PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
157. Target Tini


__ADS_3

“Kenapa nggak dari dulu nyari mbok-mu Is... bapakmu udah nggak ada. Belasan tahun pergi baru inget pulang sekarang.” Mbok Jum masih bersungut-sungut mengambek pada Iswar.


“Surat-suratku nggak lengkap. Aku nikah di sana dan punya anak. Kalau nggak dideportasi malah mahal ngurus surat-surat untuk pulang.” Iswar masih duduk di lantai berhadap-hadapan dengan Mbok Jum.


“Dasar anak kurang ajar, kalau nggak dideportasi nggak pulang.” Tini berdesis dengan mulutnya yang nyaris tak terbuka. Bara dan Boy seketika menoleh menyipitkan mata memandang sinis pada Tini yang dinilai mereka tidak peka.


Dijah telah duduk di sebelah Bara masih menggendong Mima. Boy yang tak mendengar ucapan Tini barusan soal arti nama Iswar masih menampilkan raut haru penuh kesedihan. Sepertinya Boy sedang mengingat soal ibunya. Tini duduk di sebuah kursi tunggal yang berada di sisi kanan Boy.


Mereka berempat memang seperti sedang menonton sebuah acara. Jarak Mbok Jum dan Iswar duduk sekitar 5 meter. Dan hal itu membuat Tini tak henti-hentinya mengomentari tiap perkataan yang terlontar dari mulut anak sulung Mbok Jum.


“Adekmu bagaimana di sana? Sinu udah nikah?” tanya Mbok Jum menepuk pelan lutut Iswar.


“Nuar sehat. Terakhir ketemu di bandara. Titip salam sama Mbok, katanya sehat-sehat. Dia lagi ngumpulin uang buat biaya pulang,” sahut Iswar.


“Mbok kangen sama Sinu…” isak Mbok Jum lagi.


“Nama anak bungsunya siapa sih Jah? Mbok Jum manggil Sinu, satunya lagi Nuar.” Tini melemparkan tatapan pada Dijah.


“Ssssttttt…” tegur Bara menoleh pada Tini.


Tini tak peduli, ia menatap Dijah menuntut jawaban.


“Kalau nggak salah namanya Anwar. Aku inget belakangnya sama. Anwar…Anuar…Nuar…Sinu…Si Nuar. Panggilan sayang dari Mbok Jum, Sinu. Mungkin gitu Tin,” jawab Dijah optimis setelah beberapa saat menelaah nama anak Mbok Jum.


“Hmmmphhh… panggilannya canggih.”


“Sssstt…” Bara menoleh Dijah yang sama berisiknya dengan Tini.


Dijah langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena melihat ekspresi sebal Bara memandang ia dan Tini bergantian.


“Mbok, anaknya diajakin ke belakang. Sarapan dan ngobrol di ruang makan biar lebih santai. Mungkin anaknya ada mau nyampein sesuatu. ‘Kan udah lama nggak ngobrol. Biar gak terganggu…” ujar Bara kembali memandang Dijah dan Tini bergantian.


Dijah berpura-pura membetulkan letak bando Mima, sedangkan Tini terlihat fokus mengukur keliling nampan dengan jengkalnya. Boy yang sesaat tadi terdiam seakan rohnya ikut terbang karena menyaksikan pertemuan Mbok Jum dan Iswar, kini mulai bergerak. Dia menghabiskan tehnya kemudian menyusut air mata dengan selembar tisu.


“Aku ke belakang dulu ya Jah…” ucap Mbok Jum bangkit dari duduknya dengan bantuan Iswar yang memegangi lengannya. Dijah mengangguk tersenyum mengiyakan.


“Berisik banget—gak bisa ditunda apa ngomentarin orang?” Sepeninggalan Mbok Jum, Boy mengomeli Tini.


“Ngomentarin orang kok ditunda, niat baik itu harus disegerakan Boy…” jawab Tini.


“Mas mandi dulu,” ujar Bara bangkit dari duduknya. Dijah menarik tangan suaminya dan mencium punggung tangan itu. Bara melirik Dijah yang langsung nyengir sebegitu dilihat. Arti ciuman itu adalah, ‘terima kasih karena telah memaklumi teman-temanku’. Bara membalas ciuman di tangannya dengan mencubit pelan pipi Dijah.


Tini berdiam sejenak melihat hal manis itu. Kemudian ia langsung melanjutkan, “Nama ini punya arti penting lho. Erat kaitannya dengan sikap anak di masa depannya. Kalian inget Yudi Prayetno? Yang kuperjuangkan dengan skenario empat babak?” tanya Tini mengedarkan pandangannya berkeliling pada Boy, Dijah dan Bara. Saat bertemu pandang dengan Bara, Tini buru-buru mengalihkan matanya untuk menatap Dijah. Ia berharap Bara segera pergi dari tempat itu dan ia bisa bebas melanjutkan ceritanya.


Tapi ternyata Bara berdiri mematung seperti ikut menunggunya menyelesaikan pembicaraan.

__ADS_1


“Kalau mau pergi, ya pergi aja. Kalau mau ikut denger, jangan malu-malu. Duduk dulu,” kata Tini pada Bara.


“Aku cuma ngeliat anakku kok,” kilah Bara mengingkari. Aslinya dia penasaran dengan hal yang akan diceritakan oleh Tini. Bara benar-benar heran dengan dirinya yang sekarang benar-benar bertingkah seperti reporter saat bertemu dengan teman-teman istrinya.


Sebelum menikah dengan Dijah, Bara hanya ingin memastikan bahwa apa yang dilakukan wanita itu bukan hal aneh berupa ajakan Tini. Ternyata semakin ke sini, bara semakin menyadari alasan kenapa Dijah dan Tini bisa begitu dekat dan berbahaya jika bersama tanpa diawasi. Keduanya saling mendukung dan tak ada yang berfungsi sebagai rem. Keduanya adalah perencana sekaligus eksekutor. Bahaya jika tak diawasi. Berdasar hasil pemikirannya tadi, Bara berdiam di sana ikut menyimak apa yang akan diceritakan oleh Tini. Bara sedang mencari pembenaran untuk ikut menguping.


“Kalian pasti masih penasaran kenapa aku nggak bisa nerusin hubungan dengan Yudi Prayetno,” tebak Tini memandang wajah Boy dan Dijah bergantian. Kedua temannya mengangguk berkali-kali. “I know… I know… (aku tau... aku tau) kalian pasti udah lama menyimpan rasa penasaran itu.” Tini menyilangkan tangan di depan dada dan ikut mengangguk sok penting.


“Belagu…” desis Bara.


“Tadi katanya ada yang mau mandi ya….” Tini kembali mengingatkan Bara. Kemudian Tini kembali melanjutkan, “Yudi itu menurutku termasuk kaum mendang-mending. Nggak asik kalau diajak curhat. Orangnya pesimis.”


“Mendang-mending gimana? Kayaknya Yudi itu baik. Kamu cuma perlu ganti celananya, tuker bajunya, cukur kumisnya, trus jangan jualan beha lagi.” Dijah menghela napas puas saat mengatakan hal itu.


Tini dan Boy hanya diam mematung dengan ekspresi canggung. Dijah menoleh pada Bara yang masih berdiri di sisi kirinya. Dijah kembali meraih punggung tangan Bara dan kembali menciumnya. Bara menjentik pelan dahi istrinya.


“Tiap aku cerita soal kesulitanku nyari kerja kemarin, jawabannya ‘ah, kamu sih masih mending… aku pernah blablabla’ dia cerita soal kesulitan yang lebih mengiris hati dari kisahku. Ngomong sama dia itu, aku selalu ngerasa kayak lagi adu nasib.”


Bara tak sengaja terkekeh dan langsung terdiam ketika Dijah dan Tini melemparkan tatapan tajam, “Mas mandi…” ucap Bara kembali mencubit pipi istrinya dan pergi berlalu dari tempat itu masih sambil terkekeh.


“Tapi nggak heran kalau Yudi Prayetno itu orangnya pesimis. Namanya aja mengandung aura negatif,” ucap Tini.


“Mau bahas nama lagi?” tanya Boy.


“Ini cuma hasil terawanganku semata aja Boy… Nama belakangnya Prayetno. Pra, sebelum. Yet bahasa inggris artinya belum. No bahasa inggris artinya tidak.”


“Enggak. Episode Yudi memang nggak bisa dilanjutkan. Kali kedua aku dateng ke bakulannya, aku liat bener-bener di dinding toko. Awalnya aku kira foto presiden dan wakil presiden. Ternyata foto istrinya, kurang gambar burung garuda aja di tengah. Ya udahlah… Nggak ada gunanya berusaha keras untuk seseorang yang memang belum mau selesai dengan masa lalunya.”


“Yudi orangnya pesimis, oke. Kalau mas Agus?” tanya Boy.


“Dia baik. Optimis banget. Bahkan terlalu optimis. ‘ayo capai target yuk… yuk pasti bisa yuk…’ Bisa capai target sih, tapi bisa sakit kuning juga kalau ngikut semua omongannya. Mungkin itu letak kebahagiaan dia, capai target.” Tini menghela napas panjang.


Dijah kembali duduk karena Mima kembali tidur. “Cowok-cowok yang ikut jenguk aku ke rumah sakit kemarin, nggak ada yang keren? Yang dibawa mas Heru kemarin… yang duduk di sebelah Bayu,” kata Dijah mengingatkan Tini soal Maradona.


“Ooohh… yang ituuu… keliatan masih bau minyak telon.” Tini tertawa terkekeh melihat raut jijik Dijah dan Boy yang sedang menatapnya. “Direkturnya aja nggak boleh?” tanya Tini kemudian tertawa terbahak-bahak.


“Boleh,” jawab Boy. “Tapi dia yang nggak mau.” Boy mencibir sebal saat Tini tertawa menutup mulutnya.


“Kalau dia mau jadikan aku yang kedua, aku cukup dikasi kuota dan nafkah batiniah aja. Aku jamin nggak akan pernah ngeluh,” kata Tini.


“Iya, kamunya nggak ngeluh. Dianya bakal ngeluh terus sepanjang sisa umurnya.” Dijah tertawa terbahak-bahak kemudian ia langsung terlonjak karena Mima terbangun dan menangis.


“Mulutmu itu…” tegur Tini melihat Dijah yang sibuk menenangkan anaknya.


“Jah…” panggil Bara.

__ADS_1


“Iya Mas?” Dijah menoleh pada Bara yang menghampirinya. Ia mengira Bara akan mengomel, ternyata suaminya itu hanya datang untuk memberinya waktu sejenak bersama temannya tanpa menggendong anak.


Bara menggendong Mima dan membawanya ke ruang keluarga.


“Bagian paling berani habis kenal seseorang itu menurutku adalah menaruh hati. Padahal udah kebaca akan terluka, tapi aku tetap ngelakuinnya. Bukan sengaja mau ngerasain patah, tapi beberapa perasaan memang nggak bisa diatur dengan mudah,” tukas Tini dengan bijaknya.


“Jadi, rencanamu?” tanya Dijah.


“Aku kagum dengan cara kerja Agus. Awalnya dia juga lulusan SMA kayak aku. Tapi dia bisa sukses. Aku mau belajar biar bisa jadi kayak gitu. Untuk sekarang aku mau fokus capai target,” terang Tini dengan optimis.


“Tapi memang nggak semudah itu jalaninya Tin… Kerja kita keliatan sama kerasnya dengan orang lain. Bangun sama paginya, doa sama banyaknya, hasil keliatan masih besar orang lain. Bukan nggak mensyukuri, tapi kadang selintas muncul rasa rendah diri.” Boy menuturkan keluhannya yang paling dalam selama ini.


“Harta itu cuma titipan Boy…. Kenapa tiap orang yang dititipi itu beda-beda? Ibarat kita sendiri pasti bakal milih nitip barang ke orang yang dikenal ketimbang orang asing, karena pasti lebih aman. Tuhan tau harus nitip sama siapa. Kalo sama kamu, takutnya malah banyak gaya. Nanti sakit kurap aja, minta otopsi.”


“Oke Tin… contoh kasus dari kamu selalu jelas.” Boy mengambil bantal kursi dan mencampakkannya kepada Tini.


“Lha iyo, coba bayangin kayak mbak Fifi, kalau pergi-pergi nggak akan mungkin nitipin suaminya ke aku. Dia nggak kenal aku,” tambah Tini lagi.


“Aku denger yaaa…” seru Bara dari ruang keluarga.


“Iya Mas…” sahut tini menirukan suara Dijah. Kali ini ia kembali mendapat lemparan bantal kursi dari Dijah.


“Sementara Asti makin lengket sama Bayu. Bisa-bisa Asti yang bakal duluan kawin. Dilangkahi sama anak kecil,” ejek Dijah pada Tini seraya tergelak.


“Siapa bilang Asti masih kecil? Sekarang dia udah nggak sebesar ketumbar lagi,” ucap Tini.


“Jadi?” tanya Dijah.


“Nasi KFC,” jawab Tini kemudian terbahak-bahak. Boy dan Dijah celingukan mencari bantal kursi untuk kembali melempar Tini.


“Astagaaaa Tiniiiii…” sela Bara dari ruang keluarga.


“Nguping aja!” teriak Tini menyahuti Bara.


To Be Continued.....


Hai semuanya.....


Seperti yang njuss bilang sebelum-sebelumnya, Pengakuan Dijah telah mencapai di part-part akhir menjelang tamat.


Setelah Dijah, njuss akan nulis GENK DUDA AKUT Spin Off dari Cinta Winarsih. Yang belum baca Cinta Winarsih, boleh dicolek karya njuss yang satu itu.


Nah... Karena GENK DUDA AKUT bukan novel panjang, njuss akan tepati janji dengan nulis novel khusus perjalanan hidup dan kisah cinta TINI SUKETI.


Jangan lupa follow Instagram @juskelapa_ untuk update cerita terbaru dan novel PENGAKUAN DIJAH jangan di unfavorit dulu yaaa....

__ADS_1


Nantikan usaha bapak-bapak ganteng untuk melepaskan sebutan nama Genk Duda itu.



__ADS_2