PENGAKUAN DIJAH

PENGAKUAN DIJAH
154. Putri Pertama


__ADS_3

Mima sudah tiga hari berada di rumah dan demi menjaga putrinya di hari-hari awal kehidupan, Bara mengambil cuti selama dua minggu penuh.


Pontang-panting memburu pekerjaan di minggu-minggu sebelumnya ternyata memang membuahkan hasil. Bara bisa lega karena tak harus merasa bersalah karena melimpahkan pekerjaan yang terlalu banyak pada bawahannya.


Memang berbeda pikirnya, bekerja untuk diri sendiri sambil sesekali membelikan sesuatu bagi kedua orangtuanya dibanding bekerja untuk menafkahi sebuah keluarga sepenuhnya. Tanggung jawab itu terpikul penuh dan harus diemban dengan sepatutnya.


Bara merasa harga dirinya berada di sana. Terletak pada kemampuannya menafkahi dengan usaha yang maksimal sembari menjalani cita-citanya. Hal yang bukan hanya menantang, tapi juga berat.


“Jah...” panggil Bara.


“Ya Mas,” sahut Dijah dari dalam kamar. Ia sedang menyusui Mima yang sore itu baru berganti pakaian dan kembali beraroma minyak telon.


“Mas dipanggil mas Heru ke kantor, kamu nggak apa-apa ‘kan kalo di rumah sama mbak Ami aja?” tanya Bara mendekati anak-istrinya di ranjang.


“Ada apa? Kok tumben?” tanya Dijah. Beberapa hari bersama Bara di rumah tanpa gangguan telepon dari kantor membuatnya penasaran.


“Ada liputan penting. Kasus lumayan besar. Pembunuhan dan perampokan. Dona lagi nggak ada. Harus ada yang senior,” jelas Bara.


“Bakal lama?” Dijah melirik suaminya. Ia merasa lemah dan tak bernyali jika harus sendirian di rumah mertuanya saat itu. Terlebih kondisi pergerakannya masih terbatas. Hari sudah sore dan sebentar lagi kedua mertuanya pulang. Sedangkan Dul berulang kali masuk ke kamar hanya untuk mengecek adiknya yang sedang tidur.


Dul selalu penasaran kenapa Mima terus-terusan tidur. Dia berharap Mima bisa tertawa saat dipanggilnya dengan sebuah mainan di tangan.


“Mudah-mudahan gak lama,” sahut Bara duduk di tepi ranjang. “Ada yang kurang?” tanya Bara.


“Apanya?” tanya Dijah


“Kebutuhan Mima atau ibunya, atau Dul? Biar mas beli sekalian keluar,” jawab Bara. Ia berbaring menelungkup dengan satu tangannya mengusap pipi Mima yang sedang berdecak-decak menyusu.


“Nggak ada, semua masih lengkap.”


“Nggak pengen apa-apa?” tanya Bara lagi.


“Kepingin ayahnya Mima jangan lama-lama pulangnya.” Dijah melepaskan pegangannya pada Mima dan mengusap pipi suaminya.


“Ibunya Dul sekarang makin romantis sejak punya anak perempuan,” ucap Bara memegang tangan Dijah di pipinya dan mengecup tangan itu.


“Ya udah, siap-siap sana. Cepet pergi, cepet pulang.” Dijah menarik tangannya dan menepuk lengan suaminya.


“Kalo udah di rumah males keluar,” ucap Bara seraya bangkit menuju kamar mandi.


“Ya bagus, asal jangan ada sambungannya.”


“Apa?” Bara kembali menoleh pada Dijah.


“Kalau udah di luar males pulang,” sahut Dijah.


“Kalo itu mudah-mudahan enggak,” –Bara melepaskan kaosnya—“udah banyak perempuan-perempuan cantik di rumah yang nunggu aku.”


*****


“Aku udah di jalan,” ucap Bara di telepon mengabarkan pada Heru kalau ia sedang menuju ke kantor.


“Oke. Itu bawa dua orang anak baru ya Ra. Satu wartawan baru, satu lagi anak magang. Biar sekali-kali ke lapangan. Ajarin soal cover both side (meliput dari dua sudut pandang berbeda),” pinta Heru dari seberang telepon.


“Harusnya aku cuti,” keluh Bara.

__ADS_1


“Ini salah satu kekurangan kerja di perusahaan keluarga. Gak ada keringanan dan uang lembur. Judulnya aja lembur,” ujar Heru terkekeh.


“Baiklah Pak Direktur,” sahut Bara.


“Jangan lupa, ini pasti bakal jadi headline. Beritanya masih panjang. Setelah olah TKP, ada rekonstruksi, sidang dan seterusnya. Kita harus ikuti semua. Masyarakat harus tau sampai ke penyelesaiannya. Jangan kayak kasus-kasus besar lain yang liputannya meledak di awal tapi sidang putusannya malah sepi. Anyep,” beber Heru memberi pendapatnya.


“Mungkin itu kasus-kasus penting yang sengaja dianyepin. Kalo kriminal murni biasa rame terus, “ ujar Bara yang sekarang sudah lumayan berpengalaman.


“Kayaknya sebentar lagi udah bisa jadi penulis editorial (kolom yang mencerminkan pendapat dari sebuah media).” Terdengar tawa Heru yang bermaksud menyindir Bara karena selalu menggebu-gebu jika membahas soal crusade journalism (jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu contohnya : demokrasi, keagamaan atau nilai-nilai kebenaran.)


Sore ke malam itu Bara bersama tiga orang pria lainnya ikut mengerubungi sebuah rumah besar di kawasan pemukiman elit. Akses keamanan mumpuni dan ditaburi oleh cctv berbagai sudut. Uniknya perampok sekaligus pembunuh itu hanya dua orang. Memanfaatkan kelemahan dan kebaikan seorang pembantu yang sedang membuka pagar dan menjawab pertanyaan dua orang pria yang bingung mencari rumah kenalannya. Atas peristiwa itu, enam orang dinyatakan meninggal dunia.


Pukul 11 malam Bara kembali mengantarkan tiga orang laki-laki yang tadi dipungutnya di kantor kembali ke tempat itu. Dan hampir tengah malam ia mendorong pagar rumahnya untuk memasukkan mobil. Langkah kakinya buru-buru menaiki tangga menuju kamarnya.


Perlahan Bara membuka pintu kamarnya karena mengira Dijah dan Mima pasti sedang tertidur lelap. Ternyata nyatanya tidak. Dijah sedang duduk bersandar dengan mata setengah terpejam memangku anaknya.


“Eh kenapa nggak baring?” tanya Bara menghampiri Dijah yang terperanjat melihat kehadirannya.


“Nggak mau tidur Mas.... Padahal udah nyusu kenyang, tapi ditaruh di box-nya, bangun lagi. Merengek ujung-ujungnya nangis. Aku khawatir nanti denger ibu, aku nggak enak. Ini udah tengah malem. Ayah-ibu pasti capek di luar seharian.” Dijah menatap Mima yang tidur nyenyak di pangkuan.


“Jadi kalo dipangku, Mima tidur nyenyak?” tanya Bara terkekeh mengelus kepala anaknya.


“Iya, kalau dipangku anteng. Gitu aku letak, bangun. Pinter ini,” ucap Dijah dengan mata mengantuk.


“Pinter kayak ayahnya,” ujar Bara meletakkan ranselnya di atas meja kerja. Entah kenapa kalau cantik, ganteng, pintar, atau hal-hal positif lainnya, kaum bapak-bapak memang cepat sekali mengklaim hal itu sebagai turunan dari genetiknya.


“Mas udah makan?” tanya Dijah seraya bangkit menuju box bayi yang menempeli dinding di dekat kaki ranjang.


“Belum. Mas mandi trus makan dulu ya.... Abis itu biar mas yang jaga Mima, ibunya tidur aja.” Bara dengan sigap masuk ke kamar mandi.


Dan Dijah kembali mencoba meletakkan Mima di dalam boxnya. Hasilnya ternyata tak sampai lima menit, Mima kembali menggeliat dan membuka matanya.


Bara keluar dari kamar mandi masih dengan lilitan handuk menatap istrinya yang berjalan perlahan memeluk buah hati mereka dengan mata lelah.


“Sabar ya... ayah makan dulu. Laper,” tukas Bara.


“Aku ikut ke bawah, bosen di kamar mondar-mandir terus dari tadi.” Dijah melangkah menuju pintu.


“Jangan—jangan, belum boleh. Kamu mau apa? Biar mas aja yang ambilin. Mas ngeri kalo kamu banyak-banyak bergerak.”


“Gak mau apa-apa. Itu makanan yang dibawain mbak Ami juga masih banyak belum habis. Aku dikasi makan terus,” kata Dijah.


“Namanya ibu menyusui... mas ke bawah ya, makan. Gak lama,” ucap Bara kemudian menangkup kedua pipi Dijah dengan tangannya. Istrinya sedang duduk di tepi ranjang dan mendongak tiba-tiba karena ciuman paksaan darinya.


Bara memejamkan mata, menikmati ciuman panjang yang selalu memabukkan baginya. Sekilas ia sempat memijat dada istrinya. Namun aksinya itu terhenti menyadari Mima yang sedang berada di dalam gendongan Dijah.


“Jah, Mas udah puasa seminggu...” bisik Bara di telinga Dijah setelah ciuman mereka berakhir.


“Hebat ayahnya Mima.... Terus?” Dijah melirik suaminya dengan wajah geli.


Bara mengangkat bahunya kemudian berjalan menuju pintu. “Terus nggak apa-apa, cuma info aja sama ibunya Mima....” Bara berlalu setelah mengedipkan matanya pada Dijah yang mencibir.


Malam itu, Bara sebenarnya juga lelah sekali. Apalagi setelah seluruh badannya terkena guyuran air hangat. Matanya seketika terasa berat. Setelah menyantap sepiring nasi secepat mungkin, ia buru naik ke kamarnya untuk mengambil Mima dari Dijah.


Dijah sudah kembali bersandar di tepi ranjang sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


“Udah, sini anaknya...” pinta Bara mengambil sebuntalan bayi mungil dari pelukan ibunya. “Kenapa malam ini rewel? Kangen ayah ya? Jadi nagih ‘kan karena tiap malem, mau tidur ayah yang gendong.” Bara memeluk Mima yang sedikit menggeliat kemudian membuka matanya.


“Aku tidur ya Mas...” gumam Dijah menurunkan bantalnya dan merebahkan diri. Tak tahu sudah berapa jam ia duduk bersandar memangku anaknya di kamar itu.


“Iya, kamu tidur aja. ASI yang udah dipompa mana?” tanya Bara.


“Ada di bawah. Jangan lupa diangetin dulu.” Dijah mengingatkan.


“Ya udah, mas ke bawah ya...” Bara berniat membawa Mima ke ruang keluarga seperti biasa. Di sana lebih luas dan rutenya memutar untuk berjalan-jalan menggendong Mima sedikit lebih luas ketimbang di kamar.


Bara meninggalkan Dijah yang langsung hanyut ke alam mimpinya. Sambil bersenandung kecil, Bara menggendong Mima menuju ruang keluarga. Ia langsung menyalakan televisi mencari siaran berita yang tajam, aktual dan terpercaya.


Tapi semangatnya menonton berita, ternyata tak berimbang dengan kemampuan matanya untuk terbuka. Bara mengulangi tingkah Dijah tadi. Bersandar memeluk Mima yang lelap dipangku namun terbangun ketika diletakkan.


Berkali-kali ia tersentak karena merasa sudah tidur terlalu lama. Mencoba meletakkan Mima di sofa untuk mengetes kadar lelap bayi itu, namun ia harus segera memangkunya karena Mima langsung terbangun beberapa saat kemudian.


Nikmatnya punya bayi cantik ini, batin Bara. Pukul 4 pagi, Bara yang matanya sudah terasa lengket dikejutkan dengan tepukan di bahunya. Bu Yanti sudah bangun dan duduk di sebelahnya.


“Anak gadis ini nggak tidur di box-nya?” sapa Bu Yanti mengambil Mima dari pelukan Bara.


Bara langsung merebahkan dirinya ke belakang. “Aaaahhhh.... Leganya...” seru Bara dengan suara keras.


“Suaranya Mas! Kaget anaknya,” omel Bu Yanti.


“Gak mau tidur dari tadi. Tiap diletakkan bangun. Padahal kemarin-kemarin kalo mas yang jaga, Mima mau tidur di box. Padahal ditinggal ngeliput sebentar, udah rewel aja.”


“Mas juga gini kok dulu. Jangan heran kalau anak Mas juga kayak gini. Malah ayahnya Mima sampe sekarang masih rewel. Biar Mas juga tau rasanya,” kata Bu Yanti menepuk-nepuk Mima dalam gendongannya.


“Anak mas cantik ‘kan Bu?” tanya Bara merangkul ibunya menatap Mima yang tidur nyenyak.


“Iya, cantik. Hidungnya mancung, bibirnya mungil, penuh. Pipinya merah kayak pake blush on,” ucap Bu Yanti terkekeh memandang cucunya.


“Mima cantik karena ayahnya ganteng,” ujar Bara.


“Ayahnya ganteng, karena ibunya cantik” balas Bu Yanti.


“Gak mau kalah,” jawab Bara.


“Coba tanya orang-orang, Mas itu mirip siapa. Semua bilang Mas itu mirip ibu. Ya Mima ini secara gak langsung, cantiknya dari ibu.


“Iya—iya.... Kalo gitu, Utinya yang cantik ini jaga Mima dulu ya, ayahnya Mima mau rebahan sebentar. Mau ganggu ibunya Mima yang tidur nyenyak,” ujar Bara terkekeh tergesa-gesa menuju tangga.


“Jangan bangun siang-siang. Ibu mau kerja,” seru Bu Yanti.


“Tergantung.” Bara berteriak dari anak tangga paling atas.


“Tergantung apanya hei.... Dasar anak itu,” sergah Bu Yanti masih sambil memeluk Mima.


Menyadari Mima yang kemudian menggeliat di dalam gendongannya, “Eh, maaf.... Uti teriak-teriak ya. Keganggu ya tidurnya? Bobok lagi—bobok lagi.” Bu Yanti mengayunkan Mima di dalam gendongannya.


To Be Continued.....


Maafkan terlambat update, karena sibuk dengan urusan dunia nyata.


Yang belum mendapat vaksin, semoga segera tiba dan dimudahkan gilirannya.

__ADS_1


Mari doakan semoga pandemi ini cepat berlalu agar hidup kita semua kembali normal.


Sehat-sehat semuanya...


__ADS_2