
Di luar matahari begitu terik menyengat.
Jam menunjukkan pukul dua siang, nampak Guru dari Bianca, yang bernama Bu Widya datang ke rumah.
Terlihat keluarga dari Bianca, masih berkumpul di ruang tamu sedang mengintrogasi kehamilan Bianca.
Bianca terkejut ketika melihat sang Guru dan ketua kelas datang. Bianca melihat sang Guru tengah bersalaman dengan sang Ibu, di teras rumah. Sementara Bianca berada di dalam rumah sedang di interogasi oleh semua keluarga. Bianca melihat kedatangan sang Guru, di kaca jendela.
Semua yang berada di ruang tamu, pandangan mengarah ke teras rumah. Karena suara dari sang Guru, terdengar keras ketika berbicara. Sementara di dalam rumah, nampak semua orang tidak bergeming, diam seribu bahasa ketika mengintrogasi Bianca.
"Pah, siapa itu?" telunjuk Tyanca mengarah keluar teras.
"Oh, itu, Gurunya Bianca," jawab sang Papa. Kemudian Papa, berlalu masuk ke dalam kamar karena dia malu jika untuk bertemu dengan Gurunya sang anak.
Sang Guru kemudian memasuki rumah, dan tersenyum kepada semua yang berada di ruang tamu.
"Bianca, sakit ya?" tanya Bu Guru, karena nampak muka muridnya tersebut pucat dan badannya seperti lemas.
Bianca hanya tersenyum tipis, ketika sang Guru bertanya tanpa ada jawaban sama sekali. Sang Kakak pun berlalu ke dapur untuk mengambil minuman untuk sang Guru.
"Bu, kedatangan kemari saya hanya ingin melihat kabar dari Bianca, kenapa dia tidak sekolah," tanya Bu Guru, menatap lekat kepada sang Mama.
__ADS_1
Sang Mama seakan tidak bisa berkata apapun, ketika sang Guru, menanyakan hal tersebut, Mama terdiam, seakan tidak tahu apa yang mesti di ucapkan.
Kemudian Tyanca datang dari arah dapur, lalu dia berkata.
"Bu, boleh kita bicara berdua disana!" Tyanca pandangan mengarah ke ruang keluarga.
Sang Guru tersenyum dan menganggukkan kepala. Lalu Tyanca dan sang Guru, juga di ikuti oleh sang Mama, berlalu ke ruang keluarga, Tyanca merasa tidak enak jika bicara di ruang tamu, karena ada sang ketua kelas dan Bianca pun ada disana.
Tyanca hanya menjaga perasaan sang adik.
Tiba di ruang tamu.
Bu Widya berkaca-kaca matanya.
"Dia, anak polos dan baik, dan berprestasi di sekolahnya. Anaknya periang, dan teman-temannya merasa kehilangan dengan dia tidak sekolah selama tiga hari ini," ucap sang Guru, matanya lekat ke arah Bianca, yang nampak sedang mengobrol dengan sang ketua kelas.
"Iya, Bu, sekali lagi mohon maaf, Bianca, tidak dapat meneruskan sekolah," Ibunya Bianca, meneteskan air mata.
__ADS_1
Kemudian sang Guru memeluk Mamanya Bianca, dia seakan tahu dengan keadaan hati dari orang tua muridnya itu, sedang terluka atas kejadian yang menimpa anaknya.
Sang Guru pun, akhirnya pamit pulang.
Di peluknya muridnya itu, nampak terlihat dari muka sang Guru, ada rasa kecewa dan sedih.
**
Kecewa karena merasa anak tersebut mencoreng nama sekolah, dan Guru sudah semaksimal mungkin mendidik sang murid tapi apa hendak dikata, itu diluar jalur sekolah, Guru hanya memberikan pendidikan dan pelajaran selanjutnya kelakuan yang tidak terpuji itu di lakukan hanya dengan napsu oleh yang bersangkutan.
**
Sedih karena sang Guru tidak menyangka, sang murid yang di anggapnya baik, polos, periang, kini sudah berbadan dua, dan kebahagiaan untuk bisa sekolah dan bertemu dengan teman sekolah kini sudah tidak dia milikinya lagi.
Bu Widya pamit kepada Bianca.
Bu Widya, menghela napas secara perlahan, dia menepuk-nepuk pundak Bianca.
"Yang kuat dan sabar, jangan sakit." dengan perlahan Bu Widya berucap lekat ke kuping muridnya itu.
Bianca hanya berkaca-kaca matanya, seakan tidak bisa berkata apapun.
__ADS_1