PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
86. Rentang Rencana


__ADS_3

Dijah masih berdiri bingung di depan pagar. Mbok Jum masih menangis memeluk tubuhnya.


“Mbok kok bisa di sini? Sejak kapan?” tanya Dijah.


“Ayo masuk dulu, Bara udah di dalem. Dia pasti perlu nanya-nanya aku.” Mbok Jum menarik tangan Dijah untuk mengikuti langkahnya.


Saat melangkahkan kakinya ke ruang tamu, rumah itu seperti baru diisi. Perabotnya terlihat baru dan aroma cat masih tercium.


“Rumahnya siapa Mbok?” tanya Dijah lagi. Ia berharap menemukan jawaban yang sebenarnya.


“Kata Bara rumah kamu,” sahut Mbok Jum. Dijah meringis. Sama saja ternyata jawabannya.


“Mbok udah berapa lama di sini? Kok bisa? Siapa yang bawa ke sini? Selama ini Mbok di mana?” Mbok Jum tak menjawab satu pun pertanyaan itu. Tangannya terus menggandeng Dijah menuju sofa ruang keluarga berbentuk L yang berwarna abu-abu.


“Aku di sini udah hampir dua minggu. Bara ngurusin surat-surat yang menyatakan aku ini anggota keluarganya biar aku bisa keluar dari penampungan. Menghindari perdagangan manusia katanya. Aku mesti dua kali bolak balik ke Dinas Sosial. Bara cekatan. Mungkin karena profesinya juga ya ....” Mbok Jum mengambil tas berisi pakaian Dul dari tangan Dijah.


“Kok bisa ya? Dia nggak pernah ngomong ...” gumam Dijah.


“Kata Bara waktu itu kamu lagi istirahat, belum bisa diganggu. Setiap dia dateng, aku bujuk dia jemput kamu bawa ke sini. Tapi dia minta aku nunggu. Karena dia juga lagi nunggu. Bara itu—”


Terdengar suara pintu ditutup dan Mbok Jum mengatupkan mulutnya.


“Mbok masak?” tanya Bara. “Dijah belum makan,” sambungnya kemudian.


“Masak—masak... Kamu belum makan? Udah tengah malem. Ayo ke belakang, aku masak. Sejak di sini aku selalu masak.” Mbok Jum sekarang mirip seorang tuan rumah. Penampilannya sangat berbeda. Wajahnya terlihat lebih segar dan matanya berbinar antusias saat bicara.


“Ayo makan,” ucap Bara merentangkan tangan kirinya mengajak Dijah berdiri. “Dari siang belum ada makan apa-apa. Nanti kamu sakit.” Bara merangkul bahu Dijah yang masih mencoba menyusun kepingan cerita di kepalanya.


“Pisau mana Mbok?” tanya Bara.


“Di tempat biasa, aku nggak pindahin.” Mbok Jum meletakkan piring di hadapan Dijah. “Nak Bara ikut makan?” tanya Mbok Jum.


“Aku nggak, aku masih kenyang. Dijah aja. Aku mau ngupasin buah,” kata Bara menuju kulkas dan mengeluarkan dua butir apel. Pria itu mengambil sebuah piring dan duduk di sebuah bangku tinggi di bar dapur. Kepalanya menunduk mengupas kulit apel dengan tekunnya.

__ADS_1


Dijah merasa bagai seorang tamu. Bara bersikap sangat luwes dengan wajah seolah ia dan Mbok sudah mengenal sangat lama. Dan Mbok Jum juga sepertinya sudah menguasai keadaan rumah itu dengan sangat baik.


Dijah berkali-kali mencuri pandang menatap Bara yang duduk menyebelahinya. Mbok Jum harus mendorong piring sampai menyentuh tangan Dijah untuk menyadarkan wanita itu.


“Makan dulu, nanti dipandangi lagi.” Mbok Jum berbisik agar Bara tak mendengar. Sejurus kemudian Bara bangkit dengan membawa piring berisi potongan apel.


“Abisin nasinya, trus makan ini ya ... Abisin juga. Aku ke kamar depan mau ngecek sesuatu.” Bara memijat lembut bahu Dijah sebelum menoleh pada Mbok Jum.


“Tukang perabotnya udah jadi masang hari ini, 'kan?” tanya Bara.


“Udah, tadi aku liat udah siap semua. Tapi Nak Bara cek lagi, siapa tau ada yang kurang cocok. Katanya diminta segera hubungi. Kuitansi dan kartu namanya aku letak di laci meja tempat kunci-kunci.” Mbok Jum menunjuk sebuah meja panjang yang menempel ke dinding di ruang tamu.


“Ohhh ... oke. Aku liat dulu. Makasi ya Mbok,” tukas Bara. Ia kemudian berlalu meninggalkan dapur menuju kamar tidur utama yang terletak paling depan.


“Jelasin ke aku sedikit. Aku nggak ngerti apa-apa. Kok bisa di sini?” tanya Dijah sedikit menunduk dan memelankan suaranya.


“Aku dijemput. Pertama aku dikunjungi Bara. Dia nyari aku Jah ... Katanya dia udah keliling semua Dinsos nyari info. Anakku aja nggak ada yang inget sama aku. Tapi pacarmu nyari aku. Katanya dia harus bawa aku, biar kamu balik lagi kayak dulu. Dia ajak aku keluar makan, ngobrol-ngobrol. Waktu itu Bara keliatan kalut. Trus dia urus surat-surat, bawa aku ke sini. Kedua kali aku ada urusan ke Dinsos, dia bawa ayahnya jemput aku.” Mbok Jum mulai kembali menangis.


“Jadi ini rumah siapa Mbok?” tanya Dijah tadi. Ia sangat penasaran. Nasi di piringnya masih tersisa setengah.


“Aku nggak denger langsung dari Bara. Tapi dari tukang yang ngecat rumah ini. Seminggu yang lalu mereka dateng beresin sisa peralatannya. Terus seorangnya nyeletuk dari sini mau ke rumah Heru. Masih ada borongan. Jadi aku tanya sekalian. Ternyata Heru itu sepupu Bara. Rumahnya gak jauh dari sini. Rumah dari eyang mereka. Untuk cucu laki-laki. Bara cucu kedua laki-laki. Enak yo Jah, sekarang kamu nggak usah mumet karena diomeli Nyai yang punya kos-kosan karena telat bayar.”


“Jah ...” panggil Bara dari arah kamar depan.


“Dipanggil ya Mbok? Aku dipanggil?” tanya Dijah ingin memastikan pendengarannya.


“Iya, kamu dipanggil. Sana! Dia pasti mau nanya perabotan lagi. Beberapa hari ini, itu terus yang diomongi. Dijah suka nggak, kalau begini gimana, kalau begitu gimana. Aku bilang belinya tunggu kamu aja. Tapi katanya nanti kalau kamu langsung ke sini mau tidur di mana kalau nggak ada ranjangnya. Grasak-grusuk pacarmu itu,” tukas Mbok Jum menepuk bahu Dijah agar segera mendatangi Bara.


Dijah berjalan menuju arah datangnya suara Bara. Pintu kamar utama itu terbuka sedikit, Dijah mendorongnya sedikit kemudian melangkah masuk.


“Manggil aku?” tanya Dijah.


“Iya ... sini,” ucap Bara meraih bahu Dijah dan menghadapkan wanita itu ke sebuah ranjang besar yang belum ditutup oleh seprai.

__ADS_1


“Bagus gak?” tanya Bara. “Itu meja riasnya, warnanya sengaja aku buat putih semua. Biar keliatan seger dan terang. Kamu suka?” tanya Bara lagi.


Dijah sedang memandang kamar tidur utama yang dipenuhi perabot tempahan yang melekat di dinding. Sewaktu membeli lemari bekasnya saja dia senang luar biasa. Pakaiannya tak bersusun di lantai lagi. Dan ketika dihadapkan dengan sesuatu yang sangat indah itu, haruskah dia menjawab pertanyaan Bara?


“Suka nggak?” ulang Bara. Pria itu sepertinya benar-benar membutuhkan jawaban. Dijah memutar tubuhnya kemudian mendongak menatap Bara. Pria yang sudah sangat bekerja keras untuk mengubah badai menjadi pelangi dalam hidupnya.


“Aku suka Mas, aku suka semuanya. Semua yang kamu kasi itu sudah melebihi harapan tertinggiku selama hidup. Aku sampe nggak tau lagi harus ngomong apa.” Dijah menatap bola mata coklat Bara lekat-lekat.


“Kamu cuma perlu janji, jangan pernah tinggalin aku lagi. Aku udah sejauh ini. Bantu aku untuk buktiin ke keluargaku, bahwa pilihanku nggak salah.” Bara menangkupkan kedua tangannya di wajah Dijah. Ia menunduk untuk menjatuhkan ciumannya ke bibir wanita itu.


Dijah berjinjit agar bisa menerima kecupan Bara sepenuhnya. Menikmati sesapan bibir Bara yang terasa begitu lembut dan hangat.


Bara mundur selangkah dan menyandarkan tubuhnya pada lemari sliding berwarna putih. Kedua tangannya telah melepas wajah Dijah dan menarik tubuh wanitanya ke dalam pelukan. Ia mengalungkan kedua tangannya ke sekeliling tubuh Dijah. Melekatkan tubuh mereka hingga Bara bisa merasakan darahnya memompa gaduh.


Dalam hembusan kasar nafas mereka, Bara merasakan Dijah sudah mencengkeram erat bagian depan kemejanya. Bara tahu, mereka memang sama-sama rindu.


Dijah akan tinggal di sana sementara ini. Ia masih perlu melewati izin satu kali lagi untuk bisa bergabung dengan Dijah di kamar itu. Bara tak sabar. Ia benar-benar tak sabar. Meski sedikit gentar bagaimana mengatakan pada Bu Yanti bahwa ia akan meninggalkan rumah setelah menikahi Dijah.


Renovasi rumah itu terbilang ‘ilegal’ karena ibunya belum tahu.


To Be Continued.....


Komentar-komentar pembaca BarJah memang luar biasa. Semuanya berbobot dan selalu aku simak tiap waktu. Sebagai masukan juga bagian-bagian mana yang ternyata menyentuh hati.


Makasi ya....


Dan by the way...


Udah baca cerpen tentang secarik kehidupan Bara di masa lalu dan soal Bu Yanti belom?


Kalo belom, bisa klik profil juskelapa ya...


__ADS_1


__ADS_2