuka-buka menu.


Tini menunduk memandang menunya. Sabtu siang itu ia datang dengan celana jeans yang dilipat semata kaki karena kepanjangan dan sebuah kemeja longgar. Tas mungil dengan hiasan bunga mirip Raflesia Arnoldi menempel mengganggu mata. Hiasan bunga itu bahkan lebih besar dari ukuran tasnya.


Agus sedang memandang Tini yang sedang menunduk di atas buku menu. “Tin...saya mau mint—”


Sedang asyik memilih-milih menu di dalam daftar, Tini melirik ponselnya yang bergetar di atas meja. Ia mendengar perkataan Agus sekilas tapi nama di ponsel itu segera mengalihkan perhatiannya.


“Ha? Apa Pak? Saya jawab telepon dulu ya...” ucap Tini pada Agus kemudian meraih ponselnya.


“Ya, silakan—silak—” Ucapan Agus terpotong karena Tini sudah berbicara di telepon.


“Ya? Yes—yes...Tini! I am Tini. Who is thiiiss? (Ya. Saya Tini. Siapa iniiii?)” tanya Tini pada peneleponnya. Ternyata percakapan dasar dalam bahasa Inggris yang dipelajari di sekolah sudah berguna sejak kemarin.


“Oh—What—what? I don’t know (Apa? Saya tidak tau). Yes? Ya ampun... ngomongin opo iki?” gumam Tini tak mengerti.


“Siapa sih?” tanya Agus mulai sebal.


“Ini Mr. Omaar Pak.... General Manager hotel yang saya jumpai kemarin. Saya nggak ngerti Mr. Omaar ngomong apa. Boleh tolong--"


“Sini hape kamu,” pinta Agus mengulurkan tangan meminta ponsel Tini.


Agus meletakkan ponsel Tini di telinganya untuk menjawab telepon.


“Yes? Okay. No, I am just translator for Miss Tini. Okay I am listening (Ya? Oke. Tidak, aku hanya penerjemah untuk Nona Tini. Baik, aku sedang menyimak),” ucap Agus di telepon.


Tini memandang Agus dengan sedikit ternganga. Dia benar-benar penasaran ada apa Mr. Omaar meneleponnya siang di hari libur.


Tak lama Agus mengakhiri percakapan dengan wajah kesal dan meletakkan ponsel Tini di atas meja.


“Mmm...Pak? Mr. Omaar ngomong apa?” ucap Tini hati-hati.


“Besok kamu diajak makan siang berdua. Nanti sekretarisnya bakal menghubungi kamu untuk mengatur jemputan. Tunggu aja sekretarisnya nelfon lagi.” Agus memanggil seorang pelayan.


“Ohhh...Maiii...Gaaattt.” Tini menutup mulutnya.


“Gak usah lebay! Kamu nggak usah mikir yang macem-macem. Itu cuma makan siang profesional sebagai rekan kerja. Kayak dia nggak ada kerjaan aja sampe ngajak kamu makan siang,” ketus Agus.


“Ya kerjaan Mr. Omaar besok makan siang bareng saya Pak...” ujar Tini riang. “Ya ampun—ya ampun...habis makan saya langsung pulang ya Pak. Saya mau beli baju baru,” tukas Tini.


Agus melemparkan tatapan kesal pada Tini. Ia lalu memesan banyak menu untuk membuat Tini sibuk siang itu.


Tini yang sedang merasa sedang naik daun, kembali bersenandung riang sambil membalik-balik buku menu di tangannya.


*****


Pak Wirya sedang menggendong Mima di lengan kirinya. Sedangkan Dul berjalan di antara Pak Wirya dan Bara yang sedang jalan pagi berkeliling komplek perumahan.


Mima sudah berusia 9 bulan dan sekarang sedang aktif menegakkan tubuhnya untuk belajar melangkah.


“Mima...” panggil Pak Wirya. “Namanya nggak salah, cantik sekali. Akung suka. Pas dengan nama Mas Dul. Namanya Dul itu berasal dari nama seorang ayah berhati mulia ‘kan Ra?” tanya Pak Wirya menoleh pada putranya.


“Bukan, awalnya aku juga ngira kayak gitu. Tapi ternyata arti nama Dul lebih dalam maknanya. Makanya adiknya harus dipanggil Mima...” jawab Bara menggenggam tangan mungil Mima yang berada di pundak Pak Wirya.

__ADS_1


“Artinya?” Pak Wirya kembali bertanya.


To Be Continued.....


__ADS_2