PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
169. Semuanya Senang


__ADS_3

“Mau ke mana? Ayah lagi nyetir Nak...” ucap Dijah pada Mima yang meronta dan merengek merentangkan kedua tangannya ke arah Bara.


“Mima...sama ibu dulu. Entar lagi nyampe. Liat tuh, di depan ada badut.” Bara menghentikan mobilnya di belakang garis zebra cross lampu merah.


Sebelum berangkat tadi, Mima sedang asyik-asyiknya digendong Bara berkeliling komplek rumah sembari menunggu Dijah yang sedang bersiap-siap.


Namun saat berada di mobil, bayi itu tak rela jika harus melepaskan ayahnya. Sepanjang jalan meronta karena ingin kembali ke pangkuan Bara. Bahkan Dul sudah mengeluarkan seluruh stok mainan yang berada di mobil untuk mengalihkan perhatian Mima agar tak menangisi Bara.


“Eh itu badut—liat!” Dijah membuka kaca jendela mobil agar Mima melihat ke luar. Seorang badut dengan kostum Marsha mendekati. Mima semakin meronta sambil melihat ke arah ayahnya. Wajah bayi itu seolah meminta pertolongan agar dikasihani dan segera digendong. Rambut ikalnya kecoklatan dan pipinya bersemu merah menggemaskan.


Bara terkekeh melihat wajah putrinya yang mendramatisir. “Kenapa? Emangnya diapain sama ibu? Ayah masih nyetir...nanti kalo udah nyampe di tempat om Boy, ayah gendong lagi.” Bara mengusap sudut mata Mima yang mulai berair.


“Memangnya tadi Mas bawa ke mana sampe gak mau duduk tenang gini anaknya?” Dijah cemberut memandang suaminya.


“Dibawa jalan ke rumah pakde Heru. Mungkin karena udah digendong dengan tangan-tangan kekar dan berotot, jadi kamu yang gendong Mima ngerasa gak enak.” Bara tertawa seraya menutup wajah Dijah yang cemberut dengan telapak tangannya.


“Nanti kalau aku ketemu temenku, Mas yang jagain Mima ya... Aku mau ngobrol dulu. Dia udah kenyang. Mungkin entar lagi tidur. Ya ‘kan Nak? Tidur gendong ayah ‘kan?” tanya Dijah menciumi pipi putrinya.


Dul duduk mencondongkan tubuh ke depan sambil mengatupkan mulut karena gemas memegangi ujung sepatu adiknya.


“Nanti minta pakde Heru yang gendong,” ujar Bara.


“Memangnya ikut juga?” tanya Dijah.


“Mau mampir pengen liat outlet baru Boy. Tadi nanya kita mau ke mana, trus katanya mau ikutan. Ya udah... sekali-kali kita penuhi ruko Boy dengan anak-anak,” kata Bara.


“Ya nggak apa-apa. Boy pasti seneng tempatnya jadi rame.” Dijah masih memegangi Mima yang berdiri mencengkeram lengan kaos ayahnya.


15 menit kemudian mobil sudah memasuki kawasan jajaran pertokoan. Dan beberapa saat kemudian, Mima sudah kembali tenang berada di gendongan ayahnya.


Dul melompat-lompat saat melihat Robin yang duduk di salah satu kursi di teras ruko. Lampu outlet Seempuk Setumpuk terlihat terang benderang. Dua pembeli terlihat berdiri sedang menunggui pegawai Boy yang sedang memanggang roti.


“Rame ya...” ujar Bara pada Boy saat melihat sekeliling tempat itu.


“Lumayan Mas, apalagi di sebelah ruko ada penjual minuman Boba si Bobi.” Boy melayangkan pandangannya pada ruko sebelah penjual minuman yang juga tampak ramai.


“Tini udah dateng?” tanya Dijah pada Boy.


“Belom,” jawab Mak Robin yang baru menelan makanannya. “Mungkin sebentar lagi nyampe,” sambungnya lagi.


“Asti juga juga belum dat—eh itu dia! Baru diomongin,” pungkas Boy menunjuk sepeda motor yang baru datang dan berhenti di depan ruko.


“Hei...udah rame!” pekik Asti girang. “Mana Mima?” tanya Asti langsung berjalan mendekati Bara.


Asti merentangkan tangannya ke arah Mima yang anteng dalam gendongan Bara. Bayi itu langsung menyembunyikan wajah dan mendekap Leher ayahnya.


Bara tertawa menunduk melihat wajah putrinya. “Gak mau digendong dengan Tante Asti?”


Dijah ikut tertawa.


“Wah, gak mau denganku. Padahal di kantor aku udah menyombongkan diri ngomong deket dengan anak-anaknya pak Bara.” Asti menoleh wajah Bara seraya terkekeh.


“Masih ada?” tanya Dijah pada Asti.

__ADS_1


Bayu menyusul Asti dan berdiri di sebelah Bara. Mak Robin sibuk menyuapi Robin dan Dul dengan potongan roti bakar. Sedangkan Boy baru saja kembali ke dekat mereka setelah memesan minuman Boba di sebelah.


“Masih ada apanya?” tanya Boy sedikit bingung dengan pertanyaan Dijah.


“Setiap yang baru ikut program magang, pasti ada aja. Terakhir kemarin, malah ada yang bisik-bisik. Lagi ngomongin pak Bara pake jaket trus nenteng helm full face-nya....” Asti terkikik-kikik menutup mulutnya.


“Hmmm—mulai deh ya...” ucap Bara. “Aku nggak ada ngapa-ngapain ya Jah, gak salahku kalo anak magang ngomongin aku di belakang.” Bara melirik wajah Dijah yang sedang mencibir.


“Apa karena motornya?” tanya Boy. “Dijual aja Mas ke aku, aku mau.”


“Yee...jangan...” sergah Bara. “Kalo orang ganteng, mau jalan kaki juga tetep ganteng. Bukan karena motornya aja.” Bara membela diri.


“Kayaknya iya Mas, coba Mas naik motor matik. Apa kerennya masih sama.” Bayu ikut memanas-manasi.


“Berani lo ama gua di sini?” tanya Bara pada Bayu. “Mentang-mentang udah pegawai tetap ya?” sindirnya lagi.


Bayu tertawa menonjok pelan lengan Bara.


“Biar keliatan udah bapak-bapak. Jangan naik motor begituan,” ucap Bayu lagi.


“Jangan bawa-bawa motor gua dalam masalah ini. Dia gak salah,” balas Bara. “Lo jangan kacaukan malam ini dengan kompor soal motor ya.... Malem gua masih panjang nih.”


“Ayo duduk deket Mak Robin,” ajak Asti.


“Eh, aku ambil minuman kita dulu. Mungkin udah selesai dibuatin.” Boy pergi ke ruko sebelah untuk mengambil pesanannya tadi. Boba berbagai rasa untuk para tamunya di Sabtu malam itu.


Di dalam ruko itu hanya tersedia 4 meja yang dipenuhi para pembeli yang rata-rata berpasang-pasangan. Boy mengambil kursi kosong dari dalam ke teras untuk duduk teman-temannya.


“Mana si Tini? Banyak kali cakapnya. Tadi sore katanya gak lama-lama,” omel Mak Robin melemparkan tatapan ke arah jalan di depan mereka.


“Katanya makan malam dulu dengan Jono Mak.... Siapa sih Jono?” tanya Dijah penasaran.


Baru saja Dijah bertanya hal itu pada Mak Robin, sebuah mobil SUV besar berhenti di depan ruko Boy. Pintu depannya terbuka dan sepasang kaki langsung terjulur melompat keluar.


Ternyata Tini. Mobil yang tinggi dan postur badannya yang pas-pasan, membuatnya sulit bergaya elegan untuk turun dari mobil mewah itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah melompat bak seorang anak kecil.


Semua mata tertuju pada Tini yang sedang melambai-lambai ke dalam mobil. “Okei...bye... Good night!” ucap Tini melambai kemudian menutup pintu mobil. Ia lalu berjalan menghampiri gerombolan temannya.


“Haiii....” sapa Tini pada tiap pasang mata yang sedang tertuju padanya.


“Itu Jono?” tanya Dijah langsung.


“Iyoo...jenenge John Omaar. Aku manggilnya Jono. Lebih gampang,” tukas Tini.


Serentak semuanya mengatakan, “Oooo”


“Ya ampun, jadi kerasa panas banget ya.... Tadi di mobil nggak kerasa,” ucap Tini mengibaskan tangannya ke leher.


“Sombongnyaaa...” ucap Bara berdecak memandang Tini.


“Duduk Tin!” Boy mengangsurkan sebuah kursi plastik pada Tini di sebelah Asti.


“Makasi Boy—eh sebentar, hapeku bunyi. Siapa sih malem-malem hari libur gini masih cari-cari aku,” omel Tini merogoh tas bunga raflesia arnoldi-nya.

__ADS_1


“Ya ampun.... Tini udah jadi wanita karir,” ujar Bara. Dijah terkikik geli kemudian mengalungkan tangannya memeluk lengan Bara. Ia menyandarkan kepala dan mencium lengan Bara sebelum mengelus pipi Mima yang terlihat mengantuk di bahu ayahnya.


“Ya, halo?—oh iya. Saya Tini Su. Malem ini saya lagi di luar, bisa besok aja hubungi saya lagi? Saya lagi nggak pegang data. Gimana?” Wajah Tini terlihat serius.


“Makjang...baru tau aku udah Tini Su namanya. Udah kayak artis Mandarin aja...” gumam Mak Robin.


“Aku juga baru tau nama panggungnya sekarang Tini Su,” sahut Boy.


Tini meletakkan telunjuknya di bibir meminta teman-temannya jangan berisik.


“Mbak Tini Su...” ulang Asti terkekeh.


“Sekarang manggilnya Budhe Tini Su ya Nak...” ucap Bara memalingkan wajahnya ke kiri mengecup kepala Mima yang sedang menjemput kantuknya. Tubuh Dijah berguncang pelan menahan tawa. Bara yang sejak tadi mengulum senyum, ikut mencubit pelan pipi Dijah yang sedang setengah memeluknya.


“Apa siih...berisik banget.” Tini memasukkan ponselnya ke tas. “Pokoknya kalau ke kantor, tanya aja siapa Tini Su. Aku udah dikenal sebagai ratu asuransi,” ujar Tini.


“Makin jadi sombongnya...” gumam Bara.


Sebuah Hummer terlihat mendekat dan parkir di sebelah mobil Bara. Heru baru saja tiba.


“Liat tuh siapa yang dateng,” kata Bara menunjuk Heru yang baru turun dari mobil sambil menggendong anaknya. Di sebelahnya terlihat Fifi berjalan sambil memegangi ujung kemeja suaminya.


“Udah komplit semuanya,” kata Heru seraya menurunkan anak laki-lakinya yang langsung berlari mendekati Dul.


“Hei...” sapa Fifi tersenyum mengedarkan pandangannya.


Tini duduk membelakangi Heru dan Fifi yang baru tiba.


“Mas, kenalin. Agen asuransi tersohor, Mbak Tini Su.” Bara menunjuk Tini demi menyadarkan Heru akan keberadaan Tini di sana.


“Oh, Mbak Tini Su...apa kabar?” sapa Heru tersenyum mengulurkan tangannya pada Tini.


Tini melemparkan tatapan kesal pada Bara dan Dijah yang sedang terkekeh-kekeh. Padahal ia sudah berpura-pura sibuk dengan ponselnya, tapi uluran tangan Heru tak mungkin diabaikan.


“Udah pernah ketemu, ‘kan?” tanya Fifi yang sedikit bingung. Wajah Heru yang terlihat serius sekali, membuat Fifi ikut mengulurkan tangannya kembali menjabat tangan Tini.


“Mbak Tini yang ini beda,” ucap Heru. “Ya ‘kan Mbak?” tanya Heru pada Tini dengan senyum mengembang.


Tini meletakkan ponselnya kemudian menyambut uluran tangan Fifi.


“Saya Tini Su, bawahannya pak Agus di PT. Asuransi X-tra Large. Kalau perlu polis untuk segala perlindungan apapun di dunia ini bisa minta infonya ke saya. Kalau perlindungan di akhirat, silakan ke yang Maha Kuasa mintanya. Untuk investasi masa depan kita juga ada produknya,” kata Tini kemudian melepaskan jabat tangan Fifi.


“Kalo masa lalu Tin?” seloroh Boy saat meletakkan dua kursi untuk Heru dan Fifi.


“Masa lalu itu cukup Tuhan aja yang tau Boy. Kamu nggak usah ikut-ikutan nyatet, karena udah ada yang ditugaskan untuk itu. Well—mana menu minumannya. I em so tristii... (Aku sangat haus),” ucap Tini meraih selembar menu di atas meja.


“Tristi... (thirsty)” ulang Bara mencibir.


Malam itu, semuanya senang. Boy senang karena outlet ketiganya selalu ramai. Mak Robin senang bermalam Minggu membawa anaknya naik motor. Asti dan Bayu senang karena malam itu mereka bisa pacaran hemat di warung Boy. Dijah senang bertemu teman-temannya. Bara yang senang melihat istrinya senang dibawa jalan-jalan karena sudah seharian di rumah sepanjang minggu. Heru yang senang karena merasa menemukan teman-teman baru yang unik. Dan Tini yang senang karena merasa berharga dan dibutuhkan di kantornya.


Tak hanya hubungan percintaan, hubungan persahabatan pun membutuhkan kedewasaan. Alih-alih iri, melainkan kagum ketika melihat teman yang lebih, entah itu fisik, kepintaran, karir atau bahkan keberuntungannya, bisa jadi salah satu ciri dari kedewasaan seseorang.


To Be Continued.....

__ADS_1


__ADS_2