
"Aku wegah pak... Aku moh, aku wedhi, ojo cedhakke aku, aku jijik, aku moh. (Aku nggak mau Pak... Aku nggak mau. Aku takut. Jangan kasi dia deket-deket aku. Aku jijik. Aku nggak mau)" Dijah mengguncang bahu Bapaknya yang duduk bersandar di dinding ruang tamu.
"Rabi karo sopo wae, kuwi podho, meh umur piro wae kuwi ora ono bedhone, kowe dikei ngerti ping kopang kaping kok ngeyel to, mengko kowe yo tresno dewe karo bojomu. (Kawin sama siapa aja itu sama. Mau umur berapa gak ada bedanya. Kamu bolak-balik dikasi pengertian kok susah. Nanti kamu juga cinta sama suamimu)" Bapak Dijah menghembuskan asap rokoknya terlihat kesal pada putri bungsunya yang terus-terusan menangis. Kebaya kebesaran yang dikenakan padanya sudah tak berbentuk lagi.
"Ibu tulungi aku Bu. Ibu ojo meneng wae to. Aku wegah Bu... Aku njaluk ngapuro. Ojo ngasi ndekne nyekel-nyekel aku. Ibu yo ojo meneng wae to Bu... (Ibu tolongin aku. Ibu jangan diem aja. Aku gak mau Bu... Pak... Aku minta ampun. Jangan kasi dia pegang-pegang aku. Ibu juga jangan diem aja...)" Dijah yang masih remaja menyatukan kedua telapak tangannya memohon ampun.
"Mengko nek kowe ws nduwe anak mesthi kowe tresno karo bojomu. (Nanti kalau kamu udah punya anak pasti cinta sama suamimu)" Bapak Dijah menepiskan tangannya yang sejak tadi diganduli oleh Dijah.
"Luwih bechik aku mati wae... (Mending aku mati aja...)" Dijah jatuh ke lantai dan kembali mengiba.
"Ngapain kamu di situ??!! Orangtuanya juga gak ngasi tau yang bener ke anaknya. Sini kamu!!"
Seorang laki-laki menarik tangan Dijah dan menghempaskannya ke pintu kamar.
BRAAAKKK!!
Dijah merasakan dahinya berdenyut karena menghantam pintu kamar.
"Aduuuh..." rintih Dijah di dalam mimpinya. "Sakit..." rintih Dijah lagi.
"Jah! Jah! Dijah!!" teriak Tini dari kamar sebelah.
"YAA?? Kamu Tin?" Dijah tersentak dan duduk di ranjangnya.
"Iya! Aku! Tini Suketi! Memangnya ada orang lain lagi yang telinganya setajam aku? Kamu mimpi apa? Kok ngomong sakit?" teriak Tini dari kamar sebelah.
Dijah melirik jam yang tergantung di seberangnya. Pukul lima pagi. Baru beberapa jam Bara pulang dari tempatnya, mimpi buruk itu datang lagi.
Dijah menyeka keringat dengan tepi leher dasternya. Ia belum sempat membeli kipas angin baru sebagai pengganti kipas rusaknya itu.
"Mimpi gak enak," ujar Dijah.
"Aku denger mas-mu pulang. Kok gak nginep? Tumben!" tukas Tini dari ranjangnya.
"Gak apa-apa. Dia lagi sakit, bagusnya istirahat di rumah." Dijah telentang memandang asbes kamarnya yang berlubang-lubang. Pikirannya melayang pada pelukan hangat Bara sesaat yang lalu.
Haruskah ia mencari Fredy dan menanyakannya langsung pada pria gila itu?
***
Selama seminggu ke depan, Bara hanya menelepon Dijah untuk bertukar kabar. Pria itu berhasil diyakinkan Dijah beristirahat agar cepat sembuh dari luka-lukanya.
Selama itu juga, meski Bara benar-benar merindukan Dijah, ia mulai mendapatkan titik terang soal preman yang melakukan penyerangan terhadap ia dan kantornya.
__ADS_1
"Mas, aku mau ngobrol sebentar bisa?" tanya Bara yang menyongsong kedatangan Heru pagi itu di kantor.
"Bisa--bisa, ayo" sahut Heru lanjut berjalan melewati meja kerja Bara menuju ke ruangannya.
"Maaf Mas, ini urusan pribadi. Tapi aku perlu konsultasi." Bara menarik kursi di hadapan Heru.
"Gimana? Apa itu?" Heru menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kaki.
"Mantan suami Dijah Mas... Kayaknya sebentar lagi Fredy bisa diseret untuk kasus narkoba. Untuk kejadian yang lalu, aku mau buat laporan sesuai pembicaraan kita kemarin, tapi suaminya tetap gak kena. Aku udah ngobrol juga ama pengacara yang mewakili kantor, katanya yang dituntut hanya pasal pengrusakan properti. Sedangkan tuntutanku terpisah, jatuhnya malah ke pasal pencurian dengan kekerasan. Aku jadi males masukin laporannya, buang-buang waktu." Bara menghela nafasnya dan kembali bersandar.
"Yang kamu foto dari file Pak Santo gimana?" tanya Heru.
"Aku gak bisa masuk ke daerah itu. Aku kuatir preman temen-temennya si Fredy itu udah kenal mukaku, entar yang dicari malah kabur. Tapi kemarin mas Heryadi ngajakin aku, asik juga ternyata..." Bara nyengir memandang Heru.
Mengikuti petugas polisi yang berpakaian layaknya preman mengubek-ubek tiap gang kecil mencari kaki tangan kurir narkoba ternyata menimbulkan keasyikan tersendiri bagi Bara.
"Kamu fokus ke masalah kamu aja Ra, gak usah sering-sering ngikutin mas Heryadi. Itu emang udah kerjaan dia. Pasti beres. Dia pasti ngabarin kamu," tegas Heru memastikan.
"Iya, tapi aku emang pengen ikut ngeliput kalo mas Heryadi grebek si Fredy. Aku mau liat mukanya," dengus Bara.
"Pikirin soal diri kamu juga Ra... Hati-hati," ujar Heru memandang lekat wajah Bara.
Beberapa hari yang lalu Heru memberi kontak seorang Polisi yang bernama Heryadi seorang Kasat Restik yang baru saja promosi. Dia adalah senior Heru di kampus hukum yang telah menjadi seorang abdi negara.
Pengintaian di daerah pelabuhan sudah dilakukan selama tiga hari. Hanya empat orang pria yang bisa diseret karena laporan pengrusakan kantor karena wajahnya tertangkap cctv. Selebihnya, preman-preman itu raib seperti ditelan bumi.
Hal itu adalah perkara yang serius bagi Heru. Namun Bara yang sangat kasmaran tampaknya tak mengindahkan soal keselamatannya sendiri.
Beberapa hari ini Bara malah sibuk menempeli AKBP Heryadi yang sepertinya sebentar lagi akan mendapat tangkapan besar. Sebuah pabrik narkoba yang mereka curigai diakomodir oleh Fredy.
Sudah hampir sepuluh hari Bara hanya bisa menghubungi Dijah melalui sambungan telepon. Dan seharian ini, dari dua puluh kali menelepon Dijah, wanita itu hanya menjawabnya dua kali saja. Bara sedikit gemas. Apalagi jawaban Dijah terdengar pendek-pendek.
Malam itu, hampir pukul 10 malam saat ia tiba di teras rumahnya. Bara kembali mencoba menelepon Dijah dan beruntung wanita itu langsung menjawabnya.
Bara masuk ke ruang tamu dan menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa tunggal yang menghadap ke arah pintu masuk.
"Kamu ke mana aja sih? Aku telfon jarang banget dijawab," ujar Bara dengan nada sendu. Dijah tak langsung memberikan jawaban. Wanita itu hanya menghela nafas di seberang telepon.
"Jah... Aku kangen. Kamu ke mana aja? Aku belakangan sibuk liputan di luar. Dul apa kabar? Udah ada jengukin Dul? Kalo jengukin Dul kita bareng ya..."
"Iya..." jawab Dijah singkat dari seberang.
"Minggu depan ke rumah aku yuk," ajak Bara. "Minggu lalu udah gak jadi, mau 'kan?" tanya Bara lagi. Ia merasakan Dijah seperti kehilangan antusias terhadap teleponnya.
__ADS_1
Bara ingin mendatangi Dijah secepatnya, tapi sekarang ia harus memusatkan perhatiannya pada penyelidikan AKBP Heryadi. Menemui polisi itu pun tak mudah, Bara yang masih tergolong junior dibanding Heru, harus belajar banyak kali ini.
Heryadi adalah sosok yang ramah dan selalu mau berbagi informasi akan perkembangan penyelidikannya pada Bara. Masalahnya adalah, waktu polisi itu sangat padat. Bara terkadang harus berjam-jam berada di Polrestabes untuk menyela kesenggangan waktu AKBP Heryadi.
"Minggu depan aku gak bisa, ibuku minta temenin berobat. Nanti kalau ada perubahan rencana aku kabari," sahut Dijah.
Bara cemberut. Dua minggu yang lalu Dijah padahal tak sesulit ini ketika diajak.
"Ya udah, aku tunggu sampe kamu gak sibuk. Ibu kamu gak sakit parah 'kan? Atau perlu bareng-bareng aja bawanya ke rumah sakit? Aku bisa anterin," ujar Bara.
"Nggak usah, nggak sakit yang gimana-gimana. Cuma terapi aja. Nanti aku kabari kamu kalau udah bisa," sahut Dijah.
"Eh Jah... Mas Heru nelfon. Aku tutup dulu, kayaknya penting. Nanti aku hubungi lagi, jangan tidur dulu ya..."
Bara kemudian mengakhiri percakapannya bersama Dijah dan menjawab telepon Heru.
"Ya Mas?" sahut Heru.
"Aku iseng-iseng telfon Mas Heryadi tadi. Katanya kamu harus sabar, karena Fredy itu licin banget. Titik peredaran narkobanya memang dari daerah pelabuhan. Tapi pabriknya belum bisa dipastikan. Kamu gak usah ikut-ikutan ngintai ya. Kamu pisahkan perasaan sentimen pribadi ke Fredy. Kamu gak takut apa diserang lagi ama preman-preman yang gak takut dibui itu?" Heru merasa perlu mengingatkan Bara. Ia tak mau adik Bara kembali terluka karena obsesinya menangkap Fredy.
"Iya Mas, iya... Aku 'kan gak nyangka kalo mantan suami Dijah beraninya keroyokan gitu. Aneh bener kelakuannya. Dijah itu mantan istrinya. Dia gak punya hak untuk ngelarang Dijah deket ama siapapun. Mana sukanya main tangan meski bukan siapa-siapa lagi. Mimpi apa Dijah bisa ketemu dengan orang kayak dia." Bara menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap lampu hias kristal besar yang menggantung di atas ruang tamu.
"Pokoknya kamu udah janji ke aku untuk gak dateng ke rumah orang tua Dijah untuk sementara ini sampai kasus kamu dibereskan. Please Ra, jangan gegabah. Dijah juga nggak boleh tau. Laki-laki yang mau kamu jebloskan ke penjara itu tetap ayah anaknya. Berita besar soal Fredy nantinya akan naik dan didengar banyak orang. Kamu yang menuliskan berita itu. Setelah menjebloskan Fredy ke penjara, kamu langsung nikahi mantan istrinya. Itu bukan berita yang baik. Jadi jangan gegabah. Dengerin aku," ujar Heru lagi.
Bara terdiam mencerna perkataan Heru yang terdengar sangat benar di telinganya.
"Jadi kamu luka-luka kemarin karena dikeroyok suruhannya mantan suami pacar kamu Ra?" Suara bu Yanti tiba-tiba terdengar dari belakang Bara.
Bara melebarkan matanya. "Mas... Nanti aku telepon lagi. Ibu denger omongan kita kayaknya," bisik Bara pada Heru kemudian mematikan teleponnya.
"Jawab ibu Ra," pinta bu Yanti berjalan mendekati anaknya.
"Cuma insiden kecil aja Bu, aku pernah mukulin mantan suaminya itu di depan rumah orangtuanya Dijah. Mungkin dia dendam ke aku," ujar Bara menegakkan duduknya karena bu Yanti kini menduduki sofa sebelahnya.
"Hubungan kamu itu gak sehat Bara... Gak normal. Terlalu beresiko, jujur ibu kurang setuju. Bukan ibu mau mencampuri urusan pribadi kamu. Tapi sebagai orang tua, ibu harus memberi pendapat. Dan pendapat ibu, kayaknya ibu gak setuju kamu terusin hubungan kamu itu." Bu Yanti duduk tegak melipat tangannya di atas pangkuan. Matanya menatap lurus pada putra sulung yang dirasanya sangat berharga.
Bara selalu menjadi anak baik. Sejak remaja, Bara tak pernah melakukan sesuatu yang meresahkan pikirannya sebagai orang tua. Bu Yanti beranggapan bahwa Bara pantas mendapat seseorang yang lebih baik lagi.
"Terlepas dari apapun pilihan kamu, ibu rasa kamu harusnya nggak perlu sampai sejauh itu mencampuri urusan pacar kamu. Dia belum jadi siapa-siapa kamu Ra... Kamu masih punya urusan dan tanggungjawab soal pendidikan kamu ke ayah dan ibu. Boleh ibu tagih janji kamu lagi untuk cepat-cepat menyelesaikan S2?" tanya bu Yanti pada Bara yang membalas tatapan ibunya dengan wajah kaku.
"Bulan depan aku sidang Bu, akhir bulan depan aku magister. Aku udah penuhi janjiku. Tapi aku juga minta, jangan mengadili Dijah sebelum ibu kenal dia. Dia udah cukup menderita dengan penghakiman orang-orang. Dijah gak tau kalo aku luka karena mantan suaminya. Dijah gak salah Bu. Kasi aku waktu untuk buktiin ke ayah, buktiin ke Ibu, kalo pilihanku gak salah." Bara mencondongkan tubuhnya untuk menggenggam tangan Bu Yanti.
"Aku sayang Ibu. Aku juga pasti mau ngasi Ibu menantu yang baik. Bukan yang asal-asalan. Jadi Ibu percaya aku ya..." sambung Bara lagi.
__ADS_1
Bu Yanti hanya menunduk memandang tangan putra sulungnya yang gagah dan selalu optimis itu sedang menggenggam erat tangannya.
To Be Continued.....