
“Kamu ngapain pake bilang aku hobi baca, bilang aku yang sebenarnya aja. Biografi Dokter Sun itu tadi siapa aku nggak tau. Ingetku itu nama jalan raya. Kalau sampe semua nama jalan raya disuruh baca biografinya, ya mumet As ... Bapakku lahir kapan dan di mana aja, aku nggak tau. Hidup udah mumet, aku disuruh baca masa lalu orang.”
“Ya maaf Mbak Tini ... Aku cuma keasikan ngobrolnya. Mas Bayu itu baik,” ucap Asti setengah berbisik. Mereka telah duduk di kursi pesawat masing-masing.
“Memangnya apa gunanya baca biografi Dokter Sun ... apa itu tadi. Tauku Dokter Boyke aja.”
“Ya udah, gak usah dibaca Tin! Berisik banget. Nanti orangnya bisa denger,” sergah Boy mencubit lengan Tini.
“Pokoknya ini harus segera diluruskan. Semua karena mas-nya Dijah. Aku jadi ngerasa harus bales,” ujar Tini lagi.
“Ehem!!” Bara yang mendengar perkataan Tini berdeham mengingatkan bahwa ia belum tuli.
“Lupa aku mas-nya Dijah di belakang,” bisik Tini kemudian pada Asti yang lagi-lagi didengar Bara dan Dijah dengan jelas. Dijah bersandar ke bahu suaminya dan memeluk satu lengan suaminya dengan erat. Ia sudah tahu kalau Bara sedikit kesal karena ikut disalahkan atas kekacauan yang ditimbulkan teman-temannya.
“Nanti aja dibahas lagi!” seru Boy tertahan.
“Pokoknya harus segera,” balas Tini. “Kita harus sama-sama ngasi taunya. Jangan sampe dia datengin ak—ya Gusti ...ya Gusti ....” Omelan Tini terhenti berganti dengan ratapan. Pesawat tinggal landas meninggalkan bandara.
Di kiri Tini jendela pesawat, Asti di tengah dan Boy di sebelah lorong. Di belakang Tini, Dul duduk dengan tenang. Bocah itu tak hentinya ber’waaaw-waaaw’ sejak tadi. Di sebelah kanan Dul duduk Dijah kemudian disusul Bara.
Sedangkan Heru dan Bayu duduk di seberang kanan deretan kursi Tini. Begitu pula Mak Robin dan anaknya yang duduk di seberang deretan kursi Dijah. Bayu yang mengatur lokasi duduk mereka sepertinya tampak puas karena sesekali bisa mencuri-curi pandang ke arah Tini yang masih mengomeli Asti.
Heru dan Bara yang biasa duduk di kelas bisnis, hari itu duduk bergabung di kelas ekonomi. Awalnya Bara mendesak agar Heru tetap mengambil tiket kelas bisnis seperti biasa, tapi kakak sepupunya itu meyakinkannya akan lebih seru kalau mereka semua tetap bersama-sama.
Bara sempat berpikir, bahwa Heru terlihat lebih butuh piknik dibanding penghuni kos kandang ayam.
“Aduh ... Mati aku,” rintih Tini di lima menit pertamanya.
“Itu dia nggak apa-apa?” tanya Bara pada Dijah saat mendengar rintihan Tini yang tak henti-henti.
“Enggak, sebentar lagi dia pasti tidur. Udah minum obat anti mabuknya,” jawab Dijah sambil mengintip Tini dari celah kursi di depannya.
“Aku udah lama banget nggak pernah liat orang mabuk perjalanan. Untung kamu enggak ya,” tukas Bara menunduk ke wajah Dijah yang menempeli lengannya.
“Kalau iya emangnya kenapa? Aku nggak diajak ke mana-mana?” Dijah mendongak membalas tatapan suaminya.
“Enggak. Di kamar aja kamu. Gak usah ke mana-mana,” sahut Bara.
“Enak gitu ya? Kayak mas Heru yang ketawa terus. Berangkat urusan kantor malah seneng-seneng sama perempuan-perempuan lain.” Dijah menyipitkan matanya. “Istrinya gak tau?” tanya Dijah penasaran.
Bara berkilah menjawab hal itu dengan mencubit pelan pipi istrinya. “Gak tau. Biar itu urusan mas Heru aja. Lagian dia emang selalu gitu. Apa-apa dibawa santai,” jawab Bara.
__ADS_1
“Dul tidur,” ucap Bara melihat Dul mulai menyandarkan kepalanya ke dekat jendela. Dijah mendekapkan sebuah bantal kecil ke dalam pelukan bocah yang berpakaian mirip seperti Bara itu.
“Bangun kepagian,” ucap Dijah membetulkan letak kepala anaknya.
“Tiap jalan-jalan semangat banget. Gak bawel. Malah bangun sendiri. Pinter,” tutur Bara ikut memandangi Dul.
“Udah terbiasa. Bertahun-tahun harus mandiri. Khawatir terlambat sekolah. Khawatir ketinggalan dari teman-temannya. Dul ngerasain kekhawatiran itu sendirian. Aku nggak ada,” ucap Dijah.
“Nanti Dul sekolahnya deket rumah. Kamu tiap hari bisa anter atau nungguin dia kalo mau. Kamu bisa ngerawat dia. Gantiin waktu-waktu yang gak sempet kemarin. Gitu, 'kan?” Bara memegang dagu istrinya.
Dijah mengangguk, “Iya. Makasih ya Ayah Bara ...” ucap Dijah. Bara kembali mencium kepala Dijah.
“Eh, itu Tini tau gak kalo dari bandara Batam kita bakal nyeberang lagi ke pelabuhan Sri Bintan Pura?” Bara menunjuk Tini dengan dagunya.
“Nggak tau kayaknya,” sahut Dijah semakin mengetatkan pelukannya pada lengan Bara.
“Aduh dipeluk gitu aja enak,” gumam Bara yang sejak tadi lengannya terus bergesekan dengan dada sang istri.
“Mau yang enak?” goda Dijah dalam bisikan.
“Mau banget, tapi masih lama lagi. Kita masih harus menyaksikan Tini tersiksa selama 40 menit di kapal.” Bara terkekeh.
“Memangnya gak ada pesawat langsung ke pulau Bintan itu?” tanya Dijah.
“Mas gak marah ke aku kan karena mereka ikut semua?” tanya Dijah kemudian mencium lengan suaminya.
“Marah. Makanya kamu harus nurut kalo aku minta apa aja,” sahut Bara memandang istrinya gemas.
Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari pilot yang menginformasikan bahwa sesaat lagi mereka akan tiba di bandara tujuan.
Dijah ikut melongokkan kepalanya keluar jendela melihat bentangan laut luas di bawah sana. Itu adalah pertama kali ia melihat laut dari sisi yang berbeda. Kapal-kapal terlihat sangat kecil. Hanya berupa titik-titik yang seperti tak ada artinya.
“Bagus ya Mas,” bisik Dijah mengagumi keindahan ciptaan Tuhan yang baru dilihatnya seujung kuku itu.
“Aku bakal sering ajak kamu jalan-jalan. Kamu dan Dul. Keluarga kita,” ulang Bara sedikit menekankan ucapan keluarga kita. Dijah yang mengerti maksud suaminya tertawa dan memeluk pria itu.
Di sisi kanan mereka, Mak Robin yang gagahnya seperti preman sedang menunduk dan tak henti berkomat-kamit berdoa karena pesawat sudah sedikit menikung dan mulai terbang rendah. Robin yang tidur di pangkuan ibunya menjadi meja bagi tangan ibunya yang sedang menaut gelisah.
Para penumpang sudah dipersilahkan turun melalui pintu depan dan melewati garbarata.
“Eh gak kelen bangunkan si Tini itu?” tanya Mak Robin yang berjalan melewati barisan kursi depan menenteng tasnya.
__ADS_1
Dijah mengulurkan tangannya dari kursi belakang dan meletakkannya di depan hidung Tini. “Masih bernapas!” seru Dijah.
Bara yang sedang menurunkan barang dari atas kabin, meringis melihat tingkah istrinya.
“Mbak Tini! Bangun, kita udah nyampe.” Asti mengguncang lengan Tini yang tidur dengan posisi pipi menempel di dinding sebelahnya.
“Tin!! Bangun!” Dijah menepuk paha Tini sedikit kesal. Semua penumpang telah turun dan pramugari telah berdiri memandang mereka yang masih bergerombol di lorong.
“Apa obat mabuknya kelebihan dosis? Mbak Tini minumnya gak pake takaran. Langsung teguk dari botol.” Asti menoleh pada wajah Bayu lebih dulu. Bayu kemudian maju mendekati Tini.
“Mbak Tini ... Bangun,” ucap Bayu sedikit mengguncang bahu Tini. Tini bergeming, tak ada sahutan.
“Ya udah, Asti dan Boy jalan keluar dulu. Lorongnya sempit, biar aku coba bangunin.” Heru sedikit memiringkan tubuhnya untuk mencapai kursi tempat Tini tidur setengah ternganga.
“Mbak Tini ...” Heru lebih mendekatkan tubuhnya dan memanggil Tini 30 cm dari telinga perempuan itu. Tini seketika menggeliat.
“Ya ampun ... Kita udah nyampe mana?” tanya Tini mengerjapkan matanya memandang Heru.
“Kita udah di bandara Batam, ayo turun.” Heru kemudian mengangguk pada Asti dan Boy yang masih menunggu di lorong. Ia meminta mereka melanjutkan langkahnya.
“Aku kira di surga ... Yang manggil suaranya merdu banget.” Tini meregangkan tubuhnya dengan santai. Bayu yang mendengar perkataan itu rautnya sedikit berubah kemudian melangkah mengikuti Asti dan Boy.
Heru kembali tertawa senang mendengar gombal receh Tini. Sedangkan Bara tetap melontarkan pandangan sebal.
“Kita langsung ke hotel, 'kan Mas?” tanya Tini pada Bara yang berada di depannya.
“Gak dooong ... Kita bakal naik kapal lagi 40 menit baru tiba di kota Tanjung Pinang.” Bara tersenyum menang.
“Naik kapal lagi? Mampus! Mending aku dibius aja Jah!” Tini menyeret kopernya dengan langkah lemas.
“Ya udah Mbak Tini jalan duluan aja. Ini kopernya biar saya bantu bawa,” tukas Heru yang berada di barisan paling belakang.
“Memang calon-calon penghuni surga ...” ucap Tini memandang wajah Heru yang kembali terkikik menerima gombalan.
To Be Continued.....
Malam ini jangan lupa diremas tombol likenya ya...
Ini dia penampakan peserta honeymoon-piknik-kerja
__ADS_1