
“Bara mana?” tanya pak Wirya saat sudah duduk di meja makan bersama istri dan keluarga anak perempuannya.
“Tadi udah pulang, naik ke kamar tapi belum turun lagi,” ujar Sukma adik Bara yang memiliki selisih usia hanya dua tahun dari kakaknya.
“Apa perlu Ibu panggil?” tanya bu Yanti pada suaminya.
“Nggak usah, biarin aja. Mukanya lagi nggak enak dari kemarin. Apa ada masalah Bu?” tanya pak Wirya sambil menyendokkan nasinya ke piring.
Sukma ikut menatap ibunya turut menunggu jawaban. Bu Yanti memandang wajah anak dan suaminya bergantian.
“Pada nanya Ibu?” Bu Yanti balik bertanya. Ia memang merasa telah mengatakan suatu hal yang mungkin membuat hati Bara tak enak. Tapi dirinya sendiri tak yakin kalau memang itu satu-satunya penyebab wajah muram putra sulungnya.
“Kemarin ibu ada denger percakapan Bara dan Heru. Katanya kecelakaan yang lalu, bukan cuma sekedar kecelakaan biasa. Itu ulahnya mantan suami wanita yang dipacari Bara Yah...” tutur bu Yanti sembari sesekali melihat ke arah tangga. Ia khawatir Bara tiba-tiba turun dan mendengar bahwa mereka sedang membicarakannya.
“Ibu kasi tau Bara bahwa hubungannya nggak sehat. Terlalu beresiko. Ibu nggak setuju,” tambah Bu Yanti. “Tapi Bara meyakinkan ibu dengan wajah tenang kok. Ayah juga pasti tau Bara itu nggak pernah neko-neko dari dulu. Makanya Ibu khawatir kalau sampai dia terlibat macam-macam.”
Pak Wirya yang sudah mulai makan sejak istrinya berbicara tadi, hanya diam mencerna perkataan istrinya.
“Suamimu jam berapa jemput ke sini?” tanya Pak Wirya pada anak perempuannya.
“Masih ada meeting. Mungkin agak maleman baru ke sini. Hampir setiap malam pulang lama terus. Katanya belakangan memang kantor sedang ada masalah sejak audit pusat. Jadi seluruh keuangan diubek-ubek.” Sukma menyuapkan nasi ke mulut anaknya.
“Percaya sama suami kamu?” tanya Pak Wirya. “Bisa aja dia ngomongnya meeting tapi malah keluar bareng wanita lain.” Pak Wirya mengangkat alis memandang anaknya.
“Ah Ayah.. Ya percaya. Aku kenal mas Rico bukan baru seminggu,” cibir Sukma pada ayahnya.
“Nah Bu... Sukma itu ikatannya sama Rico ‘hanya’ sebuah pernikahan.” Pak Wirya memberi isyarat tanda kutip dengan kedua tangannya saat mengucapkan kata hanya.
“Sukma percaya sama suaminya. Suaminya gak bakal macam-macam di luar sana. Sudah tentu karena track record Rico selama ini juga bagus. Makanya Rico layak untuk dipercaya.” Pak Wirya menaikkan alis memandang isterinya.
“Bara itu anak kandung Ibu. Track record Bara selama ini juga bagus. Nggak pernah neko-neko seperti yang Ibu bilang tadi. Jadi mari kita percayai Bara dengan keputusannya. Bara sudah dewasa. Sejak dulu, kalau ada apa-apa , dia pasti ngomong kok. Gimana?” tanya pak Wirya pada istrinya.
“Tapi kayaknya Bara diem beberapa hari ini, bukan karena omongan Ibu,” tukas bu Yanti sedikit cemberut. “Bisa jadi ada masalah lain,” sambung wanita itu.
__ADS_1
“Bisa jadi udah diputusin mas Bara karena Ibu gak setuju,” tukas Sukma. “Kamu makan yang bener, sebentar lagi main.” Sukma membenarkan letak duduk dua orang anak laki-laki berusia 4 dan 3 tahun yang sedang gaduh saat disuapi makan malamnya.
“Hmmm....” Pak Wirya melirik istrinya saat mengambil gelas air putih.
“Kok pada gitu sih ke Ibu?” tanya Bu Yanti. “Jangan bikin Ibu ngerasa bersalah,” Rajuk Bu Yanti.
“Bukan karena Ibu kok...” Suara Bara tiba-tiba muncul masuk ke ruang makan. Orang-orang yang asyik bergunjing soal Bara di meja makan, seketika terdiam.
Pak Wirya mendongak menatap putra sulungnya yang menuju meja makan dengan senyuman. Senyum getir.
“Nggak apa-apa kok, aku nggak apa-apa. Kok jadi pada ngomongin aku.” Bara menarik sebuah kursi di sebelah ibunya.
“Jadi kenapa? Tesis?” tanya ibunya.
“Tesis udah selesai,” jawab Bara cepat.
“Jadi kenapa?” tanya Bu Yanti mengambil sebuah piring kosong dan meletakkan di depan putranya.
“Dijah gak mau lagi sama aku. Aku kejer dia malah makin gak mau. Tau gak alasannya apa?” Bara memandang ibunya.
“Apa emangnya?” tanya Bu Yanti. “Ibu kok jadi sedikit tersinggung. Anak Ibu ditolak.”
“Ngeledek,” sahut Bara.
“Enggak. Serius, emang kenapa?” desak Bu Yanti. Pak Wirya telah menyelesaikan makan malamnya dan bersandar ke kursi menatap Bara.
“Realistis,” gumam Pak Wirya.
“Jadi Mas? Mbak itu perempuan pertama yang nolak Mas-ku?” tanya Sukma terkekeh-kekeh.
“Ngeledek juga kamu. Umurnya baru 23 Ma...” sela Bara pada Sukma yang terkekeh geli melihat wajah merana kakaknya.
DRRRRRT
DRRRRRT
Ponsel Bara yang diletakkannya di atas meja buffet hias bergetar. Awalnya Bara mengabaikan getaran ponsel itu karena mengira itu hanyalah beberapa pesan masuk. Namun saat ponsel itu tak berhenti bergetar, ia segera berdiri untuk menjawab telepon.
“Ya Don?” tanya Bara pada Maradona wartawan yang menggantikannya nongkrong di Polsek.
“Mas Bara?? Wah kacau Mas!” seru Dona dari seberang telepon.
“Apa? Kenapa?”
“Itu si Dul. Mas bilang 'kan ajak jajan ke mini market seberang. Aku baru aja selesai bawa dia jajan. Sampe dua kantong plastik. Baru nyebrang dan nyampe depan rumahnya. Itu ada laki-laki yang baru dateng. Katanya itu bapaknya. Si Dul dipukul Mas! Jajanannya dibuang ke jalan sama bapaknya. Bapaknya teriak-teriak karena Dul nangis-nangis bilang itu jajanan dari om Bara. Bapaknya murka. Wah Mas... Aku harus gimana?”
“Sekarang si Dulnya mana? Lo tinggalin gitu aja?” tanya Bara kesal.
__ADS_1
“Dijewer dibawa masuk ke gang, pulang ke rumahnya. Jadi aku harus gimana ini? Lapor polisi aja atau gimana?” tanya Dona dengan nafas terengah-engah dan nada suara bingung.
“Berengsek!!” maki Bara. “Lo di sana aja. Lo liat ke mana laki-laki berengsek itu pergi. Dasar berengsek!” maki Bara lagi kemudian berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
“Ra! Mau ke mana?” tanya Bu Yanti yang sudah berdiri di depan pintu seolah ingin menghalangi anaknya pergi.
“Mau nyelesein masalah Bara Bu. Ini udah jadi masalah Bara juga sekarang. Semua karena Bara. Ada anak kecil yang jadi korban,” tukas Bara mengenakan sepatu yang dirasanya paling kokoh dan bersol paling tebal.
“Yah... Bara pergi dulu...” ujar Bara kemudian membuka pagar dan berlari masuk ke mobilnya.
Pak Wirya belum sempat mengatakan apa-apa pada Bara. Pria tua itu telah mendengar suara pagar rumah yang digeser dan mesin mobil yang menyala dan perlahan menjauh dari garasi.
Dul dipukul hanya karena berbelanja jajanan dari uangnya. Hatinya saja sakit sekali mendengar hal itu. Apalagi Dijah. Dengan emosi yang begitu memuncak di ubun-ubunnya, Bara melajukan mobil secepat kilat menuju rumah orang tua Dijah.
Kali ini, Fredy harus tahu bahwa dia bukanlah satu-satunya orang yang bisa menggunakan kekerasan.
Itu masih hari biasa, meski sudah menunjukkan pukul 9 malam, jalanan masih padat.
“Jam berapa kejadiannya?” tanya Bara pada Dona saat tiba di Polsek.
“Jam 7 malem tadi Mas,” ujar Dona.
“Kok lo telat banget bilang ke gua?” kesal Bara. “Sekarang mana laki-laki itu?”
“Udah pergi bareng temennya. Rame tadi Mas di rumah nenek si Dul. Aku telat ngasi tau karena ribut besar.”
“Terus?”
“Ibunya Dul dateng setelah bapaknya pergi.”
“Trus ibunya sekarang mana? Masih di rumah orang tuanya? Aku mau jelasin dulu ke sana anaknya dipukul karena aku.”
“Gak ada Mas, gak ada!” cegah Dona menarik lengan Bara yang sudah bergegas pergi menuju gang rumah orang tua Dijah.
“Lo yang bener dong!”
“Mas panik banget, aku ikutan panik. Itu ibunya Dul udah pergi setelah bapaknya pergi. Gak tau! Itu ibunya kayak marah, kayak nangis. Trus pergi. Kayaknya nyusulin bapak Dul. Gak tau ke mana.”
Bara menatap wajah Dona dengan dahi mengernyit. Dijah pasti menyusul Fredy. Ke mana? Ke markas mantan suaminya itukah?
To Be Continued.....
Makasi untuk segala kasih sayang yang udah dikasi ke enjuss ya.. makasi vote, like, komentar dan hadiahnya.
Malam nanti akan ada up lagi, ditunggu ya... :*
__ADS_1