
Ternyata tempat makan siang yang dituju itu berupa sebuah warung. Bukan restoran besar. Penampakan dari luar pun biasa-biasa saja. Setibanya di sana mereka langsung mendapat tempat duduk karena supir van telah melakukan pemesanan sebelumnya.
“Semua menunya sama, tinggal tanyain minumannya.” Bara memberi kertas berisi pesanan mereka semua pada pemilik warung.
“Aku es teh manis aja Mas Boy,” ucap Asti.
“Iya aku juga. Mak Robin apa?” tanya Boy dengan kertas dan pensil di tangannya.
“Samakan ajalah! Jangan sampe lebih mahal menu pilihan kita dari menu yang bayarin.” Mak Robin mengingatkan. “Kau apa Tin? Es teh manis juga?” Mak Robin menepuk pundak Tini yang masih menunduk di atas ponselnya.
“Aku yang tawar aja. Jangan manis-manis. Karena terakhir kali pake rasa, aku malah ditinggal.” Tini tak menoleh. Ia menepuk-nepuk pundak Boy yang sedang mencatat pesanan mereka.
“Keliatannya sederhana banget, 'kan? Tapi warung makan ini gak pernah sepi. Coba kamu rasa, enak?” Bara menyuapkan sesendok sup ikan yang telah ditiupnya ke mulut Dijah.
“Enak,” jawab Dijah. Wajahnya masih cemberut karena Bara tak menjawabnya soal pesan Joana sejak dalam mobil tadi.
“Cemberut terus,” gumam Bara. “Gak ada ngomong apa-apa si Jo. Cuma pengen kenalan ama kamu aja. Aku males,” bisik Bara.
“Kenapa males? Mas nggak pede ngenalin istri Mas ke orang lain?” Dijah menggerutu di depan mangkuk supnya.
“Dari tadi baik-baik aja, sekarang malah ngambek. Udah, makan dulu.” Bara menuangkan setengah sup ke piring istrinya.
“Lagi nunggu, Mas mau ngomong nggak. Taunya didiemin aja.” Dijah menekuk wajahnya. Suami istri itu menunduk berbisik-bisik menyamarkan pembicaraan mereka.
“Tapi nggak ada aku ladeni. Belum ada ngomong apa-apa lagi. Maaf karena belum ngomong. Udah ngambeknya ya ... Masih pengantin baru. Aku cemas akan masa depanku beberapa malam ke depan.” Bara sudah duduk menyerong dan mengepit Dijah di antara rentangan kakinya. Ia terus mengusap punggung Dijah yang masih menekuk wajah.
Heru tersenyum geli melihat Bara yang sibuk merayu istrinya. Pandangannya kemudian berpindah pada penghuni kos yang sudah selesai makan dan menggunakan semua benda di depan mereka untuk mengipasi wajah. Warung itu memang kecil dan sangat gerah ditambah cuaca kota Batam yang panas.
“Ih enaknya kena AC mobil ini. Tadi di dalam warung itu, macam dikukus kurasa. Udah berkuah semua,” ujar Mak Robin yang duduk di belakang supir memangku anaknya.
“Berkuah sampe mana?” tanya Dijah menyambung omongan Mak Robin.
“Sampe celana ke dalam-dalamnya.” Mak Robin terkekeh.
“Buka celana aja Mak, keringin dulu. Mumpung di luar panas,” jawab Dijah.
“Heh ...” tegur Bara mencubit pipi istrinya.
“Ckk.” Dijah berdecak manja mengusap pipinya.
Beberapa menit kemudian mobil sudah kembali melaju menuju pelabuhan Telaga Punggur. Bayu mendapat kesempatan duduk di sebelah Tini yang tadi naik lebih dulu dan langsung menuju ke deretan kursi paling belakang.
“Di Batam ini ada Kampung Vietnam juga Mbak ... Inget 'kan obrolan kita kemarin?” Bayu melontarkan senyum manisnya ke arah Tini yang bersandar di sudut mobil lainnya dengan wajah bodoh.
“Inget ... Inget ...” sahut Tini. Matanya mencari-cari Asti yang duduk di kursi depan seolah minta pertolongan. Jangan sekarang tertangkap basahnya pikir Tini. Ia sedang dalam keadaan tak fit untuk mengakui salah dan meminta maaf.
“Tapi Kampung Vietnam itu jauh dari sini. Letaknya di ujung jembatan Barelang. Kita gak lewati.”
“Oh jauh ya ... Kasian juga kalau jauh-jauh. Susah belanjanya. Di kos-kosan aja kalau tukang sayur nggak dateng, kita semua males jalan ke warung.” Tini masih bersandar dengan wajah polos menatap Bayu. Sedangkan Bayu, sudah mengernyitkan dahi karena kejanggalan jawaban Tini.
__ADS_1
Sejak kapan bekas kamp pengungsian warga Vietnam saat perang Vietnam berlangsung ada penduduknya. Malah membicarakan tukang sayur pula. Apa makhluk astral juga sudah berbelanja sayur? Bayu menatap Tini dengan penuh tanda tanya.
Di kursi depan Boy dan Asti sudah saling cubit karena mendengar jawaban ganjil Tini.
Masih ingin kembali menemukan chemistry obrolan langsung bersama Tini, Bayu kembali bertanya. “Sebagai penggemar karya seni, Mbak Tini pasti pernah nyoba-nyoba bikin sendiri. Ya kan? Soalnya aku juga ...” ucap Bayu kembali memandang Tini yang semakin terlihat malas-malasan.
“Oh iya ... Kadang-kadang aku bikin sendiri,” jawab Tini asal. Karya seni apa pula yang pernah dibuatnya sendiri. Sejauh ini karya seninya cuma lukisan liur di atas bantal.
“Sama banget kayak aku. Pantes sukanya nongkrong di cafe Voltaire. Pasti karena suka dengerin musik itu kan?” tanya Bayu.
Musik apa? Suka dengar musik apa? Tini kembali menoleh gelisah ke arah depan. Asti kurang ajar. Sebenarnya sedang pendekatan sama cowok atau sedang belajar sejarah dan kesenian? Tini mengeluarkan senyum ganjil ke arah Bayu. Ia sepertinya harus berakting pura-pura mabuk perjalanan agar Bayu tak kembali menghujaninya dengan percakapan yang sama sekali tak dimengertinya.
Mereka tiba di pelabuhan Telaga Punggur. Bayu langsung menuju loket pembelian tiket dan kembali menyerahkan semua tiket yang telah dibeli ke tangan Heru.
“Kamu itu ngomong sama si Bayu itu apa aja sih? Itu dia ada sebut cafe vol—vol... Aku nggak ngerti. Memangnya dengerin apa di sana? Jangan sampe aku duduk dekat dia lagi.” Tini berbicara berbisik-bisik bersama Boy dan Asti.
“Nanti kalo udah nyampe di penginapan, kita ngomongnya sama-sama. Aku janji,” ucap Asti.
“Eh, kita udah banyak banget make uang mas-nya Dijah. Ini ngasinya gimana?” tanya Boy mengeluarkan plastik kresek hitam yang disimpul berisi kumpulan uang mereka semua.
“Iya! Kelen kasikan la. Gak enak pulak aku. Banyak kali makanku tadi. Udah tamboh-tamboh dua kali. Sana!” pinta Mak Robin pada Boy.
“Sungkan aku,” ucap Boy.
“Ehem!” ujar Heru tiba-tiba yang datang ke dekat mereka. “Ada yang bisa dibantu?” Heru sudah mendengar percakapan dan soal kesungkanan para penghuni kos itu.
“Ini Mas ...” Boy mengangkat kantongan plastik ke hadapan Heru.
Kapal menuju ke pelabuhan Sri Bintan Pura telah tiba bersandar dan menurunkan penumpang. Setelah kapal itu kosong, mereka berduyun-duyun masuk.
Bara mengajak keluarga kecilnya duduk ke dek lantai dua untuk melihat pemandangan sedikit lebih tinggi. Sedangkan Tini mencari kursi yang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Ia akan kembali disiksa selama 40 menit ke depan dengan guncangan kapal yang pasti akan mengaduk isi perutnya.
“Ayo ini ambil minumnya. Tadi mas Heru yang kasi suruh bagiin.” Asti menyerahkan botol teh melati pada teman-temannya yang telah duduk. Bara mengambil dua botol dan langsung memutar tutup botol itu untuk membukanya. Bukan untuk langsung diminum. Ia hanya meletakkannya di kantong kursi depan Dijah. Istrinya itu nanti hanya tinggal minum saja.
Asti melihat apa yang dilakukan Bara, kemudian tersenyum kepada Dijah. “Mas Bara sweet banget ya Mbak ... Perhatiannya sederhana, tapi bikin iri,” ucap Asti kemudian pergi menghampiri Bayu. Dijah melirik Bara yang sedang mengembangkan cuping hidungnya karena bangga akan pujian Asti.
“Minum Mas ...” Asti menyodorkan botol air mineral pada Bayu.
“Kok beda? Yang lain teh melati?” tanya Bayu.
“Mas Bayu kan lebih suka air putih,” jawab Asti kemudian pergi melenggang. Bayu kembali mengernyit. Kok Asti bisa tahu kalau ia tak suka minuman-minuman kemasan selain air putih.
“Peka dong ... Peka,” ujar Bara mencibir.
“Kayak yang ngomong peka aja. Kalo Mas peka, itu mbak Dijah gak ngambek.” Bayu tersenyum mengejek.
“Siapa lagi yang nggak peka?” tanya Heru yang berjalan di lorong. Kapal telah melaju dan semua orang bertukar cerita soal pulau yang menjadi tujuan mereka.
"Apa cuma aku laki-laki paling peka di sini?" tambah Heru lagi. Bayu dan Bara memandang ke luar jendela kapal berpura-pura tuli.
__ADS_1
Tini sudah setengah pingsan berbaring di deretan kursi paling belakang. Untungnya kapal itu cukup lengang hingga penumpang lain tak perlu terganggu dengan celotehan mereka dan Tini yang berkali-kali mengumpat karena goncangan kapal.
"Aku pulang naik pesawat ya Mas ... dari Tanjung Pinang langsung. Aku nggak mau lagi naik kapal. Kalau nggak, aku netap di pulau itu aja." Tini yang sedang tidur menelungkup di kursi melambaikan tangannya ke arah Heru yang sedang hilir mudik.
Heru kembali tertawa. Mereka memang akan kembali langsung dari bandara pulau itu nantinya.
Sudah hampir pukul empat sore ketika kapal bersandar di Sri Bintan Pura. Semua orang masih terlihat segar terkecuali Tini. Dia yang pergi tadi berdandan paling meriah tapi turun dari kapal dengan keadaan compang camping. Topi pantainya sudah berada di kepala Boy. Kacamata hitamnya sudah masuk ke dalam tas. Gaunnya yang panjang dilipat dan diikat di pinggangnya. Dengan mengepit sebungkus tisu yang sejak tadi digunakannya menyeka mulut, ia turun dengan dipapah Asti dan Boy.
Di atas tangga naik, sudah menunggu beberapa pria yang menawarkan jasa angkutan barang menggunakan becak beroda tiga. Heru memanggil dua becak untuk mengangkut barang mereka semua.
“Mas ... Aku boleh nitip nggak?” tanya Tini menghampiri Heru yang sedang berbicara.
“Mau nitip apa? Bawaannya masih ada yang lain?” tanya Heru serius melihat barang bawaan Tini yang semuanya sudah terangkut.
“Nitip hatiku aja,” jawab Tini terkikik.
“Belom lagi lima menit kau nginjak darat, dah tinggi lagi ilmu kau. Tadi dah mau mati kali kau kutengok,” ucap Mak Robin yang jalan melewati Tini dan Heru.
Dijah yang sedang menaikkan Dul dan Robin ke atas becak ikut tertawa mendengar perkataan Mak Robin.
“Berisik!” sergah Tini. “Aku nggak sanggup jalan, aku ikut Robin dan Dul aja.” Tini kemudian naik ke atas beca yang telah berisi Dul dan Robin. Becak itu kemudian melaju lebih dulu meninggalkan sisa orang yang berjalan kaki keluar pintu pelabuhan.
“Aku pesen kamar connecting,” bisik Bara di telinga Dijah.
“Terus?” tanya Dijah berpura-pura tak mengerti.
“Biar Dul nyaman ...” jawab Bara.
“Bukan ayah-ibunya?” Dijah kembali bertanya. “Kayak waktu liburan ke puncak ...” sambung Dijah lagi.
“Iya, biar bisa gitu juga. Ibunya Dul pinter.” Bara merangkul pundak istrinya dan berjalan mendahului Bayu dan Asti yang sepertinya sedang melambatkan langkah di belakang.
“Ehem! Jadi, kamu suka buku gitu juga ya?” Bayu membuka percakapan.
“Iya, aku kagum dengan Dokter Sun Yat Sen karena dia—” ucapan Asti menggantung.
“Pemimpin kunci revolusi Tiongkok!” ucap Bayu dan Asti bersamaan. Mereka saling pandang kemudian tertawa.
Sebuah mobil van besar telah menunggu mereka di depan pelabuhan. Akhirnya mereka tiba di negeri Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang melekat erat dengan kebudayaan Melayu.
“Jujur bertutur, bijak bertindak.” Bara mengedarkan pandangannya.
“Apa itu?” tanya Dijah.
“Itu motto kota Tanjung Pinang. Jangan tidur ya perjalanan ke Lagoi. Pemandangan sepanjang jalan gak boleh kamu lewatin.”
To Be Continued.....
Jangan lupa diusap lagi likenya...
__ADS_1
Muehehehe :*