PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
161. Ancang-Ancang Asti


__ADS_3

“Jadi hari ini alasan gak masuk ke kantor apa Mas?” tanya Asti saat menyambut Bayu di depan pintu kamarnya. Ia menyodorkan segelas teh manis hangat yang memang sudah disiapkannya tadi.


“Aku bilang cari berita ke polsek yang agak jauh,” jawab Bayu terkekeh kemudian menghirup teh manisnya.


“Aku jadi nggak enak ngerepotin. Nanti ketauan mas Bara malah makin nggak enak. Kesannya menyepelekan,” ucap Asti masih berdiri di depan pintu kamarnya.


“Gak apa-apa. Nanti kalo udah selesai, aku jujur terus minta maaf. Gimana langsung berangkat?” Bayu menyodorkan gelas teh manis yang telah kosong pada Asti.


“Iya, yuk.” Asti meletakkan gelas ke dalam dan menyambar tasnya.


“Jam segini sepi ya…” ucap Bayu menoleh ke sekeliling kos-kosan yang memang tampak lengang. Mak Robin yang ibu rumah tangga pun tak terlihat karena sedang mengantarkan Robin sekolah dan menungguinya.


“Mbak Tini sekarang pergi kerja pagi-pagi bener. Berdua sama mas Boy jalan ke depan gang. Langit juga masih gelap tiap mereka pergi kerja,” sahut Asti kemudian memasukkan kunci kamar ke tas dan berjalan menuju motor Bayu yang terparkir di depan kamarnya.


“Mak Robin?” Bayu bangkit dari kursi menuju motornya.


“Nganter Robin sekolah sekalian nungguin juga. Letak sekolahnya itu nanggung. Jalan lumayan jauh, naik angkot terlalu deket. Bisa-bisa kelamaan nunggu angkotnya ketimbang perjalanannya. Jadi biasa Mak Robin ngambil jalan pintas dari belakang.”


“Hmmm… warga kandang ayam sekarang pada sibuk ya,” ujar Bayu.


“Iya. Cuma aku aja yang uda lulus kuliah tapi belom dapet kerja. Statusku sekarang bukan mahasiswi lagi. Tapi pengangguran,” tegas Asti.


“Tapi setidaknya—”


“Punya pacar ‘kan? Pasti Mas mau ngomong itu,” balas Asti kemudian tertawa. Bayu ikut tertawa pertanda tebakan Asti barusan itu benar. “Hari ini rute nganter lamaran kerjanya agak jauh Mas… nggak apa-apa ‘kan?” tanya Asti kemudian memakai helmnya yang biasa selalu tergantung di cantolan depan motor matik Bayu yang berukuran besar.


“Coba aku liat—” Bayu mengambil amplop coklat besar yang berada di tangan Asti untuk mengamati alamatnya. “Gak jauh kok. Tapi apa gak bisa lewat online aja? Semua-semua ‘kan sekarang udah online.”


Asti naik ke boncengan dan kembali memeluk amplop coklat besarnya. “Kalo lewat jalur resmi penerimaan biasanya online Mas. Tapi aku ‘kan nyoba lewat kakaknya temenku. Aku pengen kerja yang sesuai jurusanku di kampus. Sebenernya, kalo sekedar nyari kerja untuk lulusan S1 nyari pengalaman, aku bisa kerja di bagian umum dulu.”


“Ya bener, kita coba aja.” Bayu sudah melajukan motor memasuki jalan raya yang padat.


Sepanjang perjalanan, Bayu masih mengajak Asti berbicara. Mereka memang sangat nyambung dalam tiap obrolan. Soal apa saja. Kegemaran Asti dalam membaca dan wawasannya sebagai lulusan baru dari sebuah perguruan tinggi negeri, membuat obrolannya bersama Bayu selalu seru tiap membahas topik-topik hangat.


Asti suka mengobrol dengan pacarnya itu. Kapan saja, di mana saja. Kecuali… saat mereka sedang berkendara di atas sepeda motor yang sedang melaju.


“Jadi—dicoba—sekali—sekali—Heru—gitu—gimana?” Suara Bayu terdengar putus-putus dan tak jelas di telinga Asti yang tertutup helm. Kata-kata Bayu hanya singgah sedikit-sedikit saja di telinganya.


“Ha? Apa?” jerit Asti dari belakang.


“Nanti—ran—ru—mum—gimana?” Bayu kembali berteriak dari depan. Kali ini semakin parah, Asti hanya mendengar sepotong-sepotong saja hal yang baru diteriakkan pacarnya.


Tak ingin malu karena dicap terlalu budek, Asti menyahuti. “Iya Mas—iya… Oke. Beres….” Entah apa yang dijawabnya iya, oke atau beres. Yang penting dia sudah melihat Bayu tersenyum puas dan manggut-manggut dari pantulan kaca spion.


Bayu mengatakan tujuan mereka tidak jauh, tapi ketika tiba di pabrik pengolahan kelapa sawit itu, Asti sudah merasa bedak yang dikenakannya semakin tebal karena debu. Dan seperti membaca apa yang sedang dipikirkan oleh Asti, akhirnya Bayu bersuara. “Ini jauh banget dari kandang ayam.”


Asti terkekeh. Bahkan bayu pun sudah terbiasa dengan sebutan itu.


“Ini udah pasti keterima?” tanya Bayu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling pabrik yang terlihat sangat gersang.


“Belum sih,” sahut Asti meringis.


“Aku nunggu di sini aja. Gak apa-apa,” ujar Bayu duduk di atas motornya. “Gak ada warung. Mungkin di dalem mereka ada kantin atau sejenisnya makanya gak ada pegawai yang berkeliaran di luar.” Bayu langsung mengutarakan hal itu karena melihat mata Asti berkeliling seperti mencari sesuatu.


“Ya udah, aku masuk dulu. Ini nggak lama kok.” Asti menyerahkan helmnya ke dalam pelukan Bayu yang sudah mengeluarkan ponsel dan duduk di atas motor layaknya supir ojek yang menunggu pelanggan.


Asti menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menunggu dan berbincang dengan kepala personalia perempuan soal keahliannya. Saat Asti berjalan keluar, bahunya terlihat turun dan rautnya terlihat tak seantusias tadi.


“Gimana?” tanya Bayu saat Asti menghampirinya dan langsung meraih helm.


“Gak tau gimana. Tapi perasaanku nggak enak. Personalianya terlalu banyak membicarakan hal yang gak ada hubungannya dengan pekerjaan. Ya udahlah, liat nanti aja. Sekarang ke mana? Langsung ke kantor?” tanya Asti.


“Ya iya dong. Kan tadi udah aku bilang. Aku udah kabari kalo kita langsung ke sana. Aku juga baru keinget tadi pagi pas sebelum berangkat.” Bayu langsung menyalakan motornya dan Asti naik ke boncengan dengan wajah bingung.

__ADS_1


Ini pasti ada hubungannya dengan hal yang diutarakan Bayu saat berkendara tadi, batin Asti. Tak ingin bertanya lebih, Asti memutuskan untuk diam dan mengikuti ke mana pacarnya itu pergi membawanya.


Mereka kembali berkendara di jalanan gersang penuh debu. Asti tak bertanya. Ia hanya memperhatikan jalanan dan semakin mengerti bahwa Bayu sedang membawanya menuju kantor The Term. Setelah masuk ke halaman dan bertegur sapa dengan dua orang satpam, Bayu membawa motornya ke sisi kiri bangunan tempat di mana parkir sepeda motor berada.


“Kita ketemu ama Editor in Chief kantor ini ya… anak-anak magang sering manggilnya Pak Direktur.” Bayu tersenyum.


(Editor in Chief : Ketua/Manajer dari publikasi cetak maupun digital. Biasanya merupakan pimpinan/pemilik/CEO dari rumah media bernaungnya)


“Mas Bara?” tanya Asti sembari merapikan rambut sebahunya yang tipis. Rambutnya semakin terasa lepek karena tenggelam dalam helm dan dibahasi keringat.


“Dia Redaktur Pelaksana. Dua-duanya keren. Bukan karena kerjaannya aja. Buatku, mereka keren karena bisa akur dan selalu bisa bersinergi.” Bayu mendahului langkah Asti untuk buru-buru kembali menuju pos satpam.


(Redaktur Pelaksana : Pengatur jalannya publikasi di suatu media yang memberikan laporan langsung pada Editor in Chief.)


“Pak, mas Bara gak ada ya?” tanya Bayu saat mengedarkan pandangannya mencari keberadaan mobil dan motor Bara yang tak terlihat siang itu.


“Nggak ada Mas… mas Bara baru keluar.” Satpam itu menjawab sambil menunjuk lahan parkir mobil Bara yang terlihat kosong.


Bayu sedikit bernapas lega karena tak harus repot-repot merangkai alasan agar terdengar masuk akal di telinga Bara yang telaten mengorek info dari mulut orang lain.


Heru seperti biasa. Berkurung di dalam ruangannya jika ia berada di dalamnya. Asti masih bingung akan tujuannya mengikuti Bayu ke ruangan Heru. Sepanjang langkah kakinya mengekori Bayu, pandangan Asti tertuju pada beberapa orang anak muda yang sedang berkumpul di sebuah meja. Masing-masing memegang beberapa lembar kertas yang mereka baca dengan tekun.


“Itu siapa? Pegawai juga?” tanya Asti meraih lengan Bayu yang berada di depannya.


“Itu anak magang baru.” Bayu tiba di depan ruangan Heru dan langsung mengetuk pelan dua kali. Terdengar sahutan dari dalam dan Bayu mendorong pintu ke dalam.


Baru kali itu Asti melihat Heru sedang berada di balik meja kerjanya yang penuh dengan tumpukan kertas. Heru langsung mendongak dan tersenyum lebar padanya.


“Nah ini dia yang lagi keliling-keliling nyari kerja. Bayu baru ngomong tadi pagi. Ayo duduk dulu,” ujar Heru seraya berdiri menunjuk sofa di dekatnya.


“Makasih Mas,” balas Asti kemudian duduk memangku tasnya. Ia sudah mulai merasa bahwa Heru akan memberikannya tawaran pekerjaan mengingat kalimat pembuka Heru tadi tahu kalau mereka baru saja pergi mengantarkan lamaran pekerjaan di negeri antah berantah.


“Lulusan kehutanan ya As?” tanya Heru. Asti langsung mengangguk antusias. Heru lalu menoleh pada Bayu yang masih berdiri seperti sedang disetrap. “Kamu duduk juga gak apa-apa Bay…” tambah Heru.


“Kita di sini lagi ada posisi kosong. Tapi bagian advertise (periklanan). Sangat bertolak belakang dengan jurusan kamu, tapi menurutku kamu layak nyoba. Kamu fresh graduated (lulusan baru), sedang butuh-butuhnya menjajal kemampuan baru dan menerapkan basic skill (kemampuan dasar) kamu di sebuah perusahaan.” Heru yang sedang sibuk meluangkan waktunya untuk menyambut dan berbicara dengan Asti.


“Mau Mas—aku mau,” jawab Asti langsung. “Kerjanya kayak gimana? Tugas pokok dan fungsi—” Asti kemudian terdiam mengatupkan mulut. Terlihat sekali dia adalah anak lulusan baru yang sedang berburu pekerjaan.


“Sebuah tim periklanan yang kuat dapat menentukan arus masuk kas keuangan. Bagian ini juga kadang menjadi parameter mapan-tidaknya sebuah lembaga penerbitan/penyiaran.” Heru menjelaskan sedikit soal bidang yang akan dimasuki oleh Asti.


“Seorang advertiser (pengiklan) harus paham etika periklanan Indonesia, sistem kontrak, solusi, trik-tips mendapatkan iklan, metode pemasaran iklan, designer (perancang) periklanan dan aplikasi komputer yang berhubungan dengan bidangnya.”


“Jadi nantinya, aku—eh saya berhubungan dengan bagian mana saja Pak?” Mendengar nada bicara Heru yang berbeda dari biasanya, Asti membenarkan letak duduknya dan menatap lurus dengan wajah serius.


Heru terkekeh pelan, “Periklanan akan berhubungan dengan redaksi dan design/layout (desain). Segala urusan periklanan yang berhubungan dengan bagian redaksi harus didiskusikan dulu. Gimana? Mau nyoba?” Heru seolah menantang Asti.


“Mau Mas—Pak,” jawab Asti antusias. Siapa yang tak antusias jika sudah dijamin masuk ke sebuah kantor yang dipimpin oleh orang yang dikenal? Terlebih pacarnya juga bekerja di tempat yang sama.


“Apa yang bisa kamu janjikan ke aku?” tanya Heru kemudian mengulum senyum menatap Asti.


Bayu ikut tersenyum melihat Asti yang terlihat rikuh.


“Janjinya—akan bekerja sepenuh hati dengan usaha maksimal yang saya miliki.” Asti merasa mengulangi perkataannya pada personalia yang beberapa saat lalu ia temui.


“Hahaha—” Heru tergelak. “Oke, saya pegang janji kamu. Hari ini bisa pulang. Besok masuk kerja pagi seperti karyawan yang lain, trus temui yang namanya mbak Retno. Oke?” Heru kemudian bangkit dari duduknya untuk kembali ke meja kerja.


“Siap Pak! Besok mulai bekerja.” Asti bangkit dan mengangguk mantap pada Heru. “Mmmm—terima kasih Mas, Pak…” tukas Asti memandang Bayu dan Heru bergantian.


*****


Kantor The Term pagi hari sudah ramai. Beberapa karyawan baru dan sekelompok anak magang telah mengisi meja-meja kosong tempat mereka mengawali hari dengan membaca job description (deskripsi tugas/pekerjaan) yang dibagikan oleh Retno.


Hari itu adalah pembagian divisi. Dan kebetulan Asti diletakkan pada divisi periklanan yang mana masih dibawahi oleh Bara.

__ADS_1


Bara belum menyadari kehadiran Asti di kantor itu. Meski sejak tadi, Asti sudah mengamati Bara yang ke sana kemari. Membawa kertas keluar masuk ruangannya.


Periode baru ini, Bara mendapat 3 anak magang yang akan masuk ke dalam divisi kriminal. Dua orang wanita dan seorang pria. Entah malang atau merupakan keberuntungan bagi pria itu, dua orang mahasiswi itu terlihat manis dan bergerak begitu sungkan saat berbicara dengan Maradona.


Bara berdiri menunduk membalik beberapa kertas di atas meja kerja Dona. Pandangannya fokus menatap kertas. Asti sempat meliriknya beberapa kali. Posisi mereka yang begitu dekat namun bersisian dari samping, sepertinya juga belum menyadarkan Bara. Asti ingin menyapa, tapi ia terlalu sungkan jika ada karyawan lain yang melihat ia memiliki koneksi di kantor barunya. Bisa-bisa ia merusak image (citra) Heru yang langsung menerimanya bekerja tanpa syarat.


Bara masih menunduk. Pakaiannya santai, hanya berupa jeans biru dan kemeja polos berwarna krem. Terkesan sederhana, tapi malah membuatnya menonjol. Ditambah dengan sepasang sepatu bermerek Caterpillar yang solnya tebal dan berat, membuat Bara gagal terlihat sederhana.


“Itu Pak Bara,” bisik salah satu anak magang yang mejanya bersisian dengan Asti. Hanya berjarak beberapa langkah saja dari Bara yang sedang menunduk.


“Adik sepupunya CEO sini,” tambah seorang gadis. “Ganteng ya…” ujarnya lagi.


Kedua gadis itu sedang mengamati Bara dari dekat.


“Iya, ganteng. Kemarin nggak sempet ketemu lama karena Mas Bara langsung pergi,” ucap gadis yang mengawali pembicaraan tadi.


“Udah nikah belum ya…”


“Kayaknya belum. Masih muda. Modis banget. Hihihi—” kikik gadis satunya.


“Aku aja deh yang ngasi formulir ini,” salah satu gadis bangkit meraup formulir dari atas meja. “Kamu liat gimana cara aku ngomong. Sekalian pengen tau. Penasaran,” bisiknya lagi.


Asti menoleh untuk membuktikan ucapan gadis barusan. Dan ternyata benar saja, berkenalan dengan atasan ganteng masih dijadikan tantangan seperti saat di kampus. Siapa yang lebih dulu bisa kenal atau bisa berbicara langsung menjadi taruhan dan keasyikan tersendiri. Asti memahami acara seru-seruan itu. Tapi sayangnya, ia juga jadi ingin ikut meramaikan.


Asti bangkit dan memutari meja, juga ikut meraup beberapa lembar kertas yang tadi diberikan mbak Retno padanya.


“Saya Sherly Pak… anak magang baru. Baru dua hari. Pak Bara di bagian divisi kriminal ‘kan?” ucap mahasiswi magang.


Bara mengangkat wajahnya dan memandang mahasiswi mungil dan manis yang sedang berdiri di depannya.


“Ehem! Pak Bara,” ucap Asti dari belakang Bara. Seketika Bara berbalik dan menoleh padanya dengan wajah terperanjat.


“Eh?” ucap Bara membulatkan matanya.


“Kenalin, saya Asti. Sekarang di bagian periklanan.” Asti tersenyum lebar.


Bara kemudian tertawa. “Mulai masuk hari ini?” tanyanya kemudian.


“Iya, kemarin baru ketemu mas Heru. Hari ini langsung disuruh masuk kerja,” jawab Asti.


“Aku baru tau,” ucap Bara masih terkekeh.


Asti melirik mahasiswi yang sedang mengamati percakapan mereka.


“Mbak Dijah sehat? Mima udah pinter apa? Kangen banget sama Mima keponakan aku… udah lama nggak ketemu.” Asti melebarkan senyumnya. Matanya berbinar-binar saat menyebutkan nama Mima.


“Mima lagi rajin ngoceh kayak ibunya. By the way (ngomong-ngomong)… selamat datang di keluarga besar The Term ya….” Bara mengulurkan tangannya untuk menjabat Asti.


“Makasi Mas… akhir minggu aku ke rumah ya…” ujar Asti kemudian.


“Boleh—boleh… ditunggu,” sahut Bara cepat. Heru memang hebat pikirnya, memberi kesempatan pada rekan yang dikenal Dijah untuk memulai dunia pekerjaan di sana. Tapi, Dijah lebih hebat lagi pikir Bara. Istrinya itu hanya perlu duduk manis di rumah dan menerima semua informasi tentang hal yang terjadi di kantornya. Terutama soal para mahasiswi magang. Bara meringis.


“Pak,” panggil Sherly yang merasa diabaikan sesaat.


“Oh iya!” seru Bara kemudian menyadari. “Hmmm—siapa tadi namanya? Kamu langsung ke Retno atau Maradona aja ya… mereka bakal bantu kamu selama berada di kantor ini.” Bara tersenyum kemudian mengangguk pada Asti dan Sherly serta merta berlalu dari sana.


Asti saling bertukar pandang dengan mahasiswi magang. “Memang ganteng ‘kan? Gagah! Istrinya manis banget. Anaknya cuantiiiikkk banget. Ya ampun, cantik pokoknya…” ujar Asti menggeleng-geleng kemudian kembali menuju mejanya.


To Be Continued.....


Sisa 8 Part lagi ya.... :*


Yang kangen Tini ditunggu aja

__ADS_1


__ADS_2