PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
134. Tepisan Takdir


__ADS_3

Fredy berdiri memandang laki-laki yang baru saja pergi setelah memaki-makinya. Kalau saja ia bisa bebas, hal pertama yang dilakukannya adalah membunuh laki-laki itu.


Tapi sekarang ia sedang berada di penjara. Jangankan memikirkan soal balas dendam, memikirkan nasibnya sendiri pun ia kesulitan. Keluarganya saat ini hanya tersisa seorang kakak laki-laki yang mau mewakilinya sebagai pembela. Didampingi dengan seorang pengacara yang disediakan pemerintah, Fredy berkali-kali berkompromi soal kasusnya.


Seluruh orang-orang yang pernah menjamin keselamatannya saat melakukan transaksi terlarang itu telah raib. Orang-orang yang disebutnya teman tak ada yang muncul. Uangnya telah habis disita polisi sebagai barang bukti.


Fredy sangat membenci Dijah. Seorang perempuan yang harus diperkosanya meski status mereka sebagai suami istri. Perempuan yang selalu memandang jijik kepadanya. Yang selalu mencampakkan uang pemberiannya. Dijah yang selalu muncul dalam fantasi-fantasi erotisnya tiap kali ia mabuk. Perempuan yang menjebloskannya ke penjara berkali-kali. Ibu dari salah satu anaknya.


Ya. Dul hanya salah satu dari tiga anak laki-lakinya. Tak menikah lagi dan masih cinta dengan mantan istrinya bukan berarti membuat Fredy berhenti bereproduksi. Dia butuh wanita untuk ditiduri tiap kali otaknya berisi halusinasi. Dan dua orang perempuan yang tinggal di gang-gang sempit mau mengandung anaknya karena dalih cinta yang bahkan tak disadarinya. Padahal awalnya, Fredy betah bercinta dengan wanita-wanita itu karena mereka bersedia diajak melakukan gaya berhubungan paling aneh sekalipun.


Dan laki-laki barusan datang mengatakan soal kabar Dul padanya. Syukurlah kalau putra bungsunya itu bisa hidup layak. Fredy mengeraskan rahangnya hingga berkedut. Ia membayangkan Dijah yang sedang hamil anak laki-laki itu. Pelacur itu sudah berhasil mendapat sasaran yang sebenarnya, pikir Fredy. Apa yang diberikan Dijah sampai laki-laki yang terlihat kaya itu sampai mau dengannya.


“Perempuan berengsek,” desis Fredy.


“Ayo jalan,” ajak kakak laki-laki Fredy. “Kenapa lagi kamu? Fokus ke urusanmu sendiri aja. Aku dan kakakmu yang lain sudah sepakat bakal menanggung biaya hidup dua anakmu yang lain. Untung aja anakmu dari si Dijah udah ada yang mau tanggung jawab. Bisa-bisa seumur hidup kami cuma untuk ngurusin anak-anak kamu.” Kakak Fredy memandang kesal pada adiknya. Ia tak menyangka profesi yang digelutinya hampir separuh waktu dipakai untuk mengurus putra bungsu kesayangan dalam keluarga dulunya.


“Aku harap kamu bisa mikirin soal diri kamu aja di dalam sana. Kasian almarhum bapak dan ibu. Aku juga sebenarnya malu. Tapi kamu tetep adikku. Meski kita nggak tau bagaimana nasib sidang ini ke depannya, aku mau kamu pikirin diri kamu. Nggak perlu akui di depanku kalau kamu mau sadar. Jangan lakukan untuk kami, juga nggak perlu untuk anak-anak yang kamu tinggalkan. Setidaknya untuk dirimu sendiri aja. Bantu dirimu sendiri. Cuma kamu yang bisa Dy....”


Mereka telah kembali berada di dalam mobil tahanan yang akan membawa mereka ke penjara untuk kembali mengantarkan Fredy.


Kakaknya hanya diam membisu. Melayangkan pandangannya dari jok belakang mobil untuk menatap sisi belakang tubuh adiknya.


Fredy tak menjawab sepatah pun perkataan kakaknya. Ia bukan malu. Ia hanya terlalu sombong untuk mengakui bahwa hidupnya nyaris tak berguna.


Fredy juga merasa tak perlu mengatakan pada siapapun soal apa yang dirasakannya. Entah itu amarah atau penyesalan.


Lagi pula, tak ada satu pun manusia yang tahu soal isi hati dan tobatnya seseorang.


*****


“Emang beneran mau belanja baju bayi?” Heru balik bertanya.


“Aku udah ajak Dijah, dia udah iyain. Tapi pagi tadi dia ditelfon kakak laki-lakinya, ibunya sakit. Dijah jadi agak males-malesan. Ditambah kondisinya belum bener-bener fit. Akhir minggu nanti, aku mau ajak ke rumah kakaknya. Sekalian ajak Dul ke sana. Kali aja ibunya rindu ama Dul.”


Heru mengangguk-angguk. “Iya, datengin Ra. Udah bener begitu. Kita makan siang dulu ya, ada tempat makan bagus. Kemarin Mas Heryadi ngajak makan di sana. Sekarang aku mau ajak kamu.”


“Di mana sih? Aku emang belom pernah?” tanya Bara.


“Belom—belom, kamu belom pernah.” Heru terus melajukan mobil masuk jalan utama perkotaan dan berbelok ke kawasan yang berisi gedung-gedung pencakar langit tempat di mana berjajar puluhan perusahaan besar.


“Kok bisa yah si Fredy kayak nggak punya penyesalan gitu? Anteng banget,” ucap Bara.


Heru melirik adik sepupunya. “Katanya udah lega....” ucap Heru.

__ADS_1


“Lega kok. Aku cuma keinget aja.” Bara nyengir menoleh sekilas pada Heru.


Heru menghentikan mobilnya di depan sebuah cafe yang begitu rindang dikelilingi pepohonan. Heru menepuk bahu Bara untuk mengikutinya.


“Kita kan selama ini terlalu sibuk memperhatikan sosial dan perkembangan dunia sampe jarang nongkrong. Hari ini aku traktir kamu. Tapi kita udah telat untuk makan siang.” Heru menoleh jam di pergelangan tangannya.


Tempat makan itu terdiri dari dua tempat. Outdoor dan indoor. Dinding-dindingnya terbuat dari kaca dan halaman berumput terhampar dipenuhi meja dan bangku panjang yang berjajar.


“Bagus ya tempatnya. Kayaknya kalo malem ada live music." Bara menunjuk sebuah panggung. "Kita duduk di mana?” tanya Bara celingukan mencari tempat kosong.


“Di dalem aja deh, aku lagi pengen ngadem-ngadem kena AC.” Heru menunjuk pintu masuk kemudian berjalan ke arah pintu itu.


Heru langsung menempati meja kosong yang bersebelahan dengan dinding kaca di sebelah kiri. Di bagian tengah sebuah meja panjang diisi oleh tiga orang pria berpakaian rapi. Dan disisi paling kanan, sebuah meja bar terletak memanjang. Musik pop barat mengalun lembut. Suara percakapan pengunjung masing-masing meja memenuhi tempat itu bak dengung lebah. Ditambah suara dentingan sendok garpu beradu serta hentakan gelas ke meja menambah atmosfer ramah cafe itu.


“Baru tau ada tempat sekeren ini. Makanannya enak gak?” tanya Bara ke Heru.


“Enak kok, pesen aja.” Heru melambaikan tangan pada seorang pelayan yang lewat. Beberapa saat lamanya kedua pria itu menatap menu, akhirnya pelayan mencatat pesanan mereka dan berlalu dari sana. Kedua pria itu tak menambahkan kata-kata ‘gak pake lama’ pada pelayan. Karena mereka tahu bahwa itu adalah hal yang sia-sia. Makanan tetap akan diproses sesuai urutan pemesanan.


“Lama banget Lu! Kebiasaan kalo janji dateng suka paling telat!” ujar seorang pria di meja sebelah pada temannya yang baru datang. Heru dan Bara sampai menoleh ke arah meja sebelah karena sapaan keras barusan.


“Biasa. Dia kalo dandan pasti paling lama. Dateng juga paling lama,” sambut seorang pria bercambang.


“Tapi entar pulang paling cepet. Alesannya, bini gua udah nelfon.” Seorang pria lainnya menyambut. Pria yang baru datang duduk dengan santai tak mempedulikan perkataan ketiga temannya.


“Kamu juga calon bapak-bapak muda. Aku juga masih muda. Apa kita perlu gabung dengan meja sebelah?” tanya Heru memandang Bara sok serius. Bara tergelak.


“Kota besar selalu pelik. Manusia-manusia yang sibuk dan permasalahannya yang rumit. Tapi kemasan di luar seperti dituntut untuk baik-baik aja,” tukas Heru.


“Nongkrong sekali-sekali gak bawa istri, asik juga ya...” seloroh Bara memandang Heru.


“Iya, nongkrong 'kan bukan berarti macem-macem di luar.” Heru menyetujui perkataan Bara.


Bara mengangguk. “Cuma makan dan minum gak ada salahnya.” Bara kembali menepis rasa bersalahnya karena merasa makan enak sendirian tanpa keluarga.


“Cinta!!” panggil seorang wanita muda cantik melambai pada meja di belakang mereka. Wanita itu baru tiba di depan pintu masuk dan berjalan dengan anggunnya. Blus ketat berwarna merah menonjolkan dada yang menantang. Balutan jeans yang juga ketat memperlihatkan kaki langsing dan jenjang. Suara ketukan sepatu tingginya seolah membius berpasang-pasang mata lelaki yang sedang berada di sana.


Termasuk Bara dan Heru. Dan juga, empat laki-laki di meja sebelah mereka yang seolah tak sadar bergumam, “Uuuuuuu....”


“Cinta katanya, gua udah mau jawab aja. Kirain gua.” Seorang laki-laki bertampang blasteran masih menoleh menatap bokong wanita yang baru berlalu dekat meja mereka.


“Cakep ya, pasti masih muda.” Pria bercambang menambahkan pendapatnya.


“Gede,” bisik seorang pria yang datang paling akhir tadi.

__ADS_1


“Otak lu dari dulu yang gede terus. Yang di rumah kurang gede?” tanya temannya sambil menonjok pelan bahu pria yang baru berbicara.


“Yang di rumah tetap yang terbaik,” sahut pria tadi terkekeh.


“Mas,” panggil Bara. “Ada mau bilang sesuatu?” Bara tersenyum geli menyadari Heru yang juga ikut memperhatikan wanita seksi barusan.


“Aku? Mau bilang apa?” tanya Heru. Bara mengangguk.


“Semua yang mau aku bilang, udah diwakilkan oleh semua laki-laki dari meja sebelah.” Heru tertawa tertahan menyadari bahwa ia hampir ikut menimbrung kata 'Uuuu' dari meja sebelah tadi.


“Iya—iya, bener. Sama. Hampir ikut ber-uuuu 'kan?" Bara tertawa. Heru yang mendengar ternyata adik sepupunya berpikiran sama, semakin tertawa terbahak-bahak.


Siang ke sore itu mereka habiskan dengan membicarakan pekerjaan, kesehatan orang tua meraka, dan anak-anak di rumah. Santai dan benar-benar bisa disebut sebagai waktu berkualitas mereka.


DRRRTTT


DRRRTTT


Ponsel Heru yang berada di atas meja bergetar. Ia langsung meraih ponsel itu dan melihat isi pesan yang notifikasinya menyembul sekilas tadi.


‘Gimana Ru? Sudah beres? Kalau sudah anteng, kamu ajak pulang.’


Heru tersenyum kemudian mengetikkan balasan.


‘Sudah Pak Lek, kita berdua baru selesai makan dan ngobrol santai. Bara udah bisa pulang ke rumah. Dijamin moodnya udah bener :)'


Tak lupa Heru menambahkan emoticon senyum pada balasan pesannya pada Pak Wirya.


“Dari siapa?” tanya Bara penasaran karena melihat senyum sumringah Heru.


“Dari istriku. Disuruh cepat pulang,” jawab Heru berbohong.


“Iya, pulang yuk. Abis liat yang pake baju seksi-seksi, aku jadi kangen ama yang pake daster di rumah.” Bara tersenyum simpul.


Seorang pelayan kemudian membawakan tagihan di atas nampan kecil kayu. Heru mengeluarkan beberapa uang dan meletakkannya di atas lembar tagihan bertuliskan ‘BEER GARDEN SCBD’.


“Kembaliannya ambil aja,” ucap Heru tersenyum pada pelayan.


To Be Continued.....


Pemanasan dulu ya...


Salam kangen dari bapak-bapak ganteng :*

__ADS_1


__ADS_2