
“Ibu lama …” rengek Mima pada Bu Yanti. “Ayah gak kasi ikut masuk.” Mulutnya sudah mengerucut sejak tadi.
“Sebentar lagi, ayah ibu Mima keluar ruangan bawa adik bayi. Mau nggak?” tanya Bu Yanti membujuk Mima yang uring-uringan karena tak diajak masuk ke ruang operasi.
“Gak mau.” Mima sepertinya konsisten mencemburui adik laki-lakinya mulai sejak dalam kandungan.
“Gimana ini, Kung? Mima nggak mau sama adiknya. Apa adiknya nanti kita bawa pulang aja?” tanya Bu Yanti pada Pak Wirya yang duduk di seberangnya bersama Dul.
“Ya … mau gimana lagi, nanti kita bawa pulang aja.” Pak Wirya tersenyum menatap Mima yang menekuk wajah memandangi kuku-kukunya.
“Oke,” jawab Bu Yanti menoleh pada Mima. “Denger apa kata Akung? Nanti adiknya Uti dan Akung bawa pulang aja. Uti seneng ada temen baru.”
“Jangan …” sahut Mima mendongak. “Itu adik aku, nggak boleh dibawa.”
“Hmmm—” gumam Bu Yanti.
“Ini masih ada jajanannya. Makan ini dulu—” Dul berdiri mengangsurkan plastik berisi jajanan yang tadi dibekalkan ayah mereka untuk menunggu. Mima mengambil plastik itu namun hanya memangkunya.
Mima memakai terusan kaos selutut bercorak bunga kecil-kecil dan sepasang sandal bertali warna putih. Rambut sebahunya terikat tinggi di belakang. Sebelum berangkat ke rumah sakit dari kediaman Pak Wirya, Bu Yanti yang mendandani gadis cilik itu. Mima benar-benar selalu bertambah lagaknya kalau bertemu Akung dan Uti-nya.
Menasehati Bara dan Dijah untuk tak terlalu memanjakan anak, ternyata tidak diterapkan Bu Yanti pada cucunya. Meski dalam hal-hal peraturan, wanita itu tergolong ketat, tapi caranya memanjakan Mima terlihat menonjol dalam hal membeli pernak-pernik anak perempuan. Dalam minggu itu saja, Mima baru dibelikan setelan princess kartun kesayangannya.
Mima yang belum mendapatkan keinginannya dari sang ayah, ternyata bisa memperoleh hal itu dengan mudah. Ia hanya perlu sedikit mengeluh pada Uti-nya.
Pintu ruang operasi terbuka dan kepala empat orang yang sedang menunggu di luar seketika menoleh. Bara keluar dengan senyum mengembang.
“Udah lahir! Adik Mima dan Mas Dul, ganteng dan sehat!” seru Bara menghampiri Mima dan menggendong bocah perempuan itu. “Nanti dipanggil ‘Mbak Mima’ mau, ‘kan?” Bara lagi-lagi menciumi Mima karena perasaan bahagianya.
“Boleh liat? Di mana?” tanya Mima mengalungkan tangannya di leher Bara.
“Boleh, tapi sebentar lagi ya … adik dan ibu masih siap-siap buat ketemu kita semua.” Bara duduk di sebelah Bu Yanti masih memangku putrinya.
“Mima rewel gak Mas?” tanya Bara pada Dul.
“Jangan ditanya kalo itu,” sahut Dul sedikit mendengus pada adiknya.
Bara tertawa kemudian mengeratkan pelukannya pada Mima. “Iya? Kata Mas kamu rewel. Gimana udah punya adik tapi rewel gitu?” tanya Bara pada putrinya.
“Adiknya bakal Uti bawa pulang kalau rewel terus,” sahut Bu Yanti.
“Enggak—enggak, nggak rewel tadi. Cuma segini aja rewelnya,” ucap Mima menunjukkan ujung jarinya.
Semua yang berada di sana terkekeh melihat wajah khawatir Mima yang merasa terancam adiknya bakal diambil.
*****
Hari ketiga di rumah sakit. Seperti kelahiran anak sebelumnya, Bara mendapat hak cuti dua hari dari kantornya. Peraturan UU Ketenagakerjaan itu dirasa Bara tak cukup mengingat pengalaman kelahiran Mima sebelumnya. Bayi perempuan yang doyan bergadang itu, sangat menguras tenaga Bara di awal masa menjadi ayah baru.
Dan sekarang, Bara menilai dirinya sudah cukup berpengalaman menjaga bayi baru lahir. Namun meski begitu, kejadian-kejadian di luar dugaan selalu saja bisa terjadi untuk menambah pengalaman seseorang. Misalnya ….
“Aku mau dipangku ibu. Ibu udah lama nggak pangku aku,” ucap Mima dari tepi ranjang yang ditiduri Dijah. Wajahnya memelas mendramatisir keadaan.
“Kemarin perut ibu besar ada adiknya. Sekarang masih sakit. Adiknya juga mau nyusu. Mima kok gitu? Ibu jadi sedih,” sahut Dijah dengan wajah sama memelasnya. Dua orang wanita itu seperti sedang memainkan drama menyayat hati.
“Aku juga mau tidur di sebelah ibu,” ucap Mima lagi.
“Ya Gusti …” gumam Dijah yang belakangan sudah tertular mertua perempuannya. Ia sedang menyusui bayinya dengan tirai yang menutup sekeliling ranjang.
Bara sedang di luar bersama Bu Yanti dan Pak Wirya yang baru saja datang dari menjemput Dul pulang sekolah. Tatapan memelas dan menggemaskan Mima, seperti teror buatnya. Ia perlu bantuan Bara segera.
__ADS_1
“Untung aku tetap yang paling cantik,” ucap Mima lagi.
“Ya iya, Mima tetap paling cantik. Nggak ada saingan,” jawab Dijah dengan pemandangan mengawasi bayi laki-laki yang sedang minum dengan lahapnya.
“Bu!” panggil Mima.
“Ya Nak …” sahut Dijah kembali menoleh pada Mima. Bocah itu terlihat kesal karena merasa omongannya tak dipedulikan. Ia merasa ibu yang setiap hari memeluknya sampai tertidur, sekarang sudah membagi perhatian.
“Aku nggak mau dipanggil ‘Mbak’,” ucap Mima lagi.
“Astaga …” gumam Dijah yang sekarang meniru ciri khas suaminya. “Ayah mana? Nampaknya ibu butuh bantuan. Di luar ada Akung dan Uti lho … ada Mas Dul juga,” kata Dijah untuk mengalihkan perhatian putrinya.
“Siapa yang butuh bantuan Ayah?” tanya Bara saat masuk menyibak tirai. “Baru tiga hari punya bayi lagi, udah butuh bantuan Mas?” tanya Bara tertawa. Ia sudah paham apa yang dikeluhkan Dijah barusan saat melihat raut memelas Mima.
Bara mendekati sisi ranjang tempat di mana Mima duduk dengan kedua kakinya menggantung. Ia langsung meraih punggung mungil putrinya ke dalam pelukan. Dan Mima yang masih mengasihani diri sendiri, langsung membalas pelukan itu.
“Ganteng ya …” ucap Bara. “Ayah semakin banyak saingan,” sambungnya lagi.
“Buat ibunya, tetep ayahnya kok yang paling ganteng.” Dijah meringis melontarkan tatapan pada Bara.
“Pujian ibunya cukup menghibur sebagai modal sebulan ke depan.” Bara nyengir. “Lahap minumnya?” tanya Bara menoleh wajah bayi yang sudah setengah memejam.
“Lahap banget malah. Beda dengan Mima dulu,” jawab Dijah.
“Namanya laki-laki …” sahut bara terkekeh. “Naluri.”
Dijah mencibir mendengar jawaban suaminya.
“Ayah pengen cium Ibu boleh?” tanya Bara menunduk memandang wajah Mima yang sedang menatap adik laki-lakinya. “Segini aja,” ucap Bara menunjukkan ujung jarinya pada Mima.
Mima mengangguk pelan dan Bara tertawa seraya menunduk untuk mencium pipi Dijah.
Dijah mengangguk. Air matanya sudah menggenang karena rasa haru. Semakin bertambah anak, ia merasa semakin cengeng dan mudah menangis untuk hal-hal kecil. Melihat Mima tampil menari di pementasan sekolah saja, bisa membuatnya mengelap sudut mata. Ia merasa semakin tua. Rasanya baru kemarin ia terkapar karena mabuk mengandung Mima. Tiba-tiba saja bayi itu sudah menjulang tinggi dan menari dengan lincah di panggung.
“Ayah ada mau ngomong sesuatu ke kamu. Awalnya Ayah nanya ke Mas, tapi Mas rasa kayaknya Ayah aja yang ngomong.”
“Apa itu?” potong Dijah langsung sedikit cemas.
“Kalo kamu gak mau, kamu bisa menolak. Itu hak kamu,” kata Bara. “Udah selesai nyusuinnya, ‘kan? Benerin bajunya dulu … Mas mau panggil Ayah,” ucap Bara seraya membenarkan letak leher seragam rumah sakit istrinya. Bayi laki-laki mereka sudah tertidur nyenyak.
Dijah mengangguk dan perlahan membenarkan letak berbaringnya. Hatinya setengah berdebar dan setengah lagi penasaran dengan hal yang akan disampaikan ayah mertuanya.
Setelah Bara mebuka seluruh tirai dan menumpuk semuanya ke sisi kiri, serentak Pak Wirya, Bu Yanti dan Dul yang sedang menonton televisi menoleh ke sisi ranjang.
“Yah …” panggil Bara.
“Udah tidur cucu bungsu Akung?” tanya Pak Wirya bangkit dari duduknya.
“Ayah aja yang ngomong,” ucap Bara melimpahkan tugas pada ayahnya.
“Mesti Ayah,” sela Bu Yanti mendekati Mima dan membelai kuncir bocah perempuan itu. Bara mencibir sambil menyodorkan kursi pada ibunya.
“Gak usah, Ayah aja.” Bu Yanti meminta Bara memberi kursi itu pada Pak Wirya. Sedangkan dia sendiri masih berdiri memeluk Mima menggantikan posisi Bara tadi.
“Begini Dijah …” ucap Pak Wirya.
“Ya ….” Dijah langsung menyahut tak sabar.
“Nama anak kalian, sudah diberitahu Bara. Ibrahim Putra Satyadarma. Nama dengan banyak makna yang bagus sekali. Ayah akhirnya punya cucu laki-laki yang menyandang nama Satyadarma. Itu memang bukan suatu keharusan. Tapi Ayah juga nggak memungkiri, kalau Ayah bahagia. Mungkin ini perasaan yang dirasakan Kang Mas Guntur, ayahnya Heru, seandainya beliau masih hidup. Punya cucu laki-laki yang punya nama belakang sama." Pak Wirya berbicara dengan nada rendah seakan menyamarkan ucapannya dari telinga Dul yang sedang menonton televisi.
__ADS_1
“Ya …” ucap Dijah pelan mengisyaratkan bahwa ia mendengar dengan jelas tiap perkataan mertua laki-lakinya.
“Tapi … Ayah punya sebuah ide yang membutuhkan persetujuan kamu. Di masa depan nanti, orang pasti menyadari bahwa nama Dul sedikit berbeda. Bukan hal penting, tapi nama Dul dengan satu suku kata itu, Ayah rasa akan lebih indah kalau juga ditambahkan Putra Satyadarma. Ayah cuma sedang mencoba mempersiapkan masa depan yang utuh untuk Dul. Seperti kamu tau, kalau Dul sangat dekat dengan Ayah. Ayah nggak mau Dul berbeda nantinya … mungkin itu hal terakhir yang bisa ayah beri. Tapi tentu saja, kalau kamu mengizinkannya. Gimana?” tanya Pak Wirya meneliti raut Dijah yang sudah memerah.
Hitungan detik kemudian, air mata Dijah tak terbendung. Bagaimana mungkin orang lain yang sejatinya tak memiliki hubungan darah dengan anaknya bisa begitu memikirkan soal masa depan. Dijah tak pernah lagi bertanya atau mau tahu soal ayah kandung Dul. Tapi secara tersirat, ia pernah mendengar bisik-bisik Bara dan Heru soal hukuman maksimal yang telah merenggut kehidupan Fredy. Dijah tak tahu apakah Dul paham dan mengerti soal itu. Ia tak berani mengungkitnya. Kenangan masa lalu Dul dan dirinya masih sangat berat untuk dibicarakan dengan gamblang.
“Gimana Sayang?” tanya Bara mengusap-usap punggungnya.
Dijah mengangguk berkali-kali sambil mengusap air matanya. “Tanya Dul Mas—tanya Dul, aku seneng. Aku mau. Tapi Dul udah bisa milih sekarang. Tanya Dul,” jawab Dijah.
Pak Wirya segera menoleh pada Dul yang sedang tekun menonton tayangan balap formula one di televisi. “Dul, sini—” panggil Pak Wirya percaya diri.
Dijah melihat Dul langsung menoleh. Ia berpikir bahwa sejak tadi mungkin Dul sudah menyimak apa yang sedang mereka bicarakan.
Dul meletakkan remote televisi di atas meja dan berjalan mendekati Pak Wirya. Tubuh anak laki-laki itu jangkung menjulang melebihi anak seusianya. Kulit dan raut wajahnya menyerupai sang ibu.
“Ya, Kung?” sahut Dul.
“Akung cuma mau tanya, nama kamu ‘kan terlalu pendek. Gimana kalau ditambahin nama belakang yang sama kayak Ibrahim? Nama kamu jadinya, Abdullah Putra Satyadarma. Gimana? Kalau kamu mau, ayah kamu bakal ngurus dokumen pengubahan nama itu.” Pak Wirya duduk mendongak dan memegang lengan Dul saat mengatakan hal itu. Dul yang selama ini dinilainya kadang begitu dewasa di usia 13 tahun.
“Namanya bakal sama dengan Ayah dan Akung?” tanya Dul memastikan dengan wajah serius.
“Iya, sama …” jawab Pak Wirya mengangguk.
“Pakai Satyadarma?” tanya Dul lagi memastikan.
“Satyadarma,” sahut Pak Wirya mengangguk.
“Aku mau. Kapan ditambahinnya? Langsung bisa ditambah?” tanya Dul antusias.
Pak Wirya tertawa. Bara tersenyum masih mengusap punggung Dijah yang menyusut air matanya. Sedangkan Bu Yanti mengalihkan pandangannya pada Mima. Ia sedang berusaha menyembunyikan air mata yang menggenang sejak tadi.
“Nanti Ayah urus secepatnya,” ucap Bara.
******
...SPECIAL PART SELESAI...
Scroll sampai habis yaa...
Ini bonus dari njuss untuk sayang-sayangnya Mas Bara.Maaf kalau part ini banyak mengandung iklan. Setelah Pengakuan Dijah, dukung karya jus terbaru ya.... GENK DUDA AKUT. Ini adalah spin off dari Cinta Winarsih.
Naaah...
Setelah Genk Duda Akut, mudah-mudahan juskelapa akan lanjut dengan cerita TINI SUKETI.
Namun, bersamaan dengan rilisnya Genk Duda Akut di Noveltoon, juskelapa juga merilis novel pendek di Watt pad yang berjudul MABUK CEO. Bagi yang punya aplikasi oranye itu, bisa cari nama pena 'juskelapa' yaaa...
Terima kasih atas segala bentuk dukungan buat karya juskelapa. Doain juskelapa bisa konsisten di karya-karya berikutnya. Semoga kita semua dilimpahi kesehatan, kebahagiaan serta rasa syukur.
Salam sayang,
juskelapa
__ADS_1