PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
170. Desau Dijah


__ADS_3

Dijah dan Dul menyusuri jalan komplek menuju rumah. Jarak sekolah Dul paling jauh cuma 300 meter. Hanya jalan dua blok keluar komplek, SD Dul terletak di dekat jalan utama.


 


Satu tangan kiri Dijah memeluk tubuh Mima yang berada dalam gendongan kain jarik batik. Satu tangannya lagi memegang payung demi melindungi dua buah hatinya dari sengatan matahari yang nyaris tegak di atas kepala.


 


Dijah sangat menyukai kesehariannya itu. Pagi-pagi sekali ia bangkit dari ranjang setelah menyusui Mima dengan kenyang dan meletakkannya di sebelah Bara. Laki-laki itu otomatis memeluk putrinya dengan mata yang masih tertutup.


 


Mbok Jum juga sudah di dapur mempersiapkan bahan masakan mereka hari itu. Biasanya Dijah langsung memanggang roti atau memasak sedikit nasi goreng untuk bekal Dul. Bocah laki-laki itu akan dibangunkan saat sarapan telah diatur di atas meja.


 


Bara telah berpakaian rapi bersiap-siap ke kantor, ia menggendong Mima yang sudah bangun keluar kamar. Seperti sesuatu yang sudah disepakati, Bara menyerahkan Mima pada Dijah untuk memulai makan paginya di meja yang sama.


 


Akhir-akhir ini, Bara bersikeras untuk memiliki kuncinya sendiri. Alasannya, ia tak mau mengganggu istrinya jika sudah tertidur lelap. Meski kebanyakan, Dijah masih terjaga saat suaminya tiba larut malam. Pintu ruang tamu selalu terbuka saat mendengar motor atau mobil mendekati pagar.


 


Pagi tadi, Bara yang mengantarkan Dul berangkat sekolah. Dan siangnya, Dijah yang sedang ingin berjalan-jalan bersama Mima, pergi berjalan kaki menjemput anaknya.


 


“Ada PR nggak?” tanya Dijah pada Dul.


 


“Ada, tapi gampang. Nanti sebelum tidur siang aku kerjain.” Dul berbicara sambil memakan sebatang wafer coklat. “Bu!” panggilnya mendongak.


 


“Ya?” Dijah menoleh sekilas pada anaknya.


 


“Mbah wedok sama mbah lanang udah ketemu?” Dul tiba-tiba menanyakan soal mbah yang beberapa bulan terakhir seperti dilupakannya. Tapi ternyata bocah itu masih ingat.


 


“Sudah. Mbah udah seneng pokoknya. Sekarang ngawasin kita dari atas sana. Makanya kita harus hidup yang baik, biar mbah juga seneng.” Dijah hanya bisa tersenyum memandang Dul yang mengangguk-angguk.


 


“Tadi temenku bilang, Mima cantik banget.” Dul nyengir memandang ibunya. “Eh! Tadi temen Mas suka sama Mima!” tukas Dul menggamit kaki adiknya yang menggantung dari gendongan. Mima yang mungkin sedang melamun, memekik terkejut. Bayi itu lantas menunduk untuk meraih wajah Dul sambil tergelak.


 


Dijah tertawa melihat Mima mempermainkan kaki agar Dul kembali menyentuhnya.


 


Siang hari biasanya Mima tak mau makan makanan berat. Bayi itu biasa hanya mengemil biskuit atau potongan buah lunak yang diletakkan Dijah di dalam piring plastiknya. Setiap siang di hari kerja, mereka hanya makan berempat. Tapi beberapa kali juga, Bara tiba-tiba pulang ke rumah di siang hari untuk mengambil sesuatu sekalian makan siang. Terkadang, jika Dul telah luang bersantai di kamarnya dan Mima tengah tidur siang, Bara menarik Dijah ke ranjang untuk melakukan sesi bercinta singkat.


 


Kadang-kadang muncul pertanyaan dalam kepala Dijah. Apa mungkin Bara sengaja pulang di siang bolong karena mengetahui jam-jam tidur anak mereka demi sensasi bercinta yang terburu-buru itu.


 


Malam itu, Mima sudah tertidur nyenyak di box-nya. Pukul 11 malam tapi Bara belum kembali. Dijah sudah tertidur sebentar saat menyusui Mima tadi, namun perut yang lapar kembali membuat matanya segar.


 


Baru saja Dijah bangkit dari ranjang, ia mendengar suara motor suaminya mendekati pagar. Matanya membulat senang. Bara bisa menemaninya makan malam versi ibu menyusui.


 


Dijah bergegas menuju pintu depan. Pagar selalu tak terkunci sebelum suaminya pulang kerja. Tanpa menjepit rambutnya, ia sudah melongok keluar menatap sosok gagah yang masih mengenakan helm sedang mengunci pintu pagar.


 


Bara berbalik dan langsung berjalan ke arah Dijah.


 


“Ini mas-ku bukan? Helmnya nggak dibuka.” Dijah menutup pintu dan memutar kunci.


 


Bara mengulurkan kedua tangannya ke depan. Dijah langsung maju dan melingkarkan tangan di sekeliling pinggang suaminya. Ia memejamkan mata merasakan pelukan erat Bara di tubuhnya. Beberapa saat lamanya ia berdiri menikmati aroma parfum hangat yang awet sejak pagi. Kemeja flanel kotak-kotak berwarna hijau lumut-hitam menempeli pipinya.


 


“Oh iya, ini mas-ku...” gumam Dijah kemudian melepaskan pelukannya.


 


Bara tertawa kemudian melepaskan helm dan mengacak rambut ikalnya sekilas. Dijah mundur selangkah untuk melihat tampilan utuh suaminya dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.


 


Dijah memuaskan mata memandang Bara. Laki-laki yang kata Asti selalu diperbincangkan gadis-gadis muda karena sering dikira belum berkeluarga karena gayanya.


 


“Ngeliatin apa?” tanya Bara.


 


“Memang ganteng ternyata,” jawab Dijah tertawa kecil. Ia bisa melihat dari raut suaminya yang mengernyit penasaran. Pasti Bara terheran-heran di dalam hati karena ia memang jarang sekali memuji.


 

__ADS_1


“Tumben,” ucap Bara.


 


Benar saja yang dipikirkan Dijah barusan. Bara mengernyit karena merasa heran akan apa yang diucapkannya.


 


“Aku kangen,” kata Dijah mengambil ransel yang baru dilepaskan dari bahu.


 


“Kangen atau pengen?” Bara balik bertanya sambil meletakkan helmnya di kursi ruang tamu.


 


Dijah melengos. “Pantang dipuji,” ujar Dijah.


 


“Kirain udah tidur,” ucap Bara memeluk bahu Dijah dan melangkah ke dalam.


 


“Laper, jadi kebangun. Mas udah makan?” tanya Dijah.


 


“Jam 8 tadi udah, tapi kalo mau makan ayo mas temenin.”


 


Dijah melangkah menuju ruang makan dalam rangkulan suaminya. Jarak tinggi mereka bertambah karena Bara belum melepaskan sepatunya yang bertapak tebal.


 


Dalam keheningan malam, Dijah menyiapkan sepiring nasi dan segelas air putih untuk suaminya. Ia pun juga sudah duduk menghadap piring yang tadi diisinya dengan dua centong nasi dan seekor ikan.


 


Dijah duduk menyimak cerita Bara seharian itu. Briefing berdua saja bersama Heru, makan siang di luar dengan pengiklan dan mengomeli anak magang yang selalu bergerombol dan cekikikan.


 


Hampir pukul satu dini hari, Dijah sudah kembali berbaring menyusui Mima yang merengek dan mengambil ancang-ancang untuk menangis.


 


“Bangun ya? Mima kayak tau ayahnya baru pulang. Curi start,” ucap Bara yang baru keluar dari kamar mandi.


 


Dijah tersenyum. Melihat Bara dengan rambut basah pukul satu dini hari, membuat gelenyar aneh merambat dari otak menuju celah di antara kedua pahanya.


 


 


“Ngeliat apa ibunya Mima?” tanya Bara.


 


Dijah tertawa tertahan. Ia khawatir Mima malah bangun kalau ia berisik.


 


“Napa? Baru nyadar Mas ganteng?” tanya Bara lagi.


 


“Nggak juga sih, udah dari awal. Aku juga nggak buta. Makanya aku kesel, malu. Aku nggak suka cara Mas merhatiin aku. Kayak mau nelan aku,” ucap Dijah sambil mengusap-usap punggung Mima yang telah kembali tertidur. Ia membenarkan letak bra dan melirik mulut Mima yang setengah terbuka menggemaskan.


 


“Mas cuma penasaran, cantik-cantik tapi kok di—” Bara menangkupkan telapak tangannya di pipi Dijah.


 


“Aku kayak gembel ya waktu itu?” Dijah memegang tangan Bara yang masih tinggal di pipinya. Telapak tangan suaminya dingin karena baru saja selesai mandi. Ia menggeser tangan itu hingga menyentuh bibirnya. “Makasi karena udah peduli denganku. Udah nanya keadaanku, dan mau tau aku kenapa. Aku kira, Mas bakal mundur setelah aku kasari. Impianku nggak terlalu besar waktu itu. Aku cuma kepingin hidup tenang dengan Dul. Kepingin nyekolahin Dul dan membesarkan Dul dengan layak.” Dijah memandang lekat suaminya.


 


“Sekarang? Impian istri Mas apa?” tanya Bara.


 


“Aku kepingin bisa panjang umur, sehat-sehat, nemenin dan ngerawat Mas sampai tua. Ngeliat anak-anak tumbuh besar dan bahagia. Aku cuma mau jadi ibu rumah tangga. Jadi istrinya Bara Wirya Satyadarma juga jadi ibunya Dul dan Mima....”


 


“Pastinya...” sahut Bara. “Aku angkat Mima ke box ya... Aku mau gantian.” Bara bangkit meraih tubuh mungil putrinya. Mengangkat Mima dan mencium pipi bayi itu sebelum meletakkannya ke dalam box.


 


Dijah menumpukan kedua telapak tangannya di bawah pipi. Masih menghadap ke sisi di mana biasa Bara berbaring. Ia sedang menunggu suaminya kembali berbaring.


 


“Dulu, aku penasaran sama ibunya Mima, karena ketus banget. Kebanyakan diem, sekalinya ngomong, kadang ngeselin.” Bara nyengir kemudian menggeser letak berbaringnya. Ia sedikit bangkit menaikkan bantal dan merentangkan tangannya. “Sini,” ucap Bara menepuk lengannya.


 


Dijah bangkit dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Ia mengecup dada Bara dan menghirup aroma pengharum pakaian dari kaos yang baru diambil Bara dari lemari. Satu tangannya melingkari pinggang suaminya. Mendekatkan tubuhnya dan mendengar debaran lembut jantung pria yang telah memberinya seorang anak perempuan cantik.


 


“Aku bukan sengaja ketus ke orang. Aku anggap semua orang punya cara menyembuhkan dirinya masing-masing. Yang sering nyanyi kayak Boy dulu, Tini yang ngomel ke semua orang kalau diajak ngomong, Asti yang tidur sepanjang hari, atau Mak Robin yang gampang naik darah kalau ngomong dengan Tini.” Dijah tertawa pelan. Ia mengetatkan pelukannya dan merasa kalau bibir Bara baru saja mencium kepalanya.

__ADS_1


 


“Jadi, kami semua di kandang ayam, sudah terbiasa untuk diem aja kalau ada yang bikin aneh-aneh. Setidaknya kalau belum bisa bantu, ya kami cuma bisa diem aja. Itu hal paling sederhana yang bisa kami semua lakukan.”


 


“Buatku waktu itu, bagian tersulit jatuh hati sama kamu adalah berenti,” kata Bara.


 


“Ayah Mima udah bisa ngomong kayak gitu rupanya...” sahut Dijah.


 


“Bisa dong, bukan cuma pakde Heru aja.”


 


Dijah bisa merasakan tangan Bara turun dari punggungnya terus menelusuri sampai berhenti meremas lembut bokongnya.


 


“Gak nyesel ketemu aku?” tanya Dijah dalam bisikan. Darahnya sudah berdesir cepat menuju ke pusat bagian tubuhnya.


 


“Gak mungkin aku nyesel,” jawab Bara dalam suara parau.


 


Seperti sedang menggendong anak kecil, Bara menyelipkan tangannya di bawah lengan Dijah untuk mensejajarkan wajah mereka. Dijah sudah memejamkan mata saat jemari Bara perlahan mengusap bibirnya.


 


Ya benar, pikir Dijah. Sudah tiba masanya, ia dibahagiakan oleh seseorang yang bahagia memilikinya. Tiba masanya, ia membahagiakan seorang pria yang membuat hidupnya terasa amat dihargai.


 


Jika saja ia seorang janda cantik molek dengan latar keluarga terhormat dan silsilah jelas, tentu saja ia takkan mempertanyakan alasan Bara mendekatinya. Tapi ia hanya janda hasil perceraian, dengan mantan suami seorang narapidana. Juga latar belakang keluarga yang carut marut.


 


Di saat seluruh dunia terasa memusuhinya Bara datang dengan segala kenaifan, kebijaksanaan dan hasrat penuhnya sebagai seorang laki-laki.


 


Bara bukan hebat karena wajah gantengnya, bukan hebat karena pekerjaan dan kekayaannya.


 


Bagi Dijah, Bara hebat karena bisa menerimanya dan Dul. Serta mencintai mereka berdua seakan tanpa syarat.


 


Dan terutama, Bara selalu hebat dalam urusannya di ranjang.


 


Dijah memejamkan mata, menikmati kecupan Bara di telinganya. Tangan laki-laki itu sudah mengangkat daster dan menyibak penutup dadanya sejak tadi.


 


“Yuk,” bisik Bara pelan.


To Be Continued.....


 


 


Setelah ini masih ada versi Bara, juskelapa cuma minta like-nya aja.


Terima kasih :*


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2