
Tokkk...Tokkk...Tokkk
"Assalamualaikum,"
suara salam terdengar dari arah depan rumah.
"Wa'alaikum salam," ucap Amel
"Teh Siti coba lihat kedepan. Ada tamu, siapa ya," ucap Amel kepada Teh Siti yang sedang duduk di kursi meja makan.
Teh Siti pun menyeret langkah kakinya menuju teras rumah
Kreekkkk
Sesaat setelah pintu dibuka, Teh Siti pun tersenyum ramah kepada tamu yang datang, nampak terlihat sesosok laki-laki dan perempuan datang ke sana.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Teh Siti menatap lekat kepada kedua orang tersebut.
"Amelnya ada," ucap perempuan tersebut sambil tersenyum lebar.
"Ada, maaf, dengan siapa ya?" Teh Siti kembali bertanya.
Saya Tante Fani, bilangin sama Amel ya, ada Tante Fani datang," ucap Tante Fani.
"Oh tunggu, sebentar ya," Teh Siti pun berlalu dari hadapan mereka sambil mempersilahkan kedua tamu tersebut masuk.
_____
Tiba di meja makan.
"Siapa yang datang Teh Siti?" tanya Amel ketika Teh Siti tiba di meja makan.
"Katanya Tante Fani, tapi dia berdua sama laki-laki," jawab Teh Siti.
Amel sontak mengernyitkan dahi
"Tante Fani! Tante Fani, siapa?" Amel tertegun sejenak, dia tidak menyangka bahwa Tante Fani yang dimaksud adalah Tante dari Rama, karena tidak mungkin Tante Fani bisa datang ke Bandung pikir Amel.
Karena dihinggapi rasa penasaran, Amel pun kemudian berlalu ke ruang tamu.
____
Tiba di ruang tamu.
__ADS_1
"Tante Fani!" sontak Amel terkejut ketika berada di ruang tamu karena yang datang adalah Tante Fani, Tante dari Rama
"Amel, sehat kamu Mel," ucap Tante Fani.
Matanya berkaca-kaca sambil memeluk Amel Amel hanya diam termanggu seakan tidak bisa berkata apapun.
"Amel Maaf ya, saya kasih tahu rumah kamu di sini, kebetulan Tante Fani ini rekan bisnis Pak Rangga," ucap Rangga tersenyum.
___
"Terus maksud Pak Rangga apa? Membawa Tante Fani datang ke rumah," gumam hati Amel dihinggapi rasa pertanyaan dalam dirinya.
Amel pun seakan tahu isi hati dari Pak Rangga sebenarnya selama ini, dia memberikan hadiah kepadanya karena kedekatan dia dengan Tante Fani nampak Amel mukanya cemberut.
____
Melihat muka Amel nampak cemberut, Rangga seakan dihinggapi rasa malu dan bersalah. Rangga pun berusaha untuk menghibur hati Amel.
"Mel, kebetulan di Kafenya Pak Rangga, lusa ada acara outing ke puncak. Kamu ikut ya, temenin Tante Fani. Mau tidak?" tanya Rangga.
Amel dengan cepat menggelengkan kepalanya, nampak Amel kesal dengan Pak Rangga karena dengan tiba-tiba dia datang, dan tanpa memberitahu maksud kedatangan dia bersama Tante Fani.
"Mel, maafkan Tante Fani kalau sudah lancang menemui kamu ke sini, nggak ada maksud apa-apa Kok, Tante cuman mau mempererat tali silaturahmi," ucap Tante Fani.
"Sebenarnya Tante mau memberitahukan kepada kamu, bahwa ibunya Rama sakit dan dia ingin sekali bertemu sama kamu Mel. Kalau kamu mau, nanti pas libur kerja biar Tante jemput ke sini untuk menemui ibunya Rama, setelah itu nanti Tante antar lagi kamu ke sini, mungkin 2 hari atau 3 hari.
"Tidak! Tidak, Tante, aku tidak mau menemui ibunya Rama," ucapnya dengan tegas.
Tante Fani terkesiap karena Amel seakan marah ketika berucap, Tante Fani tidak menyangka Amel akan menolak ajakan dari Tante Fani untuk menemui Kakaknya itu, dan biasanya dari tutur katanya dia lembut.
"Amel tenang, kita ke sini niat baik loh," ejek Rangga sambil tersenyum sinis.
Amel pun seakan kesal dengan ejekan dari Rangga. Kenapa orang ini ikut campur dengan masalah pribadinya.
Mata Amel lekat ke arah Rangga, sorot matanya begitu tajam.
Tante Fani seakan tahu isi hati dari Amel, dia pun berpikir tidak akan memaksa untuk mengajak Amel menemui kakaknya atau ibunya Rama.
"Maksudnya Tante Fani datang ke sini itu, mau apa sih! Kan aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama Rama!" ucapnya terlihat kesal.
"Kita niat baik lho Mel ke sini, kamu jangan kesal gitu dong, dengan kedatangan kita." ucap Rangga seakan membela Tante Fani.
Terlihat jelas Rangga ingin mengambil hati Tante Fani jadi nampak dia terlihat membela Rama.
__ADS_1
"Maaf Pak Rangga, kan Bapak tidak tahu dengan masalah pribadi saya, dan saya mohon Bapak jangan ikut campur," tegas Amel dengan mata melotot.
Sontak Rangga mendapat perlakuan tersebut dia merasa tersinggung, dia pun nampak terlihat menghela napas panjang karena sampai detik ini, belum ada satu orang pun yang berani menyinggung perasaannya.
Tangannya mengepal, tapi dia tidak mau melakukan hal ceroboh. Apalagi di hadapan Tante Fani yang saat ini tengah dia dekati.
Dia berusaha menahan emosinya.
"Awas ya Tante, kalau Tante memberitahu Rumah saya di sini, kepada kepada Rama." ucap Amel seakan mengancam Tante Fani.
"Kenapa kamu sih Mel, kok kamu jadi beda sekarang!" Tante Fani heran.
Tante Fani pun terlihat heran dengan sifat Amel yang tiba-tiba sangat berubah.
Dia nampak terlihat lebih tegas tidak seperti waktu tinggal di Jakarta, dia terus-menerus mengalah seakan tidak ada daya upaya untuk melakukan sesuatu.
"Nggak apa-apa Tante, saya capek aja pulang kerja. Saya mau istirahat," ucap Amel terdengar kesal ketika berbicara.
Tante Fani pun melirik Rangga seakan mengisyaratkan untuk kembali pulang karena keadaan Amel sedang dihinggapi rasa emosi.
"Ya sudah Tante pulang dulu ya, jaga kesehatan jangan terlalu capek. Oh iya Tante menawarkan kerja sama kamu, untuk kerja di Kafe milik Tante dengan gaji yang lebih besar dari Kafe tempat kamu kerja sekarang," ucap Tante Fani.
"Iya nanti Tante, Amel pikirkan lagi, sekarang Amel butuh istirahat tidak mau diganggu," ucapnya tersenyum tipis.
Tante Fani dan Rangga pun akhirnya pamit pulang kepada Amel. Tampak Tante Fani terlihat kecewa karena dia berpikir Amel akan bersikap baik kepadanya ternyata di luar prediksi dia.
___
Di dalam mobil
"Kok, Amel sifatnya jadi gitu ya, berubah. Aku tidak mengerti," ucap Tante Fani.
Nampak Tante Fani menghela napas beberapa kali.
"Sudah Jangan dipikirkan, biar nanti aku yang mengurus semuanya. Mungkin dia lagi capek," ucap Rangga mencoba menenangkan hati wanita yang tengah didekatinya.
Tante Fani kembali mengenang masa lalu tentang Amel. Wanita yang lembut, selalu pasrah dengan keadaan, yang tidak pernah menyela omongan Tante Fani, dan tidak tegas. Tapi apa yang baru saja dilihatnya, nampak beda.
Amel yang terlihat tegas dan tersulut emosi, mungkin karena sudah begitu banyak luka yang ditorehkan oleh Rama.
Tapi Tante Fani bersikeras untuk kembali mempersatukan Rama dengan Amel demi kakaknya yang sedang sakit.
Tante Fani takut kehilangan kakaknya, karena dia sudah tidak mempunyai keluarga lagi, selain sang kakak, dan sakitnya sang kakak sekarang karena memikirkan Rama dan Amel. Ibunya Rama seakan takut kehilangan Amel.
__ADS_1
Padahal Rama sudah digugat cerai oleh Amel.
Bersambung...