
Seminggu itu, Bara benar-benar sibuk. Ia lebih sibuk ketimbang Dijah yang dimintanya bersantai dan tak usah berpikir berat-berat.
Dijah meminta Bara agar menelepon Kang Supri sehari sebelum acara mereka. Tapi karena khawatir keluarga Dijah lupa akan hal itu, Bara menelepon Kang Supri tiga kali dalam seminggu.
Dan ia baru saja pulang dari rumah yang ditempati Dijah saat bertemu ibunya di bawah gawang ruang tamu.
“Kok belum tidur?” tanya Bara Heran pada ibunya yang belum tidur menjelang tengah malam itu.
“Dari mana?” tanya ibunya.
“Dari tempat Dijah, ada yang diomongin tadi. Kan acaranya entar lagi.”
“Mas nggak boleh ketemu Dijah sampe acara nanti. Masak mau nikah tiap malem pulangnya lama.” Bu Yanti mengunci pintu setelah Bara masuk ke rumah.
“Ada satu dua hal yang harus diomongi langsung Bu,” jawab Bara menyeret langkahnya ke ruang makan.
“Memangnya apalagi yang belum selesai, acaranya seminggu lagi. Mas yang sabar. Jaga kesehatan. Lagian 'kan sudah ada yang ngurus. Kalau memang penting banget, biar ibu yang dateng ke tempat Dijah. Jangan Mas yang ke sana,” tukas Bu Yanti.
“Memangnya ibu mau?”
“Kok gitu nanyanya? Masih berpikiran ibu anti sama Dijah?” tanya Bu Yanti.
Dan menuju hari H itu pun Bara hanya berangkat ke kantor dan pulang ke rumah tepat waktu. Meski menuruti perkataan ibunya, ia terlihat gelisah dan uring-uringan.
Moodnya menjadi sering berubah-ubah. Dan laki-laki yang memangku Dijah dua minggu yang lalu dengan mata teduh dan ucapan menenangkan kembali menjadi Bara versi rumahan.
“Bu, gimana? Udah gagah belum?” tanya Bara dengan set beskapnya.
“Mas udah nyobain beskap itu lebih dari tiga kali. Jawaban ibu masih sama, Mas gagah, ganteng.” Bu Yanti yang sedang duduk di depan televisi kembali meyakinkan putranya.
“Rambutnya bagus gimana? Begini atau—” Bara merapikan susunan rambutnya ke arah kiri. “Begini?” tanya Bara setelah kembali merapikan rambutnya ke semula.
“Kan pakai penutup kepala Mas ... Rambutnya nggak keliatan ke mana arah sisirannya.” Bu Yanti seperti kembali menghadapi Bara versi bocah yang tak sabar ingin mencoba pakaian baru.
“Iya juga sih, tapi bagusnya nyisir ke arah sini 'kan Bu?” tanya Bara lagi.
“Iya, bagus kok. Kamu udah makan? Kayaknya tadi pagi nggak ikut sarapan. Malem ini juga nggak.”
“Entar aku makan, gampang.”
“Jangan gampang-gampang aja. Nanti masuk angin,” tegur Bu Yanti.
“Makan Maaasssss ... Jangan karena mau kawin jadi kenyang terus.” Sukma menggendong anaknya dan duduk di sebelah Bu Yanti.
“Ganteng, 'kan?” tanya Bara lagi berkacak pinggang.
“Ganteeeeeng ...” sahut Bu Yanti dan Sukma bersamaan. Mereka sudah dijejali pemandangan itu sepanjang minggu oleh Bara.
Semakin mendekati hari H dan tak bisa bertemu dengan Dijah, Bara semakin uring-uringan. Bayu yang sedang mendesak Bara untuk kembali berbicara soal Tini, ikut kena getahnya.
“Tini lagi—tini lagi, datengin kek ke kos-kosannya. Dia belum dapet kerja. Pasti masih di rumah aja. Gua mau sendiri sekarang, jangan ganggu. Sana!” usir Bara pada Bayu yang pergi sambil bersungut-sungut.
Dan malam itu, sehari sebelum acara pernikahannya diselenggarakan, Bara berbaring gelisah di kamarnya. Ia penasaran dengan hal yang dilakukan Dijah saat itu. Sedang apa kekasihnya itu. Kenapa Dijah bisa terlihat santai, kenapa malah ia yang lebih gelisah.
Bara mengambil ponselnya dan menelepon Dijah dengan mode panggilan video. Lama menunggu, tak ada jawaban dari seberang. Bara kembali mengulanginya. Tetap tak ada jawaban.
Tak sabar menunggu, Bara pergi ke ruang keluarga menuju mangkok tempat menyimpan berbagai kunci kendaraan. Ternyata Ayah dan Ibunya sedang duduk di sana.
“Kok belum tidur? Mau ke mana lagi?” tanya ibunya.
“Gak ada, gak ke mana-mana.” Bara yang mau berbelok kembali meluruskan langkahnya menuju ruang makan.
“Udah makan Mas? Kayaknya kamu nggak ikut makan malam tadi.” Bu Yanti mengamati anaknya yang gelisah.
“Entar aja, masih kenyang. Kalo laper pasti makan.” Bara duduk di kursi makan kembali mengeluarkan ponselnya.
“Entar masuk angin ...” Bu Yanti kembali mengingatkan.
__ADS_1
“Iya Ibu sayang ... Nanti aku makan.” Bara mengedipkan matanya kemudian meninggalkan kedua orangtuanya yang saling berpandangan.
“Kayak awal sekolah dulu ya Bu... Gak bisa tidur. Nyobain seragam bolak-balik. Akhirnya ketiduran pakai seragam SD sampai pagi.” Pak Wirya tertawa mengingat kelakuan Bara kecil.
“Asal sekarang jangan kayak gitu. Setelannya sudah rapi diseterika masak dibawa tidur.”
“Enggak dibawa tidur, takutnya entar lagi Bara langsung mandi terus siap-siap.” Pak Wirya kembali tertawa dan Bu Yanti tersenyum memandang puteranya yang pergi menuju ruang tamu.
“Lagi di mana?” bisik Bara di telepon. “Nongkrong di mana? Sama komunitas Vespa? Jadi gak bawa mobil? Jemput aku dong, pengen ketemu Dijah. Tapi jangan tau siapa-siapa. Entar ibu ngomel-ngomel. Bisa? Sekarang ya ... Aku tunggu di teras.” Bara mengakhiri pembicaraannya sambil tersenyum puas.
Bara baru saja meminta Heru untuk menjemputnya ke rumah. Kalau ia keluar bersama kakak sepupunya, seribu satu alasan bisa dibuat. Ibunya juga pasti percaya bahwa Heru tak akan mau kalau diajak berbuat yang aneh-aneh.
Meski tadi sedikit mengomel-ngomel, Heru tetap menyanggupi akan menjemput Bara. Padahal dia sedang asyik berkumpul dan nongkrong bersama teman-teman komunitas Vespanya.
Bara duduk di kursi teras dengan kaki yang sejak tadi terus bergoyang tak sabar menantikan Heru datang. Maka ketika sebuah motor datang mendekati pagar dan mengklakson dua kali, Bara segera melompat dari duduknya.
“Helm?” Bara mengulurkan tangannya meminta helm.
“Ini serius mau ke tempat Dijah?” tanya Heru.
“Iya, yuk buruan. Entar nungguin aku agak jauhan aja,” ucap Bara menaiki boncengan doang.
“Maaaasssss ....” panggil Sukma dari dalam rumah. “Mas Baraaa ....”
“Aku dijemput Mas Heru nih, diajak ngopi di simpang jalan. Entar yaaa ... Bilang ke ibu aku nggak lama.” Bara berteriak dari luar pagar menjawab jeritan Sukma yang menggelegar.
“Ibuuuu ... Mas Bara pergiiii” teriak Sukma lagi.
“Ihhh ... Dasar tuh anak. Dari dulu susah diajak kerja sama.”
Heru mendecih mendengar jawaban Bara. “Cuma aku aja yang mau diajak kerja sama kayaknya ....”
“Jangan lamaaaa!!” teriak Sukma lagi.
“Yah kan memang harusnya kalau ketemu itu ya ketemu doang. Emangnya kamu ngapain aja selama ini?” Heru melajukan motornya.
“Udah ah, gitu aja dibahas ....” Bara duduk di boncengan Vespa Heru dengan memegang kedua bahu kakak sepupunya itu.
Bara tiba di depan rumah yang akan dijadikan lokasi acara pernikahannya besok. Bara terkesima. Dia sama sekali tak ada datang ke tempat itu. Ibunya melarang dan ia mengikuti kemauan ibunya.
Kalau memang itu hanya pernikahan sederhana seperti yang dimintanya pada sang ibu, tenda-tenda putih tinggi menjulang pasti tak sampai menutupi jalan.
Tak mau kepalang gede rasa, Bara turun di pintu masuk tenda dan bertanya pada seorang pria yang sedang merentangkan kabel panjang dari dalam rumah.
“Acaranya siapa ya Pak?” tanya Bara.
“Anak Pak Wirya,” sahut pria itu. Bara mengatupkan mulutnya menahan senyum. Heru tak melepaskan helmnya dan tetap duduk di atas Vespa seperti seorang ojek.
“Yang punya rumah ada Pak?” tanya Bara lagi menoleh rumah yang sepi.
“Tadi ada, mungkin sekarang udah tidur. Udah hampir tengah malem Mas ... Kan besok mau manten, masak begadang.” Bapak yang sedang membereskan peralatannya pun tersenyum-senyum.
Sudah tiba di sana, dan Bara tak mau pulang dengan tangan kosong. Ia berjalan mendekati pagar yang jaraknya paling dekat dengan jendela kamar tidur utama. Dengan ponsel yang berada di tangannya terus-menerus menelepon Dijah, memanggil nama kekasihnya dalam bisikan keras.
“Dijah ke mana sih,” gumam Bara memandang ponselnya. Seluruh kunci rumah sudah ia serahkan pada Dijah, sekarang ia agak menyesal. Harusnya nanti saja saat mereka sudah serumah. Ia mulai menunduk mencari-cari batu kecil untuk melempar kaca jendela kamar.
TAKK!!
Suara batu mengenai jendela dan Heru sedikit terlonjak. “Heh!! Nanti pecah!” tegur Heru.
“Sekali lagi ...” ucap Bara kemudian mengarahkan satu lemparan ke jendela.
TAKK!!
Dan kemudian lampu terlihat menyala. Bara segera kembali menelepon Dijah. Sahutan Dijah yang terdengar mengantuk seketika menghangatkan hatinya.
__ADS_1
“Jah! Aku di depan pagar, keluar sebentar. Aku kangen.” Bara kemudian menutup telepon dan berlari ke pagar. Semoga Mbok Jum sudah tidur nyenyak dan tak melihat hal yang sedang dilakukannya di depan rumahnya sendiri.
Dijah muncul dengan sebuah daster dan wajah mengantuk. Setelah membuka pintu pagar, Bara langsung mendorong pagar sedikit dan masuk ke dalam.
“Jangan lamaaaa ...” teriak Heru dari atas motor.
“Iyaaa... Ya ampun. Belom juga ngapa-ngapain.” Bara memandang sinis pada Heru yang tertawa-tawa di atas motornya. Para pekerja yang membereskan tenda dan kursi-kursi telah pulang. Bara menoleh berkali-kali pada hamparan jalan yang kini tertutup kain putih dan berubah menjadi tempat pesta.
“Jah, aku telfon-telfon dari tadi kok nggak dijawab?” tanya Bara.
“Iya, aku lupa itu modenya getar. Aku sibuk dari tadi, kecapekan trus ketiduran ...” sahut Dijah.
“Jah, kayaknya kemarin nggak pake-pake kayak gini. Kok sekarang?—” Perkataan Bara terhenti dan kembali menoleh ke jalan.
“Ibu, yang bikin ibu. Katanya temen ibu banyak. Ibu undang temen-temennya.”
“Ibu? Ibu siapa? Ibuku?” tanya Bara.
“Iya Mas, Ibunya Mas. Nggak mungkin Ibuku. Ibuku nggak punya temen selain tetangga belakang rumah.” Dijah yang beberapa hari ini menghadapi Bara yang uring-uringan mengatur nada suaranya selembut mungkin.
“Oh iya juga—” Bara mengangguk-angguk kemudian menggigit bibirnya menatap Dijah.
“Jah ....”
“Hmmm ....”
“Besok malem, aku udah tidur di sini.”
“Iya ....”
“Seneng nggak?”
“Ya seneng, ada yang nemenin.”
Mendengar jawaban Dijah, Bara kembali menggigit bibirnya. Ia kemudian meraih pinggang Dijah dan menariknya ke dalam pelukan.
“Terakhir Jah ... Gladi bersih,” bisik Bara memajukan langkahnya untuk menempelkan tubuh Dijah di dinding dekat kunci pagar. Posisi itu aman dari pandangan Heru yang berada di arah sebaliknya.
Dalam sekejab saja Bara telah mencium Dijah yang sedang mengantuk berat. Tangannya dengan cepat bergerilya di atas daster tipis Dijah untuk meremas dan menekan bokong kekasihnya. Tengah asyik memejamkan mata dan menempelkan dada Dijah yang ternyata tak memakai bra ke tubuhnya, Heru mengklakson.
Bara segera membuka mata.
“Ojeknya nungguin, aku pulang dulu ya ... Sampe ketemu besok.” Bara melepaskan tubuh Dijah dan pergi melangkah keluar pagar.
“Cepat kunci pagarnya,” ucap Bara memastikan Dijah tak sampai melangkah keluar pagar. Pemandangan seksi Dijah hanya dengan daster tak ada yang boleh melihatnya.
*****
Bara berdiri di depan cermin panjang yang tergantung di lorong lantai dua dekat pintu kamarnya. Cermin itu sudah berumur cukup tua. Bingkainya berwarna cokelat.
Kata Pak Wirya, itu adalah cermin dari rumah Eyang. Sewaktu Eyang meninggal, ayah Bara hanya meminta cermin itu sebagai benda peninggalan dari ayahnya.
Bara menarik nafas panjang dan menghelanya. Seluruh keluarganya sudah menunggu di bawah. Sebelum berangkat ia akan kembali meminta restu pada kedua orangtuanya.
“Udah gagah. Ganteng,” ucap Bara seorang diri. “Dijah ... Calon suamimu sebentar lagi nyampe.”
Bara kemudian melangkahkan kakinya menuju lorong dan menuruni tangga.
To Be Continued.....
Video kondangan virtualnya ditunggu di Instagram @juskelapa_ ya... sedang on process.
Jangan lupa likenya ya sayang2nya enjus...
__ADS_1