
Tante Fani menghempaskan tubuhnya dengan kasar di kursi sofa. kemudian dia memejamkan matanya, mengingat kembali pertemuannya dengan Rangga, dua hari yang lalu. Tante Fani tersenyum gembira.
Tante Fani seakan penasaran dengan sosok mantan pacarnya, Rangga. Karena dari ceritanya Rangga. Seakan dia itu tergila-gila dengan wanita tersebut. Dalam benaknya dihinggapi rasa keingintahuan lebih besar terhadap mantannya Rangga.
"Arrghh..! Sedang mikir apa, aku ini!" ucapnya. "Tidak semestinya aku memikirkan hal yang tidak penting, mau tahu mantannya! kenapa aku terlihat bodoh. Apa mungkin, aku juga sedang jatuh cinta?" Tante Fani mencoba menepis semua bayangan.
Tante Fani pun kembali mengingat perkataan Rangga, bahwa dia tidak bisa ikut survei ke Bandung.
"Apa mungkin Rangga nanti tidak ikut survei ke Bandung, kalau misalkan dia tidak bisa ikut, gimana nanti surveinya akan berjalan dengan baik. Karena yang tahu kondisi Kafe yang akan kita buka Rangga. ucapnya lagi.
••••••
Mungkin saat itu Rangga tersinggung dengan perkataan Tante Fani, yang memandang sebelah mata kepada dia. Karena waktu dia mengungkapkan isi hatinya seakan tidak dipercaya oleh Tante Fani
Mata Tante Fani lekat ke arah jam yang menempel di dinding, dia bertanya-tanya dalam hatinya. Mengapa Rangga tidak menghubunginya hari ini, rasa khawatir terasa menggelayuti hati Tante Fani.
Tante Fani hati dan pikirannya seakan tidak karuan, karena hari ini Rangga tidak ada kabar kepadanya. Dia dihinggapi rasa khawatir,
kemudian tante Fani mencoba menghubungi Rangga.
Mata Tante Fani mengarah ke benda pipih yang berada di atas nakas, setelah itu dia membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya.
Tapi Tante Fani berpikir sejenak. Dan dia pun akhinya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Rangga, karena setelah dia pikir-pikir jika memberikan pesan atau mencoba menghubungi Rangga, dia malu dan gengsi.
_____
Drettt... Drettt...Drettt
Tiba-tiba bunyi getar dari ponsel Tante Fani berbunyi. Nampak terlihat di sana, Rangga meneleponnya. Sontak mata Tante Fani berbinar ketika melihat dari layar ponsel Rangga meneleponnya. Tanpa pikir panjang Tante Fani mengangkat ponsel tersebut.
{"Assalamualaikum,"} ucap Fani terdengar renyah saat berbicara di sambungan selularnya.
{"Wa'alaikumsalam, Fani lagi apa? Hari ini aku sibuk banyak kerjaan, dan Maaf aku baru menghubungi kamu hari ini,"} ucap Rangga.
{"Aku, sedang menerima telepon, dari kamu. Hehehe...Aku lagi santai Kok,"}
Tante Fani mencoba menggoda Rangga.
Sontak Rangga tertawa.
{"Bisa aja kamu ini, nanti malam ada acara tidak? Gimana kalau kita makan di luar?"}Rangga mencoba mengajak Tante Fani, untuk keluar makan malam.
{"Boleh, tapi aku tidak banyak waktu karena aku nanti malam ada urusan dengan kakakku. Jadi untuk bertemu dengan kamu sebentar saja, nggak apa-apa kan?"} ucap Tante Fani.
{"Ya udah nanti malam pukul tujuh, aku tunggu di Kafe yang kemarin ya, sampai ketemu nanti di Kafe,"} ucap Rangga.
Rangga pun menutup sambungan telepon selularnya.
_____
"kenapa hati ini menjadi tidak karuan kepada sosok Rangga, apa aku sedang jatuh cinta? Padahal pertemuan aku dengan Rangga, baru tiga kali saja, dan aku merasa nyaman dengan lelaki ini." ucap Tante Fani.
Ting...
__ADS_1
Tiba-tiba pesan muncul dari Rangga.
Tante Fani tersenyum lebar, padahal belum membaca isi pesan tersebut.
"Mungkin dia benar sedang jatuh cinta dengan aku?" gumamnya.
_____
{"Tuhan tidak pernah keliru, dengan memberikan anugerah cinta dan kasih sayang yang tulus kepada hamba-nya, karena sebuah cinta yang datang itu ada makna dan alasannya. Alasan aku suka sama kamu, karena kamu pribadi yang menyenangkan, entah kamu mau bicara apa tentang aku. Pokoknya aku mencintaimu dengan tulus dan sepenuh hati."} tulis pesan Rangga begitu menyentuh hati Fani.
{"Maaf kalau aku terlalu berani untuk mengungkapkannya, dan jika kamu membalas cintaku itu akan memberiku kekuatan,"}
_____
Tulis pesan dari Rangga begitu menyentuh hatinya. Tapi tetap saja Tante Fani tidak percaya sepenuhnya dengan kalimat tersebut yang di tulis oleh Rangga.
_____
Jam menunjukkan pukul tujuh, nampak Rangga sudah menunggu Tante Fani di sebuah Kafe. Tempat yang nyaman dan terkesan romantis, karena ada lagu live musik yang mengalunkan lagu klasik.
"Hai.." tiba-tiba Tante Fani datang dengan senyuman mengembang.
Rangga membalas senyuman yang diberikan oleh wanita yang sedang memakai baju berwarna pink dengan dipadukan rok panjang, nampak terlihat anggun.
"Maaf, sudah menunggu lama ya?" Tante Fani menatap Rangga.
"Ng-nggak Kok, baru saja," jawabnya.
Kali ini Rangga bersikap santai tidak seperti pertemuan waktu kemarin dia terlihat agresif dari gestur tubuhnya.
Dia juga sudah berpikir dalam hatinya, tidak mau seperti lelaki pengemis cinta, mungkin tadi sore dia memberikan pesan yang meluapkan isi hatinya anggap saja dia sedang terbawa perasaan.
•••••
Setengah jam sudah mereka berada di Kafe tersebut, obrolan tidak bersifat pribadi tapi lebih keadaan bisnis mereka yang akan di laksanakan minggu depan.
Tante Fani pun bertanya dalam hati yang paling dalam. "Kenapa Rangga terlihat serius,"
Tante Fani memperhatikan cara berbicara Rangga, dia mulai terpesona terlihat Rangga begitu berwibawa.
Pertemuan pertama kali Rangga tidak menampakkan keseriusan dari cara bicaranya, karena dia seakan tersipu malu oleh pesona Tante Fani.
Begitupun dengan pertemuan kedua dan ketiga, Rangga tidak menampakkan keseriusannya dalam mengeluarkan pendapatnya.
_____
Tiba-tiba Sherly datang.
"Hai, Rangga, kenapa kamu ada disini!" Sherly tersenyum ketika melirik Tante Fani.
"Oh, ya, ini sahabatku Fan, namanya Sherly," ucap Rangga.
Tante Fani mengulurkan tangannya kepada Sherly dan tersenyum ramah.
__ADS_1
"Fani.." ucapnya.
"Saya Sherly, teman Rangga," ucapnya membalas senyum Tante Fani.
"Kamu dengan siapa, sendiri saja kesini?" tanya Rangga, menatap lekat temannya itu.
"Aku dengan..." ucapnya Sherly, menggantung. Dia seakan tidak mau meneruskan.
"Siapa! Mana temanmu?" Rangga kembali bertanya.
"Dengan Rani, tapi dia sedang di dalam mobil," ucapnya lirih sambil melirik ke arah Tante Fani.
Tante Fani seakan tahu isi hati dari Sherly, jika dia merasa canggung jika menyebutkan nama yang tengah berada di mobil tersebut.
"Mungkinkan dia mantannya, yang selama ini menjadi teka-teki aku?" pertanyaan muncul di benaknya.
"Loh, kalian kenapa pulang?" terdengar basa-basi Rangga ketika berucap.
"Kita dari tadi Kok, cuma pas di parkiran tadi aku lihat mobil kamu, jadi aku turun bentar untuk nemuin kamu! Dan.... Hehehe.." Sherly melirik kembali Tante Fani.
Ucapan Sherly seakan mengejek Rangga. Dan Rangga pun tersipu malu.
"Ada-ada saja kamu!" ucap Rangga.
"Awas, ya, jaga dia!" Sherly kembali menggoda Angga. Dia pun berpamitan dari hadapan mereka berdua.
_____
Sementara Rangga menatap kepergian langkah Sherly, karena arah duduk Rangga menghadap ke pintu Kafe.
Sedangkan Tante Fani posisi duduknya, membelakangi pintu kafe.
Kafe tersebut halaman luar begitu luas kebetulan mereka duduk diluar, karena suasana lebih sejuk dan ada pepohonan yang memberikan rasa nyaman.
"Ran, aku tidak akan mengejar kamu lagi, karena wanita yang tengah berada di hadapan aku ini, dia lebih baik dari kamu," gumam hati Rangga sambil menatap lekat ke arah Sherly yang sedang membuka pintu mobil.
Nampak terlihat Rani menjadi pengemudi di mobil tersebut.
_____
Karena dihinggapi rasa penasaran kemudian Tante Fani menoleh ke arah mobil yang sedang di tatap lekat oleh Rangga.
Degh
Betapa terkejutnya hati Tante Fani ketika melihat mobil tersebut, kenangan dia kembali datang, saat berada di Rumah Sakit.
Kala itu Tante Fani menyeret wanita tersebut dari arah parkiran menuju kantin untuk membuktikan.
"Apa benar, suami Kakaknya itu, ada hubungan khusus dengan wanita tersebut!"
•••
Jantung Tante Fani dag-dig-dug tidak karuan, berdetak begitu kencang.
__ADS_1
"Ternyata mantan dari Rangga adalah sang pelakor!" raut wajah Tante Fani seketika terlihat kesal dan menyimpan amarah.
Bersambung...