
"Don... Anak yang kemarin dateng ke Polsek masih ada nyari aku nggak?" tanya Bara pada Dona yang pagi itu akan keluar kantor menuju Polsek.
"Beberapa hari ini aku belum ada ketemu dia lagi. Cuma dua kali aja yang sempet ketemu aku. Napa Mas?" Dona berhenti di depan lobby kantor dengan helm di dalam pelukannya.
"Aku belum sempat ke sana karena masih sibuk ngurus sesuatu. Aku boleh titip sesuatu gak?" tanya Bara.
"Apa itu Mas? Boleh--boleh," sahut Dona.
"Aku mau nitipin uang sedikit. Kalo nanti ketemu anak itu, tolong bawain dia jajan ke mini market seberang Polsek. Tau, 'kan?" tanya Bara.
"Boleh Mas... By the way itu siapa sih Mas? Kenal?" tanya Dona penasaran.
"Dul itu temen aku. Belakangan kita emang jarang ketemu. Aku juga pengen banget ketemu dia, tapi aku belum bisa. Mungkin sebentar lagi. Jadi tolong bilang ke Dul, sabar. Om bara pasti dateng. Tolong ya Don..."
Maradona yang mendengarkan semua pesan-pesan Bara mengangguk patuh pada seniornya itu.
Sudah lebih dari sepuluh hari Bara tak bertemu dengan Dijah. Hampir setiap hari dan setiap jam saat ia mengingat wanita itu, ia selalu menanyakan kabar kekasihnya. Meski Bagi Dijah, ia sekarang hanyalah seorang mantan kekasih.
Bara sadar ia tak akan mendapat balasan dari pesan-pesan yang dikirimkannya. Tapi Bara tahu, Dijah pasti tetap akan membacanya.
Perkembangan penyelidikan soal Fredy semakin membawa titik terang. Bara sedang menunggu kabar soal kepastian tanggal penggerebekan yang akan dilakukan AKBP Heryadi.
Bara tak menyerah soal hubungannya dengan Dijah. Entah bagaimanapun akhirnya nanti, ia hanya ingin membebaskan Dijah dari siksaan Fredy.
Pukul sepuluh nanti Bara akan ada meeting bersama para direksi perusahaan. Sebelum meeting itu dimulai, Bara duduk di depan laptopnya untuk kembali membuka file foto wisatanya bersama Dijah dan Dul. Ia berniat menyortir beberapa foto untuk dicetak dan diberikannya kepada Dul.
*****
"Gimana? Udah siap kelen? Dah bekuah aku sama si Robin dari tadi nunggu." Mak Robin berkacak pinggang di depan kamar Tini menunggu wanita yang sedang menggambar alisnya.
"Aku kira kamu nggak ikut," tukas Tini.
"Biar rame. Kasian Dijah," sahut Mak Robin.
Tak berapa lama kemudian Asti keluar dengan pakaian rapi dan terlihat mengunci kamarnya. Boy yang sedang duduk di depan pintu kamarnya ikut berdiri dan menggandeng lengan Asti untuk berjalan menyeberangi halaman.
Tini sudah selesai menggambar alisnya. Wanita itu keluar dengan pakaian yang biasa disebutnya sebagai peran wanita kantoran. Meski sedikit berlebihan karena pagi itu Tini mengenakan jas, teman-temannya sedikit lega karena ia berpakaian tertutup.
"Aku kok nggak yakin ya?" tanya Dijah saat selesai mengunci pintu kamarnya.
"Ragu kenapa?" tanya Tini.
"Aku ngerasa, aku agak berlebihan. Nggak usah aja Tin. Kita pergi makan aja, biar aku yang traktir. Aku masih ada uang, sekalian liat-liat di jalanan siapa tau ketemu Mbok Jum." Dijah menatap wajah ke semua orang yang telah menunggunya.
"Ga apa-apa Mbak Dijah. Kita lewat aja juga gak apa-apa. Siapa tau bisa liat selintasan mungkin Mbak Dijah udah lega." Asti menarik lengan Dijah dan mengajaknya berjalan keluar menuju pagar.
"Iya Jah! Liat atep kantornya aja mungkin kamu udah semriwing. Atau liat motornya, atau mobilnya. Nggak apa-apa," tambah Tini.
"Ayoklah! Cakap-cakap aja kapan nengoknya. Udah! Selo aja kau Dijah! Gak akan tau si Bara kalo itu memang maumu," tambah Mak Robin dengan tangannya yang terus menggenggam lengan kurus anaknya.
Beramai-ramai mereka menumpangi sebuah angkot menuju di mana kantor The Term berada. Hari masih pagi namun sudah melewati jam ramainya orang berangkat ke kantor dan ke sekolah. Mereka mendapati sebuah angkot yang lumayan sepi penumpang.
__ADS_1
Jarak menuju kantor mereka tempuh lebih dari setengah jam. Mereka sengaja berhenti beberapa meter sebelum mencapai kantor itu. Kebetulan mereka datang dari arah seberang kantor. Persis di depan kantor ada sebuah warung nasi dan minuman yang berdagang di atas trotoar.
Kantor Bara merupakan sebuah kantor tunggal yang tak menyatu dengan gedung tinggi. Kantor itu dulunya adalah sebuah rumah besar berhalaman cukup luas yang diubah menjadi sebuah kantor berita.
"Kita duduk di sana aja, minum teh atau apa. Pas letaknya di seberang pos satpam. Mas-nya Mbak Dijah keluar masuk pasti lewat sana." Boy menunjuk warung nasi itu.
"Iyalah cocok! Jadi gak pingsan anakku berdiri lama-lama," sambut Mak Robin.
Dijah masih diam seribu bahasa. Ia masih ragu tapi juga bahagia bisa melihat tempat di mana ia dan Bara pernah melakukan keintiman di parkiran kantor itu. Kantor itu begitu dekat namun juga menimbulkan perasaan sangat jauh di dalam hatinya.
Mereka memesan teh dan minuman berbagai minuman sachet dingin berharga murah. Berkali-kali mereka menoleh ke belakang untuk melihat siapa saja yang keluar masuk kantor itu.
"Aku kok nggak sabar ya nunggu aja. Apa aku perlu nanya ke satpam mas-mu masuk atau nggak," ucap Tini tiba-tiba.
"Jangan Tin, nanti kalau Bara keluar tiba-tiba 'kan jadinya nggak enak. Dia pasti heran ngapain kamu ke sana." Dijah menahan lengan Tini yang sudah bangkit dari duduknya.
"Nggak apa-apa, kan cuma nanya satpam aja. Aku juga pasti liat-liat dulu. Kamu tenang aja. Percaya Tini Suketi." Tini kemudian pergi menyeberangi jalan raya dan masuk beberapa langkah menuju pos satpam. Dan ia terlihat berbicara sebentar dengan petugas kemudian langsung kembali lagi menyeberangi jalan.
"Satpamnya bilang apa?" tanya Dijah langsung saat Tini kembali duduk di sebelahnya.
"Tadi ngelarang aku nanya ke sana. Sekarang mau tau." Tini meletakkan telunjuknya di dahi Dijah.
"Ada. Baru masuk kok. Baru dateng katanya. Tapi nggak tau bakal keluar lagi atau enggak. Jadi gimana? Mau ditunggu aja?" tanya Tini pada Dijah.
Dijah yang merasa Bara pasti akan keluar untuk meliput atau apapun itu, merasa tanggung jika dia langsung pergi dari sana. Meski tak berhasil melihat Bara, Dijah ingin sedikit berlama-lama memandang kantor berita tempat di mana pria itu ada di dalamnya.
"Satpam itu kayaknya ngeliatin kita aja," ucap Boy.
"Iya juga Mak..." sahut Boy mengangguk-angguk.
Sementara itu, Bara sedang menuju ruang meeting dan baru menyadari kalau ia meninggalkan satu berkas di mobilnya. Ia meletakkan laptopnya di meja ruang meeting kemudian berbalik untuk menuju parkiran mobil.
Bara memarkirkan mobilnya tepat di depan lobby kantor. Saat ia menuruni undakan tangga, pandangannya tertuju pada satpam yang sejak tadi diperhatikannya terus-menerus menoleh ke seberang jalan.
Bara mendatangi satpam itu. "Ngeliatin apa?" tanya Bara berdiri di pos satpam ikut memandang ke seberang.
"Eh Mas Bara, kebetulan..." sahut Satpam itu.
"Kebetulan apa?" tanya Bara.
"Itu, tadi ada perempuan nyariin Mas Bara ke sini. Mau saya panggilin tapi nggak mau," jawab Satpam itu.
"Mana? Udah lama? Ciri-cirinya gimana?" tanya Bara antusias.
"Pakaiannya rapi, pake jas. Dandanannya agak menor," tukas Satpam itu.
"Oh... Menor," ucap Bara dengan dahi mengernyit. "Rambutnya gimana?" Pikiran Bara belum bisa menebak jika itu adalah Tini. Sedangkan menerka itu adalah Dijah, pasti takkan mungkin. Apalagi satpam menyebutkan kata menor.
"Rambutnya hitam lurus panjang," jawab Satpam itu lagi. "Itu Mas, coba liat ke seberang. Kayaknya perempuan itu masuk ke warung nasi di seberang. Agak ketutup tirai, tapi bisa diliat kalau dari sini." Satpam itu menggeser berdirinya untuk mempersilahkan Bara menjenguk dari tempatnya berdiri.
Bara menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatan. Ia melihat beberapa orang yang tak asing lagi. Seorang wanita dengan anak kecil, itu Mak Robin dan anaknya. Mungkinkah Dijah juga berada di sana, tanya Bara dalam hati. Apa ia harus memastikannya dengan mendatangi mereka. Apa tujuan mereka ke sana?
__ADS_1
Untuk memastikan hal itu, Bara punya ide. Dia belum bisa melihat Tini atau Dijah di seberang sana. Dengan cekatan ia mengeluarkan ponselnya dan mencari nama Bayu.
"Lo di mana? Ke pos satpam sebentar. Sekarang!" ucap Bara tak sabar. Ia harus memastikannya. Tak berapa lama, Bayu keluar tergopoh-gopoh.
"Ada apa Mas?" tanya Bayu.
"Lo punya nomor telfon Tini? Tini temennya Dijah," ucap Bara.
"Punya, ada. Kenapa?" tanya Bayu.
Bara berjalan mendekati Bayu dan mengeluarkan kunci mobilnya. "Ini, pergi keluar bawa mobil gua muterin jalan depan dan klakson dua kali di depan warung itu."
"Kenapa Mas?" tanya Bayu dengan wajah bingung.
"Mana hape lo? Cari nomor Tini sekarang. Gua mau mastiin sesuatu." Bara mengulurkan tangannya tak sabar meminta ponsel Bayu. Meski dengan wajah bingung, Bayu mengeluarkan ponsel dan mencari nomor telepon Tini di sana.
"Pergi sekarang, muter dan klakson ya... Gua mo nelfon Tini." Bara mengklik panggilan keluar dan Bayu masuk ke mobil Bara untuk melaksanakan perintah seniornya itu.
"Halo... Mbak Tini?" tanya Bara kemudian saat Tini menjawab panggilannya. "Lagi di mana?" Jantung Bara berdebar sedikit cepat. Padahal ia hanya menelepon Tini, bukan Dijah. Tapi kenyataan yang sedang dicari tahunya saat itu membuat hatinya berbunga-bunga.
Bara sejenak menjauhi pos satpam saat melakukan panggilan itu.
"Ada apa ya Bay? Aku lagi sibuk..." sahut Tini di seberang.
"Mbak Tini lagi di mana? Lagi sama Mbak Dijah ya?" tanya Bara yang sedang berbicara sebagai Bayu.
"Iya, aku lagi ada misi penting bareng Dijah ama tetanggaku lainnya. Kamu nanti aja kalau mau telfon-telfon aku," sahut Tini yang sepertinya memang serius jual mahal terhadap Bayu.
"Di mana Mbak?" tanya Bara lagi.
TIIIIIIINN
TIIIIIIINN
"Aduh setan! Supir gendeng! Mesti ngelakson deket sini! Kampret!" maki Tini di telepon.
"Makasi Mbak Tini, nanti saya telfon lagi ya..." Bara kemudian mengakhiri pembicaraan di telepon dan menunggu Bayu kembali. Di wajahnya terukir senyum tipis. Ada perempuan yang merindukannya di seberang sana. Tak mau menemuinya karena perempuan itu tak mau ia kembali memupuk harapan.
Aku juga rindu Jah, ucap Bara dalam hati. Ia memutuskan berlama-lama di pos satpam agar wanita yang mungkin sedang memandangnya diam-diam dari seberang sana puas melihatnya.
Dan sementara itu di warung seberang.
"Siapa yang nelfon?" tanya Dijah.
"Bayu, entah mau apa. Kayaknya memang ngebet sama aku," jawab Tini. "Dasar laki-laki," tambah Tini dengan senyum kemayu di wajahnya.
"Masih berdiri di sana mas-mu?" tanya Tini.
"Masih..." sahut Dijah dengan tangannya yang sejak tadi menyingkap spanduk penutup warung itu untuk menatap Bara yang terlihat sedang mengobrol dengan satpam sepuas-puasnya.
"Makin dilihat, makin rindu..." gumam Dijah.
__ADS_1
To Be Continued.....