
"Mas ada ngomong ke ayah?" tanya Bara saat masih berada di dalam mobil.
"Udah dong, kamu kecelakaan aku gak mungkin gak ngomong. Istriku juga nanya aku ke mana tengah malem," tukas Mas Heru.
"Iya gak mungkin gak ngomong. Maksudnya soal Dijah jangan dibilang dulu ya Mas, aku pengen ngomong langsung. Tapi belum sempet aja dari kemarin-kemarin. Ayah sibuk terus, ibu juga sibuk terus, aku juga di luar terus." Bara berbicara sambil mengangkat sedikit bagian lutut jeans agar tak bergesekan dengan luka di lututnya.
"Iya--iya," sahut Heru. "Dijah tadi jawab apa di telfon?" tanya Mas Heru lagi.
"Cuma bilang ya udah gak apa-apa. Dia diem kayak mikir. Apa dia curiga ya Mas? Aku kuatir banget dia tau. Tipe Dijah yang gak pernah mau ngerepotin orang lain. Susah banget kadang dia itu," ucap Bara.
"Bukannya karena dia susah dimengerti itu makanya kamu merasa tertantang?" Heru tertawa. "Burung yang terbang di langit memang keliatan lebih cantik ketimbang burung yang ada di sangkar, secantik apapun burung itu." gumam Heru kemudian kembali terkekeh.
Setibanya di rumah sakit Bara mendapatkan pertolongan pertama pada luka-lukanya. Lutut kirinya paling parah. Karena gesekan jalanan, celana jeans yang dikenakannya sampai robek.
Heru memaksa Bara untuk tinggal di rumah sakit untuk menjalani skrining selanjutnya. Sudah hampir subuh saat Heru meninggalkan Bara yang meringkuk di UGD dengan Bayu yang tidur berbantal tepi ranjang bak seorang kekasih yang setia.
Keesokan paginya.
"Bay! Lo keluar dulu deh, beliin gua hape. Sekalian anterian sepatu itu ke kos-kosannya Dijah. Lo bilang aja ke dia, itu titipan dari gua sebelum berangkat ke luar kota. Trus lo buruan ke sini lagi. Hape gua mati. Bisa gak?" Bara sedang berada di kursi roda menanti seorang perawat yang akan membawanya ke ruang rawat. Ia mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Bayu.
"Bisa--bisa! Ini 'kan?" tanya Bayu mengangkat dua buah paperbag yang sejak kemarin tak lepas dari tangan Bara.
"Iya, entar kalo nunggu gua yang ngasi malah kelamaan. Gua mau sepatunya cepet dipake. Pokoknya dia jangan sampe tau gua di mana."
"Aku naik motor Mas Bara aja?" tanya Bayu.
"Jangan, motor gua samping kirinya ringsek. Spionnya juga patah. Lo naik taksi aja sana. Buruan, gua butuh hapenya mau nelfon." Bara mengibaskan tangannya meminta Bayu cepat pergi dari tempat itu. Ia tak mau paperbag itu malah jadi pokok bahasan saat ibunya tiba di rumah sakit sesaat lagi.
Menjelang siang, Bara sudah berbaring di ruang rawat. Hasil diagnosa dokter ia mengalami gegar otak ringan, dan luka lebam hampir di sekujur tubuhnya.
"Ada-ada aja! Udah masuk di sini, ibu baru dikasi tau. Ayah juga nggak ada dikasi kabar. Heru juga ngomongnya santai aja." Bu Yanti yang baru tiba langsung mencerca Bara dengan omelan.
Bara yang sedang berbaring membelakangi pintu masuk sambil mencoba mengetik pesan di ponsel remuknya bangkit seketika.
"Ibu bareng siapa ke sini? Aku gak apa-apa kok," ujar Bara membenarkan letak seragam pasiennya. Ia tak mau ibunya melihat luka lebam yang hampir menutupi seluruh punggung kirinya.
"Kenapa gak ngabarin ayah?" tanya bu Yanti lagi.
Bara hanya diam menelaah kata-kata ibunya. Ia masih menyimak sampai sejauh mana orangtuanya tahu kabar kecelakaannya itu.
"Kamu ugal-ugalan ya?" tanya bu Yanti.
"Ya ampun, masak Ibu mikirnya gitu." Bara kembali memandangi ponselnya yang hancur.
__ADS_1
"Ayah mau ke sini," tambah bu Yanti.
"Gak usah, aku besok minta pulang. Aku gak apa-apa kok, ayah gak usah ke sini." Bara semakin menegakkan letak duduknya. Setidaknya ia harus tampak lebih sehat di hadapan orangtuanya.
"Ayah lagi rapat penting tadi di kampusnya, katanya mau ke sini ngeliat kamu."
"Gak usah Bu, bilang ke ayah gak usah. Aku jadi gak enak karena ganggu orang tua padahal udah gede gini. Besok aku pulang, mas Heru yang urus semuanya. ayah-ibu gak usah khawatir," tukas Bara.
Setelah meyakinkan bu Yanti untuk mencegah pak Wirya datang ke rumah sakit, akhirnya Bara bisa menarik nafas lega. Ia kembali meringis sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
Hampir pukul empat sore, Bara berbaring gelisah menunggu Bayu. Ponselnya sudah mati total dan pemuda itu belum menampakkan batang hidung. Nasib sepatu yang dititipkannya pada Bayu pun belum jelas kabarnya.
Saat sedang mengetuk-ngetukkan ponselnya ke tepian ranjang, seseorang menepuk pundaknya.
"Mas!" seru Bayu.
"Awww!!" pekik Bara memegang pundak kanannya.
"Sakit ya?"
"Enak! Pake nanya. Mana hape baru gua?" Bara cepat-cepat duduk menengadahkan tangan ke arah Bayu.
"Nih!" Bayu menyodorkan sebuah paperbag.
"Aku pulang ke rumah, mandi dulu Mas... Aku gak pede kalo ke kos-kosan mbak Dijah belom mandi. Kan ada mbak Tini di sana," tukas Bayu sambil menarik sebuah kursi ke sisi kanan ranjang Bara.
"Hah? Lo udah kasi sepatunya? Gimana--gimana? Dia langsung cobain? Ekspresinya gimana? Seneng? Cukup gak di kakinya?" Bara mencerca Bayu tak sabar.
"Yang mana duluan yang mau dijawab?" Bayu cemberut.
"Oke--oke, cerita pelan-pelan." Bara mengangguk dan menepuk-nepuk pelan lengan Bayu yang terlipat di sisi kanan ranjangnya.
"Oke, gini... Tadi aku ke sana abis makan siang. Trus ketemu mbak Tini-- mbak Tini itu beneran udah punya pacar Mas?" tanya Bayu.
"Kok jadi ngomongin Tini? Gua mau denger soal sepatu yang lo anter ke pacar gua Bayu... Lo berapa lama di sana?" tanya Bara.
"Sekitar dua jam kayaknya," jawab Bayu.
"Kok lama? Lo ngapain aja di sana?" tanya Bara.
"Dijamu Mas... Mereka semua baik-baik ya..." sahut Bayu.
"Gua cuma minta lo anter itu sepatu. Trus balik, gak minta lo lama-lama di sana," ujar Bara dengki.
__ADS_1
"Aku disuruh mampir, dikasi minum, diajak ngobrol. Tapi kayaknya mbak Tini itu judes ke aku, yang baik mbak Dijah. Makanya aku penasaran ama mbak Tini," ujar Bayu lagi.
"Kok jadi Tini sih Bay..." kesal Bara. "Pacar gua ngapain? Gak sedih karena gua gak dateng?" tanya Bara.
"Biasa aja Mas kayaknya. Mbak Dijah ceria-ceria aja." Bayu membuka paperbag berisi ponsel baru Bara.
Dengan wajah cemberut mendengar perkataan Bayu barusan, Bara segera memindahkan simcard-nya ke ponselnya yang baru.
"Ceria-ceria aja..." gumam Bara kemudian memencet nomor telepon Dijah di ponselnya.
Setelah terdengar nada sambung tiga kali, terdengar suara Dijah di seberang.
"Kamu lagi gak kangen aku ya?" tanya Bara.
"Kenapa?" Dijah balik bertanya karena bingung.
"Tadi Bayu ngapain lama-lama di sana?" tanya Bara.
Bayu yang mendengar percakapan di telepon itu hanya mendengus. Bisa-bisanya Bara yang meminta bantuannya pun sekarang malah cemburu tak jelas.
"Sepatunya udah dicoba? Cukup gak? Kamu suka?" tanya Bara lagi. Rasanya ingin saja dia melompat dari tempat tidur itu untuk datang ke tempat Dijah. Berbaring di ranjang kecil Dijah pasti membuatnya lebih cepat sembuh.
"Belum dicoba," sahut Dijah.
"Dicoba dong, entar fotonya kirimin ke aku ya..." tambah Bara.
"Iya, nanti difoto. Kamu berapa lama di luar kota?" tanya Dijah.
"Belum pasti. Aku pasti secepatnya ke sana kalo udah pulang." Bara kembali memunggungi Bayu. Dan ia merasa bahunya kembali ditepuk.
"Apa sih Bay?" Bara mengedikkan bahunya.
"Aku udah kangen..." ucap Bara di telepon.
"Bara...!!" seru Joana yang sejak tadi menepuk bahu pria itu namun tak dipedulikan. Bara terperanjat dan langsung berbalik. Bayu sudah tak berada di sana.
"Aku juga kangen..." jawab Dijah di telepon. "Itu suara siapa? Ada suara perempuan manggil kamu," tukas Dijah.
"Bukan siapa-siapa. Nanti aku telfon lagi ya Sayang..." ujar Bara. "Jangan lupa kirimin fotonya ke aku," tambah Bara kemudian mengakhiri pembicaraan.
"Bener-bener sibuk banget kayaknya..." ujar Joana kemudian duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Bayu.
To Be Continued.....
__ADS_1