
"Baru sampai tiga jam di rumah, udah mau pergi lagi. Mau ke mana?" tanya Bu Yanti saat melihat Bara menuruni tangga.
"Mau nganter oleh-oleh," ujar Bara melenggang santai ke ruang keluarga.
"Oleh-oleh untuk siapa? Joana? Atau cewe baru?" tanya Bu Yanti yang benar-benar penasaran karena melihat Bara yang seperti tak ada lelahnya. Menghabiskan waktu di perjalanan 15 jam lebih dari Amsterdam tapi bukannya malah beristirahat.
Bara sedang berdiri menggulung lengan kemeja flanelnya menghadap dinding grafir kaca di sisi kiri ruang keluarga.
"Oleh-oleh untuk siapa?" ulang Bu Yanti.
"Untuk Dul, anak laki-laki duduk di bangku TK. Pinter anaknya, aku suka. Ibu pasti juga suka. Mau aku bawa ke sini?" tanya Bara dengan tawa kecil.
"Jangan macem-macem kamu, nanti orangtuanya marah." Bu Yanti menghempaskan tubuhnya di sofa depan televisi.
"Masalah orangtuanya urusan aku," tukas Bara kembali tertawa.
"Jangan banyak bercanda kamu. Inget--"
"Tesisnya dikerjain. Jangan banyak main. Pikiran kamu tuh main terus. Udah 28 tahun... Pasti mau ngomong itu." Bara merapikan rambutnya sekilas masih menghadap dinding kaca.
"Dibilangin orang tua malah gitu," ucap Bu Yanti meraih remote dan menyalakan televisi.
"Santai Bu... Santai. Mbak Ami mana? Aku mau keluar bawa mobil, minta tolong tutupin pagernya." Bara melintasi ruang keluarga dan berjalan ke arah dapur.
"Panggil aja, mungkin udah di kamarnya. Atau panggil Bi Yus. Ami jam segini biasanya udah tidur." Bu Yanti melirik jam yang sudah hampir pukul 11 malam.
"Mas Bara mau keluar?" tanya Bi Yus yang muncul dari belakang. Wanita itu adalah asisten rumah tangga paling senior di rumah Pak Wirya. Usianya sekitar 60 tahun dan pekerjaan utamanya di rumah itu adalah memasak.
"Iya, tolong tutupin pagernya ya..." pinta Bara kemudian mengaduk sebuah keramik berbentuk mangkok besar di sebelah televisi tempat di mana semua kunci kendaraan berada.
"Tumben bawa mobil, biasa motor terus." Bu Yanti melongok anaknya yang berjalan ke pintu samping untuk menuju garasi.
"Udah malem Bu, pinggangku pegal duduk di pesawat 15 jam!" seru Bara yang ternyata mendengar perkataan ibunya.
Setelah Bara membunyikan klakson SUV hitam-nya, Bi Yus kembali menyeret pagar besi. Wanita tua bertenaga gatot kaca itu langsung mengambil gembok pagar dan menguncinya. Hidup menemani Bara di hampir seluruh usia laki-laki itu, membuat Bi Yus paham benar akan sifatnya.
__ADS_1
Bara pasti sedang jatuh cinta pikirnya. Meski malam itu Bara terlihat ganteng dan wangi sekali, tapi ia tak bisa menyembunyikan wajah lelahnya.
Bara sudah melajukan mobilnya menuju gang rumah orang tua Dijah. Tadi ia sempat berkirim pesan pada Dijah, dan berpesan agar wanita itu langsung pulang ke kosnya. Bara berencana akan mengantarkan berbagai macam coklat jenis coklat yang dibelinya di Schipol untuk Dul sebelum ke tempat Dijah.
Saat memarkirkan mobilnya di tepi jalan, Bara tak melihat ada keanehan di gang itu, mungkin dikarenakan jalannya yang gelap, dan bentuk jalan gang itu semakin mengecil ke ujung.
Samar-samar di kejauhan Bara mendengar suara hardikan seorang laki-laki.
"Anakmu udah kamu kasi makan uang hasil melacur 'kan? Itu uang dari mana? Berapa tarif kamu satu malam?"
Bara penasaran dan hatinya mulai memikirkan sesuatu yang dikhawatirkannya.
"Pelacur! Murahan! Ayo kita ke hotel, aku bantai kamu di sana!"
Laki-laki berengsek, kutuk Bara dalam hati. Ia sudah meremas bungkusan di tangannya.
"Hape baru! Sini aku mau liat! Pasti dikasi sama laki-laki itu ya? Banyak uangnya, kerja apa dia?"
Dan semakin mendekati rumah orang tua Dijah, nyatalah sudah pemandangan yang membuatnya murka. Fredy sedang mencengkeram rambut Dijah saat wanita itu berjongkok memunguti isi tasnya.
Laki-laki bajingan itu mengata-ngatai Dijah pelacur. Laki-laki yang hidup seperti sampah tapi bisa melontarkan hal seperti itu pada wanita yang mati-matian menafkahi anaknya dengan uang halal.
Sepertinya Dijah yang sedang panik memunguti isi tas dan sibuk menyimpan ponselnya yang diminta Fredy tak menyadari ketika kaki Bara telah tiba di dekatnya dan langsung memberi tendangan pada Fredy sampai laki-laki itu terjerembab telentang.
Kemana para tetangga Dijah? Kenapa tak ada yang menolongnya meski hanya sebuah teguran? Manusia-manusia di gang itu seolah tuli.
Bara mencampakkan bungkusan yang dipegangnya dan berjalan menghampiri Fredy yang sedang mencoba mengerti akan situasi yang membuatnya telentang di tanah.
"Siapa yang Lo panggil pelacur tadi?" teriak Bara. Tangan kirinya sudah mencengkeram erat kerah baju Fredy. Bara mengetatkan raupan tangannya di bawah dagu Fredy sampai wajah pria itu memerah.
"Siapa yang pelacur?!" teriak Bara kemudian mendaratkan satu pukulan di rahang Fredy. Belum lagi menjawab dan menyadari siapa penyerangnya, Fredy kembali mendapat satu pukulan.
Fredy tak bisa berkutik, kedua tangannya mencoba menarik lengan Bara yang menjepit lehernya. Kakinya memukul-mukul ke tanah mencoba menendang Bara yang tak bisa dijangkaunya.
Bara seperti kesetanan. Ia kembali mendaratkan pukulan di wajah Fredy sampai darah mengalir dari hidung pria itu.
__ADS_1
"An--jing!" maki Fredy di sela-sela rintihannya.
"Lo anjing!" teriak Bara.
BUGGG!!
Bara kembali memukul wajah Fredy. Ia yang melihat Dijah memulung barang bekas dengan mata kepalanya sendiri merasa sakit hati. Wanita yang begitu sulit menerima bantuannya dikata-katai seorang pelacur.
Bara yang mau membelikan ini-itu namun selalu sulit mencari alasan agar Dijah mau menerimanya. Wajah Bara memerah karena emosinya. Buku-buku jarinya sudah sakit karena menghantam rahang dan mulut Fredy berkali-kali. Dua pukulan lagi Fredy pasti pingsan.
"Udah!!" teriak Dijah tiba-tiba menarik lengan Bara dan menyeret pria itu sekuat tenaga. Namun pegangan Bara pada kerah baju Fredy terlalu kuat.
Bara seperti tersadar dan berbalik menatap wajah Dijah yang memucat. "Udah!" teriak Dijah lagi. Cengkeram tangannya perlahan mengendur dan Bara melepaskan tangannya dari leher Fredy yang sudah setengah pingsan.
Dijah menarik Bara untuk menjauhkannya dari Fredy. Tapi saat melintasi pagar, Bara melihat bungkusan yang tadi dibawanya untuk Dul. Bara memungut bungkusan itu dan kembali masuk ke halaman.
Sekali ketukan, Dul muncul di depan pintu.
"Om tadi mau ngasi ini untuk kamu, dimakan ya... Maafin Om ya," ucap Bara mengacak rambut Dul.
"Makasi Om Bara, pasti aku makan." Dul melongok bungkusan plastik cerah di tangannya.
"Kunci pintunya, tidur ya..." pinta Bara. Dul mengangguk dan kembali menutup pintu. Dijah berdiri di luar pagar melihat wajah anaknya.
"Awas Lo! Bangsat! Bakal mati Lo gue bikin," pekik Fredy yang sedang menyeka mulutnya dengan ujung kemeja.
Bara sudah membelokkan langkah kakinya ke arah Fredy. Ia berencana menendang wajah pria itu. Tapi Dijah dengan cepat menyeret Bara pergi ke luar gang.
Dijah tak tahu di mana motor Bara berada. Ia tak sempat menanyakan naik apa pria itu ke sana. Kapan tiba?
"Naik," pinta Bara pada Dijah saat mereka tiba di sebelah SUV yang diparkir di tepi jalan. Meski dengan wajah bingung Dijah menuruti perkataan pria itu.
Masih dengan wajah kesal, Bara duduk di belakang kemudi dan mulai melajukan mobilnya.
"Ngapain kamu ikut-ikutan?" tanya Dijah kemudian.
__ADS_1
"Hah?" Bara sedikit terkejut dengan pertanyaan Dijah.
To Be Continued.....