Pernikahan Dua Hati

Pernikahan Dua Hati
Bab: 10 Di dokter kandungan


__ADS_3

Tiba di dokter kandungan


Akhirnya sampai juga di dokter kandungan, Papa dan Mama turun dari dalam mobil. Sedangkan Bianca, tengah sibuk melihat wajah dirinya di cermin kaca kecil, yang dibawanya di dalam tas selempang.


Tok.. Tok...Tok..


Mama mengetuk kaca mobil, beberapa kali, karena nampak Bianca tidak turun. Nampak terlihat anak tersebut sedang memakai Lip Gloss kembali.


Setelah semuanya beres, Bianca turun dalam mobil. Mukanya mencoba tersenyum, walau senyuman yang dia torehan terlihat tipis tidak merekah.


Ketiga orang tersebut berjalan menuju tempat pendaftaran. Setelah Mama menulis di meja pendaftaran. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu, karena tempat tersebut sangat sepi sekali tidak ada orang satu pun atau pasien, di tempat dokter kandungan tersebut.


*****


Memasuki ruangan dokter.


Hati Mama, seakan tidak karuan, terasa penuh sesak yang menyelimuti di dalam dada sang Mama. Ketika berada di dalam ruangan dokter tersebut.


"Ada keluhan apa Bu," sang dokter melempar senyum manis kepada Bianca.


Kemudian sang Mama menceritakan semuanya. Lalu Bianca ke toilet yang berada di luar, tepatnya di pinggir tempat praktek sang dokter. untuk melakukan Tes urine.


*****

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, nampak sang dokter menghela napas panjang.


Dia seakan tidak mau memberitahu hasil dari Tes urine, tersebut. Karena ketika Bianca berlalu ke toilet, Papa dari Bianca, memberitahu sang dokter, jika sang anak saat ini sekolah, dan masih duduk di bangku SMP.


"Dengan berat hati, maaf, Bianca positif hamil," ucap sang dokter tertunduk pandangannya.


Sang Papa, nampak mengepalkan tangannya. Sang istri mengusap-usap pundak sang suami, dia seakan menyabarkan hati sang suami tersebut.


"Kandungannya, jalan dua bulan Bu," sambung dokter lagi. Kemudian dokter memberikan beberapa obat vitamin dan obat penguat kandungan kepada Bianca.


Bianca memandangi satu persatu orang di sekelilingnya, mulai dari Papa, Mama dan sang dokter. Matanya berkaca-kaca, dia seperti menahan tangisan.


*****


"Pah..." Mama begitu lirih, ketika memanggil sang suami.


Papa membuang napas kasar.


"Kita besok, ke rumah lelaki itu!" ucap Papa, pandangannya mengarah ke Bianca, dari kaca spion dalam.


"Besok Tyanca, datang sama suaminya. Kita ajak suaminya," ucap sang Mama.


Tyanca kakak dari Bianca akan datang dari Bandung.

__ADS_1


Sang Mama akan mengajak suami Tyanca karena sang menantu itu, sifatnya dewasa jadi nanti ketika menghampiri lelaki yang menghamili Bianca, ada yang dewasa ketika berbicara.


"Jam berapa besok Tyanca datang," tanya Papa, pelan.


"Pagi Pah, kita datangi rumah lelaki itu, siang saja atau sore," ucap Mama.


"Siang Rama kerja," sambar Bianca.


"Ya, sore saja, berarti." ucap sang Mama, tanpa menoleh ke arah anaknya itu, yang berada di belakangnya


*****


Cukup lama Papa terdiam dan tidak menjalankan mobilnya kembali.


"Kita mau makan diluar Pah?" tanya Mama, menatap lekat sang suami.


Papa menggelengkan kepalanya.


"Kita pulang saja, Papa tidak selera makan," ucapnya terlihat kesal, dan nampak terlihat seperti ada beban dari raut muka sang Papa


Bianca hanya tertunduk sambil memainkan rambutnya yang di kuncir 2 itu. Dia berpikir jauh. Dahulu biasanya sebelum terjadi kejadian ini. Sang Papa selalu memanjakan dirinya kalau keluar rumah.


Papa menawarkan ke Bianca, mau makan dimana. Apapun yang Bianca mau makan, atau tempatnya jauh pun pasti Papa kabulkan. Tapi sekarang tidak, membuat hati sang anak seakan tersayat.

__ADS_1


__ADS_2