
Keluarga Bianca sampai di Kafe.
Gerry nampak tersenyum lebar ketika melihat keluarga dari sang istri datang, dia langsung mencium punggung tangan kedua orang-tua istrinya, dan mengendong Mischa, sang anak lalu menciumnya dengan gemas.
"Ini Bayinya Bianca, lucu banget," Gerry menyambar pipi sang Bayi dan mencubitnya dengan lembut.
"Ih, jangan dicubit pipinya," ucap Tyanca terlihat marah.
"Pelan ko, Mih!" jawab Gerry, tertawa terkekeh.
Bianca hanya tersenyum tipis melihat Gerry, suami dari Kakaknya itu mencubit gemas Bayinya tersebut.
Kemudian mereka memasuki ke dalam Kafe. Lalu Gerry pun memanggil pelayan Kafe, untuk memesan beberapa makanan.
Setelah sang pelayan Kafe tiba di meja keluarga Gerry, lalu sang pelayan memberikan daftar menu yang ada di Kafe tersebut.
Nampak terlihat banyak menu tertulis di sana
"Papi, ini Mami mau makan yang tadi Papi kirim lewat gambar," telunjuknya Tyanca menunjuk makanan yang ada di gambar yaitu masakan Sunda, ada lalapan, sambel, sayur asem, ayam goreng, tahu, tempe dan banyak lagi yang lainnya.
"Ya, Mama juga mau itu saja samain sama Papa juga," ucap sang Mama.
Papa pun hanya menganggukkan kepalanya, tanda setuju.
"Bianca kamu mau makan apa?" tanya Tyanca, menatap sang adik yang sedang memandangi keadaan Kafe sekitar.
"Aku mau minum jus saja, nggak selera makan," ucapnya lirih dengan raut muka yang terlihat lelah.
"Masa kamu nggak lapar sih, kamu habis nyusuin anakmu loh, dan anakmu minum ASI nya tadi, Kakak lihat banyak sekali dan terus menerus. Masa kamu nggak lapar," ucap sang Kakak seakan mengejek.
"Kak..." ucap Mama, menatap lekat ke arah bola mata Tyanca.
Tyanca pun kemudian terdiam, dia seakan mengerti apa yang akan di ucapkan oleh sang Mama.
"Samain saja, semua," ucap sang Mama
"Oh, ya, disini ada snack dan cemilannya juga. Bawain harum manis (rambut nenek)," ucap Gerry kepada sang pelayan.
Sang pelayan pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia berlalu dari hadapan keluarganya Gerry.
Gerry nampak memandangi Bayinya Bianca, yang sedang di gendong oleh Mama Astri, dia terlihat suka sekali melihat Bayinya Bianca.
"Mischa mau punya adik Bayi nggak?" tanya Gerry kepada Mischa, sambil melirik sang istri yang tersipu malu.
Mischa pun menganggukkan kepalanya, dan menciumi Bayinya Bianca.
Setengah jam kemudian.
__ADS_1
Sang pelayan membawakan beberapa makanan dan snack.
"Silahkan, semuanya makan," ucap Gerry. Menatap satu persatu keluarga sang istri.
"Wah, mantap nih, makanannya," ucap Tyanca.
"Ya, kamu makan yang banyak Mih," ucap sang suami.
Tyanca pun dengan lahapnya dia makan, beserta Mama dan Papanya. Bianca di paksa makan oleh sang Mama.
Akhirnya dia pun mau makan. Sementara Bayinya Bianca, di gendong oleh Gerry.
"Silahkan makan yang tenang Mah, biar Adik Bayinya, akan Gerry bawa jalan keliling Kafe mumpung lagi sepi," ucap Gerry.
Sementara keluarganya Tyanca sedang makan, Gerry membawa Bayinya Tyanca keliling Kafe, kebetulan di belakang Kafe dekat kamar karyawan, ada kolam ikan koi, Gerry membawa Bayi tersebut ke sana.
Tiba di belakang Kafe.
"Wah, Bayi siapa?" tanya Andri menatap Bayi yang di gendong oleh Gerry.
"Ini Bayi adiknya, istriku," ucapnya, sambil mencium sang Bayi dengan gemas.
Andri dan Gerry pun duduk di kursi yang di depannya terdapat ikan koi yang berwarna-warni.
Tiba-tiba datanglah Angga, yang terlihat mukanya lesu.
"Kamu kayaknya sakit Ga! pulang saja, kalau mau pulang ke Jakarta, ambil cuti 3 hari nggak apa-apa," ucap Andri.
"Kenapa kamu Ga, sakit?" tanya Gerry menatap lekat Angga, yang terlihat capek.
"Mungkin kamu ingat Bayi adikmu ya, rindu ingin bertemu," ejek Andri. Gerry hanya mengernyitkan dahi seakan tidak mengerti apa yang di ucapkan oleh temannya itu.
Kemudian mata Angga mengarah ke Bayi yang di gendong oleh Gerry, kebetulan Bayi tersebut sedang memakai topi penutup Bayi.
"Bayi siapa Mas?" tanya Angga kepada Gerry.
"Ini Bayinya, adik istriku," ucap Gerry, sambil membetulkan topi penutup kepala sang Bayi.
Kemudian Angga menatap lekat kepada sang Bayi, dan betapa terkejut hati Angga, karena Bayi yang di gendong oleh Gerry, mukanya mirip dengan anaknya Amel.
"Ini Bayi mirip anaknya Amel, apa aku tidak salah lihat!" gumam hati Angga, dia mengucek matanya seakan tidak percaya.
Angga melongo seakan kehabisan kata.
"Ga..Hai!" ucap Andri, menepuk pundak Angga yang sedang fokus menatap anaknya Bianca.
"Anaknya mirip dengan anaknya adikku, Amel!" ucap Angga.
"Pantesan kamu terkejut," ucap Andri.
"Boleh aku gendong!" ucap Angga, sambil tersenyum kepada sang Bayi.
__ADS_1
"Boleh, dong," ucap Gerry.
Kemudian Gerry menyerahkan sang Bayi kepada Angga, nampak terlihat Angga tersenyum sumringah ketika menggendong sang Bayi.
"Kenapa muka Bayi ini mirip sekali dengan Bayinya Amel. Rambutnya ikal, bola matanya hitam pekat. Seperti Rama mukanya sama!" gumam hati Angga
Angga pun merogoh ponselnya dari dalam saku bajunya, kemudian dia membidik kameranya ke arah sang Bayi. Momen kebersamaan untuk berfoto dengan Bayi tersebut tidak mau di lewatkan oleh Rama.
Sementara Andri dan Gerry sedang asik mengobrol.
Kemudian Rama mengirimkan beberapa gambar foto tersebut kepada sang adik.
Klik...
Beberapa foto terkirim kepada Amel dari ponselnya Angga.
"Pasti adikku dan Mama terkejut melihat foto Bayi ini, karena mukanya mirip!" ucap Angga.
Keluarga dari Tyanca nampak sedang duduk santai, makanan yang tersedia di meja habis tak tersisa
"Alhamdulillah kita bisa makan enak," ucap sang Mama, sambil menatap Bianca yang hanya memakan cemilan snack, tanpa makan nasi dan matanya lekat ke layar ponsel.
"Aku penasaran sebenarnya Bianca, masih hubungi si Rama nggak?" gumam hati Tyanca sang Kakak, seperti dihinggapi rasa penasaran yang amat dalam.
Tyanca takut jika adiknya tersebut kembali menghubungi Rama kembali.
"Bianca, lagi chat siapa?" penuh curiga sang Kakak, ketika bertanya kepada sang adik.
"Teman," jawabnya singkat.
"Teman, apa si Rama!" ejek sang Kakak.
"Apa sih Kak," Bianca mendelik kesal terhadap sang Kakak karena dia selalu mencurigai dirinya.
Melihat percekcokan antara Bianca dan sang Kakak, Mama pun nampak kesal kepada Tyanca, yang selalu membuat gara-gara untuk memancing emosi sang adik.
Mama kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Kak, Gerry membawa Bayi kemana ya, ko' belum datang dari tadi," ucap sang Mama.
"Mungkin kebelakang Kafe Mah, di sana ada kolam ikan koi," ucap Tyanca.
Mama kemudian melirik Bianca.
"Bianca kita lihat kolam ikan koi yu!" ucap sang Mama, sambil tersenyum renyah.
Mama mencoba mengambil hati Bianca, yang sedari di Bekasi, terlihat kurang bersemangat.
Bianca hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia menggeser kan kursi dimana dia duduk berhadapan dengan Tyanca, kemudian dia berlalu dari meja tersebut mengikuti sang Mama yang sedang berjalan menuju kolam ikan koi.
Bersambung...
__ADS_1