
Sepanjang makan siang mereka itu, Bara tak hentinya tersenyum. Ia menumpahkan segala kerinduannya sore itu. Menatap Dijah tak henti-hentinya. Dan tak melepaskan tangan Dijah selain ketika waktu makan.
“Jadi 'kan mampir ke rumahku sebelum pulang? Sukma lagi di rumah, aku pengen ngenalin kamu ke dia. Malam ini, kamu sendiri. Besok kita bawa Dul keluar. Gimana?” tanya Bara.
“Iya, boleh. Terserah baiknya Mas aja gimana,” sahut Dijah tersenyum tanpa menatap Bara.
Sore itu Bara langsung mengemudikan mobilnya kembali menuju rumah. Keluarganya pasti sedang menunggu untuk makan malam. Entah apa yang sudah dikatakan ayahnya pada wanita nomor satu di rumah itu, yang jelas Bara nekad akan membawa Dijah langsung ke rumah.
Dijah duduk dengan tangan yang terus tergenggam di atas paha Bara. Sedikit pegal tapi tak apa. Dia sudah lama tak bertemu dengan pria yang sepanjang waktu tersenyum itu. Setiap perhentian lampu merah, Bara menoleh padanya dan kembali tersenyum. Dijah ikut salah tingkah dengan sikap Bara itu.
“Bu ... Aku pulang,” ujar Bara dari depan pintu. “Ayo masuk,” ajaknya masih menggandeng tangan Dijah. Namun kelakuan Bara itu menimbulkan perasaan sedikit risih pada diri Dijah. Ia berlama-lama di depan pintu saat membuka sepatunya.
Yang awalnya Dijah mengira Bara bakal mendahuluinya untuk masuk ke dalam rumah, nyatanya laki-laki itu malah berjongkok untuk membantunya melepaskan sepatu dan meletakkan ke sisi pintu.
“Nggak usah,” gumam Dijah ikut berjongkok.
“Udah—udah, ayo ....” Bara memegang kedua sisi bahu Dijah dan membawa wanita itu ke dalam.
“Eh udah nyampe. Dijah, duduk sini.” Sukma menarik sebuah kursi makan di sebelahnya. Sukma sudah mendapatkan pesan pendek dari Mas-nya yang memberitahu bahwa ia akan membawa Dijah ke rumah. Sebenarnya pesan itu cukup panjang karena disertai wanti-wanti soal cara memperlakukan Dijah.
Mendengar perkataan adiknya, Bara mendekati Sukma dan mencubit pelan pipi wanita itu sambil berbisik, “Mbak--Mbak ... Manggilnya Mbak.”
“Tapi Dijah lebih muda dari aku,” gumam Sukma melotot pada Mas-nya dengan mulut nyaris tak terbuka.
“Tapi nanti jadi Mbak kamu, dibiasain dari sekarang,” gumam Bara ikut mendelik.
“Ehem!” Pak Wirya yang mendekat ke meja makan berdeham melihat tingkah kedua anaknya. Bara melepaskan pipi Sukma dan meringis ke arah Pak Wirya.
“Duduk di sini dulu ya,” kata Bara menggamit lengan Dijah untuk duduk di sebelah adiknya. Belum jam makan malam, tapi keluarganya memang biasa berbincang di meja makan. Dan sejak masuk tadi, Bara belum melihat di mana ibunya.
“Aku ke belakang dulu ya ...” Bara memijat lembut bahu Dijah yang kemudian mengangguk.
Bara ingin mengetahui apa yang sedang dilakukan ibunya. Ia telah membawa Dijah ke rumah, dan ketidakhadiran ibunya di ruang makan saat itu membawa kegelisahan tersendiri di hatinya
“Lagi apa?” sapa Bara yang mendapati ibunya sedang memotong-motong sekotak brownies di kotaknya.
“Ini ... Kan lagi ada tamu. Buat dessert,” sahut Bu Yanti belum menoleh.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Bara sedikit canggung.
“Nggak ada, nggak usah. Kamu ke depan aja. Udah selesai kok,” sahut Bu Yanti belum menoleh. Bara merasa sikap ibunya tak seperti biasa.
“Bu ...” panggil Bara melingkarkan tangan ke sekeliling tubuh ibunya.
__ADS_1
“Aku boleh 'kan sama Dijah?” tanya Bara seraya memeluk wanita yang melahirkannya itu dari belakang.
“Ayah udah ngomong kok ke Ibu,” sahut Bu Yanti menghentikan pekerjaannya. Tangannya tak bisa bergerak karena Bara memeluknya dengan erat.
“Tapi aku pengen denger dari ibu langsung,” ucap Bara. “Mas boleh 'kan nikah sama Dijah?” tanya Bara dengan lembut.
Sepertinya Bu Yanti kembali menangis. Wanita itu susah payah menghalau air matanya yang keluar. Bara masih memeluk ibunya dari belakang dan mencium kepala wanita itu.
Dan setelah menarik nafas panjang dan ucapan yang sedikit tercekat, Bu Yanti menjawab, “Boleh Mas, boleh ... Yang penting Mas bahagia. Ibu ikut bahagia,” jawab Bu Yanti. Ia merasa kembali ke puluhan tahun lalu. Saat Bara merayunya untuk dibelikan sesuatu atau meminta izin menginap di puncak bersama teman-temannya. Meski terkadang berat, namun ia selalu memberi izin pada putranya.
“Makasih Ibu,” kata Bara semakin mengetatkan pelukannya sampai tubuh mereka bergoyang ke kanan-kiri. “Sayang Mas ke ibu selalu nomor satu.” Bara kembali mengecup kepala ibunya.
“Bawa ini ke depan,” pinta Bu Yanti menyodorkan piring berisi brownies yang telah dipotong-potongnya.
“Oke, biar aku bawa. Ibu pakai lipstik dikit, biar makin cantik. Biar Dijah tau kegantengan aku ini dari mana datangnya.” Bara mengedipkan matanya pada Bu Yanti. Sang ibu menjawab perkataan itu dengan melayangkan pukulan ke lengan anaknya.
“Dibawa makan ke restoran mana Mbak? Enak nggak makanannya?” tanya Sukma. “Mas biasa referensi restonya nggak pernah bagus, jarang yang enak. Sukanya tempat remang-remang nggak jelas.” Sukma terkekeh-kekeh.
“Sukma ... Ini banyak brownies. Makan sekarang, jangan ngomong yang nggak-nggak.” Bara menyodorkan piring brownies yang baru dibawanya ke hadapan Sukma. Wanita itu hanya mencibir melihat Mas-nya kembali mendelik padanya.
“Udah bisa disiapin makan malamnya Bu,” ujar Pak Wirya dari meja makan.
“Aku bantu ke belakang ya,” tukas Dijah bangkit dari kursinya.
“Nggak usah, jangan. Hari ini kamu tamu. Duduk aja.” Bara menahan lengan Dijah.
“Yang bantu ibu ada dua orang di belakang. Kamu duduk aja.” Bara mengusap bahu Dijah demi menenangkan raut kesungkanan yang tersirat di wajah kekasihnya.
“Iya, di sini aja. Ngobrol-ngobrol sama Pak Darma soal laki-laki yang berdiri di ambang pintu.” Pak Wirya tersenyum geli memandang Dijah. Dijah tertawa kecil. Bara yang tak mengerti pembicaraan ayahnya dan Dijah melontarkan tatapan curiga.
“Apa ada yang aku nggak tau?” tanya Bara pada ayahnya.
“Banyak ....” Pak Wirya dan Dijah tertawa bersamaan. Bara mencibir kesal pada ayahnya.
*****
“Pak, aku ora tau njaluk opo-opo marang sampeyan. Suwene iki aku dadi ibu sing elek kanggo Dijah. Aku wis umyek banget ngerteni wateke sampeyan ngasi aku ora nggatekake anakku sing butuh ibu. Aku egois. Aku mung njaluk barang sing pungkasan. Dijah saiki bene di openi Bu Widya meneh. Aku ora ngerti kapan dhekne iso mbalek meneh koyo mbiyen. Aku bar masak mau. Tulung wenehke Dijah. (Pak, aku nggak pernah minta apa-apa sama kamu. Selama ini aku sudah jadi ibu yang gak baik untuk Dijah. Aku terlalu sibuk memaklumi sifat kamu sampai mengabaikan anakku yang membutuhkan sosok ibu. Aku egois. Aku mau minta hal terakhir. Dijah sekarang dirawat Bu Widya lagi. Gak tau kapan dia bisa kembali kayak dulu. Aku ada masak sesuatu. Tolong anterin ke Dijah)”
Ibu Dijah berdiri di ambang pintu kamar seraya memegang satu rantang berisi makanan untuk Dijah. Sejak kejadian malam itu, Bara telah datang ke rumah menjelaskan semua kejadian. Ibu Dijah hanya bisa menangis. Dan bapaknya hanya diam merokok bersandar di dinding rumah.
Hal itu tidak sampai ke telinga Dul. Dengan dua plastik penuh jajanan, Bara mengatakan pada Dul bahwa ibunya mendapat pekerjaan ke luar kota. Saat itu Bara berjanji akan menjenguk Dul sesekali sampai Dijah kembali.
Dan seperti biasa, Bara selalu menepati janjinya. Selama Dijah belum kembali menjenguk anaknya, Bara kerap datang mengajak Dul keluar. Beberapa kali dua orang pria berbeda usia itu tampak jalan beriringan ke restoran ayam goreng di sebelah SPBU.
__ADS_1
Dengan sedikit enggan, bapak Dijah yang baru pulang dini hari dari warung untuk bermain catur, bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi.
Pria tua itu memakai pakaian terbaiknya dan menyusuri gang dengan menjinjing rantang. Pukul 11 siang bapak Dijah tiba di Rumah Aman dan berhasil menemui Dijah di ruang tamu. Ayah-anak itu tak berbicara banyak. Setelah berbasa-basi bertanya soal Dijah yang betah atau tidak berada di sana, bapak Dijah berdiri dari sofa ruang tamu.
“Jah, bapak njaluk ngapuro, Bapak meh mulih sek yo... Ojo lali dipangan. Dul nang umah sehat. Ndang metu seko kene yo, Dul kangen jare. (Jah, Bapak minta maaf. Bapak mau pulang dulu... Jangan lupa dimakan. Dul sehat-sehat di rumah. Cepat keluar dari sini, Dul kangen)” Pria tua itu masih berdiri di bawah gawang pintu menoleh pada putri bungsunya.
Mendengar perkataan bapaknya, Dijah tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Ia berdiri memandangi punggung bapaknya yang perlahan menjauh dan hilang di sudut jalan.
Pakaian bapak rapi sekali hari ini, pikir Dijah. Sudah lama sekali rasanya ia tak melihat pria tua itu berpakaian rapi. Terlalu sering berada di warung menghabiskan waktunya dengan sesuatu yang tak berguna, membuat pria itu kadang lebih mirip gembel.
Umur manusia tetaplah menjadi rahasia. Ibu Dijah yang mengidap diabetes dan sakit bertahun-tahun, ternyata memiliki umur panjang dari suaminya.
Dijah tak pernah menyangka, kalau siang itu adalah kali terakhirnya bertemu dengan Mbah Lanang Dul. Bapak Dijah meninggal dalam tidur siangnya seusai mengantarkan serantang makanan pada putrinya.
Dijah kehilangan. Tentu saja Dijah kehilangan. Meskipun Dijah sering tak menyadari kehadiran bapaknya, tapi pria itu tetaplah seorang ayah bagi Dijah.
Sore itu Bara menjemput Dijah untuk pergi melihat bapaknya untuk terakhir kali. Ia tak menangis. Hanya duduk diam sepanjang perjalanan.
Di lain tempat, Mak Robin, Boy dan Asti telah tiba di rumah Dijah. Mereka bertiga duduk di jajaran kursi plastik di bawah tenda pendek yang direntangkan di gang itu.
“Si Tini mana sih? Dia yang ngasi kabar, dia juga yang belom nyampe. Emang dia ke mana?” tanya Boy pada Asti.
“Interview kerja katanya. Untung mbak Tini bisa jawab telfonnya mas Bayu. Kalo nggak, kita gak bakal tau.”
“Iya, sabar sikitlah kau Boy. Si Dijah pun belom nyampe. Aku rindu jugak sama dia.”
“Iya, aku juga kangen mbak Dijah... Semoga udah pulih. Kasian mbak Dijah...” gumam Asti.
“Itu Dijah! Assassinnya kos-kosan kandang ayam!” seru Boy menunjuk Dijah yang berjalan beriringan dengan Bara di sebelahnya.
“Hus Mas Boy! Gak boleh ngomong gitu. Assassin itu artinya pembunuh. Serem,” tegur Asti memukul bahu Boy.
Setibanya di bawah tenda, Dijah berdiri memandang teman-temannya satu persatu. Ia rindu pada tetangga-tetangganya itu. Sebelum masuk ke rumah melihat jasad bapaknya, Dijah bertanya, “Tini mana?”
Ketiga orang di depannya menggeleng. “Belum nyampe,” sahut Boy.
“Ayo masuk dulu Jah,” ajak Bara mengingatkan.
“Di sini—di sini ....” Suara Tini muncul dari balik tubuh Bara yang masih berdiri. “Ini Tini hadir ....” Tini yang baru tiba terlihat ngos-ngosan dan langsung menghempas tubuhnya di kursi plastik.
“Kok lama? Padahal kamu yang duluan tau kabar,” ujar Boy.
“Aku salah rumah ....” Tini berbicara sambil mengatur nafasnya. “Turun dari angkot di gang sebelah. Ada bendera kuning juga, aku langsung masuk. Udah akting nangis deket yang meninggal. Pas nanya Dijah, malah nggak ada yang kenal. Mana yang meninggal laki-laki masih muda. Aku udah ditanya-tanya dikira istri muda laki-laki yang meninggal itu. Waduh Jah ... Kalau tadi sampai ribut, aku harus minta bantuan kamu lagi.” Tini menghela nafas panjang. Keringat di dahinya bercucuran.
__ADS_1
“Ya ampun...” gumam Bara. “Kayaknya aku udah mulai biasa denger yang aneh-aneh sekarang,” tambah Bara.
To Be Continued.....