
Dijah menatap punggung Bara yang perlahan menjauh dan menghilang di luar pagar. Ia tak tahu apa itu kali terakhir dia akan melihat pria itu berada di sana.
Seiring dengan kepergian Bara, Dijah merasa ada ruang kosong di hatinya. Sepertinya ia akan kembali hidup normal. Jantungnya tak akan lagi berdebar tak sabar dan perutnya tak akan terasa menggelitik lagi tiap Bara menatapnya.
Jika Tuhan memberinya satu kesempatan, Dijah berharap bisa bertemu dengan Bara sekali lagi. Saat Bara telah bahagia dengan hidupnya.
"Udah tidur Jah?" teriak Tini dari sebelah.
"Belum. Kenapa?" tanya Dijah sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh Tini.
"Kasi kesempatan Jah, Mas-mu itu cuma mau kamu percaya dan bergantung ke dia. Aku tau yang kamu rasain. Aku pengen dilarang kerja, pengen dikhawatirkan, tapi kamu malah nggak mau. Laki-laki itu kalo udah suka, memang gak mau mikir susahnya nanti. Yang penting jalan, gedebak-gedebuk, enak-enak, resiko belakangan. Aku aja ngenes liat muka Mas-mu pulang tadi. Masa kamu nggak."
"Kamu nggak tau Tin... Banyak yang kamu nggak tau. Bara juga nggak tau apa-apa," ujar Dijah.
"Ya kamu kasih tau biar dia tau! Gimana dia mau tau? Kecuali kalau kamu pacaran sama Mbah Mijan! Kamu diem aja dia bisa nerawang-nerawang. Aduh, kesel aku. Abis si Gatot, kamu juga bikin naik gula darahku."
"Kasian Bara Tin..." Dijah bermaksud mengatakan pada Tini bahwa ia kasihan pada Bara yang bakal dipandang sebelah mata kalau berakhir hidup dengannya. Bara yang hidup teratur dengan keluarga harmonis malah bermalam di tempatnya seperti pria yang tak punya rumah.
"Ya kasian, aku juga kasian liatnya. Kamu nggak tau aja kalau laki-laki udah pengen itu rasanya gimana. Tipe Bara itu kalau nggak cinta, dia nggak bakal buka celana. Kamu percaya aku deh Jah, Bara itu pasti serius. Kalau aku salah, iris kuping Mak Robin!" seru Tini berisik dari kamar sebelah.
"Kok kuping Mak Robin?" tanya Dijah tak bersemangat. Tini salah mengartikan ucapannya, meski apa yang dikatakan oleh temannya itu sangat ingin ia percayai.
"Jangan kupingku pokoknya. Aku tidur Jah! Makasi karena udah belain aku tadi. Bukan soal kita menang atau kalah, tapi aku jadi ngerasa dipedulikan. Dipedulikan orang lain itu rasanya menyenangkan Jah..." Suara Tini kemudian lenyap. Sepertinya wanita itu telah tertidur pikir Dijah.
Dijah menggigit bibirnya keras-keras sampai cairan asin dirasanya di ujung lidah. Belum sakit ternyata pikir Dijah. Masih lebih sakit hatinya.
Dijah berguling dan mengusap dadanya yang terasa menyumbat. Padahal tubuhnya terasa lelah setelah baku hantam tadi sore, tapi matanya tak juga mau diajak lelap.
Seiring dengan rencananya yang akan mendatangi Mbok Jum dan Dul esok hari, Dijah mulai memejam dan menjemput alam mimpinya.
Dijah bermimpi, dalam mimpinya ia melihat dirinya sendiri sedang menangis di sudut ruang tamu rumahnya.
"Aku nggak mau Pak..." isak Dijah berjongkok di sudut rumah masih dengan seragam sekolahnya.
__ADS_1
"Kamu nggak mau bantu Bapak? Bapak bisa mati dibikinnya! Kita semua! Anggap dia memang udah jodoh kamu. Dia pasti baik karena dari dulu dia suka sama kamu," ujar Bapaknya.
"Tapi aku nggak mau Pak... Aku masih mau sekolah. Sebentar lagi tamat sekolah, aku mau pergi bareng teman-temanku..." Dijah meraung memukuli dinding di sebelahnya.
"Kamu juga kerjanya pacaran aja! Itu siapa laki-laki yang dateng kemarin?"
"Itu Rendra, temenku. Aku nggak pacaran. Aku nggak pacaran Pak... Aku nggak mau kawin. Bapak tolong aku. Siapa lagi yang bisa tolong aku..." Dijah kembali meraung memeluk kedua bahunya sendiri berharap seseorang menenangkannya.
"Nanti bisa habis temenmu itu dipukuli si Fredy!"
"Jangan Pak... Kasian. Pukuli aku aja sampe mati..."
Kilasan mimpi itu berganti.
"Rendra nggak sekolah seminggu Jah... Mungkin pindah sekolah. Kemarin katanya dibegal. Babak belur sampe masuk rumah sakit"
Kilasan mimpi berganti lagi.
"Dasar perempuan nggak tau diuntung! Anggap aja kamu jual diri untuk bayar utang bapakmu! Memangnya bisa bayar pake apa lagi kamu!"
"Sakit..." isak Dijah.
"Mampus! Biar tau rasa! Mau lagi kamu? Biar kamu nurut!" Sebuah bayangan kaki terlihat di atas kepalanya.
"Sakit!!" teriak Dijah. "Sakit!!"
Seiring teriakan terakhirnya, Dijah membuka mata.
"Cuma mimpi..." gumam Dijah. Ia bangkit dari tidur dan mengusap wajahnya yang penuh peluh.
Sudah lewat pikirnya, sudah lewat. Sekarang dia sudah aman. Dijah melirik jam dinding kecil yang tergantung di seberangnya. Baru satu jam tidur. Tapi rasanya sudah lama sekali.
Dijah berdiri mengecek kipas anginnya yang tak menyala.
__ADS_1
"Rusak, pantes aku keringetan banyak..." gumam Dijah. "Kalau nggak ada uang, kayaknya ada aja yang rusak." Dijah mengetuk-ngetuk kipas angin kecil-nya berharap kalau kipas itu bisa menyala karena mengerti akan dirinya.
*******
Dijah bangun kesiangan karena sepanjang malam setelah bermimpi kemarin, ia hanya berguling ke sana kemari tak bisa tidur. Ia baru bisa tidur menjelang subuh.
Setelah memasak telur balado dan memasukkan nasi ke dalam tempat bekal, Dijah buru-buru keluar gang rumahnya menyetop sebuah angkot untuk menuju ke tempat Mbok Jum.
Kasian Mbok Jum kalau sampai siang belum ada makan sama sekali. Beberapa hari sibuk dengan urusan percintaan yang gaduh, membuat Dijah merasa bersalah karena seolah melupakan Mbok Jum.
Dijah menyusuri gang kecil yang mengarah ke jajaran pemukiman kumuh yang padat di sisi tempat pembuangan sampah.
"Mbok! Mbok!" panggil Dijah.
"Aku di dalem Jah..." sahut Mbok Jum. Dijah menyibakkan tirai pintu dari karung plastik.
"Suamimu mana Mbok?" tanya Dijah berjongkok di depan pintu. Mbok Jum perlahan turun dari ranjang kayu beralas beberapa helai kardus. Dengan gerakan sangat lambat seolah tak memiliki tenaga, Mbok berjalan mendekati Dijah dan duduk di depan pintu.
"Suamiku meninggal kemarin pagi-pagi Jah... Lagi tidur. Aku nggak tau. Sorenya langsung dikebumikan." Mbok Jum mendongak seolah sedang menghalau air matanya.
"Mbok... Maafin aku nggak tau. Aku nggak tau," gumam Dijah. "Mbok sendirian, aku nggak tau." Dijah mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka sama sekali.
Di saat dia sedang sibuk bergulat karena ulah seorang laki-laki yang bahkan tak dikenalnya, di tempat lain ada orang lain yang lebih membutuhkan kehadirannya.
"Aku sendirian Jah sekarang... Kita sama," ucap Mbok Jum mulai menangis. "Meski suamiku sakit dan nggak bisa cari nafkah, tapi aku masih ditemani ngobrol. Dia sahabatku paling setia Jah... Sekarang aku sendirian. Anakku di mana aku juga nggak tau."
"Ada aku Mbok... Ada aku," isak Dijah memeluk bahu Mbok Jum. Ia biasa tidak sesentimentil itu. Tapi hatinya sedang sedih sekali. Badan Dijah berguncang menumpahkan sesak hatinya di bahu Mbok Jum.
Ada sebutan janda, duda, anak yatim, anak piatu bahkan yatim piatu untuk menunjukkan status dari hilangnya peran seseorang.
Tapi tak ada sebutan untuk orang tua yang ditinggalkan anaknya seperti Mbok Jum.
Kehadiran mereka bahkan tanpa disadari. Yang harusnya bersantai menikmati jerihnya melahirkan dan membesarkan anak namun masih harus berjuang demi sejengkal perut di usia senjanya.
__ADS_1
To Be Continued.....