PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
141. Guratan Gaduh


__ADS_3

Saat kembali ke kamar sesaat yang lalu dan menjelajahi tiap laci serta sudut kamar suaminya dari kecil hingga melepas masa lajang, menimbulkan keasyikan tersendiri bagi Dijah. Ia menjadi semakin mengenal Bara. Proses pacaran mereka tidak lama. Bahkan terkesan cepat dan terburu-buru.


Tapi, karena itulah Dijah semakin mencintainya. Bara tak perlu waktu lama untuk mengetahui soal perasaannya sendiri.


Bara memang tak romantis. Kata-katanya malah terkadang lebih terdengar seperti omelan dan rengekan.


“Jangan begini Jah…. Jangan begitu Jah…. Aku mau begini, aku mau begitu.” Terdengar manja. Namun karena hal itu pula Dijah mengerti apa yang harus dilakukannya.


Meski pernah berumah tangga sebelumnya, tapi bagi Dijah, Bara adalah sosok kepala rumah tangga yang pertama dikenalnya. Tempatnya bermanja, dan memanjakan.


Bara memang tak pernah bisa sabar menunggu. Sejak awal saling mengenal, Bara selalu terburu-buru. Laki-laki itu tak pernah membiarkannya diam terlalu lama. Bara selalu menyibukkannya.


Dijah merasakan kenikmatan yang tak tergambarkan, menyebar ke seluruh tubuhnya, membuatnya bergetar dan menggeliat tak berdaya. Dijah menegangkan tubuh. Melengkung ke dalam pelukan suaminya.


Di telinga Bara, tak pernah ada suara yang lebih menggairahkan dari pada teriakan kepuasan Dijah. Bara menyukai Dijah seperti itu. Tatapan mata Dijah setengah memohon. Tubuhnya menggeliat gelisah mempertontonkan sepasang dada yang semakin mengembang sempurna.


Bara tak tahan lagi. Ia menyelubungi dirinya dalam kelembutan. “Dijah,” bisik Bara sambil memejamkan matanya. Ia meresapi sensasi yang begitu damai saat tubuh Dijah yang hangat menyelubunginya, memeluknya. Ia bergerak perlahan, menciptakan jarak aman bagi bayi mereka dengan menopang berat tubuhnya.


Kemudian, sedikit lebih keras, sedikit lebih cepat. Dijah mulai mengeluarkan suara desahan yang sensual, seirama dengan setiap hunjamannya. Hal itu membuat gerakan Bara semakin tak sabar. Ia merasakan kuku-kuku Dijah membenam di kedua sisi lengannya. Hingga tubuhnya berteriak meminta pelepasan.


Tapi Bara menginginkan mereka kembali melepaskannya bersama seperti biasa. Bara kembali menyentuh istrinya. Dan mata wanita itu langsung terbuka menatap. Persis seperti dengan apa yang diinginkannya, Dijah berteriak dan menegang di sekeliling dirinya dalam gelombang hangat. Menariknya lebih dalam, menariknya lebih dekat.


Bara mengatupkan rahangnya dengan kuat, meredam teriakan kepuasannya sendiri. Pelepasan yang sangat kuat. Dijah ikut menegang dan menahan dirinya di dalam sana. Istrinya kemudian terkulai. Dan ia segera menghadiahi banyak ciuman dan gigitan di dada wanita yang sebentar lagi akan memberinya seorang putri itu.

__ADS_1


*****


Pagi hari, Dijah bangun terlambat. Ia berhasil bangkit dari ranjang mereka yang kusut. Malam tadi ia hanya tidur dengan selembar daster tanpa dalaman sama sekali. Bara membungkusnya dengan selimut dan memeluknya sepanjang malam. Suara shower menyala terdengar dari kamar mandi.


Bara telah bangun lebih dulu darinya dan langsung ke kamar mandi. Bangun lebih dulu, tapi tidak lebih pagi. Langit sudah terang tapi tirai kamar mereka masih menutup. Sejenak ia duduk di tepi ranjang dan meraih remote AC untuk mematikannya.


Dijah mengamati dirinya di cermin setelah ia menyalakan lampu kamar dan mematikan lampu tidur. Dengan satu tarikan ke atas, Dijah telah meloloskan dasternya. Pandangannya meneliti tiap sudut tubuhnya sendiri melalui pantulan kaca besar setinggi tubuh. Ia menemukan bekas-bekas tanda Bara di tubuhnya. Jarinya menyentuh memar berwarna kemerahan di dekat bagian atas puncak dada kanannya. Ia kemudian menemukan tanda keunguan lain tepat di bawah puncak dada kirinya.


Semakin bertambah usia kehamilannya, Bara semakin menjadi pikirnya. Suaminya itu seperti tak pernah puas hanya dengan mengecup dadanya. Dijah menangkup kedua dadanya. Lingkaran puncaknya sudah semakin menggelap. Dan bagian puncak itu sekarang sudah terlihat benar-benar bisa digunakan untuk menyusui bayi. Bara sudah sering memastikan hal itu.


Tangan Dijah bergeser ke bagian dadanya yang lain. Bara melukainya di sini—di sini dan—di sini. Pagi itu ia melihat tanda-tanda itu tanpa jejak rasa malu, makian pada diri sendiri atau ketakutan. Tanda-tanda itu berbeda. Bara meninggalkan tanda karena sebuah gairah. Bukan amarah.


Dijah lalu meraba leher tempat biasa ia melihat bekas guratan kuku Fredy yang mencekiknya. Kemudian perlahan tangannya menyentuh pipi yang kini sering menerima ciuman dan belaian. Dijah tersenyum.


Bara mengubah hidupnya, laki-laki manja dan penuntut yang tak pernah pandai berbohong, yang tak akan membiarkannya terluka, yang pernah membahayakan nyawa demi melindungi nyawanya.


Bersama Bara, setidaknya ia merasa aman. Dan bukan hanya sekedar aman, tetapi juga dicintai. Bara yang tidak sabaran itu, berhasil menguasai ruang ingatannya.


Bara terlihat santai. Berdiri dengan satu bahu di rangka pintu kamar mandi. Menatap tubuh istrinya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Berdiam pada tonjolan-tonjolan menggemaskan di tubuh Dijah yang berdiri telanjang menghadap cermin. Dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya ia berjalan mendekati wanita itu.


Masa kebersamaan mereka baru setahun. Terhitung dari sejak pertama kali mereka bertemu. Tapi Dijah masih sering berlaku kikuk padanya. Istrinya itu tak pernah meminta uang. Seringnya ia mengisi dompet istrinya tanpa bertanya lebih dulu. Bara selalu memberikan lebih. Tapi mungkin kalau ia memberi Dijah hanya sedikit, ia yakin istrinya akan diam saja. Untuk membeli pakaian pun begitu.


Dijah pernah mendatanginya satu kali di malam hari dan mengadukan soal pakaian dalamnya yang sudah semakin terasa sempit. Saat itu ia merasa bersalah. Kesibukannya bekerja membuatnya lalai bertanya. Dijah setiap hari bertanya soal apa yang dibutuhkannya. Menyiapkan ini itu, namun ia sendiri lalai bertanya apa yang dibutuhkan anak istrinya.

__ADS_1


Dijah akan melahirkan anak keduanya di usia 24 tahun. Anak sulungnya sudah berumur 6 tahun dan duduk di bangku kelas satu SD. Namun bagi Bara, Dijah adalah sosok wanita yang manja dan kekanakan saat bersamanya. Hal itu membuatnya merasa jadi laki-laki paling sempurna.


“Ngeliatin apa? Tanda-tanda cinta dari Mas?” tanya Bara mendekati tubuh Dijah dan memeluknya dari belakang. Sebelah tangannya menangkup sepasang dada dan sebelah lagi mengusap lembut perut istrinya.


“Banyak banget ini,” ucap Dijah menatap pantulan memar yang menebar di tiap sudut dadanya.


“Gemes,” sahut Bara meremas pelan dada istrinya.


“Mas,” panggil Dijah.


“Hmmm,” sahut Bara memandang Dijah melalui cermin.


“Aku cinta Mas Bara,” ucap Dijah. Bara terlihat sedikit heran dengan sikap Dijah yang mendadak melankolis.


“Mas juga cinta kamu Dijah….” Mereka berdua saling menatap lewat cermin. “Kamu mau lagi?” tanya Bara menurunkan usapan tangannya dari perut Dijah hingga terus melorot ke bawah.


Dijah membalas senyuman Bara melalui cermin. Ia kemudian membalikkan tubuh dan langsung berjinjit untuk berbisik di telinga suaminya. “Enggak. Aku mau mandi. Ngeringin rambut pasti lama karena nggak ada hair dryer.” Dijah menarik handuk Bara dan membawanya ke kamar mandi.


Bara tak sempat menangkap kecepatan tangan istrinya. “Astagaaa….” Bara berjengit terkejut melihat tampilan polosnya di depan cermin. “Kayaknya aku juga makin nambah ukurannya,” lirih Bara seraya berkacak pinggang.


To Be Continued.....


Lanjutan yang tertunda :D

__ADS_1


Jangan lupa dilike untuk mendukung Mas yang merasa nambah ukuran XD


__ADS_2