
“Lusa kita ke rumah ayah-ibu ya Jah...” ucap Bara sebelum berangkat ke kantor. “Kita udah lama gak ke sana karena aku sibuk terus. Besok mumpung libur, ayah-ibu di rumah.”
“Aku perlu masak sesuatu nggak? Aku masak aja ya... Ibu sukanya apa? Oh aku juga belum belanja—aku masakin tiga macem. Besok masih jumat ya??” Dijah terlihat sibuk ke dapur memeriksa kulkas dan keranjang tempat dia menyimpan bawang dan bumbu dapur.
“Gak usah masak. Sabtu ibu pasti masak kayak biasa.” Bara telah selesai memakai sepatu dan akan pamit, tapi Dijah malah meninggalkannya.
“Gak mungkin gak bawa apa-apa. Aku gak mungkin dateng tangan kosong. Mas selalu larang aku dateng ke rumah ibu sendirian. Aku sungkan gak pernah ke sana. Kesannya gak peduli.” Dijah masih sibuk melihat catatan belanjaannya.
“Aku ngelarang bukan karena kamu gak boleh ke sana sendirian. Tapi ayah-ibu kan jarang di rumah kalo hari kerja. Mereka di luar terus,” ujar Bara seraya berjalan menghampiri isterinya. Ia paham kegelisahan hati Dijah yang masih merasa belum diterima sepenuhnya dalam keluarga Wirya. Isterinya itu masih minder.
Dua Minggu sejak kepulangan mereka dari liburan, Bara memang semakin sibuk. Materi yang diperolehnya selama seminar di Bintan harus kembali disampaikannya kepada karyawan yang lain dalam sebuah meeting dan pelatihan.
“Ya udah, lusa kan? Aku masak aja. Apalagi bawa Dul. Nanti malah mintanya macem-macem.” Dijah menoleh suaminya.
Bara mengangguk. “Aku udah bilang ke ibu kita mau dateng. Kalo kamu capek, gak masak banyak-banyak. Entar kita beli cake atau apa untuk dibawa ke sana.”
“Mas berangkat sekarang?”
“Iya, mau berangkat. Aku mau pamit, mau cium, kamu malah ke dapur.” Bara tertawa kemudian mendekati Dijah dan menangkup wajah isterinya. Dijah menerima ciuman dari Bara dengan kaki berjinjit nyaris menggantung.
Sedang asyik memagut bibir isterinya, ponsel yang berada di saku celana Bara bergetar.
“Sebentar—kayaknya mas Heru nelfon aku. Kemarin dia bilang mau berangkat bareng,” ujar Bara merogoh saku celananya. Bara masih berdiri menghimpit tubuh isterinya di dekat kompor ketika melihat penelepon itu ternyata adalah Joana.
“Mau apa ya? Mungkin penting ini,” ucap Bara berusaha mengendalikan suaranya agar terdengar biasa saja. Ia tak beranjak dari depan isterinya.
“Ya Jo?” sapa Bara. “Ibuku? Ada kok. Mungkin lagi sibuk belum sempet liat hapenya. Telfon aja entar-entar lagi.” Bara mengelus-elus punggung Dijah yang sedang melontarkan tatapan tajam.
__ADS_1
“Aku ada keperluan, agak mendesak. Kira-kira ibu kamu besok ada di rumah gak? Aku perlu bahan untuk jadi pembicara. Menurut kamu gimana Ra?” tanya Joana dari seberang telepon.
“Yah gimana ya... Itu kan ibuku yang tau. Kamu mending ngomong ke beliau aja langsung. Aku kan gak tau kesibukan beliau di kampus gimana.” Bara melirik isterinya kemudian meraba bagian tengkuk wanita itu dan mempermainkan kuncir rambutnya.
“Oke, ya udah. Aku telfon ibu kamu lagi. Besok aku niatnya ke rumah ibu kamu. Minta masukan bahan tentang public speaking. Aku baru pertama jadi pembicara, jadi rada nervous. Kamu gak ke sana juga? Besok kan hari sabtu?” tanya Joana lagi. Telinga Dijah dengan jelas dapat mendengar perkataan perempuan itu.
“Gak tau, liat entar. Ya udah, aku mau berangkat ngantor. Udah telat,” sahut Bara.
“Oh masih di rumah... Aku kira udah di kantor.” Joana tertawa di seberang.
Kenapa harus tertawa? Memangnya apa yang lucu mengetahui Bara masih di rumah? Memangnya kenapa kalau suaminya itu sudah tiba di kantor? Apa lantas bisa ditelepon berlama-lama? Dijah menggeser tubuh Bara kemudian pergi ke bak cuci piring dan mulai menyalakan kran. Mbok Jum terdengar masih sibuk di kamar mandi belakang. Wanita tua itu duduk dengan sebuah dingklik membersihkan ikan.
“Mungkin penting banget makanya sampe mau ke rumah,” gumam Bara seolah memberi informasi tambahan ke telinga Dijah soal niat kedatangan Joana ke rumah ibunya.
Dijah diam saja. Dia tak mau bertemu dengan perempuan itu. Tapi membatalkan kunjungan ke rumah mertua karena perempuan lain juga mengusik hatinya. Ia adalah menantu orang tua Bara. Bukan perempuan itu. Kenapa harus dia yang menghindar. Dijah semakin menekuk wajahnya karena pemikirannya barusan.
Seharian itu Bara bekerja tanpa memikirkan soal itu lagi. Apalagi tiba-tiba Mas Heru membawa kabar kalau sidang putusan Fredy akan di gelar Minggu depan. Dia menjadi sedikit gelisah dan khawatir. Akankah Fredy menerima hukuman maksimal 20 tahun penjara?
Sedang sibuk menunduk di depan laptopnya , tiba-tiba mejanya diketuk. Seketika ia mengangkat wajah dan melihat Joana tersenyum padanya.
“Serius amat Pak, mentang-mentang posisi baru...” ujar Joana dengan pandangan berkeliling melihat ruangan Bara.
“Eh, dari mana?” Bara terperanjat.
“Mampir, mau ngasi ini.” Joana menyodorkan sebuah flashdisk. “Aku udah telfon ibu kamu, beliau bilang bisa kasi bahannya trus ibu kamu bakal bantu cek. Yah... Kali-kali aja ada yang perlu diperbaiki. Aku gak sempet Ra, tadi kebetulan lewat sini, aku minta tolong kamu aja yang kasi ya... Boleh gak?” Joana menarik kursi di seberang meja dan duduk dengan santai. Sepertinya Joana memang sudah menganggapnya sebagai teman biasa saja.
“Emangnya ibuku gak ada di kampus?” tanya Bara.
__ADS_1
“Ada mahasiswa meja hijau. Aku gak enak ganggu. Kamu dong yang kasi. Lusa aku ambil ke rumah ibu kamu. Sekalian ngucapin makasi. Boleh ya Ra... Please...” ucap Joana membuat wajahnya agar terlihat menggemaskan.
“Ya udah, entar malem pulang kantor aku mampir ke rumah.” Bara mengambil flashdisk Joana dari atas meja dan memasukkannya ke dalam laci.
“Udah makan? Makan keluar yuk,” ajak Joana.
“Aduh Jo... Aku masih ada kerjaan yang belum kelar. Next time ya...” kata Bara.
“Sombong banget sejak dah nikah. Kita masih temenan kan? Aku masih kecewa karena gak diundang.” Joana menyilangkan kakinya. Wajahnya masih cemberut memandang Bara.
“Beneran deh, next time. Pikiranku masih terbagi. Ada yang aku pikirin,” tukas Bara.
“Isteri kamu udah hamil Ra?” tanya Joana kemudian. Ia hanya menebak kalau urusan yang dipikirkan Bara itu adalah soal rumah tangganya. Joana tak ada maksud apa-apa. Ia hanya sedikit usil ingin mengetahui tentang bagaimana sosok isteri Bara yang sesungguhnya.
Joana berpikir bahwa Bara tak mengundangnya ke resepsi pernikahan pasti karena dilarang isterinya. Wanita yang dinikahi Bara pasti membencinya sejak kejadian di halaman Polsek.
“Eh, ngelamun! Aku dicuekin. Aku nanya lho, isteri kamu udah hamil. Sebulan lebih jadi pengantin baru, pasti lagi hot-hotnya.” Joana tertawa santai.
“Udah... Udah hamil,” jawab Bara tersenyum lebar.
“Wah keren... Selamet yah, aku seneng dengernya. Entar lagi bakal dipanggil ayah,” sambung Joana masih tersenyum-senyum. "Hebat!"
"Iya dong... Kang Mas Bara gitu lho...." Bara tertawa kemudian berlagak merapikan kerah kemejanya. Joana tersenyum mencibir.
To Be Continued.....
Dipenggal untuk langsung dilanjutkan ke next part :*
__ADS_1