PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
100. Wonder Woman


__ADS_3

Siang dua hari berikutnya, Bara baru saja memutari dua blok jalan menuju rumah setelah mengantarkan Heru pulang dengan mobilnya.


Mereka baru saja bertemu dengan AKBP Heryadi yang sedang memiliki waktu luang dan mengajak mereka ngopi menjelang siang itu.


Urusan apalagi yang dibahas selain daripada Fredy yang tak ada habisnya. AKBP Heryadi dengan santai dan terkekeh-kekeh mengatakan Fredy ternyata memiliki jaringan perdagangan narkoba dari luar negeri. Pria itu menggeleng dan berdecak berkali-kali saat menyampaikan hal itu. Seorang polisi saja merasa takjub. Apalagi Bara yang biasa ‘hanya’ menceritakan kisah itu dalam kolom beritanya.


Karena tempat ngopi itu dekat dari daerah rumah mereka, Heru mengajak pulang untuk makan siang di rumah masing-masing. Bara bahagia bukan kepalang. Belum tengah hari ia sudah memasukkan tangannya ke sela pagar untuk membuka cantolan besi. Bermaksud ingin memberi kejutan kecil dengan mengagetkan Dijah, ia berencana masuk lewat pintu garasi dengan mengendap-endap.


“Mbok, Dijah mana?” tanya Bara setelah tiba di belakang Mbok Jum yang sedang mengelap piring.


“Ya ampuun ... Nak Bara, hampir copot jantungku.” Mbok memang sedikit tersentak saat Bara menyapanya. Wanita tua itu memutar badannya sambil menepuk-nepuk dadanya. Bara meringis.


“Maaf Mbok, maksudnya mau ngagetin Dijah.” Bara nyengir. “Ibunya Dul mana?” tanya Bara.


“Tadi di kamar Dul, bawa tangga mau benerin lampu. Katanya ada yang kontak,” jawab Mbok Jum.


“Hah? Bawa tangga mau benerin lampu? Ya ampun Dijah ....” Bara tak sempat mendengar jawaban Mbok Jum karena ia langsung bergegas menuju kamar Dul.


Bara tak pernah membayangkan istrinya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya ia lakukan. Ia suami wanita itu. Harusnya Dijah tinggal mengeluh padanya, maka ia yang akan memecahkan masalah. Dijah yang terbiasa tak mengharapkan orang lain malah menjadi sosok yang terlalu mandiri.


Bara tiba di kamar Dul dan melihat Dijah berdiri hampir di puncak tangga. Dengan selembar daster ia sedang membuka kotak down light dengan sebuah obeng kecil di tangannya. Dul duduk manis di ranjang memperhatikan pekerjaan ibunya.


“Jah ...” panggil Bara mendekati isterinya. Dijah terperanjat dan menoleh ke bawah. Tangan Bara sudah meraup bokongnya dan menurunkannya dari atas tangga untuk menjejak lantai.


“Kok manjat-manjat? Bilang aja ke aku, apa yang rusak. Biar aku aja yang benerin. Atau kita panggil teknisi, kamu jangan naik-naik setinggi itu.” Bara mengambil obeng dari tangan isterinya. Ia kemudian naik untuk mengecek lampu yang tadi dikotak-katik Dijah.


“Aku nggak sabar. Kalau memang bohlamnya yang mati, baru aku bakal bilang.” Dijah tak menyangka wajah Bara seserius itu hanya perkara ia menaiki tangga untuk mengganti bohlam.


“Ini bohlamnya yang mati, entar aku cari dulu gantinya. Karena ini bukan lampu utama, jadi gak apa-apa sementara satunya padam ya,” ujar Bara melipat tangga kemudian keluar dari kamar menjinjing tangga itu untuk diletakkan di gudang.


“Ya udah, Dul makan dulu. Buku mewarnainya disimpen, nanti dilanjut lagi.” Dijah membereskan alat tulis anaknya. Dul langsung melesat keluar kamar menuju ruang makan.


“Udah pulang kerja atau cuma mampir makan?” tanya Dijah berjalan mengikuti Bara yang menuju kamar mereka. Begitu masuk ke kamar, Bara berdiri di depan dispenser dan mengisi gelasnya seperti biasa. Setelah menghabiskan segelas penuh air putih, ia mengambil ranselnya yang dipungut Dijah dari kamar Dul.


“Aku pulang bareng mas Heru tadi, sekalian aku singgah ke sekolahan Dul buat ngambil formulir ini.” Bara mengeluarkan beberapa lembar kertas yang disteples jadi satu. “Nanti kita isi sama-sama ya,” tambah Bara. Dijah mengangguk.


“Mau makan sekarang? Aku siapin ya,” ucap Dijah masih berdiri dekat suaminya yang masih memasang wajah serius. Ia agak sedikit salah tingkah akan sikap Bara itu.

__ADS_1


“Aku mau ngomong sebentar,” ucap Bara menggamit lengan isterinya dan mengajaknya ke ranjang. “Lain kali, kalo ada apa-apa di rumah, langsung bilang ke aku. Ada yang rusak atau kamu perlu sesuatu, minta ke aku. Termasuk soal Dul. Aku kan ayahnya sekarang, urusan Dul, urusanku juga. Ngomong aja. Jangan ditanggung sendiri,” ucap Bara seraya membenarkan letak kerah daster isterinya yang melorot.


“Iya, tapi itu kan tadi cuma soal kecil. Mas capek-capek pulang ke rumah masa aku ngeluh urusan kecil gitu aja,” sahut Dijah memandang Bara.


“Gak apa-apa. Ngeluh aja. Itu salah satunya guna punya suami. Kamu bisa berbagi keluhan. Ngomel kalo emang aku salah, gak perlu ngerasa gak enak. Jangan diem aja.” Bara mengangkat dagu Dijah yang telah menunduk. Jemari wanita itu tanpa sadar menggaruk-garuk punggung tangan suaminya.


“Iya, lain kali aku bakal ngomong soal apapun itu. Aku boleh ngomel kan?” tanya Dijah.


“Boleh,” jawab Bara.


“Boleh ngambek?”


“Kan udah sering,” sahut Bara. “Ngeliat isi hapeku juga boleh kok Jah,” sambungnya lagi.


Dijah diam berpikir. Ia memang sering penasaran apa yang dilakukan Bara di luar dan siapa yang mengirimi suaminya itu pesan-pesan. Karena terkadang ia melihat Bara tersenyum atau mengernyit serius setiap kali membaca dan mengetikkan sesuatu. Dia penasaran, tapi melihat ponsel Bara tergeletak begitu saja saat si empunya mandi, malah membuatnya semakin sungkan untuk menyentuh benda itu.


“Memangnya boleh? Aku nggak lancang kalau ngeliat isi hape Mas?” tanya Dijah.


“Enggak, kenapa lancang? Yang masih pacaran aja kadang sampe udah tuker-tukeran password hapenya. Itu wajar, gak apa-apa. Ngerti?” tanya Bara menangkup wajah isterinya.


“Ngerti...” jawab Dijah pelan.


Ayahnya mengatakan, “kalau kamu ngeliat seorang wanita yang berperilaku seolah-olah tidak membutuhkan seseorang dalam hidupnya, itu artinya dia sudah melalui banyak permasalahan sendirian. Meski memang tidak masalah kalau seorang wanita itu mandiri. Tapi... kalau kamu sudah bersamanya, jangan biarkan dia melakukan apapun sendirian. Jadilah partnernya, jadilah rekan satu timnya. Bantulah dia, sehingga dia tidak memikul bebannya sendirian. Walau dia tidak pernah meminta bantuan.”


“Jadi, karena dia sudah melalui banyak kesulitan dan cobaan dalam hidupnya. Dia sudah membangun dinding yang tinggi. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah sedikit mundur ke belakang dan perlahan bantu dia menurunkan dinding itu. Jadilah rekannya. Jangan cuma ngeliatin dia ngelakuin hal itu sendirian karena dia ngomong dia bisa.”


Bara tak ingin Dijah terlalu mandiri. Ia ingin dibutuhkan oleh isterinya. Ia ingin Dijah mengeluh dan bergelayut manja padanya.


“Jadi?” tanya Bara.


“Jadi apa?” Dijah balik bertanya.


“Sebelum makan, aku mandi dulu. Gerah,” ujar Bara berdiri dari ranjang dan membuka kancing kemejanya.


“Ya udah mandi, aku siapin makan siangnya dulu.” Dijah ikut berdiri.


“Eh, jangan pergi dulu. Aku mandi tapi dengan sebab,” ucap Bara memeluk pinggang Dijah dari belakang.

__ADS_1


“Sebab ap—” Perkataan Dijah terhenti. Ia sudah mengerti maksud perkataan Bara karena pria itu telah menarik dasternya ke atas.


“Iya ... Sebentar aja, aku pengen.” Bara berbisik kemudian menarik pakaian dalamnya turun. Dan menyeretnya ke tepi ranjang.


Bara telah melepaskan pakaiannya dan sedang membungkuk di atas tubuh istrinya saat ponsel Dijah yang berada di atas ranjang bergetar dan berkedip-kedip. Nama dan foto Tini memenuhi layar ponsel itu.


Dijah menoleh pada suaminya seolah meminta persetujuan untuk menjawab telepon itu. Bara menegakkan tubuh meraih ponsel serta menekan tombol ‘jawab’ dengan speaker. Ia kemudian meletakkan ponsel itu di sebelah Dijah dan melanjutkan aksinya. Menunduk untuk langsung memasuki tubuh istrinya.


“Jah!! Jah!! Entar bilang ke Mas-mu ya... Mak Robin ikut juga. Kita barusan mecahin celengan babi Asti. Isinya lumayan. Kalau mas-mu dikasi uang recehan gitu, kira-kira tersinggung gak? Kalau kamu gak enak, biar siang ini kita tukerin ke minimarket. Menurutmu gimana?” Suara Tini di seberang membutuhkan jawaban. Dijah sedang meringis dan menikmati aksi suaminya.


“Iya—iya Tin nggak apa-apa.” Dijah menarik nafas dan melihat Bara yang sedang menatapnya penuh konsentrasi. Pria itu telah mengayun di atasnya mengikuti ritme.


“Jadi Mak Robin boleh ikut juga? Gak ngomel mas-mu?” tanya Tini lagi.


“Enggak—enggak apa-apa. Aduh...” lirih Dijah.


“Bener ya nggak apa-apa, nanti kamu jangan ngomel-ngomel kalau mas-mu dikasi recehan kayak sopir angkot.”


Bara tak sempat menyela ucapan Tini. Biarkan mereka mengumpulkan recehan itu pikirnya. Tiket pesawat mudah dipesan dengan kartu debit tanpa repot-repot menghitung uang recehan itu.


“Jadi nggak apa-apa ya Jah ...” tanya Tini lagi.


“Iya Tiiinn ...“ gumam Dijah.


“Aku cuma khawatir aja. Kita semua udah nebeng malah ngerepotin.”


Sudah tahu merepotkan. Bara sudah memakluminya. Sekarang malah mengganggu konsentrasinya pula. Bara bersungut di dalam hati. Tadinya ia mengira wanita itu akan menyampaikan hal penting karena jarang-jarang menelepon Dijah.


“Jah...”


“Ya...”


“Kamu ngapain sih Jah? Lagi sibuk ya?”


“Iya Tini ... Lagi sibuk,” sahut Bara.


“Oh maaf Mas! Udah ya ...” ujar Tini di telepon. “Kampret si Dijah gak ngomong dari awal. Nanti aja kita telepon Dijah lagi. Dia lagi merem melek gak konsen.” Tini berbisik pada orang di belakangnya sebelum benar-benar mematikan telepon.

__ADS_1


To Be Continued.....


Jangan lupa dilike ya bebeb-bebeb.... :*


__ADS_2