
'Cause here I am
I'm giving all I can
But all you ever do is mess it up (all you ever do)
Yeah, I'm right here
I'm trying to make it clear
Getting half of you, just ain't enough
I'm not going to wait until you're done
Pretending you don't need anyone
I'm standing here naked
(Naked, naked)
I'm standing here naked
(Naked, naked)
I'm not going to try 'til you decide
You're ready to swallow all your pride
I'm standing here naked
(Naked, naked)
I'm standing here naked
(Naked, naked)
(Naked - James Arthur)
Lirik lagu itu sudah dua hari ini kembali terngiang-ngiang di telinga Bara. Sebelumnya, lirik lagu itu terngiang saat ia berkali-kali mencoba meyakinkan Dijah akan ketulusannya. Berkali-kali meyakinkan Dijah bahwa ia takkan mencoba hal penuh keintiman jika wanita itu tak siap.
__ADS_1
Tapi sekarang, ketika ia dan Dijah siap dan pantas sepenuhnya, ia malah masuk angin.
Laki-laki mana yang tak menantikan aktifitas ini pikir Bara. Sentuhan nakal yang merupakan efek sesudah memperoleh sertifikat halal.
Tubuhnya menggigil dalam temaram, tapi bukan karena demam. Pagutannya pada bibir manis dan hangat Dijah membangkitkan getaran sendiri seolah meredakan begah di perutnya.
Lain padang lain belalangnya, lain ranjang lain bunyi erangnya. Malam ini Bara tak perlu khawatir derit ranjang dan Tini yang sedang mengerang.
Dengan telinga yang ditajamkan, Bara bisa memastikan bahwa seluruh penghuni rumah sudah tertidur karena lelah. Oleh sebab itu, ia tak perlu khawatir kalau Dijah mendesah.
Ciumannya pada bibir Dijah seakan tak putus-putus. Bibir mereka hanya lepas sedetik untuk masing-masing mengambil nafas yang terburu-buru. Bara yakin kalau Dijah juga sangat merindukan kegiatan yang pernah mereka lakukan.
Perlahan ciuman Bara mulai berpindah-pindah. Dari bibir ke pipi, telinga, sampai Bara menarik istrinya agar sedikit menunduk untuk mengecup bahu mungil itu.
Satu tangan Bara terus menekan punggung Dijah dan menyusup ke balik pengait bra. Satu tangan lainnya mulai mencari tepi pakaian dalam Dijah dan terus turun hingga menyentuh bokong penuh yang sering dibayangkan Bara menunduk di depannya. Menunduk tanpa penutup lebih tepatnya.
“Buka ...” Suara Bara terdengar seperti dengkuran halus. Menarik satu tangan Dijah yang sedang mencengkeram kaosnya untuk terus turun membantu melepas pengait celana bahan berwarna putih gading yang masih dikenakannya.
Dengan mata yang setengah terpejam karena hanyut akan kecupan suaminya, Dijah berhasil melepas pengait celana dan jemarinya ikut menelusuri tepi pakaian dalam yang malam itu jelas takkan berguna. Bara melompat turun dari ranjang, meraup tubuh Dijah dan membaringkannya.
Bara menikahi Dijah bukan hanya untuk ini. Ia benar-benar simpati pada wanita itu. Dan sudah jelas, modal simpati saja tak cukup untuk seorang pria menikahi seorang wanita. Bara juga tertarik secara fisik.
Munafik sekali kalau ada pria yang tak memandang satu hal yang disukai dari tubuh wanitanya. Selain hati Dijah yang menyimpan kebaikan dan sisi unik. Bara menyukai lekukan tubuh wanita itu. Pinggangnya, pinggulnya dan dada Dijah yang penuh berisi.
Meski Dijah belum siap untuk mengandung anak mereka saat ini, setidaknya ia harus memberi kesan baik pada malam pertama. Dijah harus bebas dari traumanya. Dan juga ... ia harus perkasa.
Bara melepaskan kaos dan boxer yang dikenakannya. Tubuhnya polos di bawah lampu terang.
Dijah yang berbaring telah melahapnya dengan pandangan. Ia terkagum akan garis-garis maskulin yang membentuk sempurna di tiap bagian tubuh suaminya. Dijah terdiam seperti mematri gambaran tubuh Bara dalam benaknya. Suaminya itu bisa menjadi model pakaian dalam, pikirnya. Kemudian ia merasa wajahnya memanas dan malu akan hal kotor yang baru dibayangkannya.
Bara menunduk dan meraba bagian punggung Dijah dengan cepat. Ia sudah terburu-buru seperti biasa.
“Lampunya ...” erang Dijah ketika Bara telah meloloskan satu potong terakhir pakaian yang tersisa dari tubuhnya. Ia malu. Lampu itu begitu terang dan pandangan Bara yang mendamba membuatnya sedikit rikuh.
Bara menegakkan diri dan meraba saklar yang menempel di atas meja nakas. Tangannya memutar tombol ke kiri untuk lebih meredupkan lampu kuning temaram kamar itu.
Titik-titik keringat kecil menghias dahi Bara. Seuntai rambut turun dan nafasnya sedikit berat. Dijah memejam. Pikirannya terus menebak-nebak, ke mana gigitan lembut dan sesapan kecil Bara selanjutnya mendarat.
Tiap detik nafas hangat Bara terasa menghembus dari puncak dada kemudian turun ke ruas rusuknya dan Dijah melenting sejenak karena kecupan lembut mendarat di tengah perutnya. Begitu lembut dan ringan. Membuatnya gelisah sampai kedua tangannya mulai meraba dan mengacak rambut pria itu.
__ADS_1
Tubuh Dijah semakin gugup. Ia tahu ke mana tujuan Bara sebenarnya. Tangan Dijah meraba-raba lengan Bara yang mengetatkan pegangan pada lipatan kakinya. Ia tak tahan lagi. Tak bisa lebih lama. Ia ingin Bara segera menyatukan diri mereka. Ia rindu rasa itu.
“Mas ...” erang Dijah ketika membenamkan kuku-kukunya di lengan Bara.
“Hmmm ....” Bara menyahut. Pria itu mendongak menatap Dijah dengan sorot mata yang sama.
“Udah ... sini ...” ucap Dijah sedikit menarik lengan suaminya. Bara bangkit dan mulai merayap di atas tubuhnya.
“Sekarang?” tanya Bara. Pertanyaan basa basi yang tak membutuhkan jawaban. Karena pria itu sadar bahwa istrinya telah bersiap dari tadi. Bara ingin memainkan skenario eksplisit yang memenuhi benaknya sejak lama.
Bara merasakan pandangannya mengabur, dicengkeram kelembutan yang terasa sangat kencang dan halus. Ia tak berharap bisa menguasai dirinya saat itu. Bara menyerah pada gairah tidak terkendali yang selalu dirasakannya tiap ia berada di sisi Dijah.
Peluhnya semakin mengucur meski di bawah gempuran sepoi pendingin ruangan. Nafasnya terengah-engah. Dan erangan mereka berdua telah sama keras dan liarnya. Bagaimanapun Dijah masih begitu muda. Usia puncak untuk merasakan hal-hal sensual dengan mendebarkan. Bara mengetatkan pelukan di tubuh Dijah. Kali ini mereka akan melepaskannya bersama.
Kemolekan tubuh Bara sebagai seorang pria yang sering menyelinap ke dalam pikirannya saat merindukan pria itu. Yang begitu menyesakkan dan membuatnya begitu cepat menyerah.
Setelah beberapa waktu yang diusahakan pria itu, akhirnya ia mencapai titik tujuannya. Bara setengah menjatuhkan diri. Mengecupi pundak, leher, kepala, dan berdiam untuk menyesap bibir Dijah dengan peluh di dahinya.
Sekilas melihat suaminya itu, Dijah tahu kalau Bara tak perlu lagi menerima jasa kerokan tangannya.
“Istirahat sebentar,” ucap Bara dengan nafas terengah. Wajahnya meringis saat melepaskan dirinya.
“Istirahat sebentar?” gumam Dijah yang masih berada di bawah suaminya.
“Iya, aku mau lagi. Masih bisa, 'kan?” tanya Bara dengan sorot mata yang kini berubah menjadi nakal.
“Bisa ...” bisik Dijah. Bara masih mengungkungnya di dalam pelukan.
Setengah menunduk, Bara meraup sepasang dada yang mengusiknya sejak kali pertama ia lihat tanpa sengaja. Yang dulu meracuni pikirannya tiap menit saat memandang Dijah, meski wanita itu berpakaian sopan dan tertutup di depannya.
“Aku ulangi lagi ya ... Kali ini nggak buru-buru,” bisik Bara saat sedetik mengangkat lidahnya dari puncak dada Dijah yang kembali mengetat.
To Be Continued.....
Dari penulis :
Mohon tidak mengaitkan isi novel dengan satu agama tertentu karena ini merupakan novel umum, bukan religi. Mohon berkomentar sesuai isi novel. Hargai genre dan tema yang telah dipilih oleh tiap penulis.
Jika isi tidak sesuai dengan prinsip pribadi, silakan pilih bacaan lain. Kita semua adalah manusia dewasa yang punya pilihan dalam hidup. Dimohon untuk saling menghargai.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir di karya ini.
Terimakasih yang sudah mendukung juskelapa dengan segala ketulusannya. Mauliate Godang.