
“Jah... Telfon temennya. Bilang kita udah di depan gang,” ucap Bara saat mulai menepikan mobilnya di depan gang.
“Oh iya.” Dijah tersentak kemudian meraih ponsel di tasnya.
“Dul entar duduk di belakang aja berdua bareng Robin ya?” ucap Bara pada Dul yang sedang melongokkan kepalanya dari bangku tengah. Bocah itu mengira bahwa mereka telah tiba di bandara.
“Naik pesawat dari sini?” tanya Dul. Bara tertawa.
“Belum, kita jemput temen Ibu dulu.” Bara kemudian turun dari mobil untuk menemui Heru yang mobilnya berada di depan. Sebelum benar-benar mendatangi Heru, Bara melipat separuh kursi tengah dan memindahkan Dul ke Jok belakang.
“Aku Mas?” tanya Maradona yang duduk di sebelah Bara sejak berangkat dari rumah tadi. Ia menjulurkan kepalanya dari kaca mobil yang dibuka setengah.
“Ya lo di situ aja. Dari bandara lo bawa mobil gua balik ke kantor. Ngerti gak? Kalo gak ngerti masa kontrak lo dipanjangin lagi.”
“Iya—iya ngerti,” sahut Dona cemberut kemudian kembali menutup kaca. Ketimbang selamanya menjadi karyawan kontrak, Dona memilih bungkam. Ia memang tak begitu menyimak saat pagi buta tadi Bara menjelaskan tugasnya mengantar ke bandara. Tapi melihat kehebohan pagi itu, Dona sedikit iri pada Bayu yang ikut seminar.
“Apa sih Kang Mas Bara masih pagi udah ngomel-ngomel?” Heru yang baru keluar dari mobil terlihat sumringah menyapa adik sepupu yang hari itu berubah menjadi sponsor piknik teman-teman istrinya.
“Bayu mana?” tanya Bara.
“Itu di dalem mobil. Mungkin lagi dandan mau ketemu Tini.” Heru terkikik geli.
“Ketawa mulu dari kemarin,” sungut Bara. “Ngeledek,” sambung Bara.
“Gak ngeledek. Siapa yang ngeledek? Aku seneng banget mereka mau ikut. Sampe kayak kamu bilang mereka ngumpulin uang tabungan. Itu sweet banget lho Ra... Mereka yang pas-pasan malah gak enakan. Temen aku yang kaya-kaya itu, kalo ditraktir malah seneng banget. Gak ada yang gak enak. Santai aja. Kamu gak liat semangatnya mereka? Liat tuh!” Heru menunjuk gerombolan tetangga Dijah sedang menuju mobil dengan langkah ringan.
“Kok gak bawa Mbak Fifi sih? Sekali-sekali pergi bareng istri....” Bara masih mengomeli kakak sepupunya.
“Fifi baru pindah jadi pembaca berita redaksi pagi. Jadi belom bisa ambil cuti. Lagian dia emang gak pernah nempelin aku kalo pergi urusan kantor. Kecuali kita emang liburan. Kayak gak tau Fifi gimana . Dia selalu percaya suaminya. Heru Gatot Satyadarma yang setia,” ujar Heru menepuk dadanya. Bara mendengus sebal. Dan Heru semakin tertawa karena selalu berhasil menggoda Bara.
“Mak Robin ke mobil aku aja, ada Dul.” Bara melambaikan tangannya ke arah Robin yang antusias melihat mobil mewah lagi gagah yang tak pernah dinaikinya.
“Kau juga ikut aku Tini! Jangan di sana! Biar si Asti aja.” Dengan satu tarikan ringan, Tini yang menampilkan banyak bunga di dress dan topinya hari itu, berhasil dimasukkan secara paksa ke dalam mobil Bara.
“Ya ampun Mak, aku cuma mau mandang-mandang aja,” sahut Tini berkilah sembari melemparkan tatapan selera ke arah Heru yang tersenyum-senyum.
“Gak! Gak percaya aku! Nanti habis kau rogoh-rogoh laki orang.” Mak Robin melepaskan topi lebar Tini yang tersangkut di pintu mobil dan menjejalkan ke dalam dekapan pemiliknya.
“Astaga ...” gumam Bara pelan. Ia tak menyangka sudah mendengar hal ganjil di detik pertamanya bertemu dengan penghuni kos ajaib itu.
“Dirogoh Ra ...” ucap Heru mengulangi perkataan Mak Robin.
“Dibayangin pasti,” sahut Bara. Heru semakin tergelak. “Heru Gatot Satyadarma yang setia. Hih,” cibir Bara.
“Ngegodain ama ketawa itu bukan berarti selingkuh,” ucap Heru.
“Bilang gitu depan Mbak Fifi,” sahut Bara masih dengan cibirannya. Heru kembali tertawa.
“Ayo—ayo ... Yang namanya Asti dan Boy masuk ke mobil yang ini. Kita langsung menuju ke airport ya...” ucap Heru saat membuka pintu mobil bagian tengah. Asti masuk lebih dulu kemudian disusul Boy.
“Eh, ada Mas Bayu ...” sapa Asti ketika mendapati Bayu yang sedang sibuk menoleh ke belakang untuk mencari-cari sosok Tini.
“Eh, hmmm ...” Bayu ternyata tak mengingat Asti. Ia tersenyum canggung disertai sedikit anggukan.
__ADS_1
Mobil Heru yang pagi itu dikemudikan seorang supir melaju mengikuti mobil Bara yang telah mendahului di depan.
“Mbok ya langsung ngulurin tangan ngajak kenalan gitu lho Bay ... Ngeluh jomblo, ada cewek di sebelah gak diajak kenalan. Kayaknya perlu diperpanjang masa kontrak kamu.” Heru mengatupkan mulutnya menahan tawa. Ternyata isi ancaman Heru dan Bara sama untuk para junior di kantor itu.
“Aku Bayu, 24 tahun, status single, karyawan kontrak dan mahasiswa semester awal magister ilmu komunikasi. Zodiakku pisces. Kamu?” Bayu melepaskan ponsel dari tangannya untuk menjabat tangan Asti yang sejak tadi terulur.
"Asti Mas ... Mahasiswi tingkat akhir di fakultas Manajemen Kehutanan. Aku Aquarius." Asti merekahkan senyum termanisnya.
Heru masih mengatupkan mulut menahan senyum. Ia tahu sejak pertama kali Bayu mengunjungi kos kandang ayam di hari Bara melerai Dijah berduel, Asti telah mencuri-curi pandang kepada pegawainya itu. Heru merasa semakin akan menyukai perjalanan itu. Pasti penuh drama pikirnya.
“Geser la kau sikit Tin ... Lebar kali pan-tat kau,” bisik Mak Robin. Meski itu bisikan, tapi kalau Mak Robin yang berbicara itu sudah dipastikan orang mendengarnya dengan cukup jelas. Apalagi saat itu mereka berada di dalam mobil.
"Aku udah mentok di deket pintu Mak ... Apa aku harus duduk di luar aja biar kamu lega? Kenapa gak bawa kursi plastikmu aja trus duduk di atas?" Tini kembali melengos menatap keluar jendela.
Bara menarik nafas panjang. Ia mengemudikan mobilnya dengan Dona yang berada di jok sebelah. Di bangku tengah duduk Tini, Dijah dan Mak Robin. Sedangkan dua bocah seumuran, Dul dan Robin sepertinya sudah mencair dalam 10 menit pertama mereka bertemu.
“Mas Yudi itu gimana?” tanya Dijah pada Tini juga dalam bisikan.
“Yudi terus yang ditanya. Bosen aku, belum apa-apa. Baru makan bakso. Aku juga baru tau dia gak mau makan sayur. Waktu pesen semua-semua gak boleh dimasukin. Toge enggak, sawi enggak, bawang goreng enggak, semua-semua gak mau. Aku curiga selama ini dia makannya pelet,” tukas Tini.
“Kalo kau mau kawin, jangan karena nengok orang mau kawin. Karena kau cinta lah Tini! Jangan buru-buru kali kayak udah divonis dokter sisa 3 bulan lagi umur kau!” Mak Robin tertawa terbahak-bahak.
“Iya Tin! Lagian udah sering kawin juga. Kamu bilang udah gak ada lagi yang dibawa mati selain amal. Hahaha ....” Dijah juga tertawa terbahak.
“Ehem!! Dijah ...” tegur Bara pada isterinya yang tertawa lebar nyaris di telinganya.
“Iya Mas ....” Dijah memajukan letak duduk dan memeluk sandaran jok dari belakang serta mengusap-usap dada suaminya. Bara langsung diam kemudian meraih lengan wanita itu dan mengecupnya.
Tini yang sebal melihat kemesraan Dijah dan suaminya, sedikit menarik rambut wanita itu. Mak Robin yang kesal melihat Tini, membalas dengan menepuk pelan dada wanita itu.
“Eh iya Mak!” Dijah melepaskan pelukannya pada Bara kemudian menatap Mak Robin. “Kumisnya itu juga. Geli. Bisa jadi saringan kopi,” tambah Dijah. Ia kemudian ikut tertawa lebar lagi.
“Dijah ....” Bara kembali menegur isterinya.
“Oh iya Mas ....” Dijah kembali mencondongkan tubuhnya ke depan dan mengusap-usap dada suaminya agar lebih bersabar. Padahal seminggu lebih hidup dengan suaminya, Dijah merasa dia bisa menemukan sisi feminin dan kalemnya. Tapi bertemu dengan bekas tetangganya di kandang ayam jadi cerita yang berbeda.
Tini mulai kalem. Ia belum meminum obat anti mabuk perjalanannya karena menyimpannya untuk perjalanan di pesawat saja. Tak lucu pikirnya kalau sepanjang perjalanan ia selalu tak sadar.
Saat ini Tini hanya bisa mengurut dada dengan segala cacian dari teman-temannya. Mabuk perjalanan membuat Tini terpuruk.
Saat mereka tengah hening dan nyaris tiba di pintu keluar tol, sebuah truk berukuran sedang menyalip mobil mereka dari kanan untuk langsung berada di depan. Bara spontan menginjak rem dan seluruh penumpang menjadi terdorong ke depan.
“Bisaan ya ini truk! Perlu diajari etika berlalu lintas kayaknya,” umpat Bara menambah kecepatan mobil untuk menjajari truk itu.
Melihat gelagat tak enak dari Bara yang terkadang mudah terprovokasi, Dijah bertukar pandang dengan Mak Robin.
“Tin,” panggil Mak Robin kemudian menunjuk jendela mobil di sebelah Tini. Bara sudah membuka kacanya setengah dan bersiap mengeluarkan kata-kata tajam saat mobil mereka telah berada di sebelah kiri truk. Namun Bara kalah cepat.
“Hei! Gak ada otak kau ya! Yang kau kira nenek kau bawa jalan raya ini dari kampungmu sana?? Bagus kau sikit bawa mobilmu itu! Jangan tancap-tancap kali kalo masih mau liat matahari!”
Bara bengong. Kernet yang tadinya mau ikut meladeni Bara juga terdiam.
“Tutup Tin!” pinta Mak Robin. Tini yang sedang lemas langsung menutup kaca mobil di sebelah kanannya.
__ADS_1
“Udah Mas ....” Dijah mengingatkan Bara yang kemudian ikut menutup kaca mobil.
“Beres, 'kan?” ujar Mak Robin. “Nanti kalo laki-laki adu cakap, ujung-ujungnya baku hantam. Mending mamak-mamak turun tangan.”
“Iya bener. Mending kita aja ...” tambah Dijah.
“Dijah...” tegur Bara lagi.
“Iya Mas ...” Dijah kembali mencondongkan tubuhnya untuk memeluk bahu Bara dari belakang. Ia kembali mengusap-usap dada suaminya yang sedang berdecak dan menggelengkan kepala.
Akhirnya setelah huru-hara selama perjalanan yang terasa begitu panjang, mereka tiba di bandara.
Dengan bawaan masing-masing, mereka beriringan masuk. Cuma Dijah yang melenggang dengan menggandeng dua anak kecil di kanan kirinya. Bayu telah membereskan urusan check-in dan menyerahkan seluruh boarding pass kepada Heru.
Mata Heru berbinar-binar. Ia memegang segepok boarding pass dan menikmati perannya sebagai tour leader.
“Selamat pagi semuanya. Kita udah nyampe di bandara. Ini saya bagi boarding pass-nya masing-masing. Jangan sampai hilang, karena di sini tertera nomor kursi kita di pesawat. Perjalanannya gak lama. Bagi yang memiliki mabuk perjalanan, harap melakukan tindakan antisipasi.” Heru kemudian membagi boarding pass ke masing-masing orang.
“Menikmati banget ya kayaknya,” desis Bara pada Heru saat menyerahkan boarding pass.
“Aku suka. Rame ....” Heru kemudian berjalan mendahului semuanya. “Ayo—ayo ikut saya.”
Setibanya di ruang tunggu, Tini langsung menghempaskan tubuhnya di kursi besi. Dijah sedang berdiri di dekatnya dan memperhatikan temannya itu sedang membuka sebotol obat anti mabuk.
Tini langsung memutar tutup botol dan meneguk obat itu dari botolnya. Tanpa sendok takar. Ia kemudian kembali mencampakkan botol obat ke dalam tas.
Tak berapa lama, Bayu berjalan mendekati mereka.
“Mbak Tini ...” sapa Bayu. “Ini aku bawa buku biografi Dokter Sun Yat Sen. Tokoh berpengaruh di Republik Tiongkok. Mbak Tini pasti suka. Bisa dibaca selama dalam perjalanan.” Bayu mengulurkan bukunya.
Tini meringis. Dijah terperangah. Asti dan Boy saling pandang dengan wajah tegang. Mereka khawatir akan jawaban Tini pada Bayu. Sedangkan Heru sudah berlindung di balik tubuh Bara, bersiap-siap untuk tertawa.
“Aku baca dosis obat di kotaknya aja males. Apalagi baca—ya udah, aku terima. Makasi.” Tini mengambil buku itu dari tangan Bayu dan memasukkannya dengan asal ke dalam tas.
Setelah Bayu pergi, Tini berkata pada Asti. “Kamu itu kalau ngasi tau hobi yang masuk akal. Gak baca buku setebal ini aja, aku mungkin dipapah turun dari pesawat. Apalagi baca buku ini. Bisa-bisa gitu nyampe, aku langsung dikebumikan.” Tini bersandar dengan wajah pucat. Asti yang merasa bersalah pada Tini kemudian mendekati temannya itu.
Sambil memijat-mijat tengkuk Tini, Asti bertanya “Bukunya boleh kubaca?”
“Boleh! Bawa sana! Baca sampe hapal! Siapa tau nanti ada ujiannya!” Tini menjejalkan buku itu ke pelukan Asti yang spontan tersenyum riang.
Heru tampak sedang berbicara santai dengan Bayu di pojok kursi lainnya. Sedangkan Bara dan Dijah sedang meladeni dua bocah laki-laki mengusir kebosanan selama menunggu waktu terbang mereka.
To Be Continued.....
Tombol likenya jangan lupa diusap ya... :*
mmuaaahhhh
__ADS_1