
“Dijaaaaah... Diiiiijaaaaahh” Suara Tini terdengar dari luar pagar.
“Mbak Dijah... Kita bawa gorengan banyak niiih...” Asti ikut berteriak.
“Temenku Mas,” ucap Dijah setengah bangkit. Bara masih menatap dadanya. “Besok-besok sambung lagi,” tukas Dijah menurunkan daster dan bangkit dari ranjang.
“Boy ikut? Kamu gak pake daleman. Dadanya—” Bara memandang Dijah dengan pandangan tak setuju. Ia bisa melihat bayangan puncak dada yang tadi dikulumnya.
“Ambilin kain,” pinta Dijah. “Kain—kain, ambilin kain.” Dijah menunjuk lemari. Bara tersadar dan mengerti yang dimaksud istrinya kemudian bangkit menuju lemari.
“Diiiiiijaaaaahhh” teriak Tini lagi. Bara berjengit sedikit terkejut.
“Iya, ya ampuun...” gumam Bara mengambil sebuah sarung kotak-kotak berwarna hitam putih. “Hidup itu memang penuh kejutan. Tapi kamu yang paling ngagetin aku Jah...” ujar Bara lagi. Dijah hanya meringis meraih sarung dari tangan suaminya dan memakainya sampai ke batas dada.
“Ya ampun istriku udah kayak gini style-nya...” ucap Bara yang duduk di tepi ranjang melihat Dijah menyimpulkan sarung di depan dadanya. Dijah keluar kamar dengan daster dan sarung. Rambutnya terurai dan wajahnya lesu.
Bara mendahului istrinya menuju pintu depan untuk menyambut tamu.
“Eh Mas Bara...” sapa Asti saat Bara mendekati pagar kayu coklat. Bara tertawa.
“Mukanya kok gitu? Kita ganggu ya?” tanya Tini menatap curiga wajah Bara.
“Mau masuk gak?” tanya Bara saat membuka pintu pagar.
“Ya mau... Ayo masuk. Hari ini kita obrak-abrik rumah Dijah,” ajak Tini menggandeng Robin. Tak sadar Bara menepuk-nepuk dadanya saat mendengar perkataan Tini.
“Mbak Dijah... Ya ampun lesu banget,” sapa Asti melihat Dijah yang berdiri menyandarkan pipinya di gawang pintu depan.
“Bikinnya enak toh?” tanya Tini saat berpapasan dengan Dijah di depan pintu. Dijah hanya meringis sambil meremas dada temannya.
“Apa kabar Mas?” sapa Boy pada Bara.
“Baik—baik... Dijah yang lagi nggak baik.” Bara kembali mencantolkan pengait besi pagar saat semua penghuni kandang ayam masuk ke dalam rumah.
“Mau duduk di mana?” tanya Bara pada istrinya.
“Kami di depan tv aja Mas,” sahut Dijah yang terus berjalan ke ruang keluarga diikuti teman-temannya.
“Kami duduk di bawah aja Jah... Enak! Sambil golek-golek (baring-baring),” kata Mak Robin.
“Mas, tolong....” Dijah menatap suaminya penuh permintaan maaf.
“Sebentar aku ambil,” ucap Bara yang mengerti maksud istrinya. Beberapa menit berselang, Bara kembali dengan sebuah permadani empuk dan dibentangkannya di depan televisi. Ia mengatur sebuah bantal sofa dan menepuk bantal itu memandang istrinya.
“Nanti di sini ya,” tukas Bara meminta Dijah berbaring di sana.
“Iya, nanti aku baring di situ.” Dijah menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Iya, jangan takut. Nanti istrinya baring di situ. Bukan aku yang baring.” Tini menyipitkan mata memandang Bara yang tertawa.
“Kamu nggak boleh gitu ngomongnya. Suamiku ini,” ucap Dijah meraih lengan Bara dan memeluknya.
“Hilih... Benci aku. Nanti anakmu perempuan mirip aku Jah!” sahut Tini kemudian mencibir.
“Ya ampun Tini... Jangan! Kasiani kami,” jawab Bara memeluk kepala Dijah yang telah duduk di sofa. Dijah tertawa melihat reaksi Tini yang mengernyit jijik dengan tingkah Bara yang sengaja memanas-manasinya.
“Sehat kau Dijah?” tanya Mak Robin. “Kata Asti kau mabuk parah,” sambungnya lagi.
“Iya Mak... Udah aku amati. Mulai jam 9 pagi ke atas. Makin malem, makin parah.”
“Untung aku dulu gak kayak gitu,” sahut Mak Robin.
__ADS_1
“Robin ayo sini, ikut ke kamar Dul.” Bara berdiri mengulurkan tangannya pada Robin. Bocah laki-laki itu berdiri dan menggandeng tangan Bara yang pergi menuju kamar Dul.
“Susah juga ya ternyata hamil. Banyak dramanya,” ucap Asti.
“Lebih drama lagi kalau nggak hamil,” ujar Tini. “Kamu gak usah nyambung percakapan ini Boy. Kamu gak punya rahim.” Tini menoleh Boy yang sedang menarik nafas ingin berbicara. Boy kemudian melemparkan bantal kursi pada Tini.
“Kamu udah pulang kampung Tin?” tanya Dijah.
“Udah, cuma empat hari di kampung. Aku ditelfon kenalannya mas Heru untuk interview kerja.” Tini merosot dari sofa dan turun ke atas permadani. “Kamu baring aja di sofa. Kita di bawah aja nggak apa-apa. Nanti kamu lecet mas-mu protes,” ujar Tini mengambil plastik gorengan.
Mbok Jum kemudian datang dengan senampan penuh gelas kosong dan teko transparan berisi es sirup. Boy berdiri dari duduknya untuk menyongsong nampan dari tangan Mbok Jum.
“Makasi ya Mbok...” ucap Boy.
“Makan siang di sini 'kan? Tadi aku diminta masak lauk tambahan sama Nak Bara,” ucap Mbok Jum yang sumringah menatap tamu perdananya.
“Mas yang minta masak lagi Mbok?” tanya Dijah mendongak menatap Mbok Jum.
“Iya, mas-mu. Katanya temen Dijah mau dateng. Aku udah nebak pasti Tini. Sekarang rambutnya nggak semerah api lagi ternyata,” ucap Mbok Jum terkekeh.
“Hmmm... Siapa lagi temen Dijah yang melegenda kalau bukan aku,” cibir Tini.
Bara kembali muncul ke ruang keluarga menghampiri Dijah yang telah kembali berbaring di sofa.
“Mbok Jum lagi nyiapin makan siang. Dul lagi main sama Robin di kamar. Aku rebahan di kamar ya, ngantuk.” Bara berdiri menumpukan tangannya di sandaran sofa menatap Dijah.
“Iya, tidur aja. Nanti kalau mau makan, aku bangunin.” Dijah mengangguk dan membelai sekilas tangan suaminya. Asti dan Boy menatap dengan wajah terpukau. Dijah mengamati punggung Bara yang melewati gawang ruang keluarga dan berbelok ke kanan. Dijah senang Bara meninggalkannya bersama penghuni kos karena ia tak yakin topik pembicaraan mereka berikutnya bisa ditolerir telinga suaminya itu.
“Trus Tin? Gimana di kampung? Bapakmu? Adik-adikmu?” tanya Dijah tak sabar. Mualnya seolah seketika hilang melihat kedatangan teman-temannya.
“Bapakku selama ini ngaku sakit tiap ditelfon. Ya asmalah, diabeteslah, asam uratlah, darah tinggi, gitu aku pulang tiba-tiba, bapakku nggak keliatan sakit. Kayaknya bakal bisa hidup sampe 100 tahun lebih.” Tini mengambil gelas dan menuangkan minumnya. Dijah menyeringai.
“Kerjaannya gimana? Udah keterima?” taanya Dijah lagi.
“Mungkin wajah Mbak Tini mengganggu pikirannya,” ucap Asti.
“Bisa jadi mirip orang yang pernah menyakitinya,” tambah Boy.
“Kamu jangan diem aja dari tadi Mak... Nanti diem-diem gorengan seplastik udah ludes aja,” ucap Tini menarik plastik gorengan.
“Memang bodat kali si Tini ini. Aku baru makan dua,” jawab Mak Robin kembali menarik plastik gorengan.
“Akhirnya kamu pulang juga ke kota yang mematahkan hatimu...” gumam Dijah.
“Tapi juga tempatku jatuh cinta berkali-kali,” sambung Tini. Kemudian keduanya tertawa.
“Bapaknya Tini mirip-mirip bapakku sebenarnya. Bedanya bapak Tini gak mau nyampurin urusan anaknya. Lah bapakku, kadang bukan ngasi solusi, tapi cuma matahin semangat.” Boy menunduk lesu.
“Kadang hal yang mematahkan semangat belajar kita itu orang-orang terdekat kita. Mereka yang suka menertawakan kesalahan dalam proses kita belajar. Itulah pentingnya menemukan lingkungan yang saling dukung. Ya kan Mak? Bener toh aku?” tanya Tini pada Mak Robin.
“Iya betol. Cabe di gigi kau jangan lupa kau bersihkan!” jawab Mak Robin.
“Makanya capek kalo harus ngeluh ke keluarga. Bukan gak mau,” sambung Boy lagi.
“Capek 'kan energi. Dan kita tau kalau energi nggak bisa dimusnahkan. Cuma bisa dipindahalihkan. Pilihannya, capek belajar buat asah skill atau capek nyari kerja karena nggak punya skill. Mas Boy pasti bisa... Semangat!” seru Asti menepuk-nepuk pundak Boy di sebelahnya.
“Keluar dari kandang ayam, pande-pande kali kelen cakap,” sungut Mak Robin.
“Teruslah hidup walau nggak berguna Boy!” ucap Dijah dari sofa.
“Nah ini... Hinaan-hinaan Dijah ini yang ngangenin.” Tini menoleh ke arah Dijah yang terkikik geli.
__ADS_1
“Eh Tin! Ngomong-ngomong—” Dijah menoleh ke belakang.
“Aman, kalau mas-mu dateng, aku kasi kode.” Tini yang mengerti maksud kerlingan Dijah mengangguk mantap menunggu hal yang akan dikatakan temannya.
“Aku kemarin ketemu istrinya mas Heru lagi. Ternyata baik banget. Cuantik pol! Kibasan rambutnya aja wangi banget. Padahal gak dandan menor-menor, tapi keliatan mahal gitu. Kalau kamu yang ngeliat langsung, pasti langsung kamu bakar tas make-up-mu yang seabrek itu. Ngerasa gak berguna,” ujar Dijah setengah bangkit dari tidurnya.
“Dasar kurang ajar! Aku kira mau nyampein apa,” sergah Tini. “Hinaanmu memang nggak ada duanya.”
“Entah hapa kelen, asik si Heru aja. Si Boy ini gak tepake kelen buat.” Mak Robin menepuk-nepuk pundak Boy.
“Buat semangat-semangatan aja Mak... Buat fantasi. Karena aku yakin mas Heru itu nggak besar pasak dari tiang.” Tini dan Dijah tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian Dijah berhenti tertawa menutup mulutnya. Ia kembali merasakan perutnya bergolak.
“Otak Tini kalo udah ketemu Dijah pasti gak jauh-jauh dari ngomongin kawasan segitiga Bermuda.” Boy mendengus mengambil gelasnya.
“Mau liat istrinya Heru?” tanya Dijah. “Boy, cari di internet. Fifi Mochtar.” Dijah mengibaskan tangannya meminta Boy yang sedang memegang ponsel.
“Aku nggak mau liat—aku nggak mau liat,” ucap Tini. “Ya wajar cantik. Kalau nggak cantik, aku bakal mau bersaing.”
“Liat aja, nggak apa-apa. Cepet Boy!” pinta Dijah.
“Iya, sebentar aku cari fotonya yang paling jelas...” gumam Boy yang sedang menunduk di atas ponselnya.
“Aku nggak mau liat—aku nggak mau liat,” tukas Tini lagi memicingkan matanya seraya mengunyah tempe goreng.
Dan sejurus kemudian, “Baraaa...” Suara Heru terdengar dari arah luar.
Kemudian terdengar pintu kamar terbuka dan langkah kaki Bara buru-buru menuju pintu depan. Suara pagar digeser dan beberapa pasang langkah kaki melangkah di ruang depan.
“Aku besok ke luar kota. Berkas ini kamu aja yang bawa. Kalau investor kita dateng, ketemu sama kamu aja deh.” Suara Heru terdengar perlahan mendekat ke ruang keluarga.
Seluruh penghuni kandang ayam seketika terdiam menyimak pembicaraan itu.
“Mas Heru...” lirih Tini dengan genitnya. Dijah menarik rambut temannya itu. Mak Robin melemparkan tatapan jijik. Boy dan Asti terkikik geli.
“Ya udah berkasnya aku yang pegang.” Suara Bara terdengar menyahuti.
“Lagi ada tamu ya?” tanya Heru.
“Iya, temennya Dijah.” Suara Bara semakin mendekat ke ruang keluarga.
“Bakal ke sini pasti...” bisik Tini membenarkan letak rambutnya.
“Dijah gimana Ra? Masih muntah parah?” Terdengar suara Fifi bertanya.
Seluruh penghuni kandang ayam seketika menatap Tini yang membulatkan matanya.
“Mampus kau Tini... Apa pulak gak mau liat. Kau liat la itu saingan kau!” tukas Mak Robin dengan tawa tertahan.
“Tin...” panggil Boy mengguncang bahu Tini.
“Mbak Tini jadi bisu...” ucap Asti memandang Tini yang masih mematung.
To Be Continued.....
Selamat akhir Minggu semuanya.
Jangan lupa dukung Tini menghadapi kenyataan dengan menekan tombol like.
Terimakasih... :*
__ADS_1