PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
123. Pujian Penghiburan


__ADS_3

Bara mendahului langkah Heru menuju ruang keluarga. Setengah berbisik dia mengatakan, “Ada Mas Heru...” pada Dijah. Tangannya mengambil bantal kursi kecil dan mendekapkan ke pelukan istrinya. Dijah tak beranjak dari baringnya. Hanya mendongak ke atas dan memegang tangan Bara yang sedang membelai pipinya.


“Dijah masih begini. Maklumi ya Mbak...” ucap Bara pada Fifi yang datang mendekat.


“Ya emang sanggupnya tiduran aja. Aku juga gitu. Semoga Dijah gak lama dan gak parah mual muntahnya. Berat badannya bisa susah naik nanti.” Fifi berdiri di dekat sofa. Heru yang masih meneliti berkas di tangannya kemudian mengangkat wajah.


“Eh, ada teman-temannya Dijah ternyata. Apa kabar?” tanya Heru ramah. Asti, Mak Robin dan Boy mengangguk tersenyum pada Heru. Sedangkan Tini berpura-pura tekun menonton siaran televisi National Geographic Channel Indonesia yang berjudul Delapan Jenis Helm Perang Yunani Kuno : Kegel, Korintus sampai Pilos.


Boy menepuk bahu Tini agar berbalik dan memandang tamu yang baru datang. Kemudian dengan wajah dibuat seserius mungkin, Tini berbalik ke arah sofa.


“Oh ya ampun, ada Mas Heru. Aku lagi konsen nonton itu. Maklum...” ujar Tini mengerling ke arah televisi sekilas dengan anggun.


Bara mencibir memandang tontonan Tini. “Alasan...” bisik Bara. “Jadi mau pake helm yang mana?” tanya Bara yang tak bisa menahan senyumnya. Dijah tak bisa menahan tawa karena membayangkan Tini mengenakan helm perang Yunani dalam menghadapi Fifi.


“Dari mana Mas?” tanya Tini ramah.


“Mampir, ada perlu ama Bara. Kenalin, ini istriku. Fifi—” Heru merangkul istrinya. Fifi mengulurkan tangan menjabat penghuni kos satu persatu dimulai dari Tini. Heru dan istrinya masih berdiri di belakang sofa. Penghuni kos berdiri sejenak untuk menyambut perkenalan itu. Sedangkan Bara tak henti menyapu kepala Dijah sambil duduk di pegangan sofa.


“Cantik sekali Mbak Fifi,” ucap Tini masih memandang Fifi yang tertawa kecil menerima pujian Tini.


“Mbak Tini juga cantik,” jawab Fifi menarik senyum tulus.


“Yang kemarin udah interview kan?” tanya Heru pada Tini.


“Oh, udah—udah,” sahut Tini. Kemudian pandangannya kembali menatap televisi kemudian mengangguk-angguk seraya bergumam, “Wah... Helm perangnya ada delapan jenis rupanya. Kalau nggak nonton beginian, memang nggak bakal tau.”


Semua orang yang berada di ruangan itu ikut memandang televisi karena mendengar perkataan Tini. Perempuan yang pengetahuan sejarahnya terbatas hanya tanggal kemerdekaan negara dan pencipta lagu kebangsaan itu sedang menunjukkan tontotan berkualitasnya pada redaktur berita dan pimpinan redaksi portal berita.


Asti dan Boy menjadi sedikit terpukau dengan penguasaan diri Tini yang dinilai mereka sangat baik. Sedangkan Mak Robin melengos menatap Tini dan sedang berhitung dalam hati sampai berapa lama temannya itu bisa berakting menjadi orang pintar.


“Nak Bara, makan siangnya udah selesai. Mau makan sekarang?” tanya Mbok Jum yang baru menghampiri.


“Sebentar lagi kita semua ke ruang makan. Mbok makan aja duluan,” jawab Bara.


“Jadi menurut kamu gimana?” Heru kembali memandang Tini. “Tertarik—”

__ADS_1


“Ada yang perlu dibantu Mbok?” tanya Tini pada Mbok Jum menyela pertanyaan Heru.


“Udah selesai semua,” jawab Mbok Jum menoleh pada Tini.


“Cucian piringnya?” tanya Tini melangkah mendekati Mbok Jum.


“Belum ada, masih bersih.” Mbok Jum melangkah kembali menuju dapur.


“Bahan-bahan masakan yang mau diracik? Biar aku bantu,” ujar Tini ikut melangkah ke dapur.


“Udah nggak ada, beres semua.” Mbok Jum menoleh heran pada Tini.


“Bantu ngerjain bahan-bahan bangunan aku juga bisa. Mau nambah berapa lantai rumah ini, biar aku kerjain sekarang.” Tini ngeloyor ke dapur meninggalkan semua orang di ruang keluarga.


Dijah yang sejak tadi mendekap bantal kursi, kini menutup wajahnya dengan bantal itu karena berusaha menahan tawa. Sedangkan ketiga penghuni kos lainnya hanya saling berpandangan melihat Tini yang menghilang ke dapur.


Bara mencubit pelan pipi Dijah yang sedang berusaha memusatkan konsentrasi pada Heru dan istrinya.


Heru berjalan ke arah televisi dan meletakkan map di meja sebelahnya. Di bawah tatapan seluruh penghuni kos, Heru kembali berdiri di sebelah istrinya.


“Apaan,” sungut Fifi mengatupkan mulut sambil mengarahkan cubitan ke perut suaminya. Heru tertawa dan menangkap tangan istrinya tepat waktu.


“Kita jalan dulu ya Ra, Dijah...” pamit Fifi. “Duluan ya Mbak—Mas...” sambung Fifi lagi mengangguk pada Asti, Mak Robin dan Boy.


“Aku anter mereka dulu ya,” ujar Bara pada Dijah. Ia kemudian bangkit berjalan menjajari Fifi yang telah berada di depan. Terdengar sekilas Bara menanyakan pada Fifi soal makanan yang tidak boleh dikonsumsi Dijah.


Sekejab mata kemudian, Tini telah mengendap-endap dan tiba kembali di dekat sofa.


“Udah pulang?” tanya Tini menatap Dijah.


“Udah. Udah liatkan? Cantik kan?” tanya Dijah tanpa perasaan pada temannya.


“Iya. Cantik. Tapi aku juga cantik katanya.” Tini mencibir sombong.


“Itu menghibur kau aja Tini... Basa-basi itu. Menyenangkan hati kau aja. Langsung lantam (sombong) kau dibilang cantik!” sergah Mak Robin kesal.

__ADS_1


"Aku kok wis ampeg dhisik tapi dudu asma. (Aku sesak tapi bukan asma)” Tini telungkup memeluk sandaran sofa menghadap Dijah.


"Ojo ampeg sek, soale seng wawancara awakmu kerjo iseh bujangan. (Jangan sesak nafas sekarang. Itu yang interview kamu kerja masih jomblo)” Heru kembali muncul di ruang keluarga dengan sebuah pena di tangannya. Ia menuju meja sebelah televisi dan membubuhkan tanda tangan di salah satu berkas yang diletakkannya tadi. Heru kemudian menatap Tini.


“Iseh bujangan Tin... (Masih jomblo Tin...)” ucap Dijah kembali terkikik. Tini hanya terbengong menatap Heru yang kemudian melenggang pergi dengan santainya.


Penghuni kos-kosan telah duduk mengelilingi meja makan dengan Bara berada di kursi utama kepala keluarga. Dijah duduk bersandar di sebelah kanan suaminya menatap secentong nasi di atas piring yang tak menggugah selera. Bara sibuk menyuir ayam goreng di piring Dul untuk memudahkan bocah itu makan.


“Ibunya makan juga...” tegur Bara melihat Dijah yang belum menyentuh nasinya. “Mau pake apa?” tanyanya pada sang istri.


“Dikit aja ya Mas...” rengek Dijah menyentuh sendoknya. “Aku minum teh aja,” sambungnya lagi. Dijah membenamkan nasinya ke dalam kuah sop yang tadi sengaja dimintanya. Ia memanfaatkan media kuah yang melimpah itu untuk memudahkannya menelan.


“Dimakan pelan-pelan aja. Isi dikiiit...aja. Ya?” bujuk Bara. “Kasian anaknya di dalem,” gumam Bara mendekatkan piring Dijah.


Tini melirik Dijah yang sedang dibujuk suami tampannya untuk makan. Dijah beruntung sekali pikirnya. Dalam sekejab saja temannya itu telah memiliki keluarga lengkap. Sekarang Dijah sudah bisa mengeluh karena tak enak badan. Bisa merengek. Padahal beberapa bulan yang lalu Dijah masih memintanya memberi make up untuk menutupi luka lebam di wajah demi bisa tetap masuk kerja.


Seperti tahu bahwa Tini sedang mengamatinya, Bara mengangkat pandangan. “Makan Tini... Jangan diliatin aja. Kan jarang-jarang bisa ngumpul kayak gini.” Bara menunjuk lauk-pauk di depannya. “Tuhan itu mematahkan hatimu karena jodohmu sekarang sedang dipersiapkan.” Bara mengangkat alisnya dan tersenyum jenaka pada Tini.


“Jangan-jangan jodohku belum lahir,” gumam Tini mengambil centong nasi dan mulai mengisi piringnya.


“Makan Mas Boy... Ini lauknya enak semua. Terakhir kali makan enak waktu dinner prasmanan para reporter ‘kan?” Asti terkekeh mengingat peristiwa makan malam memalukan saat mereka liburan.


“Iya. Semua karena kita ngikutin ajakan menyesatkan si Tini.” Boy menyendokkan nasi ke mulutnya.


"Tapi memang pantai di sana mantap kali. Aernya jernih gak kayak susu coklat." Mak Robin berbicara sambil menyuapi anaknya.


“Keliatan banget jarang liburan. Dari kemarin ceritanya itu terus. Nanti sampai dua tahun ke depan kayaknya bakal itu terus yang dibahas,” tukas Tini melengos menatap Asti.


To Be Continued.....


Mau dilanjutkan kayaknya kepanjangan di satu bab. Jadi enjuss lanjut di bab berikutnya aja ya...


Likenya jangan sampe kelewatan. Karena itu hal yang paling utama selain komentar untuk perfoma baik suatu karya.


Makasi dukungannya untuk enjuss ya.... :*

__ADS_1


__ADS_2