
Menjelang pagi itu, Bara kembali mengusik Dijah dengan menciumi dan melontarkan tatapan mata yang gelap karena gairah.
Dijah membiarkan Bara bergumul dengan kenikmatan yang sedang direguknya melalui telusuran jemari. Sentuhan suaminya dengan cepat membuat gulungan kenikmatan menggenang di bagian pangkal pahanya. Sampai bibir Bara meredam rintihannya yang menembus langit pagi. Erangan mereka berbaur dengan ciuman bergairah.
Sekali lagi, dengan rambut masih acak-acakan dan wajah sembab karena baru terjaga, Bara menyalurkan hasratnya dengan semakin percaya diri. Nafasnya semakin cepat dan memburu. Bara mengerang dengan suara parau ketika kehangatan membuncah dari dalam dirinya. Ia memeluk ketat tubuh Dijah. Masih terlalu pagi, dan matanya kembali memejam.
Langit masih gelap saat Dijah merangkak turun dari ranjang. Ia baru saja melepaskan dirinya dari pelukan Bara. Badannya terasa lebih segar dan sakit kepalanya hilang. Buru-buru ia ke kamar mandi untuk mandi sebersih-bersihnya. Dijah curiga kalau keadaan fit di tubuhnya tak akan bertahan lama.
Mbok Jum telah berada di dapur dan Dijah menghampirinya dengan lilitan handuk di kepala. Mbok Jum hanya memandang sekilas ke kepala Dijah. Dalam pikirannya wanita tua itu paham-paham saja dengan rutinitas pasangan muda.
“Aku aja yang masak. Kamu baring aja lagi,” ujar Mbok Jum.
“Nggak enak baring terus sebenarnya. Udah biasa bergerak. Ini aku agak enakan, makanya harus buru-buru. Kuatir siang pusing lagi.” Dijah mengeluarkan bahan masakan yang sudah diracik Mbok Jum sebelumnya.
“Sarapannya apa Jah?” tanya Mbok Jum.
“Gak usah masak sarapan lagi Mbok. Sotonya yang untuk dibawa, disisain untuk di rumah juga. Mas Bara bisa makan pagi pake itu. Atau kalau mau roti juga masih ada,” sahut Dijah menaikkan sebuah penggorengan ke atas tungku.
Dari kejauhan terdengar suara pintu kamar depan dibuka kemudian ditutup lagi. Dijah menoleh ke arah depan untuk melihat suaminya yang mungkin sudah bangun.
“Mau sarapan sekarang?” tanya Dijah. Bara muncul telah rapi dengan jeans dan kaos oblong.
“Mau. Laper,” sahut Bara. Belum pukul 7 pagi tapi ia sudah kelaparan meminta nasi lengkap.
Dijah meletakkan semangkuk soto yang masih mengepul asapnya di hadapan Bara. Sambil menyendok nasi ke piring suaminya, Dijah bertanya, “Berangkatnya jam berapa?”
“Sebelum makan siang ya, biar makan siang bareng di sana.” Bara memeluk pinggang Dijah. “Udah enakan badannya?” Bara mencium pinggul Dijah yang berdiri di sisi kanannya.
“Pagi ini lebih seger. Gak tau siang gimana,” jawab Dijah.
“Apa mungkin karena kekuatan yang aku salurkan sejak kemarin malam?” tanya Bara disertai senyum jahil. Dijah mencibir seraya melirik Mbok Jum yang sedang menggoreng emping.
Empat macam masakan telah selesai dimasak Dijah dibantu Mbok Jum. Pukul 9 pagi, Dijah kembali masuk ke kamar mandi. Seperti dugaannya pagi tadi. Tubuhnya mulai kembali terasa meriang. Air hangat yang kembali diguyurkannya ke tubuh terasa seperti jarum kecil yang menusuk.
Seusai berpakaian, Dijah kembali merebahkan dirinya di ranjang. Wajahnya kembali layu. Perutnya yang tadi lapar kini terasa penuh dan begah.
Bara yang sejak tadi menunggunya di depan televisi, datang menghampiri ke kamar.
“Eh, kenapa?” tanya Bara ikut berbaring di sebelah isterinya. “Gak enak badan lagi?” Bara meletakkan punggung tangannya di dahi Dijah. Ia kemudian menempelkan pipinya berpindah-pindah di wajah Dijah.
“Aku meriang lagi,” sahut Dijah. “Aku baru ngerasain kayak gini.”
“Ya udah, kalo sakit gak usah ke rumah ibu hari ini. Aku telfon ibu dulu,” ujar Bara.
“Aku udah masak banyak,” jawab Dijah memeluk guling memejamkan matanya.
“Aku aja yang anter sebentar. Kamu di rumah,” kata Bara. Dijah membuka matanya.
“Trus Mas ngobrol sama perempuan itu di sana. Bercanda, trus dia ketawa manja sambil mukul-mukul Mas... Dorong-dorong badan Mas, nyolek-nyolek—”
“Ya ampun Jah, skenarionya kok lengkap banget. Aku nggak mikir sampe sana.”
“Sejak kapan laki-laki pake mikir dulu kalau mau kayak gitu.” Dijah melirik sinis suaminya.
__ADS_1
“Udah—aku udah minta ampun kemarin.” Bara memeluk Dijah dan menimpakan kepalanya di atas kepala isterinya itu. “Ibu hamil gak boleh marah-marah. Kasian calon bayinya. Kasian calon ayahnya juga.”
“Tergantung alasannya,” tegas Dijah. “Kita pergi. Sebentar lagi. Dul sedang siap-siap. Awas—kepalanya berat,” ucap Dijah menggoyangkan kepalanya. Bara beringsut masih memeluk istrinya.
“Jah,” panggil Bara.
“Hmmm—” Dijah masih memejamkan matanya.
“Aku hebat ya,” bisik Bara di telinga istrinya.
“Hmmm?” Dijah membuka matanya.
“Aku hebat. Kamu langsung hamil,” ulang Bara tersenyum-senyum genit sambil mengusap-usap pipi isterinya.
Dijah menyingkirkan guling yang memisahkan tubuhnya dengan Bara. Ia kemudian merapatkan tubuh untuk memeluk suaminya. Dijah menciumi leher dan sepanjang tenggorokan hingga dagu Bara. Pria itu memejamkan matanya dan mendengkur halus.
“Iya, Mas hebat. Enak,” ucap Dijah dengan lugasnya.
“Enak?” Bara membulatkan matanya. Dijah mengangguk. Bara semakin sumringah. Laki-laki mana yang tak bahagia. Sudah berhasil membuktikan keperkasaannya, ditambah pujian dirinya enak pula.
Tepat pukul 11 siang, Bara, Dijah dan Dul tiba di rumah kediaman Pak Wirya. Ada mobil Joana terparkir di depan rumah. Joana telah datang dengan segudang rasa percaya diri. Bara melirik Dijah yang sejak tadi diam. Istrinya tampak lesu dan tak sehat. Sepanjang perjalanan, Dijah menutup mulutnya dengan gumpalan tisu untuk meredam aroma pewangi mobil yang dinilainya sangat tajam.
Pertemuan itu harus elegan dan tak menyakitkan siapapun, pikir Bara. Sambil menggandeng lengan Dul, Dijah mengekori Bara yang masuk lebih dulu.
“Eh ini udah nyampe. Kok lama?” ucap Bu Yanti memandang Bara. Bara menunduk mencium kepala ibunya kemudian mengangkat bungkusan berat di tangannya. Dijah menyalim tangan ibu mertuanya dan menuntun Dul agar melakukan hal yang sama.
“Ini Joana juga baru nyampe. Ibu lagi ngobrol soal bahan yang kemarin.” Bu Yanti menoleh ke arah Joana.
“Hei Jo! Kirain gak jadi dateng...” ucap Bara. “Ini Dijah, istriku. Jah—Joana.” Bara memandang Dijah yang mengulurkan tangannya. Wajah Dijah biasa saja. Datar dan lesu.
“Bawa ke dapur kasi ke mbak Ami. Bilang ke dia langsung susun ke meja makan,” pinta Bu Yanti.
“Dul ikut Ayah ke belakang, main sama eyang. Ibu di sini dulu,” ujar Bara mengangguk pelan ke arah Dijah. Ia meminta istrinya tetap berada di ruang tamu itu. Dijah kemudian memilih sofa bermuatan dua orang yang kosong di sisi kanan ibu mertuanya.
“Untung Bara ngomong ke ibu kalau kamu masak banyak. Tadinya mau nambah lauk, karena ada tamu.” Bu Yanti menoleh pada Dijah.
“Iya Bu, Mas bilang di sini sampai makan malam. Jadi sekalian saya bawainnya banyak.” Dijah duduk menyerong menghadap mmertuanya
“Pasti masakannya enak. Aku iri sama perempuan yang jago masak,” ucap Joana memasang wajah cemberut menggemaskan. Bu Yanti tertawa.
Aku tak peduli pikir Dijah. Kau ikut kontes memasak tingkat dunia pun, aku tak peduli. Dijah hanya tersenyum melemparkan tatapan malas pada Joana.
“Bisa kursus, gampang. Dijah bisanya otodidak. Kebetulan Bara memang kurang suka makan di luar. Sesibuk apapun dari dulu, dia pasti ada makan di rumah. Sampai sekarang gitu kan Dijah?” tanya Bu Yanti pada menantunya.
“Iya Bu. Meski pulang larut malem, Mas pasti makan dulu baru bersih-bersih.” Dijah menoleh ke arah pintu tempat di mana Bara dan Dul menghilang tadi.
“Gitu ya dia ternyata. Aku pengen kursus masak tapi gak ada waktu. Gimana dong Bu?” rengek Joana pada Bu Yanti kemudian tertawa kecil. “Mbak Dijah di rumah aja?” tanya Joana.
Dijah mengangguk bosan ke arah Joana.
“Kalau aku belajar masaknya sama Mbak Dijah aja gimana?” tanya Joana bercanda.
Dijah meringis. Dia memilih menanami hutan kembali atau menyelamatkan spesies penyu langka dari pada harus berlama-lama bicara dengan perempuan bermulut palsu ini, pikir Dijah. Mengajari memasak pula.
__ADS_1
Bu Yanti menoleh ke arah Dijah menanti jawaban soal candaan Joana itu.
Tiba-tiba pintu depan yang terbuka diketuk. Wajah Heru dan istrinya menyembul dari luar.
“Udah rame aja...” ujar Heru. “Ayo masuk,” ajak Heru pada istrinya yang sedang menggandeng batita laki-laki. Keluarga kecil itu memberi salam pada Bu Yanti yang langsung mengangkat anak Heru ke pangkuannya.
“Udah lama nggak ketemu Uti kan?” sapa Bu Yanti pada bocah itu.
“Hei... Dijah...” sapa Fifi istri Heru. Wanita itu langsung menghempaskan tubuhnya di sebelah Dijah.
“Mbak Fifi...” sapa Dijah ketika wanita itu menariknya ke pelukan dan mengecup pipi kanan-kiri.
“Selamat ya, langsung isi. Gak perlu nunggu lama-lama kayak aku dan Heru. Pasti seneng banget. Mabuk nggak?” tanya Fifi. Dijah mengangguk.
“Udah hamil? Dijah udah hamil?” tanya Bu Yanti.
“Udah Bu Lek, Bara belum ngomong? Kok malah ngomong duluan ke Heru ya?” Fifi tertawa.
“Belum bilang, dasar anak itu...” sungut Bu Yanti. “Jadi? Mabuk?” tanya Bu Yanti.
“Iya, lemes banget. Jam 9 ke atas kayaknya mau tiduran aja,” ucap Dijah.
“Nah, sama kayak aku hamil ini. Mabuknya parah. Tapi dinikmati aja Jah... Manja-manja ke Bara. Semua-semua pasti diturutin.” Fifi tertawa. “Ya kan Bu Lek?” tanya Fifi ke Bu Yanti.
“Iya—iya, kalau mabuk sana ke belakang aja. Tadi udah makan? Ayo kita makan dulu. Lagi hamil jangan telat-telat makannya. Nanti selesai makan baring ke kamar Bara aja.” Bu Yanti berdiri dari duduknya.
“Gimana Bara tau kamu hamil?” tanya Bu Yanti dengan wajah serius. “Gak nangis?” raut Bu Yanti sedikit menyungging senyum.
Dijah tertawa. “Ibu tau...”
“Ya tau. Sentimentil. Pasti nangis terharu,” sambung Bu Yanti. Fifi dan Dijah tertawa. Joana melempar senyum menatap wanita-wanita keluarga Satyadarma yang sedang bertukar cerita.
“Ayo kita makan. Ayo Fi! Dijah masak banyak. Ayo Joana sekalian ikut makan,” ajak Bu Yanti.
“Aku permisi aja Bu, ada urusan lagi dari sini...” kata Joana. Dia tak mau tersiksa mendengar percakapan keluarga yang tak bisa disambungnya. Dia orang lain di sana. Bukan siapa-siapa. Sejak menyapa tadi, Bara bahkan belum kembali menampakkan diri. Laki-laki itu seperti tak mengenalnya sama sekali.
Joana sedikit mengerling pada Dijah yang sedang diwawancarai Fifi soal cerita menyadari awal kehamilannya kemarin. Fifi mengemas pembicaraan itu dengan baik. Bu Yanti ikut tekun mendengar percakapan Fifi dan Dijah yang terdengar sangat seru.
“Gimana?” tanya Heru mengintip dari gawang pintu tengah. Pandangannya tertuju pada wanita-wanita yang sedang berbicara di balik partisi kaca yang memisahkan ruangan.
“Sesuai rencana,” bisik Bara. “Pake skrip?” tanya Bara lagi mengintip ke ruang depan. Joana telah bangkit memakai tasnya dan berpamitan di pintu depan.
“Kalo cuma segitu aja, Fifi gak perlu pake skrip. Udah senior,” sahut Heru yang juga masih melongokkan kepalanya.
Bara telah meminta bantuan Heru untuk menyelesaikan pertemuan wanita-wanita itu. Seperti biasa, Heru selalu punya solusi. Kata Heru, percakapan santai keluarga akan membuat Joana lebih humble dan mengerti posisi pria yang tak mungkin diajaknya berteman dekat lagi.
Bara tersenyum puas melihat Joana pamit bahkan tak memanggil dirinya. Solusi dari kakak sepupunya itu tepat.
Siapa lagi yang mengerti tentang keluarganya, selain anggota keluarga itu sendiri.
To Be Continued.....
Jangan lupa dilike ya...
__ADS_1
Maafkan late updatenya. :*