
“Tidur yang nyenyak ya Nak... ayah kangen ibu. Udah tiga minggu ayah gak dimanfaatin,” ucap Bara menepuk-nepuk lembut kaki Mima yang sedikit meregangkan badan ketika diletakkan ke dalam box-nya.
“Sampai berapa lama Mima kayak gitu ya...” gumam Dijah kembali bergulung di ranjang. Bara sudah masuk kerja, dan ia benar-benar menjaga bayinya sendirian.
Hal yang paling dilegakan Dijah adalah Bara yang selalu berusaha pulang tidak terlalu larut malam .Entah bagaimana cara Bara mengatasi kantuknya, yang jelas setiap malam laki-laki itu bisa bergantian menjaga Mima saat Dijah tertidur lelap.
“Kata ibu, nanti kalo udah lebih dari tiga bulan Mima bisa normal jam tidurnya.” Bara kembali naik ke atas ranjang.
“Aku baring-baring sebentar lagi ya Mas... mau mandi. Mau ke dapur liat masakan, tapi kok masih enak tiduran,” ucap Dijah membenamkan wajahnya di bantal.
“Nanti aja, masih pagi kok. Kamu di sini dulu,” pinta Bara sambil memeluk Dijah dan menciumi leher istrinya. “Tiga minggu lho Jah.... Ini rasanya kayak duduk di sebelah kamu dulu tapi gak bisa ngapa-ngapain.”
“Memangnya ayah Mima mau diapain?” tanya Dijah melingkarkan tangannya di leher Bara. “Kita sama-sama belum mandi ini,” ucap Dijah.
“Sama enaknya kok,” sahut Bara kembali membuka kancing daster Dijah. “Aku di sini dulu ya Jah... kangen” ucap Bara setengah meratap.
Melihat Dijah memejamkan matanya, Bara setengah bangkit menumpukan tubuhnya dengan sebelah tangan dan menunduk di atas dada istrinya. Tak perlu waktu lama bagi Bara untuk merasakan bagian tubuhnya di bawah sana sudah memberontak.
Memahami keinginan suaminya pagi itu, tangan Dijah bergerak perlahan meraba dada, perut dan menyelinap berdiam di bawah sana. Telapak tangannya langsung dialiri kehangatan. Bara langsung menggeliat gelisah dengan ciuman semakin keras yang menghujani puncak dadanya.
Namun, kegiatan itu harus berakhir saat terdengar suara yang sangat familiar dalam mengganggu kegiatan mesra mereka.
Suara Tini menggelegar dari arah pagar. Dijah melonjak terkejut dan setengah bangkit menoleh ke arah jendela yang masih tertutup rapat dengan gorden.
Setelah mengomeli Tini sebentar, Bara malah mengatakan akan melanjutkan kegiatannya. Dijah kembali terhanyut beberapa saat akan ciuman Bara yang semakin keras. Bisa ia rasakan kalau ayah bayinya ikut menjadi penikmat makanan utama putri mereka.
Tersadar akan kekonyolan yang sedang mereka lakukan, Dijah menepuk lengan suaminya. “Mas, nggak sopan. Ada yang nungguin kita di luar. Aku keluar dulu,” ujar Dijah memegang dadanya seperti sedang melepaskan mulut Mima dalam versi dewasa dan laki-laki.
“Malem ya...” sungut Bara.
“Iya—iya... malem,” janji Dijah pada suaminya yang menekuk wajah dan mencibir memandang jendela.
“Kamu mandi aja, Mas yang bukain pintu. Ada tamu jangan pake daster.” Bara bangkit. “Mas mau cari karung sekalian,” tambah Bara.
Dijah yang sedang membuka dasternya di depan pintu kamar mandi, menoleh memandang suaminya. “Karung untuk apa?”
“Cari karung, buat buang Tini.” Bara kemudian keluar kamar menuju ruang tamu.
“Karung buat buang Tini.... Udah kayak mau buang kucing garong aja,” gumam Dijah kemudian masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
“Selamat pagi Mas Bara.... Pasti kesel lagi sama aku. Kali ini aku bawa tamu ya... keselnya bisa dibagi-bagi sama bapak ini.” Tini ikut membantu Bara melebarkan pagar.
“Pak, perkenalkan—saya...”
“Masuk dulu Pak, ayo—ayo...” ajak Bara memotong perkataan bapak setengah baya yang ingin langsung berbicara di teras rumah.
“Masuk Boy,” ajak Bara pada Boy. “Kamu tolong tutup pagar ya...” pinta Bara pada Tini.
“Dasar kurang ajar,” umpat Tini tapi menuruti perkataan Bara untuk menutup pintu pagar.
“Katanya ada keperluan nyari istri saya Pak?” tanya Bara yang belum mandi pagi itu, tapi tampilannya masih layak untuk menemui tamu.
“Saya mau nanya soal—”
“Iswar!! Iswar! Ya Gusti...” pekik Mbok Jum yang datang dengan nampan di tangannya. Dia mendengar Bara yang menyambut tamu di pagar dan langsung membuatkan teh hangat untuk tamu.
“Mbook!!” sahut pria setengah baya yang dipanggil Iswar oleh Mbok Jum.
“Hah? Gimana--?” Bara terdiam karena menyadari hal yang baru saja terjadi di depannya.
Tini yang memahami situasi saat itu langsung menyongsong Mbok Jum untuk mengambil nampan berisi teh dari tangannya.
Iswar yang namanya dipanggil Mbok Jum menyongsong wanita yang ternyata adalah ibunya. Mbok Jum ambruk duduk bersimpuh dengan Iswar yang menangis di pangkuannya.
“Ke mana kamu? Adikmu mana? Bapakmu udah nggak ada lagi... Mbok sendirian, mbok sendirian....” Mbok Jum memukul pelan punggung anaknya berkali-kali.
Bara dan Boy yang berdiri kemudian mundur dan duduk di kursi ruang tamu. Tini mengatur letak nampan di depan Boy dan Bara.
“Diminum Mas...” pinta Tini pada Bara.
Bara mengangguk. “Iya, makasi...” jawab Bara belum mengalihkan pandangannya pada Mbok Jum dan Iswar.
Tini mengangsurkan segelas teh manis ke depan Boy. “Diminum Mas,” ucap Tini pada Boy.
“Iya makasi,” ujar Boy refleks mengambil teh dan mulai meminumnya.
“Kamu dari mana aja? Kok kusut kayak gini?” tanya Mbok Jum pada Iswar.
“Aku kerja bangunan di Malaysia. Kena deportasi sekeluarga. Istriku orang Kalimantan. Sekarang ada di sana sama dua anak-anakku. Aku nyari Mbok. Tapi katanya udah digusur. Ada yang nyuruh aku nyari namanya Dijah ke kos-kosan. Maafin aku...” Iswar kembali menangis.
__ADS_1
“Adikmu mana?” tanya Mbok Jum yang memiliki dua orang anak laki-laki.
“Dia masih di Malaysia. Aku mau ngajak Mbok ke Kalimantan. Tinggal samaku aja di sana, di kampung istriku.” Iswar menyeka air matanya dengan ujung lengan kemeja.
Mbok Jum kembali menangis sesegukan. “Kalian nggak ada pas aku susah. Aku makan nggak makan cuma Dijah yang peduli. Dijah ngasi aku makan bertahun-tahun. Ngasi uang untuk aku beli gula, beli madu untuk bapakmu. Dijah yang bantu aku. Aku nggak bisa lagi ninggalin dia. Rasa-rasaku Dijah udah lebih-lebih dari anak kandung. Kalian pergi nggak ada yang izin ke aku. Nggak ada yang nanya,” raung Mbok Jum.
“Maafin Is Mbok...” kata Iswar kembali memeluk ibunya.
“Aku nggak bisa Is... Mbok nggak bisa. Selama Dijah masih mau nerima aku, selama tenagaku masih kuat, aku lebih milih deket Dijah aja."
“Jadi aku ninggalin Mbok lagi?” tanya Iswar. “Mbok nggak mau liat anak-anakku?”
“Dijah tinggal di sini, kalau ada rejeki cari aku ke sini aja. Sekarang dia lagi perlu aku. Dijah lagi ada bayinya. Aku juga biasa nganterin Dul ke sekolah tiap pagi. Berat aku kalau mau ikut kamu,” isak Mbok Jum. Sekilas matanya menoleh pada Bara seolah meminta persetujuan akan ucapannya.
“Selama Mbok mau di sini, kita semua nggak keberatan. Buat aku, Mbok juga keluarga.” Bara tersenyum kemudian mengambil segelas teh dan ikut minum bersama Boy.
Mendengar perkataan Bara, Mbok Jum kembali menangis sambil terbatuk-batuk. Tini yang menyadari hal itu, kembali mendekati Mbok Jum dan memberikan segelas teh manis hangat. Ia setengah berjongkok mengusap punggung Mbok Jum yang masih terisak.
Dijah yang sudah mandi dan berpakaian rapi, masuk ke ruang tamu dengan pandangan terheran-heran. Mima sedang berada di dalam gendongannya.
Masih dengan tatapan penasaran, Dijah menatap Tini dari belakang pundak Mbok Jum yang duduk bersimpuh di lantai.
“Ada apa?” bisik Dijah.
Tini berdiri untuk memberikan penjelasan dalam bisikan.
“Hari ini aku jadi host acara tali kasih,” bisik Tini. “Itu yang sedang minum teh, penontonnya.” Tini menunjuk Bara dan Boy yang masing-masing sedang memegang segelas teh di tangan mereka. Tini terkikik.
“Anaknya Mbok Jum?” bisik Dijah lagi.
Tini mengangguk, “Namanya adalah perang.”
“Ha?” tanya Dijah bingung.
“Namanya adalah perang,” ulang Tini lagi.
Dijah mengernyit tak mengerti.
“Is war... Is war... namanya iswar.” Tini terkikik-kikik sendirian.
__ADS_1
(Is \= adalah, war \= perang)
To Be Continued.....