
Subuh itu Bara terbangun lebih dulu. Ia terbangun karena tiba-tiba Dijah yang sepanjang malam tidur memunggunginya memeluk Dul, tiba-tiba berbalik dan memeluknya.
Bara yang tengah memejam saat itu merasakan dagunya menyentuh puncak kepala Dijah yang sedang membenamkan wajah di dadanya. Ia membuka mata, melihat ibu dan anak itu masih sama nyenyaknya. Bertumpu dengan satu tangannya, Bara memeluk Dijah yang masih terlelap. Mengusap lembut punggung wanita itu berulang-ulang serta mengecup puncak kepalanya. Bara menarik selimut untuk menutup tubuh Dul yang meringkuk karena AC.
*****
"Mau nyobain wahana yang mana aja?" tanya Bara pada Dul.
"Semua Om, boleh?" Dul balik bertanya.
"Boleh, kenapa nggak? Yang penting berani aja."
"Berani kalo ada yang nemenin," sahut Dul.
"Om temenin," jawab Bara tersenyum ketika mereka mengantre di depan loket tiket masuk.
Dijah berdiri di luar barisan dengan mata tak lepas dari anaknya yang tengah tertawa dalam gandengan tangan Bara.
Mulai pukul 10 pagi itu mereka menghabiskan waktu di sebuah theme park. Dul gelagapan saking senangnya. Berlari dari satu wahana ke wahana lainnya. Bara mengikuti Dijah dan Dul yang bergandengan dengan kamera di tangannya. Berkali-kali ia menjepret momen kebersamaan ibu dan anak itu.
Ketika mereka tiba di depan sebuah patung singa besar, Dul melonjak ingin naik ke atasnya untuk berfoto. Bara yang juga ingin memiliki foto bersama, meminta bantuan pada salah satu pengunjung yang sedang berada di sana.
Pose mereka saat itu, Dul yang sedang duduk di atas patung singa dipeluk oleh Dijah. Dan Bara berdiri di belakang mereka, melingkarkan kedua tangannya. Bara cukup puas melihat hasil jepretan itu dari layar kameranya.
Dijah yang penasaran pun ikut melongok melihat hasil foto itu dan tersenyum senang.
Sore sebelum kembali pulang, Bara mengajak Dul singgah ke sebuah peternakan sapi untuk membeli susu dan produk olahan susu lainnya. Masih dengan kamera di tangannya, Bara duduk di sebuah bangku dan menjepret Dijah yang mengajak Dul memberikan sebotol susu pada anak sapi.
Naluri Bara juga membawanya membidik tiap ekspresi wajah Dijah. Dijah yang mengernyitkan dahinya menghindari panas matahari, Dijah yang tertawa saat berbicara dengan Dul, serta Dijah yang diam-diam mencari keberadaannya di antara kerumunan orang.
"Cincinnya jangan dilepas ya," pinta Bara saat melingkarkan tangan di bahu Dijah menuju parkiran mobil.
"Sayang kalo kotor," sahut Dijah.
"Gak boleh dilepas pokoknya. Kalo dilepas aku ngambek. Kalo kotor bisa dibersihin lagi. Yang penting jangan dilepas." Bara langsung membuka pintu mobil penumpang bagian depan lebih dulu agar Dijah naik.
Dijah melirik mata cincinnya yang berkilau indah di bawah pantulan cahaya matahari sore.
Bara membuka pintu penumpang bagian belakang dan meletakkan bantal di sudut jok satunya agar Dul bisa berbaring.
"Kita pulang ya, jalannya pasti lama. Kamu tidur aja," ujar Bara pada Dul.
"Iya," sahut Dul mulai melepaskan sepatunya.
Lima belas menit pertama dalam perjalanan pulang, Dul telah tertidur dengan sebuah gula kapas berukuran besar yang tadi belum sempat dimakannya.
"Dul udah tidur," ujar Bara. "Kamu juga tidur aja kalo ngantuk," sambung Bara seraya mengusap pipi Dijah dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Belum ngantuk," kata Dijah.
"Peluk aku sini," tukas Bara menyodorkan lengan kirinya yang sedang bertumpu di bantalan tengah. Dijah mencondongkan tubuhnya. Mengalungkan kedua tangannya dan mendekap lengan Bara di dadanya. Bara sedikit terperanjat melihat hal yang dilakukan Dijah. Tapi ia senang dengan kehangatan yang baru saja diberikan oleh wanita itu.
"Makasi ya... Dul bahagia banget." Dijah mencium lengan Bara dari atas kemejanya. Merasakan hal itu, membuat Bara langsung menoleh dan mencium puncak kepala Dijah.
Ah... Rasanya Bara bahagia sekali. Dijah bahagia karena Dul bahagia. Dan ia bahagia, karena Dijah bahagia. Bara tak mau rantai kebahagiaan itu sampai terputus.
"Aku mau ngenalin kamu ke orangtuaku. Gimana?" tanya Bara santai. Ia tak mau Dijah terlalu fokus akan pertanyaan yang bermakna dalam itu.
Dijah diam sesaat lamanya. "Memangnya orang tua kamu gak marah?" tanya Dijah tanpa memandang Bara. Tangannya masih melingkari lengan pria itu dengan erat.
"Kenapa harus marah?" Bara balik bertanya. "Aku nggak pernah lho bawa wanita ke rumah," tukas Bara bangga.
"Karena itu juga aku minder," sahut Dijah.
"Tapi semua anak itu berhak menentukan pilihannya Jah... Melahirkan dan membesarkan seorang anak sampai dewasa itu tak lantas membuat anak terikat hutang budi pada orangtuanya. Anak tetap punya kehidupannya sendiri. Semua kebutuhan anak itu adalah kewajiban orang tua dan hak setiap anak yang dilahirkan. Dan kalau seorang anak membalasnya dengan kebaikan saat mereka dewasa, itu kesadaran sang anak tanpa paksaan. Kata ayahku, itulah tanda baktinya terhadap orangtua. Tanpa paksaan dari orangtua, yang harus menuruti semua kehendaknya pada sang anak sebagai bayaran. Itu yang dikatakan ayahku Jah... Berlaku untuk anak-anak kita nantinya." Menyadari kalimat terakhir yang baru saja diucapkannya, Bara terdiam.
Dijah juga ikut terdiam. Ia sedikit canggung saat mendengar kata anak-anak kita. Artinya anak-anak Bara bersamanya nanti? Kenapa Dijah agak ragu untuk hal itu. Ia mendongak untuk menoleh pada Bara.
"Kenapa?" tanya Bara. "Kamu ragu soal kita bisa punya anak? Aku udah 28 tahun lho Jah, anak adikku aja udah dua orang. Aku juga pengen punya anak sendiri. Pengen nemenin istriku ngidam yang aneh-aneh kayak istri temen-temen kantorku. Kamu gak pengen apa bangun tidur meluk aku setiap hari kayak tadi?" tanya Bara meletakkan telapak tangan di pipi Dijah yang masih bersandar di lengannya.
Dijah hanya diam mendengarkan semua ucapan Bara yang sangat indah itu. Dibayangkan saja sudah membuatnya bahagia, apalagi jika hal itu menjadi kenyataan.
Melihat Dijah yang hanya diam mendengarkan ucapannya tanpa memberi jawaban. Membuat Bara tak sengaja berdecak.
"Mau 'kan Jah? Minggu depan kamu aku ajak ke rumah ya... Kamu sendiri dulu, terus lain waktu, aku ajak kamu bareng Dul. Mau ya..." Bara kembali mengusap pipi Dijah.
*****
"Kenapa mukak kau Asti? Kok pucat kali kau kutengok?" tanya Mak Robin pada Asti yang datang dengan segelas teh di tangannya.
"Masuk angin. Praktek ke hutan-hutan kemarin." Asti menghempaskan tubuhnya di kursi plastik.
"Masuk angin atau masuk burung kamu? Gejalanya sama soalnya. Pucat dan mual kayak gitu," jawab Tini yang sedang menyulut rokoknya.
"Kalo dia aku percaya cuma masok angin. Kalo kau yang kayak gitu, dah jelas lah bunting!" sergah Mak Robin.
"Asti kurang gizi juga nih. Keseringan berhemat karena anak kos. Bulan lalu waktu sakit, tensinya cuma 80. Ya kan As?" tanya Tini.
"Iya..." sahut Asti memijat-mijat tengkuknya. "Minta minyak angin anjing Mak..." pinta Asti pada Mak Robin.
"Sebentar kuambilkan," sahut Mak Robin bangkit dari kursinya.
"Banyak makan daging As... Makan yang bergizi biar muka kamu itu lebih berwarna dikit. Protein!" tukas Tini. "Nah... kayak ini... Dijah! Liat mukanya!" seru Tini pada Dijah yang baru muncul di pagar kos-kosan.
Asti menoleh pada Dijah yang baru muncul bersama Bara setelah mengantarkan Dul pulang.
__ADS_1
"Liat muka Dijah!" seru Tini.
"Kenapa mukaku?" tanya Dijah.
"Seger! Lebih berwarna. Pasti karena udah banyak makan daging!" ujar Tini sok tahu.
Bara yang mendengar perkataan Tini hanya melengos melewatinya. Pria itu langsung menuju pintu kamar Dijah untuk membuka kuncinya dan meletakkan bawaan.
"Jah... Aku mau teh," pinta Bara saat kemudian menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di depan Tini.
"Sebentar aku buatin dulu," jawab Dijah kemudian menuju kamarnya. "Tin, minta air panasmu ya..." ujar Dijah pada Tini.
"Ambil Jah... Meski aku gak diajak, aku gak apa-apa."
"Apa sih Tini? Asti sakit apa?" tanya Bara lembut seraya tersenyum pada Tini. "Karena Tini, Dijah sekarang tenar lho di kantorku." Bara meletakkan kedua siku tangan di atas paha serta mencondongkan tubuhnya saat berbicara dengan Tini. Setelah mengatakan hal itu, Bara membasahi bibirnya.
Tini yang tak pernah melihat wajah Bara sedekat itu mulai belingsatan salah tingkah.
"Waduh Jah! Tolong aku!" pekik Tini.
"Kenapa sih?" tanya Dijah yang keluar kamar Tini dengan secangkir teh yang asapnya masih mengepul.
"Awakmu wingi ngasi ping piro jah karo mas mu? Nek dideloki seko raine sek ngene iki, menowo aku ngono'an terus ngasi gempor, mulih seko puncak aku iso didorong nganggo kursi roda. (Kamu kemarin berapa kali sama Mas-mu Jah? Kalau dilihatin sama mukanya yang begini, mungkin aku begituan terus sampe gempor. Pulang dari puncak aku didorong pake kursi roda.)"
"Tulung kowe ojo ndadekke raine mas-ku kanggo khayalane awakmu lho tin! (Tolong kamu jangan bikin muka mas-ku jadi fantasimu ya tin!)" sahut Dijah.
"Kampret!" seru Tini. Dijah langsung terbahak.
Dijah masih berada di sisi kanan Bara dengan secangkir tehnya yang berada di tangan ketika pria itu merogoh ponselnya dan melihat nama Mas Heru tertera di layar.
Bara mengambil teh itu dari tangan Dijah kemudian meneguknya sesekali.
"Gimana Mas? Aku? Masih di tempat Dijah," jawab Bara.
"Kamu menjauh sebentar dari dia, aku mau ngomong sesuatu." Suara Mas Heru terdengar serius dari seberang sana.
Jantung Bara langsung merasa tak enak mendengar perkataan Heru. Ia langsung berdiri menyerahkan cangkir tehnya pada Dijah dan berjalan menjauhi wanita itu beberapa langkah.
"Ada apa?" tanya Bara dengan nada cemas.
"Ra, kantor kita kemarin diserang orang. Tiga mobil minibus. Kata satpam, preman. Semua bawa kayu. Berhasil masuk sampe lobby kantor. Lobby hancur. Satu satpam luka, kepalanya bocor. Udah dilaporin ke polisi. Aku mau ngabarin ke kamu ga enak karena kamu lagi liburan. Dua orang preman itu, nanyain nama kamu."
"Aku ke kantor sekarang ya!" ujar Bara.
"Jangan, percuma. Besok kerja kayak biasa aja. Kamu hati-hati ya... Kalo bisa jangan sampe tau Dijah. Kamu pasti lebih ngerti," kata Heru sebelum menutup telepon.
Bara menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal. Lobby kantornya hancur lebur kata Heru. Kalau bukan karena itu perusahaan milik keluarga, Bara jelas sudah dipecat sekarang.
__ADS_1
Sekarang Bara sedang menebak-nebak apakah orangtuanya sudah mengetahui penyebab kekacauan itu ada kaitannya dengan wanita yang siang malam dikejarnya.
To Be Continued.....