PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
121. Kunjungan Kawan


__ADS_3

Itu sudah biasa


Selingkuh kau anggap biasa


Wanita mana tak kecewa


Arjunanya buaya


Katanya ke kantor alasannya lembur


Tapi kau happy


Bicaramu banyak suka pura-pura


Aku tertipu


Katanya ke kantor alasannya lembur


Tapi kau happy


Bicaramu banyak suka pura-pura


Aku tertipu


Itu sudah biasa


Selingkuh kau anggap biasa


Wanita mana tak kecewa


Arjunanya buaya


Cinta yang satu kau bagi-bagi


Cinta untukku kau bawa pergi


Sabtu malam di kos kandang ayam Tini dan Boy sedang menyanyikan lagu keempat dari depan pintu kamarnya masing-masing. Seperti biasa, speaker sebesar koper kabin milik Boy diletakkan di tengah halaman.


Sebenarnya letak speaker itu mengganggu orang yang sedang lalu lalang. Tapi Tini mengomeli setiap penghuni kos yang memandang tak suka pada speaker itu. “Kenapa liatnya sampe kayak gitu banget? Suka? Dibayarin aja,” ujar Tini dengan mic-nya.


Lain lagi saat seorang pria pemuda lewat dan batuk-batuk sambil memegang telinganya untuk menyindir suara Tini yang memang tak merdu. “Es teroooss” seru Tini lagi dengan mic-nya.


Mak Robin yang duduk di sebelah Tini sudah mulai mengernyit terganggu. Seorang pengangguran tanpa pasangan benar-benar perpaduan yang bisa membuat gila siapapun.


Sebuah gerobak mie ayam masuk ke halaman kos-kosan. Dan Tini menyenggol kaki Mak Robin untuk memberitahu.


“Udah makan aku. Kau aja!” seru Mak Robin setengah berteriak.


“Mie ayam Boy!” seru Tini dengan mic-nya lagi. Tukang mie ayam sedikit berjengit terkejut tapi kemudian ia membawa gerobaknya ke depan kamar Tini.


“Apa jadinya kalo di dunia ini gak ada mie ayam,” ucap Boy juga dengan mic.


“Walaupun hidup 1000 tahun nggak makan mie ayam apa gunanya...” Tini bersenandung dengan mic-nya.


“Matikan mic kau itu sebelum kupatahkan!” sergah Mak Robin menutup telinganya. Tini menuruti permintaan Mak Robin.


“Aku satu mangkok ya Mas,” ucap Tini dari kursinya.


“Cabenya disatuin kan?” tanya Mas mie ayam.


“Pisah! Pisah semua. Gak boleh ada yang bersatu sampe aku punya pacar lagi!” tukas Tini.


“Biasanya disatuin...” gumam mas mie ayam pasrah.


“Aku lagi nggak suka liat orang bahagia. Kalau bisa semua cerai! Cerai!” pekik Tini.


Plakk!!


Mak Robin menampar pipi Tini. “Ada nyamuk besar kali dah gembung perutnya ngisap darah kau!” Mak Robin meniup telapak tangannya di mana seekor bangkai nyamuk berada.


“Ga usah bising kali muncung kau nyuruh orang semua cerai. Nanti jasad sama arwah kau yang diceraikan baru terdiam muncung kau!” ucap Mak Robin.


“Aku juga mau Mas!” kata Boy pada mas mie ayam. Boy baru saja selesai menyimpan speaker-nya ke dalam kamar.


Mas mie ayam datang mengantarkan pesanan Tini dengan mangkuk kecil yang dipisah sebagai tempat sambal.


“Ini uangku.” Tini mengulurkan selembar uang sepuluh ribuan.

__ADS_1


“Kurang 2000 Tin,” ucap mas mie ayam.


“Memang nggak ada laki-laki di dunia ini yang bisa menerima kekuranganku,” ratap Tini kembali merogoh kantongnya mencari pecahan dua ribu.


“Kurasa cuma laki-laki yang bisa jadi obat gila si Tini ini,” gumam Mak Robin.


“Itu Asti!” seru Mak Robin saat melihat Asti turun dari motor Bayu.


“Mau langsung balik, permisi Mbak—” Bayu sedikit menunduk ke arah Tini dan Mak Robin. Asti mengamati Bayu yang memutar motornya ke arah luar. Pukul 8 malam ia sudah kembali ke kos-kosan setelah keluar dari pukul 3 sore tadi.


“Eh!” tukas Asti tiba-tiba telah tiba di dekat teman-temannya.


“Apa??” tanya Tini, Boy dan Mak Robin nyaris bersamaan.


“Mbak Dijah hamil!” seru Asti tersenyum lebar menutup mulutnya. “Kaget nggak?” tanya Asti.


“Kukira apa,” sahut Tini kembali melanjutkan makannya.


“Gak kaget ternyata,” ucap Asti.


“Ya enggak. Udah sering gladi bersih, kalau nggak hamil aku malah kaget.” Tini kembali menambahkan sambal ke dalam mangkuknya.


“Gak sia-sia la si Bara sering begadang.” Mak Robin terkekeh. “Jadi kelen besok ke rumah Dijah?” tanya Mak Robin.


“Jadi, ikut ‘kan?” tanya Boy.


“Iya, ikutlah aku. Ngapain aku di sini sendirian tepaok-paok (bengong).”


“Eh Mas Boy, tadi waktu Mas Boy aku bangunin tidur siang. Kepalanya kenapa geleng-geleng gitu? Mimpi apa? Kayak lagi sedih,” tukas Asti berjongkok memegang lutut Tini dan Boy.


“Geleng-geleng?” Boy mengernyit. Asti mengangguk. “Ooh... Aku mimpi jadi kipas angin. Capek ternyata. Heran kok mimpiku kayak gitu,” sahut Boy menggeleng lagi.


“Mbak Dijah katanya mabuk parah. Mas Bayu diminta gantiin Mas Bara nemenin Mas Heru ke luar kota. Aku bakal nggak ketemuan empat hari.” Asti mengatupkan mulutnya.


“Cintailah pasanganmu dengan memberinya waktu istirahat yang cukup. Siang-malem udah telfonan dan chatting. Empat hari itu gak lama,” ujar Boy. Asti mencibir.


“Dijah mabuk ya? Besok kita bawa apa untuk dia?” tanya Tini yang kini telah selesai makan. Tangannya masih memegang mangkuk kosong.


“Besok kita beli gorengan di simpang. Dijah suka gorengan.” Boy berdiri menaruh mangkuknya.


“Tolong taruh mangkukku Boy!” pinta Tini.


“Gendong Mak!” rengek Tini sok manja.


“Bah! Udah macam si Ponari aja kau digendong-gendong.” Mak Robin melengos.


“Ponari itu minuman kan? Ponari Sweat?” tanya Asti berusaha melucu.


“Iya Asti...” Jawab Boy, Tini dan Mak Robin bersamaan.


*****


Minggu pukul 10 pagi, Bara telah kembali membawa keluarganya pulang ke rumah. Dijah pulang mengenakan kaos oblong milik Bara dan celana bahan yang dikenakannya kemarin. Blus bercorak bunga-bunga kecil yang dikenakannya saat ke rumah mertuanya terkena muntahan ketika ia bersiap-siap pulang tadi.


“Ayo Dul, ibu gantiin bajunya dulu...” gumam Dijah lesu menggandeng tangan anaknya menuju kamar.


“Dul biar aku aja yang urus, kamu masuk kamar aja sana. Ganti pakaian. Kalo gak sanggup juga, biar aku yang gantiin. Aku suka,” ucap Bara tertawa mengacak rambut Dijah yang langsung menyipitkan matanya.


Bara menggandeng Dul menuju kamarnya. “Tadi udah mandi ‘kan? Sekarang ganti baju dulu,” pinta Bara seraya meletakkan sepapan puzzle di meja belajar Dul.


“Ibu sakit ya?” tanya Dul. Bara mengangguk melepaskan kancing kemeja bocah itu.


“Ibu sakit tapi nggak bakal meninggal kayak Mbah Lanang ‘kan?” tanya Dul polos.


“Enggak—enggak. Ibu Dul sakit karena ada adik Dul sedang tumbuh di perut ibu. Kamu masih mau kan punya adik?” tanya Bara menatap manik mata Dul.


“Mau! Aku mau! Berarti perut ibu nanti bisa besar?” tanya Dul lagi. Bara tertawa.


“Iya. Bener... Nanti bisa besar. Doain ibu dan adik kamu sehat-sehat ya...” Bara membuka lemari kecil dan mengeluarkan sepasang pakaian rumah beserta dalaman bocah itu.


“Ibu sakitnya lama?” Dul mengangkat sebelah kakinya saat Bara mengganti pakaian dalamnya. Bara menggeleng.


“Enggak. Gak lama. Jadi—selama ibu sakit, kalo kamu ada perlu apa-apa minta ke ayah aja ya... Atau ngomong ke Mbok Jum. Gimana?” Bara mulai memakaikan celana pendek Dul.


“Dul mau dipanggil Mas ‘kan?” tanya Bara.


“Mau,” jawab Dul cepat.

__ADS_1


“Kalo gitu, nanti ibunya dibagi sama adik, kamu gak apa-apa?” Bara menatap Dul. “Ibunya boleh dibagi kan? Untuk Dul, untuk ayah, untuk adik Dul nanti. Boleh gak?”


Dul mengangguk dan wajahnya seperti sedang berpikir-pikir.


“Mikirin apa?” tanya Bara.


“Aku suka Akung,” ucap Dul. “Mbah gak pernah ngajak aku main. Akung mau. Akung sering ketawa,” tambah Dul. Bara tertawa. Ayahnya benar-benar telah mencuri hati Dul, pikirnya.


“Akung memang sering ketawa. Mbah Dul juga baik kok. Dulu ‘kan sering nganter kamu pergi sekolah.” Bara merapikan pakaian Dul dan memegang bahu kurus bocah laki-laki itu.


“Iya, Mbah juga baik. Sekarang cuma ada Mbah Wedok aja. Mbah Wedok jarang ngomong tapi sering buatin aku makanan.” Dul berjongkok membuka laci tempat mainannya tersimpan. Semalaman berada di rumah Pak Wirya membuat Dul rindu akan mainan yang dimilikinya.


“Kalo Uti gimana? Baik gak?” tanya Bara sedikit berdebar. Ia agak takut mendengar penilaian polos Dul soal ibunya.


“Uti jarang ngomong.” Dul mengeluarkan balok warna-warni. Bara sedikit menunduk untuk mendengar suara Dul.


“Terus?” tanya Bara sedikit tak sabar.


“Uti jarang ngomong. Tapi tadi pagi aku disuapin madu dua sendok. Kata Uti aku kurus. Harus minum madu biar makannya banyak. Terus—” Perkataan Dul terhenti. Konsentrasinya sudah terbagi karena memisahkan balok warna-warni yang melekat satu sama lain.


“Terus?” tanya Bara lagi.


“Terus kata Uti minta beliin madu sama Ayah. Kata Uti, ayah dulu juga kurus.” Dul kembali menunduk menyusun baloknya ke bentuk yang baru. Bocah itu mengeluarkan selembar gambar contoh bentuk balok yang mau ditirunya.


Bara tertawa. Ia menarik nafas lega. Madu untuk Dul? Ia tersenyum. Ibunya masih sama. Masih sibuk menjejali madu pada anak-anak yang dinilainya tak mau makan. Bara masih ingat bagaimana ia pernah menuangkan setengah botol madu ke wastafel agar cepat habis saking enegnya setiap pagi harus meminum cairan itu.


“Nanti ayah beli madu. Untuk Dul, untuk ibu juga. Ayah ke kamar dulu ya... Kalo mau makan minta ke Mbok Jum.” Bara berdiri dari ranjang dan keluar kamar dengan baju kotor Dul di tangannya. Ia langsung ke belakang meletakkan baju kotor di keranjang dan pergi membuat secangkir besar teh hangat untuk Dijah.


“Jah...” panggil Bara membuka pintu kamar. Dijah telah kembali menukik seperti pesawat dengan kepala terbenam di antara bantal. Wanita itu bahkan belum mengganti pakaiannya. Nafasnya sudah teratur pertanda ia langsung tertidur saat mencapai ranjang.


“Ganti baju dulu,” kata Bara menyingkirkan bantal yang menutup wajah isterinya. Setelah mengurus Dul sekarang ia harus mengurus calon ibu anaknya.


“Tidur dulu Mas... Kepalaku pusing,” sahut Dijah.


“Aku buatin teh ini, ayo bangkit dulu. Minum, buat tenaga...” bujuk Bara. Bara meletakkan cangkir teh di atas meja dan mengangkat tubuh Dijah yang lemas seperti tak bertulang.


“Minum,” pinta Bara kembali menyodorkan cangkir teh. “Jangan baring dulu, ganti baju. Sebentar aku ambil.” Bara bangkit menuju lemari dan mengeluarkan daster istrinya.


Dengan wajah kusut dan rambut semrawut, Dijah berdiri melepaskan seluruh pakaiannya. Bara berdiri sedikit terbengong. Dijah telanjang di ruangan terang, siang bolong.


“Dasternya...” Dijah mengulurkan tangan meminta daster dari Bara.


“Gak pake daleman?” tanya Bara kembali membuka lemari mengambil dalaman istrinya.


“Celananya aja. Gak usah pake beha. Gerah. Sumuk,” ucap Dijah dengan wajah cemberut.


“Ya ampun Dijah...” Bara menyodorkan pakaian dalam yang kemudian dipakai wanita di depannya dengan terburu-buru. Dijah memang tak elegan dan terlalu feminin seperti wanita-wanita yang mengejarnya selama ini. Tapi semakin hari, Bara semakin menyadari, inilah pesona Dijah yang dinikmatinya.


Dijah tak pernah sibuk dengan penilaian orang lain terhadapnya.


“Makan dulu yuk,” ajak Bara saat Dijah kembali merebahkan tubuhnya.


“Pagi tadi kan udah... Mas ngajak makan terus,” rengek Dijah membenamkan wajahnya kembali ke bawah bantal. Bara terkekeh.


“Ya udah, entar siang aja. Temen kamu jadi dateng?” tanya Bara lagi.


“Gak tau...” sahut Dijah. “Biasanya kalau udah janji pasti dateng.”


“Aku pijet-pijet dikit mau?” tanya Bara kemudian ikut berbaring menumpukan satu tangannya di kepala di sebelah istrinya.


“Mau...” sahut Dijah mengangkat bantal dari kepalanya dan mendekati Bara. “Pijet ini Mas... Enak,” ucap Dijah menunjuk punggungnya. Ia tidur miring melingkarkan tangannya ke leher Bara.


“Dul lagi main. Bajunya udah aku gantiin. Mbok Jum lagi sibuk soalnya. Tadi aku bilang dia mau punya adik, Dul seneng.” Bara memberi pijatan lembut di punggung istrinya. Tangannya kemudian menyusup ke balik daster sampai telapak tangannya yang hangat menyentuh kulit punggung Dijah.


“Makin malem, mabuk kamu kayaknya makin parah. Aku bisa tukar jadwal ke pagi,” ucap Bara. Dijah memejamkan mata dan menikmati sapuan tangan Bara di punggungnya.


Perlahan Bara mengangkat daster itu sampai ke bagian dada istrinya. Tangannya berpindah kembali membelai dada yang sejak semalam hanya bisa dipandang-pandanginya saja.


“Perasaanku aja atau apa, tapi kayaknya bentuknya makin bagus ya Jah...” Bara mulai mengusap puncak dada istrinya dengan ibu jari.


“Hmmm...” Dijah menggumam setengah tertidur. Bara melepaskan tangan Dijah yang melingkari lehernya dan mulai menunduk di atas dada istrinya itu. Seperti lama tak pernah menyentuh sepasang dada Dijah yang dinilainya sangat menawan, Bara mulai menyesap puncak dada istrinya. Ia merengkuh tubuh Dijah ke dalam pelukannya. Bibirnya sibuk menggigit pelan dan menyeruput sampai berdecak. Satu tangannya sibuk meremas bokong istrinya. Namun, waktu belum berpihak pada Bara.


“Dijaaaaah... Diiiiijaaaaahh” Suara Tini terdengar dari luar pagar.


“Mbak Dijah... Kita bawa gorengan banyak niiih...” Asti ikut berteriak.


Aktifitas Bara seketika terhenti. Ia menarik nafas, memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Tubuh Dijah sedikit berguncang karena menahan tawa.

__ADS_1


To Be Continued.....


Jangan lupa dilike ya sayang-sayang enjuusss :*


__ADS_2