
“Jangan lasak-lasak (pecicilan) kau di dalam nanti. Jangan lompat-lompat, jangan manjat-manjat, jangan jerit-jerit. Kita mau nengok anak bayi. Pokoknya kalo mamak tengok kau lasak, kuputar pahamu itu!” Mak Robin mewanti-wanti anaknya ketika mereka semua telah tiba di dalam lift rumah sakit menuju kamar rawat Dijah.
“Ngomongnya Robin dapetnya susah. Masa depanku dan bapak si Robin, harapan kami, tempat kami mencurahkan perhatian dan cita-cita... salah dikit aja pahanya mau diputer. Aku dengernya aja ngilu,” ucap Tini menirukan ucapan-ucapan Mak Robin dikala sedang sentimentil melankolis memuji anaknya.
“Sayang ya sayang lah, namanya juga anak. Siapa pula yang gak sayang. Tapi kalo kurang ajar, harus diletop (dijitak) juga biar gak sampe besar kurang ajarnya.” Mak Robin mengusap-usap kepala anaknya yang pahanya belum diputar.
“Mulutmu juga dijaga Tin... Kalo udah ketemu Dijah suka kebablasan.” Boy ikut mengingatkan.
“Mentang-mentang patungan beli kado duitmu paling banyak, ceramahmu juga paling panjang ya Boy....” Tini melengos dari Boy.
“Untungnya orang tua mas Bara lagi nggak ada,” ucap Asti.
“Makanya bagus kita dateng sekarang. Udah aman. Aku cuma tinggal menghadapi mas-nya Dijah yang sentimen itu.” Tini terbahak-bahak di dalam lift.
Lima menit kemudian mereka telah tiba di depan pintu kamar VIP ruang rawat. Setelah mengetuk beberapa kali, terdengar suara Dijah menyuruh masuk.
“Luasnyaaaa... kalau ruang rawat segini luas dan mewahnya, sakit tiap hari juga nggak apa-apa. Ya kan Boy?” Tini menyikut Boy yang berada di sebelahnya.
“Enggak Tin! Kamu aja, aku nggak apa-apa di kamar kos-kosan 3x4 itu yang penting sehat.” Boy berjalan meletakkan kado mereka yang berukuran jumbo namun tidak begitu berat ke atas meja yang terletak di sisi kanan ruangan. Tini melengos mendengar sahutan Boy.
“Kok repot-repot bawa kado segala,” ucap Dijah.
“Jangan khawatir dan ngerasa nggak enak. Itu ukurannya aja yang gede. Kemarin beli baju bayi uangnya ada sisa, jadi kita belikan ember.” Tini menghampiri ranjang Dijah yang berada di sisi kiri ruangan. Ranjang bayi Mima yang tertutup kelambu putih dan Tini membuka kelambu itu perlahan.
“Cantiknya Mbak... Aku jadi pengen cepet-cepet nikah kalo liat anak bayi.” Asti berdecak-decak memandangi bibir mungil Mima yang sedang mengerucut.
“Kayaknya kamu nggak liat anak bayi juga tiap saat pengen cepet nikah. Kamu masih muda, kerja dulu. Mending bapakmu aja dicariin jodohnya. Kasian kalau duda lama-lama,” ujar Tini.
“Itu bapak Asti, kenapa kamu yang kasian. Gelisah aja bawaannya tiap liat duda,” omel Boy dari arah sofa.
“Aku cuma prihatin--perih yo dibatin liat sumber daya manusia yang terbengkalai.” Tini terkikik-kikik memandang Asti yang menngernyitkan hidungnya dengan ekspresi jijik.
“Mulutmu itu—mulutmu itu Tini...” tegur Mak Robin.
“Jadi kapan pindah Mak?” tanya Dijah memandang Mak Robin. Mendengar pertanyaan Dijah, Tini terkikik-kikik tertahan.
“Napa Tin?” tanya Dijah heran.
“Bapak si Robin, disambung lagi kontraknya jadi mandor di daerah. Katanya KPR ditunda. Bapak Robin khawatir kalau anak-istrinya tinggal di perumahan terpencil sendirian nggak ada tetangga. Kayaknya mahkota legenda kandang ayam, belum waktunya jatuh ke tanganku.” Tini kembali terkikik.
“Puas kau bodat (monyet)?” sergah Mak Robin menarik rambut Tini yang tertawa puas karena tak jadi menua di kandang ayam sendirian.
"Lagian nyari perumahan jauh di hutan-hutan. Jin udah pada kemas-kemas mau ke kota, kalian baru nyampe sana. Mengganggu habitat asli penghuni hutan aja," ucap Tini.
"Namanya kepingin punya rumah!" sergah Mak Robin kembali menarik rambut Tini.
"Anggapan yang harus dipatahkan itu. Yang penting itu tempat tinggal yang layak. Gak mesti punya sendiri. Cuma di negara kita yang tujuan punya rumah itu supaya ada yang diwariskan ke anak," tukas Tini.
"Kau cakap kayak gitu karena bapakmu gak ada warisannya!" balas Mak Robin.
"Sana pergi ke desa Cokro! Tanya berapa luas tanahnya!" pinta Tini dengan sombongnya.
"Luas tanah bapak Mbak Tini?" tanya Asti terpana. Dijah meringis melihat ekspresi Asti.
"Gak usah As, liat di internet aja berapa luas tanah desa Cokro." Dijah tertawa tertahan. Tini yang menyadari bahwa Dijah mengerti maksudnya ikut tertawa.
__ADS_1
“Tenang Mak, masih ada kami.” Asti yang duduk di kaki ranjang ikut terkekeh memandang Mak Robin yang cemberut.
"Iya, kamu sabar aja Mak. Nanti kita tinggalkan kandang ayam sama-sama. Sebagai simbolis, kita bakar kandang ayam sebelum pergi dari sana." Tini menepuk pundak Mak Robin.
"Ah! Gila kau!" umpan Mak Robin pada Tini yang terbahak-bahak. Mima yang sedang berada di dalam ranjangnya kemudian meregangkan tubuhnya. Satu tangan mungilnya mencuat dari dalam kain bedongan.
“Ya ampun Jah... memang cantik banget. Ini hasil mas-mu yang grasah-grusuh it—eh mas-mu mana?” Tini meringis menyadari kalau ucapannya bisa didengar Bara.
“Lagi turun ke bawah sama Dul, ketemu temennya” jawab Dijah.
“Boleh aku angkat?” tanya Tini meminta persetujuan Dijah untuk mengangkat Mima yang sedang tertidur.
Dijah mengangguk. “Bawa ke sini,” pintanya pada Tini.
“Robin! Duduk dulu di sofa itu. Nonton tipi. Boy, carikan la pilem-pilem kartun si Tikus Minnie. Biar gak lasak kali dia,” pinta Mak Robin pada Boy yang duduk di sofa memegang remote televisi.
“Itu nama perempuan yang merebut pacarku di desa dulu,” ucap Tini pada Mak Robin sambil menggendong Mima dalam dekapannya.
“Siapa Mbak?” tanya Asti ikut terheran karena Tini tiba-tiba mengatakan hal itu.
“Itu, nama perempuan yang baru disebut Mak Robin. Siti Kusmini. Aku bilang itu nama perempuan yang ngerebut pacarku. Sekarang udah nikah mereka.” Tini berjalan membawa Mima ke dekat Dijah.
“Ini pilem kartun Tin! Si Tikus Minnie. Bukan Siti Kusmini,” jawab Mak Robin.
“Ya ‘kan sama aja,” sahut Tini kalem.
“Gak usah dijelaskan, otaknya gak nyampe” balas Boy yang masih duduk di sofa.
“Ha?” tanya Dijah heran mengulurkan tangannya untuk menyambut Mima.
“Iya, kata mbah-ku di kampung kalau terlahir cantik itu setengah masalah hidupmu sudah beres.” Tini berjinjit untuk duduk di tepi ranjang Dijah.
“Kalo nggak cantik Mbak?” tanya Asti. “Mbah Mbak Tini bilang apa?”
“Kalau nggak cantik, kamu harus pinter” jawab Tini lagi.
“Jadi kalo nggak cantik terus bodoh? Cemana pulak?” tanya Mak Robin.
“Ya macem Tini ini,” jawab Dijah asal kemudian tertawa.
“Kawan kurang ajar,” sahut Tini memukul pelan lengan Dijah yang masih terkekeh-kekeh.
“ASI dia?” tanya Mak Robin sambil memandang Mima.
“ASI meski kadang masih pakai botol. ASI-ku dipompa karena masih sedikit. Mungkin karena pikiranku terbagi dengan rasa perih di perut ini. Luka jahitannya masih perih, jadi aku belum terlalu nyaman dengan posisi menyusui.” Dijah sedikit meringis saat membenarkan letak duduknya.
“Malam begadang?” tanya Mak Robin lagi.
Pertanyaan-pertanyaan umum tapi selalu menyenangkan tiap kali dibahas bersama ibu baru atau pun ibu yang melahirkan anak sudah kesekian kali. Meski nadanya terdengar seperti keluhan, namun isinya sarat akan rasa bangga dan penuh syukur.
__ADS_1
“Tiap habis menyusui malem-malem, Mima tidur. Aku tidur juga. Ada botol ASI yang udah dipompa, mungkin kalau malem Bara yang jaga. Karena aku tidur nyenyak sampe pagi. Tiap kebangun, liat botol ASI-nya udah habis setengah dan Mima tidur nyenyak. Mas-ku emang keren Tin...” ujar Dijah mencolek lengan Tini sambil nyengir.
“Semangat bikinnya harus berbanding lurus dengan semangat jaganya. Mima cantik.... Kalau mau bikin bayi secantik ini, bapaknya harus kayak—” Perkataan Tini terhenti karena seruan orang-orang yang terdengar baru memasuki ruangan.
“Nah lhooo... Ketemu temen-temennya Dijah di sini,” ucap Heru baru tiba di ruang rawat. Sore itu ia memakai pakaian lebih santai, jeans dan kemeja biru dongker dipadukan dengan sepasang sepatu loafer coklat.
“Harus kayak gini Jah...” lanjut Tini menatap kedatangan Heru yang menyandang ranselnya dengan sebelah bahu.
Lalu masuk Maradona dan seorang pria kepala divisi berita ekonomi.
“Kayak gini juga... kayak gini.... Ya ampun, banyak Jah. Aku berasa lagi di surga,” ucap Tini yang menoleh ke belakang dan mengamati pria-pria muda yang membawa bingkisan-bingkisan dan meletakkannya ke atas meja.
“Awas denger mas-ku Tin....” Belum sempat lagi Dijah menyadarkan Tini yang terpukau menatap Heru, Bara telah datang menghampiri mereka.
“Apa—apa? Pasti Tini ada ngomong sesuatu. Cukup aku aja yang denger—” Bara memperagakan cara meresleting mulut kepada Tini. Dijah terkekeh sambil meringis memegang perutnya.
“Katanya maleman baru dateng,” sapa Asti pada Bayu.
“Iya, tadi kerjaan udah pada kelar. Awalnya Mas Heru ngajak mampir ketemu Mas Bara aja di bawah, tapi semuanya pada minta ikut mau liat bayi.” Bayu menghampiri sisi ranjang tempat di mana Asti berdiri.
“Mbak Dijah... Kita dateng mau liat dedenya ya...” sapa Maradona yang baru masuk ke ruangan.
Tini masih duduk di tepi ranjang Dijah membelakangi ruangan. “Jah,” bisik Tini mencolek lengan Dijah yang sedang memangku Mima.
“Hmm?” Dijah mendongak menatap Tini.
“Ada—”
“Enggak ada,” potong Dijah cepat. Ia tahu maksud Tini yang sedang menanyakan apakah istri Heru ikut ke rumah sakit saat itu.
“Mas,” panggil Dijah. Bara menoleh. “Mbak Fifi mana?” tanya Dijah pada Bara yang baru memindahkan bingkisan dari atas meja sebagai tempat minuman kaleng yang baru ia keluarkan dari kulkas.
“Kerja. Katanya akhir minggu baru ke rumah.”
Mendengar hal yang paling meyakinkan, Tini perlahan berbalik menatap beberapa pria yang duduk di sofa dan berbicara dengan nada rendah.
“Hmmm—mulai deh Budhe Tini. Sini Nak, sama ayah.” Bara mengangkat Mima dari pangkuan Dijah dan menggendongnya. “Itu Pakde Heru baru dateng, katanya mau gendong.” Bara berbicara sendiri pada putrinya. Ia kemudian datang mendekati Heru yang duduk di sofa.
“Ya ampun Jah.... Aku iri sama Mima... Aku iri,” gumam Tini seraya memandang Bara yang mengangsurkan Mima ke dalam pelukan Heru. Beberapa laki-laki muda yang ikut datang tadi seketika mengerubungi Mima dengan pujian-pujian gemas yang mereka lontarkan.
“Mima... itu pakde. Budhe di sini,” bisik Tini memandang Heru yang sedang membelai pipi Mima. Tini tak sadar ikut memegang pipinya.
To Be Continued.....
Kalau ada voucher vote Seninnya yang bersisa, bolehlah dipakai untuk vote karya sederhana njuss dengan ikhlas. Kalau nggak ada, nggak apa-apa. Yang penting jangan lupa tombol likenya dipilin untuk njuss ya....
Terima kasih sudah mampir di karya ini :)
__ADS_1